***
Dias sedang melamun ketika dokter Rio menghampirinya di ruang kerjanya. Dokter muda yang memiliki umur lebih muda setahun dari itu pun tampak heran. Tak biasanya dokter Dias kehilangan fokus. Bahkan tak menyadari kehadirannya jika bukan dirinya yang menegur.
“Lagi mikirin apa? Rara?” Seluruh jajaran RSJ memang sudah tahu siapa Rara bagi Dias. Namun, tak satu orang pun menganggap Dias pilih kasih. Dias selalu adil pada pasiennya dan menjaga mereka sepenuh hati. Meskipun Rara adalah orang yang paling ingin dia buat bahagia, tetapi Dias tak pernah membeda-bedakan pasiennya.
Dias mengangguk. Ia tidak ingin berbohong. Rara memang menjadi prioritasnya. Namun, yang membuatnya memikirkan keadaan Rara adalah kehadiran Ziya. Pak Wira sudah memutuskan untuk memaklumi kelakuan Ziya di RSJ ini. Pak Wira memintanya untuk melindungi Ziya layaknya ia yang selama ini melindungi Rara.
Jujur, Dias merasa keberatan. Ziya tak bisa disamakan dengan Rara. Mereka jelas berbeda, tapi Pak Wira tegas dalam memintanya.
“Rara histeris lagi?” tanya Rio karena seingatnya Rara sudah kembali tenang. Gadis berkepang dua yang sangat disayangi Dias itu tampak biasa saja. Emosinya pun perlahan kembali stabil. Namun, kenapa Dias terlihat penuh beban?
Kali ini Dias menggeleng. Sama seperti tadi, mulutnya tetap terkunci. Dias beranjak dari duduknya.
“Mau ke mana?” tanya Rio melihat ketidak sopanan Dias. Namun, ia tidak tersinggung. Sudah biasa menemukan Dias bersikap demikian.
“Makan siang. Sudah waktunya, kan?” Dias melirik jam yang melingkari tangannya.
Rio pun melakukan hal yang sama. Ia membulatkan mulutnya, lalu mengekor di belakang Dias yang mulai berjalan meninggalkan ruangan.
“Makan siang bareng ya,” tawar Rio yang langsung mendapat anggukan dari Dias. Meskipun sikapnya cuek dan terkesan tidak peduli terhadap sesama rekannya, tetapi Dias tidak sekejam itu untuk menolak tawaran Rio. Apalagi ia tidak memiliki janji makan siang bersama siapapun.
Rio menarik sudut bibirnya, ia tahu Dias orang baik. Sikapnya saja yang sedikit tidak ramah. Namun, hatinya paling lembut di antara mereka semua. Itu lah kenapa atasan mereka sangat mengagumi teman sesama dokternya itu.
“Mas dokter!”
“Mau ke mana?”
Teriakan beserta pertanyaan yang terdengar secara tiba-tiba itu membuat Dua dokter ganteng yang sedang menuju kantin menolehkan kepala. Rio tersenyum ketika mendapati Ziya menegur mereka. Namun, Dias melongos begitu tahu yang berteriak adalah Arziya Windira.
“Yo gue duluan,” pamit Dias sedetik sebelum Ziya sampai di depannya.
“Eh Yas, bareng aja,” balas Rio, tapi Dias sudah lebih dulu melangkah pergi.
Ziya mencebikan bibirnya melihat itu. Ia tahu Dias menghindar. Sengaja tak ingin melihat dirinya. Dasar sombong! Jangan kira Ziya juga ingin melihat Dias. Ziya juga malas bersitatap dengan dokter menyebalkan itu.
“Dokter Rio belum jawab pertanyaan aku, loh …” protes Ziya karena perhatian Rio masih saja terpatri pada punggu Dias yang menjauh.
Rio mengalihkan tatapannya. “Ohh, kami mau makan siang. Mau ikut?” jawabnya sekaligus bertanya.
“Boleh, kah?” Mata Ziya berbinar. Jarang-jarang makan siang bersama Mas dokter ganteng, pikirnya.
Rio mengangguk. “Ayo!” ajaknya.
Tanpa memikirkan kemungkinan Dias juga makan di meja yang sama dengannya, Ziya dengan semangat mengikuti Rio. Ia berada tepat di samping dokter yang tak kalah ganteng dari Dias itu. Beberapa obrolan tersampaikan selama mereka dalam perjalanan menyusul Dias yang sudah lebih dulu sampai di kantin.
“Kamu mau pesan apa, Zi? Nanti aku yang pesanin,” tanya Rio begitu mereka menginjakan kaki di kantin khusus dokter dan perawat beserta jajarannya.
Mendapat perhatian seperti itu, membuat Ziya kesenangan. Ia meminta Rio menyebutkan beberapa menu rekomendasi. Setelah itu menyebutkan pesanannya sendiri. “Makasih dokter Rio,” ucapnya.
“Sama-sama. Kamu tunggu di meja Dias ya, aku ambil pesanan dulu.” Ziya mengikuti arah pandangan dokter Rio. Ia menunjuk dirinya dan Dias secara bergantian. Pertanyaan tentang apakah ia harus duduk di sana memenuhi benaknya. Dokter Rio mengangguk, mengiakan ketika Ziya bertanya padanya lewat tatapan mata.
“Sana pergi. Dokter Dias nggak gigit,” kelakar Rio. Mau tak mau Ziya pun melangkah menuju meja Dias. Bukan tidak berani menghadapi dokter Dias, tetapi alangkah lebih indahnya jika dokter Rio memilih meja sendiri untuk mereka berdua.
Tck.
Ziya tak bisa memaksa. Ia harus mengikuti apa kata dokter Rio. “Permisi!” ujarnya begitu sampai di meja Dias.
Lelaki itu mengangkat salah satu alisnya. Menatap heran pada Ziya yang tiba-tiba saja mendudukan diri tepat di depannya. “Ngapain kamu di sini?” tanyanya teramat sangat tak suka.
Ziya kembali berdecak sebal. Memangnya dia juga mau duduk berhadapan seperti ini bersama Dias? Tentu saja tidak. Ziya pun enggan makan di meja yang sama dengan Dias.
“Mas dokter yang minta!” jawab Ziya. Mas dokter yang Ziya maksud adalah dokter Rio.
Mendengar itu membuat Dias ingin kembali memuntahkan makanannya. Ziya memanggil Rio dengan sebutan Mas? Tck, kekanakan sekali. Sepertinya Rio dan Ziya sudah sangat dekat sehingga Ziya memanggilnya seperti itu. Mendadak Dias berpikir, kenapa bukan Rio saja yang menjaga Ziya? Sayang, ide sebagus itu tak bisa ia utarakan pada Pak Wira. Dias tak ingin mengecewakan atasannya itu dengan menolak menjaga Ziya.
Dias tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengabaikan keberadaan Ziya begitu saja hingga Rio bergabung bersama mereka sembari membawa pesanan Ziya. Sedikit meluangkan waktu, Dias melirik pesanan Ziya.
“Bakso.” Pikir Dias. Ia menggeleng singkat. Seleranya dan Ziya benar-benar berbeda. Dias tak suka makan bakso di siang hari seperti ini. Tubuhnya tak akan bertenaga bila hanya mengunyah bakso dan menghirup kuahnya.
“Makasih Mas Rio,” ucap Ziya terdengar manja di telinga Dias.
Rio pun sedikit terkejut mendengar panggilan baru yang Ziya sematkan untuknya. Rio senang dan merasa terhibur. “Sama-sama, Cantik,” balasnya.
Keduanya tampak saling melempar senyum. Berbeda dengan Dias yang mencebikan bibir diam-diam. Ia tidak peduli dengan apa yang Rio dan Ziya pikirkan satu sama lain, tetapi melihat keduanya tampak sengaja mengumbar kebahagiaan di depannya, membuat Dias sedikit tidak suka.
“Aku selesai. Kalian lanjutin aja makan siangnya. Permisi.”
Setelah mengatakan itu, Dias benar-benar beranjak dari duduknya. Ia meninggalkan dokter Rio dan Ziya begitu saja. “Dasar nggak sopan!” ujar Ziya. Ingin sekali ia melempar baksonya, tapi merasa sayang. Daripada digunakan untuk melempari Dias, lebih baik ia manfaatkan untuk mengenyakan perutnya.
“Dokter Dias memang begitu. Nggak usah heran, tapi dia baik kok. Makanya Papa kamu suka,” ucap Rio membela Dias.
Kini, giliran Ziya yang mencebikan bibirnya. Namun, secara terang-terangan. “Baik dari mana? Dia nyebelin!” ujarnya.
“Kamu benci sama dokter Dias, Zi?” tanya Rio yang segera mendapat anggukan kepala dari Ziya.
“Jangan terlalu benci, nanti malah jadi cinta.”
Ziya tersedak mendengar kelakar Rio. Ia meminum air di dalam gelas yang juga Rio siapkan. Lalu menggeleng sembari mengipasi wajahnya. “Nggak mungkin jadi cinta, Mas Rio! Dokter Dias bukan type cowok incaranku,” ucapnya.
Jelas Ziya menolak mentah-mentah pernyataan dokter Rio. Mambayangkan mencintai Dias saja membuat Ziya muak, apalagi jika perasaan mengerikan itu benar-benar tumbuh di hatinya. “Ih amit-amit!” ujarnya.
“Kenapa? Lagi mikirin dokter Dias?” goda Rio.
Buru-buru Ziya menggeleng. Jangan sampai Rio tahu dia sedang memikirkan dokter Dias yang menyebalkan itu. “Nggak lah! Ngapain,” sanggahnya.
“Loh nggak salah Zi kalau kamu mikirin dokter Dias. Banyak kok yang ngincar dia untuk dijadikan calon suami,”
Pupil mata Ziya membesar mendengar penuturan itu. Beberapa detik kemudian ia tergelak, membuat beberapa pasang mata terarah padanya. Ziya tidak peduli. Ia hanya ingin tertawa karena perkataan dokter Rio tak masuk diakal baginya.
Dokter sekaku dan bersikap dingin seperti Dias banyak disukai? Yang benar saja! Mata perempuan yang mengejar dokter Dias pasti sudah buta, makanya pada suka. Untung dia tidak termasuk dalam golongan perempuan buta itu.
“Daripada dokter Dias yang nyebelin, aku sih lebih suka sama dokter Rio yang genteng dan baik hati,” ucap Ziya membuat wajah Rio sedikit memerah.
“Bisa aja kamu, Zi. Sekarang aja kamu bilang gitu, besok lusa siapa yang tahu,” ucap Rio sambil mengedikan bahunya.
Obrolan keduanya terus berlanjut. Rio menanggapi setiap apa yang Ziya katakan sembari menghabiskan makan siangnya. Begitu juga dengan Ziya. Ia menghabiskan baksonya tanpa terasa.
“Ayo Zi, aku harus kembali bekerja. Jam makan siang sudah selesai,” ajak Rio sembari melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya.
Ziya mengangguk singkat. Ia juga harus melakukan sesuatu yang belum sempat dirinya lakukan beberapa saat yang lalu. Kedatangannya ke rumah sakit bukan untuk mengobrol dengan dokter Rio, tetapi membuat strategi agar ia bisa masuk ke rumah sakit ini secara diam-diam sebagai pasien. Apapun yang terjadi, ia harus melanjutkan rencananya.
Akan menyenangkan bila ia berhasil. Ada kepuasan tersendiri yang membuatnya bahagia. Ziya yakin seluruh keinginannya akan terwujud di tempat ini. “Iya, ayo Mas dokter,” sambutnya.
Mereka akhirnya keluar dari kantin. Keduanya memutuskan untuk berpisah di perempatan lorong.
“Makasih traktirannya, Mas Rio. Semoga nggak bosan traktir aku lain kali,” ucap Ziya.
“Tentu Zi. Kalau gitu aku pergi dulu.”
Setelah berpamitan, Rio pun meninggalkan Ziya yang tersenyum bangga. Ia senang karena mendapatkan perhatian dari salah satu dokter ganteng di RSJ milik papanya. “Gimana kalau Mas dokter yang lainnya ikut merhatiin, ya? Ahh pasti menyenangkan,” kekehnya.
Ziya bertekat. Apapun yang terjadi ia harus menjadi salah satu penghuni bangsal di rumah sakit jiwa ini. Segala halangan dan rintangan akan ia hadapi, termasuk dokter Dias super menyebalkan yang sialnya sedang berjalan ke arahnya itu. Ziya ingin menghindar, tetapi ia bertahan pada tempatnya karena Dias tidak sendirian. Lagi-lagi lelaki itu bersama gadis berkepang dua yang Ziya tahu bernama Rara. “Dasar cari perhatian! Selalu nempel sama dokter Dias,” sebalnya. Tangannya terkepal erat karena tak suka.
.
.
To be continued.
Done bab 8. Semoga suka. Tetap semangat update walaupun sepi komentar di cerita ini karena LOVE alhamdulillah bertambah setiap harinya wkwk