Sudah dua jam laki-laki itu memukul samsak. Sudah berulang kali pula sahabat-sahabatnya memperingatkannya untuk berhenti. Namun, ia seolah tuli saat ini. Ia terus memukul samsak seraya meneriakkan nama Hana.
"Stop it, Damian! Lo bisa kelelahan!" hardik Nino.
"Gue gak peduli!" sentak Damian.
Damian masih terus memukul samsak. Karena sudah terlanjur kesal, Nino terpaksa memukul rahang Damian hingga sudut bibirnya robek.
"Lo benar-benar gila!" hardik Nino.
"Lo gak mengerti perasaan gue!" balas Damian.
Damian dan Nino saling melempar tatapan tajam, sedangkan sahabat mereka yang lain hanya bisa menghela napas lelah.
"Udah, kenapa kalian malah ribut?" tegur Gibran. Ia pun menoleh pada Damian yang terluka. "Lo mending obati luka lo itu! Gue yakin tangan lo juga udah lecet gara-gara lo pakai tinju terlalu lama!"
Damian mendengus namun tetap menurut. Ia pun berjalan mendekati salah satu kursi lalu mendudukinya. Matanya terpejam hingga ia tidak menyadari Karl berjalan mendekatinya dengan membawa kotak P3K.
"Gue mau obati luka lo," kata Karl.
"Gak usah!" tolak Damian.
"Lo gak usah nolak! Nino yang nyuruh gue!" sergah Karl.
Damian berdecih. "Dia yang mukul gue, dia juga yang nyuruh obati luka gue!"
"Kita semua tuh kasihan sama lo, tapi lo yang gak kasihan sama diri lo sendiri," ujar Karl tenang.
"Gue gak bisa tenang kalau soal Hana, Karl. Apalagi setelah gue ...."
Karl memicing. "Lo habis ngapain?"
Seketika rasa sesak kembali mendera Damian. "Gue renggut kehormatannya," lirihnya.
"Cih, kemarin lo sempat ngatain gue berengsek, padahal lo lebih parah dari gue!" sentak Karl. "Gue emang b******n, tapi setidaknya gue gak ngerusak cewek baik-baik!" ucapnya seraya menekan cukup kuat plester luka yang sudah ia tempelkan di sudut bibir Damian. "Gue gak nyangka sama lo, Dam!"
"Karl," lirih Damian.
"Semoga Hana gak sampai hamil! Kalau dia sampai hamil, secara gak langsung lo ngerusak masa depannya! Dia cewek baik-baik dengan segudang prestasi. Setelah kejadian ini, apakah dia bakal bersinar seperti dulu?" Karl menggeleng. "Gue gak yakin," sambungnya.
Damian tertegun. Sungguh ia tak berpikir bagaimana akibatnya jika Hana sampai hamil.
"Sayang, maafkan aku," gumam Damian dengan mata terpejam.
***
Dua minggu setelah berakhirnya hubungannya dengan Damian, keadaan Hana tak lagi sama. Ia kurang tidur dan tak bisa lagi fokus belajar karena selalu merasa tubuhnya lelah. Ia bahkan kena teguran wali kelasnya karena prestasi belajarnya menurun.
"Nak, makan dulu, ya!" Evita masih berusaha membujuk putrinya untuk makan.
Hana menggeleng sembari menarik selimut hingga ke batas lehernya.
"Aku gak lapar, Mami," lirihnya.
"Nak, kamu ini kok akhir-akhir ini malas makan sih? Kamu bertengkar sama Damian?" tanya Evita khawatir.
"Udah putus!" jawab Hana ketus.
"Lho, kok bisa?"
"Please, Mami! Jangan tanyakan tentang dia lagi!" pungkas Hana.
"Oke, Mami gak akan nanya tentang dia lagi. Yang penting sekarang kamu harus makan!"
"Iya, Mami." Hana mendesah pasrah.
Gadis itu memilih menurut daripada mendengar ibunya mengomel lebih lama lagi. Ibunya pun pergi meninggalkan kamarnya. Namun, saat Hana mengunyah pelan sup ayam buatan sang ibu, perutnya merasakan mual. Sontak ia langsung masuk ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
"Aku kenapa, ya? Mual-mual mulu akhir-akhir ini," gumamnya pelan.
Saat ia memejamkan mata, ia kembali mengingat peristiwa yang membuatnya kehilangan segalanya.
"Gak ... gak mungkin dia jadi," ucapnya sembari memegang perutnya.
Karena ia mengingat sesuatu, ia langsung keluar dari kamar mandi dan mengambil tasnya lalu mengeluarkan isinya. Tangannya bergetar saat ia memegang sebuah alat tes kehamilan.
"Sepertinya aku harus cek sendiri besok pagi."
***
Hana terbangun pukul 04.00 karena rasa mual yang tak tertahankan. Setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya, ia mengeluarkan alat tes kehamilan dari kemasannya dan menggunakannya sesuai petunjuk.
"Gak! Ini gak mungkin!"
Tubuh Hana melemas seketika saat mendapati dua garis merah pada alat itu.
Positif. Ia mengandung di usianya yang baru 17 tahun.
Hana menitikkan air mata. Ingatannya tentang peristiwa itu kembali terputar. Saat ini ia hanya bisa berandai. Masa depannya pun kembali ia pertaruhkan. Beragam mimpi yang seharusnya ia wujudkan bersama orang yang ia cintai kini kandas. Yang tersisa saat ini hanyalah penyesalan terdalam karena sudah mengecewakan keluarganya.
Tangannya memegang perutnya lalu mengelusnya pelan. Di dalam rahimnya kini ada kehidupan baru. Meskipun kehadirannya tidak, ah maksudnya belum waktunya ia merasakannya, ia bertekad menjaganya. Segala sesuatu yang mungkin terjadi di kemudian hari akan ia tanggung sendiri.
Ya, walau tanpa Damian.
Hana membersihkan dirinya seperti biasa. Setelah itu, ia menutup bagian bawah matanya yang sembab dengan riasan tipis dan memulas bibirnya dengan tinted lip balm agar wajahnya tak terlihat pucat. Setelah penampilannya rapi, ia bergegas keluar dari kamarnya menuju dapur untuk membuat menu sarapannya sendiri dalam porsi sedikit lebih banyak demi kesehatan janinnya. Roti tawar isi telur mata sapi menjadi pilihannya.
"Nak, kamu sudah rapi sekali pagi-pagi begini!" seru Evita.
Hana tersenyum lebar. "Iya, Mami. Lagi pengen roti isi telur."
"Kan Mami bisa buatkan, Sayang!"
Hana menggeleng. "Aku buru-buru, Mami. Makanya aku buat sendiri. Eh, Papi mana? Belum pulang, ya?"
Evita menghela napas kasar. "Begitulah, Nak. Mana semalam Papi gak bisa dihubungi pula."
"Kan Papi lagi di daerah pelosok. Mungkin sinyal di sana gak bagus," ujar Hana.
"Yah, semoga saja Papi sehat-sehat aja."
"Ayo kita sarapan, Mi! Mau roti juga atau aku buatin yang lain?" tawar Hana.
"Yang kamu buat aja deh, Nak!" tukas Evita.
Hana mengangguk patuh. Ia pun menyiapkan dua potong roti isi telur yang sudah ia buat di atas piring lalu menyerahkannya pada sang ibu.
"Nak!"
Hana mendongak.
"Kamu sehat-sehat aja, kan?" tanya Evita.
Hana mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu. Mami takut kamu sakit."
Hana tertegun hingga kunyahan di mulutnya semakin pelan.
"Kalau Mami tahu yang sebenarnya, apa yang akan terjadi?" batin Hana.
***
Damian tersenyum sendu saat ia memandang fotonya bersama Hana. Sampai saat ini, hatinya masih tak rela jika hubungan mereka berakhir begitu saja. Perlahan air matanya menetes, tetapi ia segera menghapusnya secara kasar.
"Hana, ini hari keberangkatanku. Bisakah aku melihat wajah cantikmu sebelum aku pergi?" gumamnya lirih.
Saat ini, ia sudah berada di bandara. Keberangkatannya ke Jerman tinggal setengah jam lagi dan ia sudah berada di ruang tunggu.
Tak berselang lama, ia berdiri. Ia menyimpan kembali fotonya di dalam dompet dan menyimpan dompet itu di dalam tas. Ia menghela napas dalam-dalam lalu menoleh sekali lagi ke belakang seolah ia sedang menantikan seseorang yang tidak akan pernah datang.
"Hana, aku mohon padamu untuk tetap menungguku," ucapnya sangat pelan sebelum kakinya melangkah masuk menuju pesawat.
Damian akan terus berharap suatu hari Hana akan mendengarkan penjelasannya dan menerimanya kembali.