Bab 9. Pasien

1101 Words
*** Ziya masih berdiri di tempatnya saat jaraknya dengan Dias dan Rara hanya tinggal beberapa meter saja. Sengaja gadis Dua Puluh Dua tahun itu tidak menghindar ketika kurang dari Dua detik Dias tepat berada di hadapannya. “Minggir!” ujar Dias terdengar memerintah. Namun, bukan Ziya namanya jika dengan mudah menuruti perintah itu. Ziya menantang Dias dengan tatapan tak sukanya. “Kalau gue nggak mau, kenapa?” tanyanya penuh maksud. Dias memberikan tatapan tajamnya untuk kesekian kalinya pada Ziya. Tangannya terkepal karena Ziya tidak bisa membaca situasi dan kondisi. Dias bertanya-tanya apakah Ziya tidak menyadari ketakutan yang Rara rasakan saat mereka berdekatan seperti ini? Tidakkah Ziya bersimpati sedikit saja terhadap Rara yang masih trauma? Kepalan tangan Dias mengendur kala ia merasakan telapak tangan Rara melingkari lengan bawahnya. Dias tahu Rara benar-benar ketakutan melihat Ziya. Dias berbalik, ia mendekap bahu Rara. Bermaksud untuk membawanya pergi dari sana, tetapi dengan tegas Ziya menghalangi. Ziya berlari, menghentikan Dias dan Rara yang ingin berbalik pergi. “Mau ke mana?” tanyanya tepat berada di depan Rara. Hal itu membuat Dias semakin ingin menghindarinya. Mendadak Dias menyesal terus berjalan tanpa menghiraukan kemungkinan kejadian seperti ini bisa saja terjadi. “Minggir!” geram Dias. Suaranya dalam dan rendah. Pegangan tangannya di bahu Rara semakin erat saja. Sementara itu, Rara sendiri pun tampak bergetar. “Gue bilang minggir, Ziya!” ujar Dias. “Nggak mau!” balas Ziya sembari membentak. Ia mengalihkan tatapannya pada Rara yang menunduk resah. Dirinya suka melihat penderitaan gadis berkepang dua itu. “Kamu takut? Makanya jangan suka cari perhatian!” ujarnya kepada Rara. Ziya tidak sadar, yang sebenarnya mencari perhatian adalah dirinya sendiri. Jika bukan karena ingin mendapatkan perhatian dokter Dias yang katanya sangat menyebalkan itu, kenapa Ziya harus repot-repot mengganggu Rara? Sayang sekali Ziya tidak menyadarinya. Ziya menamakan kejadian ini sebagai balas dendamnya semata. “Aku salah … Rara yang salah …” Rara mulai meracau lagi. “Ra … kamu nggak salah. Dengarkan dokter Dias ya, Rara nggak pernah salah,” ucap Dias dengan lembut. Dias berusaha untuk tetap menenangkan Rara. “Tarik napas dalam-dalam, lalu Rara keluarkan secara perlahan, bisa?” tanyanya. Seperti biasa, bila mendengar suara dokter Dias dan senyumnya, Rara pikir semuanya memang benar-benar baik-baik saja. Rara merasa terlindungi. Dokter Dias tak pernah membentaknya, tak pernah menyakitinya, apalagi menyalahkannya. Rara mengangguk singkat. Ia mengikuti intruksi dokter kesayangannya itu. “Sekarang kamu sembunyi dulu di belakang dokter Dias, bisa?” tanya Dias lagi saat melihat Rara sudah kembali tenang dari keterkejutannya atas sikap Ziya. Lagi-lagi Rara mengangguk. Ia menuruti segala perintah Dias. Embusan napas lega dapat Dias keluarkan begitu Rara benar-benar bersembunyi dibalik punggung tegapnya. Rara juga berpegangan pada seragam kebanggannya. Dias menunduk sejenak sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada Ziya. “Pergi sekarang atau gue seret lo ke Pak Wira. Papa lo itu nggak bakal mentoleransi sikap lo ke pasien seperti tadi.” Dias memberi Ziya peringatan. Sebenarnya Ziya tak ingin peduli, tapi mendengar ancaman itu sedikit membuatnya khawatir. Kalau sampai papanya marah, mungkin ia akan dikurung di rumah. Papanya akan melarangnya datang ke RSJ. Ziya menggeleng tegas. Bisa kacau rencananya bila sampai papanya melarangnya datang ke tempat ini. Ziya menatap Dias tak suka. Ia juga melirik Rara yang bersembunyi dibalik punggung Dias. Decakan kesal ia keluarkan begitu Rara membalas lirikan tajamnya dengan tatapan ketakutan. “Ziya!” Kembali Dias memberi gadis itu peringatan. “Iya! Gue pergi sekarang juga, puas lo?” bentaknya. Lalu tanpa menunggu balasan Dias, ia pun pergi dari sana. Dias mengembuskan napasnya dengan lega. Bertemu dengan Dias sama saja dengan bertemu setan. Ziya tidak pernah memikirkan orang lain. Gadis itu terlalu egois dan seenaknya saja. Dias pikir, mulai sekarang ia harus berhati-hati pada Ziya. Jangan sampai Rara histeris lagi setiap kali bertemu dengan perempuan itu. Dias juga harus mengajarkan Rara cara untuk menghindarinya. “Ra, dia sudah pergi. Kamu nggak apa-apa?” tanya Dias dengan suara lembutnya. Selalu begitu bila berbicara dengan Rara. Dias ingin Rara mengerti, apapun yang terjadi saat ini, rasa sayangnya tak pernah terganti. Rara adalah seseorang yang berharga baginya. Dias bersumpah akan menjaga Rara seumur hidupnya. Tidak akan ia biarkan orang seperti Ziya menyakiti Rara. “Ayo kita pergi,” ajak Dias sambil menuntun Rara. Sementara itu, Ziya melanjutkan rencananya. Hari ini, Ziya bermaksud mengawasi situasi di rumah sakit. Di mana saja tempat paling aman agar bisa terhindar dari dokter Dias Pratama. Ziya merengut, nyatanya semua tempat pasti menjadi tujuan dokter Dias. Ziya tak mungkin bisa bersembunyi. “Tapi kayaknya lebih seru kalau setiap hari lihat dokter Dias kesal karena kelakuan gue,” kekeh Ziya. Kepalanya mengangguk, mengiakan rencana manis yang sudah kembali tersusun rapi dalam benaknya. Tidak ada salahnya membuat dokter Dias kesal sepanjang lelaki itu melihat keberadaannya. “Pokoknya besok harus berada di sini, jadi penghuni RSJ Wija!” ujar Ziya penuh semangat. Pakaian pasien sudah ia dapatkan beberapa saat yang lalu. Benar-benar ada untungnya juga dokter Dias mengurus Rara, sehingga Dias tak melulu mengikutinya. Ziya tersenyum senang. Ia menyimpan pakaian pasien ke dalam tasnya. Lalu beranjak meninggalkan rumah sakit jiwa. Besok dia akan kembali ke tempat ini sebagai pasien yang memiliki keterbelakangan mental. Setelah itu, semua perhatian dokter ganteng akan datang padanya. Membayangkan itu saja sudah membuat Ziya bahagia. Ia tidak menyangka, datang ke Indonesia memberinya banyak sekali kesenangan. Rasanya sudah tidak sabar Ziya untuk menikmati hidup baru di RSJ Wija. Sesuai rencana, keesokan harinya Arziya Windira benar-benar menjadi salah satu pasien di sana. Ia lolos dari dokter Dias ketika menyamar menjadi orang yang kurang waras. Suster membawanya ke salah satu bangkar. Ziya tidak keberatan ketika ia dilayani layaknya pasien di sana. Justru senyum-senyum karena kesenangan. Lalu ketika salah satu dokter di RSJ Wija datang untuk memeriksanya, Ziya tampak semakin percaya diri dengan senyum manisnya. “Dokter Fikri,” bisik Ziya di dalam hatinya. Apa dirinya bilang? Aset Wija tidak main-main. Selain dokter Rio dan dokter Sandi, ada juga dokter Fikri yang tak kalah ganteng. Namun, Ziya harus kecewa karena ternyata dokter yang baru saja memeriksa keadaannya sudah menikah melihat cincin melingkar indah di jari manisnya. “Semua baik-baik saja,” ucap dokter Fikri sembari mengerutkan dahinya. Sedikit merasa janggal pada kondisi Ziya, tapi jika melihat ekspresinya yang sejak tadi senym-senyum sendiri, dokter Fikri pikir otaknya memang sedikit bermasalah. “Kamu istirahat ya,” ucap dokter Fikri sebelum pergi. Ziya menghela napasnya dengan berat. Sepertinya, sudah saatnya ia keluar dari bangsal dan berjalan-jalan di luar. Mungkin saja dirinya akan kembali bertemu dengan dokter Rio dan Sandi. Lalu mengejutkan mereka dengan keberadaan dan status barunya. Pemikiran itu benar-benar tidak masuk akal. Andai dokter Dias mendengarnya, ia pasti berpikir Ziya benar-benar sudah tidak waras. . . To be continued.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD