1. Falling In Love

1414 Words

Seorang wanita paruh baya mengelus pelan wajah putrinya yang masih berselimut. Mimpi indahnya pun terusik karena mendengar suara lembut ibu.

"Hana, bangun, Nak! Nanti kamu terlambat ke sekolah," titah Evita.

Hana mulai menggeliat. Perlahan ia membuka matanya lalu tersenyum memandang wajah cantik ibunya.

"Pagi, Mami!" sapa Hana seraya mengucek pelan kedua matanya.

"Sudah, kamu mandi dulu!"

"Siap, Bos!"

Hana pun bangkit dari tempat tidur dan mengecup pipi kanan Evita, ibunya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Evita merapikan tempat tidur putrinya lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan keluarganya.

Farhana Aghnia Ferdinand, putri bungsu pasangan Zain Ferdinand dan Evita Tsamara. Hana memiliki seorang kakak laki-laki bernama Marshal Oliver Ferdinand yang kini sudah bekerja sebagai dokter spesialis THT di salah satu rumah sakit pemerintah di Bandung.

Gadis berambut coklat yang telah memakai seragam SMA itu sedang turun menuju dapur. Ia pun duduk di kursi sambil mengambil kacamatanya dari tasnya untuk ia pakai. Kini penampilannya sama persis dengan sang ayah.

"Kenapa gak pake softlens aja sih, Nak?" tanya Evita.

"Malas, Mami. Mataku gampang perih dan gatal kalau pake softlens. Aku udah lebih nyaman dengan kacamata ini."

Evita pun diam sambil menikmati sarapannya.

"Kak Marshal mana, Mi?"

"Masih di rumah sakit, Na. Dia kan dinas malam. Paling bentar lagi pulang."

Sosok yang dibicarakan muncul karena ucapan salam yang keluar dari bibirnya.

"Assalamu 'alaikum semuanya!" seru Marshal dari arah ruang tamu.

"Wa 'alaikumussalam!" balas mereka yang di ruang makan serempak.

Hana bersorak karena kakaknya pulang.

"Yeay, kakak pulang!"

"Hahaha. Apa sih, Hana! Kamu sarapan dulu, deh! Kakak mau ganti baju dulu!"

Marshal naik ke lantai dua menuju kamarnya yang ada di sebelah kamar Hana.

Mereka kembali melanjutkan sarapannya dan tak lama Marshal turun.

"Cepetan makannya, Dek! Biar Kakak yang antar kamu ke sekolah!"

"Gak usah, Kak. Ada Pak Ardi yang antar aku. Kakak pasti belum tidur karena dinas malam di rumah sakit, kan?"

"Siapa bilang! Kakak kan udah sempat tidur tadi."

"Iya deh kalau gitu."

Hana buru-buru menghabiskan makanannya karena tidak mau membuat kakaknya menunggu terlalu lama.

***

Hana berjalan melewati gerbang sekolahnya. Seperti biasa ia menyapa satpam yang berjaga di pos.

"Selamat pagi, Pak Yusuf!"

"Pagi, Hana! Wah, ceria amat, Neng!"

"Iya dong, Pak! Biar pelajaran gampang masuk ke otak. Hana ke kelas dulu ya, Pak!

"Sip!"

Saat Hana berjalan melewati ruang kelas XII IPA 1, ia berhenti sejenak. Ia memperhatikan Damian yang sedang membaca buku. Sang ketua OSIS yang berhasil membuatnya jatuh cinta pertama kalinya. Laki-laki yang tidak sengaja menabrak dirinya hingga terjatuh saat ia terburu-buru memarkirkan motornya dan membuatnya terluka. Hanya luka kecil di lutut dan kakinya terkilir, tapi Damian yang merasa bersalah menggendong dirinya ke ruang UKS untuk ia obati. Kejadian itu membuatnya menjadi pusat perhatian seisi sekolah, padahal Damian adalah orang yang sangat sulit didekati oleh perempuan. Ia selalu bersikap cuek pada siswi mana pun, terlebih lagi bila mereka terlalu genit bahkan menyentuh dirinya.

Hana masih memperhatikan Damian sampai suara Gracia, sahabatnya menepuk pundaknya cukup keras.

"Ehm! Ngapain kamu di sini? Bentar lagi bel masuk!"

Hana yang terkejut langsung mencubit lengan sahabatnya.

"Aduh, masih pagi kamu udah kasih aku cubitan panas!"

"Salah kamu sendiri yang suka ngagetin aku! Udah, ah!"

Hana memilih pergi sebelum Damian merasa terganggu karena suara jeritan sahabatnya yang terlalu kencang.

"Eh, Hana! Tungguin!"

Gracia mengejar Hana yang sedikit kesal karena aktivitasnya memandang Damian terganggu.

Tanpa mereka menyadari, sosok yang merasa diperhatikan itu tersenyum manis.

"Jadi namanya Hana," gumam Damian.

***

Bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing setelah merasakan kebosanan selama mengikuti pelajaran. Begitu pula dengan Gracia yang sejak tadi mengantuk dan nyaris tertidur di kelas selama pelajaran Kimia berlangsung.

"Na, ke kantin yuk! Aku lapar banget."

"Lho? Katanya ngantuk tadi."

"Itu sih gara-gara Pak Bara yang ngajarnya terlalu ngebosenin."

"Ah, gak tuh! Malah aku suka sama caranya dia ngajar! Kamu aja tuh yang gak suka sama pelajaran Kimia."

Gracia hanya terkikik geli karena ucapan Hana yang memang benar adanya.

"Kamu bener, Hana. Otakku kagak nyampe kalau bahas angka-angka."

"Ck! Makanya jangan maksain diri masuk IPA kalau gitu! Pake bilang gak ada aku lagi kalau di IPS."

"Udah deh ngomelnya nanti aja lagi pas Gue udah kenyang. Buruan!"

Gracia yang sudah tidak sabar lagi segera menarik tangan Hana dan berjalan cepat menuju kantin.

***

"Eh, kalian pada kenal Hana gak?"

Suara Nino mengejutkan mereka berempat yang sedang menikmati makanan pesanan masing-masing, termasuk Damian.

"Oh, yang anak kelas XI IPA 2? Sahabatnya cewek lo?" tanya Gibran balik.

"Iya, dia yang gue maksud. Gila! Dia ngalahin gue pas seleksi peserta olimpiade Kimia yang dua minggu lagi. Gue benar-benar gak percaya sama otaknya. Soal paling sulit gue jawab sekalipun dia bisa jawab. Hobi makan apa sih tuh anak?" ujar Nino.

Damian mengulum senyumnya saat ia mengetahui Hana yang mewakili sekolah mereka dalam ajang bergengsi tersebut.

"Dami? Napa lo senyum-senyum? Jangan-jangan lo naksir Hana ya?" Nino bertanya sambil menaik-turunkan alisnya, bermaksud menggoda Damian. Gibran, Fadli, dan Karl pun tersenyum penuh arti.

Damian mendengus.

"Ck! Ngapain lo semua senyum-senyum gitu ke Gue? Lo pada pikir Gue naksir beneran sama cewek berkacamata itu? Gak!" ketus Damian.

Mereka tergelak karena Damian yang masih terus berusaha menyembunyikan perasaannya.

"Ya elah Dami! Lo jangan gitu ah! Gue tahu lo naksir beneran, kan? Lo tuh selama ini gak pernah perhatiin cewek sampai segitunya. Ya gue akui sih, Hana tuh termasuk cantik. Senyumnya itu loh bikin Gue melting. Andai Gue belum punya cewek, udah Gue deketin tuh Hana. Dia tuh termasuk cewek paket komplit. Cantik, cerdas, prestasinya bejibun, dan juga tajir. Bokapnya salah satu pengusaha sukses," ujar Fadli memuji.

Seketika Damian menatap tajam Fadli yang asyik berbicara tentang Hana. Fadli yang merasa diperhatikan malah memasang wajah tanpa dosa dan menepuk perlahan pundaknya.

"Santai, Bro! Gue bukan tukang tikung, kok! Kita semua ini udah pada punya pacar, tinggal lo yang belum!"

Nino yang memperhatikan dua gadis yang baru saja memasuki kantin langsung memanggil Gracia dan Hana.

"Gracia! Hana! Sini bareng kita aja! Ada bangku kosong kok!" seru Nino.

Gracia yang mendengar suara kekasihnya langsung menarik tangan Hana menuju mereka. Damian langsung salah tingkah dan terus menunduk begitu Hana duduk di bangku kosong tepat di depannya. Hana pun demikian. Hana yang tidak ingin terus didera rasa gugup langsung menawarkan diri memesan makanan.

"Gracia, kamu mau makan apa?" tanya Hana.

"Hmm, kayak biasa aja deh, Na. Yuk bareng!"

"Gak usah. Aku sendiri aja. Kamu tunggu di sini."

"Yakin?"

"Iya, aku ke penjual gado-gado dulu ya!"

"Oke, Hana!"

Hana berlalu melewati Damian sambil tersenyum tipis padanya. Teman-teman Damian yang melihatnya langsung bersorak melihat sikap malu-malu sang ketua OSIS.

"Ciee! Ada yang jatuh cinta nih!"

Damian mendelik. Hal itu membuat sahabat-sahabatnya semakin kurang ajar menggodanya. Gracia semakin bingung.

"Kak Nino, pada kenapa sih? Tuh Kak Dami sampai merah gitu mukanya," bisik Gracia. lo

Nino tertawa sambil mencubit gemas hidung kekasihnya.

"Sayang, kamu tahu gak? Dami itu naksir sama sahabat kamu," jawab Nino.

Damian mulai kesal melemparkan tissue yang sudah ia remas-remas dari tadi untuk menutupi kegugupannya namun berhasil ditangkap oleh Nino.

"Napa lo, Bro? Emang lo naksir, kan?"

Belum sempat Damian membalasnya, Hana datang membawa nampan berisi gado-gado dua porsi beserta dua gelas es teh manis. Damian refleks membantunya yang sedikit kerepotan meletakkan nampan itu.

"Makasih, Kak."

Hana mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis. Damian tertegun melihat senyumannya.

Jantung gue hampir copot. Fix! Gue emang udah jatuh cinta sama lo, Hana!

***

Damian melihat gadis berambut coklat itu sedang menunggu di depan gerbang sekolah sambil terus menatap ponselnya. Jam pelajaran sudah berakhir setengah jam yang lalu, namun gadis itu masih menunggu yang sekarang sedang berbicara dengan seseorang via telepon.

"Kenapa dia masih di situ? Padahal cuaca lagi panas banget," gumam Damian.

Sementara Hana yang menunggu supir keluarganya harus mendesah kecewa. Sang supir harus mengantar ayahnya keluar kota dan baru sempat memberi kabar padanya.

"Yah, padahal udah nunggu lama banget. Naik angkot aja, deh," gumam gadis itu.

Hana yang tengah menunggu angkutan umum lewat dikagetkan dengan suara yang sangat ia kenal.

"Mau pulang?"

"I-iya, Kak."

"Ayo naik!"

"Gak! Gak usah, Kak! Aku naik angkot aja."

"Gak ada penolakan, Hana! Ayo naik!"

Damian turun dari motornya untuk mengambil sebuah helm di bagasi motornya, lalu memakaikannya di kepala Hana. Hana yang mendapat perlakuan manis itu langsung menahan napas. Tingkah Hana yang menggemaskan itu membuat Damian mencubit pipi kirinya.

"Bernapaslah, Hana!"

Gadis itu segera menghela napasnya sebelum naik di belakang Damian, namun ia terkejut ketika kedua tangannya dilingkarkan di perut Damian.

"Aku gak mau kamu jatuh. Pegangan yang erat ya!"

Tanpa menunggu jawaban dari Hana, ia langsung menjalankan motornya menuju rumah gadis itu.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd