Manunggaling Rasa

3674 Words
“Kan udah aku bilang, nggak usah nyampurin urusan orang. Biarin aja lah dia mampus.” Mara mondar-mandir dengan apron yang menggantung di lehernya, menyiapkan makan malam untuk kami di apartemen. Rambutnya yang dikepang rambat terhentak perlahan di punggungnya saat telunjuknya tanpa sengaja terbakar api kompor. Ia memekik dan mengumpat perlahan. Memundurkan kursi, aku hampiri dirinya dan meraih telunjuknya sekadar memeriksa luka bakar di sana. Tak terlalu parah, hanya memerah dan nantinya akan membengkak kecil. Aku kulum jarinya, lantas aku ciumi perlahan. Matanya tak beralih dariku, kendati menyorot sangat lekat nan tajam mirip elang ketika berburu mangsanya; aku tahu itu bukan hanya dari efek eyeliner yang digunakannya. Mara memiliki pandangan menghakimi yang memabukkan. Ia sungguh luar biasa seksi dengan tatapan bak cakram yang mencengkeram jantung pria manapun. “Untung ya aku udah kebiasaan berurusan sama cowok b******k. Jadinya nggak gampang baper.” Tangannya ditarik dariku. Aku tertawa geli melihat raut wajahnya. Ia mengibas-ngibas telapak tangannya, melenggang melewati meja makan mengambil sesuatu dari dalam kotak P3K. Sementara ia sibuk mengurusi telunjuknya, aku yang melanjutkan tugasnya, menyiapkan makan malam di meja kecil yang hanya diisi piring-piring kami. Kami sering melakukan ini ketika tinggal di Paris, seperti pasangan-pasangan kasmaran yang tak pernah meninggalkan tangan kekasihnya dalam genggaman dan berciuman mesra di Pont de Arts disaksikan ratusan—bahkan lebih—gembok cinta dan Seine yang mengalir jernih. “Kamu kapan sih nyari pacar lagi?” ia duduk di kursinya, meraih sebatang rokok dan menyulutnya dengan pemantik. Hembusan pertama, aku sudah merebut rokok itu, membuangnya di lantai, dan melumatnya dengan sepatuku. Bola matanya terputar jengah. “Pacar? Baru juga putus.” Aku mengambil posisi di depannya. “I know you, Anarki. Sehari setelah putus, beberapa hari selanjutnya kamu udah dapat cewek lain yang bisa diena-ena.” “Eh.” Telunjukku teracung di depannya. “Aku nggak sekurang ajar itu ya.” Memang tidak semua pacarku bisa aku tiduri. Misalnya Femi, tubuhnya tak pernah kusentuh sejengkal pun. Sebab aku sadar diri, bapaknya dosen di kampusku. Kalau tahu perbuatan bejatku, aku tak hanya dilarang masuk kelasnya, tapi juga dibunuh! Kami menghabiskan waktu makan malam sambil bertukar cerita. Aku dengan kesibukan di sini dan ia dengan kesibukannya di Paris. Kali terakhir aku bersamanya, aku menghabiskan liburan semester genap yang pendek di Prancis. Mara memainkan sendoknya tanpa mengalihkan pandangannya ke arahku. “I met my father.” Aku mengalihkan perhatian padanya. Selalu ada kesedihan tak tersirat di matanya tiap kali mengungkit-ungkit kehidupan pribadinya yang sudah lama ia buang jauh-jauh, bahkan dari mimpi terburuknya. Seperti biasa, aku akan menjadi telinga yang tak pernah berhenti mendengarkan keluh kesah dan sampah yang menampung kesedihannya. “It’s been ten years since we spoken last. Aku ketemu dia di Rue de l’Abbaye. Di Dior. Sama pacarnya mungkin. Mereka gandengan mesra. Bahkan waktu masih sama Maman, dia nggak pernah semesra itu.” “Kamu sempat ninju dia nggak?” Aku tahu Mara sangat membenci Papanya. Bibirnya mencebik ke bawah. Ia menggeleng, menyesali diri tak sempat melayangkan pukulan terbaiknya. “Dia cuma nyapa. Keadaan jadi kikuk dan aneh. Aku menghindari percakapan, jadi aku hanya bilang ‘Hi, Papa, yes I’m fine. Bye’ terus cabut gitu aja.” “Sayang banget.” Aku menyudahi makan malamku dan meraih segelas anggur putih dalam gelas berkaki, menenggaknya sampai habis. “Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan ninggalin Dior sampai wajahnya lebam dan nggak bisa dikenali.” Ia terbahak keras hampir menyemburkan minumannya. Wajahnya memerah tiap kali tertawa. Piring-piring ia angkat dan dipindahkan ke bak cuci piring. Kutuangkan sekali lagi anggur putih yang dihadiahkannya dari Prancis ke dalam gelasku. Aku meraih sebutir apel merah di keranjang. Sebelum lenyap di kerongkongan, aku memain-mainkannya terlebih dahulu, melempar dan menggelindingkannya di atas meja. “Bagaimana mungkin seorang Snow White bisa mati hanya karena satu gigitan apel?” Dan yang menggelikan, ia hidup berkat ciuman dari seorang pangeran. Perempuan g****k mana yang jatuh cinta pada lelaki asing, yang kurang ajar telah menciumnya tanpa permisi hanya karena terpikat kecantikan Snow White? Aku yakin ciuman itu disebabkan libido pangeran yang b*******h melihat bibir semerah delima Snow White. Itulah mengapa Maman tak pernah menyuguhkan dongeng pada anak-anaknya karena ia yakin, setiap dongeng menyimpan rahasia gelap yang diselubungi cerita heroik palsu dan romantis memualkan. Aku bahkan membenci Cinderella. Perempuan bermuka dua yang mendramatisir kehidupannya seakan-akan ia menjadi anak tiri yang paling sengsara. Ia sengaja meninggalkan sepatu kacanya di pesta pangeran, sengaja mempermainkan pangeran hingga tak berhenti memikirkannya, dan akhirnya diboyong ke istana setelah pangeran berhasil menemukan pemilik sepatu kaca, sedangkan ibu dan saudari tirinya menjadi gelandangan. Kalau sepatu kaca yang dihadiahkan ibu peri padanya memang pas dengan kakinya, bagaimana bisa sepatu itu lepas dan tertinggal di pesta pangeran? Dan orang baik mana yang membiarkan ibu serta saudari tirinya menggelandang? Kalau kau tahu kisah aslinya, kau bisa merasakan kejengkelanku terhadap perempuan s****l itu. Ibu tiri Cinderella buta dan kehilangan jarinya. Penyebabnya? Tentu saja si Sundalrella. Mara berbalik badan, melenggak-lenggokkan tubuhnya seraya menyanyikan Hurricane, lagu 30 Seconds to Mars yang paling aku suka selain Night of The Hunter. Itu lagu yang kumainkan di tape kali pertama bercinta dengannya. Aku salah satu orang yang percaya bahwa musik adalah seni paling indah yang berkesinambungan dengan dinamika tubuh. Musik dengan dentuman menghentak kerap digunakan dalam percintaan membara sedangkan musik klasik atau lembut erat dengan percintaan yang lebih intens, romantis, dan penuh kasih sayang. Sejauh ini, aku hanya suka memainkan 30 STM dan Muse. Sampai di tempatku, Mara duduk di atas pangkuanku dan menggelayut di leherku hingga hampir tak menyisakan jarak di antara kami. Aroma mawar Prancis menguar di penciumanku. Perempuan ini kembang Prancis yang nyaris layu. Ia seperti bunga yang tak pernah disentuh air. Kelopaknya rapuh dan jatuh berantakan di atas tanah bila tersenggol angin, meski tanpa disengaja. Sepanjang eksistensinya, ia tumbuh tanpa kasih sayang dan kehidupan yang keras membentuknya menjadi seperti sekarang. Aku menemukan kembang Prancis ini saat malam musim dingin lima tahun lalu di Montmarte. Sepulang dari menyendiri di Le Moulin de la Gallette, aku mendengar bunyi-bunyi ganjil di sepanjang Rue d’Orchampt yang gelap. Teriakan pendek seorang perempuan tenggelam dalam tawa beberapa pemuda yang menggaung. Penasaran, aku mengikuti jalan sempit tersebut. Teriakan perempuan di sana makin keras kudengar dan kuasumsikan sebagai teriakan minta tolong. Masih segar dalam ingatanku, sekitar tiga pemuda aku hajar malam itu tanpa kuberikan ampun. Ketiga-tiganya lari terpontang-panting, mengalah padaku dan tak melanjutkan aksi brutal mereka memperkosa seorang gadis secara bergantian. Dengan pemantik yang kuhidupkan untuk mendapatkan cahaya, aku menemukan Mara duduk meringkuk dengan wajah cantiknya yang lebam dan basah dibingkai rambut panjang bergelombang yang tak beraturan. Darah mengucur di sudut bibirnya yang bengkak. Ceritanya terlalu menyedihkan. Aku ingin berbagi denganmu, tapi di sini, aku tak diperbolehkan si penulis bercerita lebih tentangnya. Nanti akan ada waktunya aku diberi kesempatan bercerita padamu. Mungkin di file berikut.  “Besok mau nemenin aku, nggak?” tanyaku “Ke mana?” “Pesta orang-orang borjuis.” Aku menyingkirkan rambutnya ke belakang telinga. Mara mendesis. Aku tahu ia benci dikelilingi kemeriahan pesta orang borjuis yang menyilaukan matanya dengan perhiasan menggerenjeng dan obrolan membosankan. “Aku kan proletar, masa iya bisa diterima di lingkungan keluarga kamu yang borju itu?” “C’mon, Mara. Sejak kapan sih Queen Mara merasa rendah diri? You’re not an ordinary girl, Darling. Slap ‘em with your sexy butt.” “Ya udah deh, demi kamu, apa sih yang nggak aku turutin?” Aku mengecup pucuk hidung Eropanya. Kami berpisah setengah jam berikutnya karena aku dibutuhkan di basecamp sedangkan Mara perlu menyendiri demi menyelesaikan lukisan yang sempat tertunda di pojok kamarnya.   *****   Abimanyu memintaku agar tidak melemparkan tuduhan tak beralasan pada Nala. Di tepi danau angsa kampus, aku memastikan kamera ini dapat digunakan dengan menangkap setiap hal di sekelilingku. Sekumpulan angsa berenang, pasangan kekasih yang tengah kasmaran, ibu yang menggandeng anaknya menyusuri jembatan, dan lainnya. Rupanya Nala benar-benar memperbaiki kamera ini tanpa kekurangan. Aku benci dibuat seseorang berutang budi. Itu bisa menggangguku dan menggentayangiku sampai aku memenuhi hutang itu dengan kebaikan lain. Kebaikan apa? Menyiramnya dengan jus di depan muka umum itu yang kusebut kebaikan? “Kamu lebih mempercayai Nala daripada Bhisma?” Aku tertawa pendek. Bukan pertama kalinya Abimanyu menasehatiku agar tak memberikan hati pada Bhisma. Aku dan Nala baru bertemu sedangkan Bhisma sudah kukenal sejak semester satu. Lelucon macam apa itu. “Hanya karena dia mengatakan kalimat sama yang diucapkan anonim itu bukan berarti dia peneror kamu, kan? Nggak beralasan banget loh.” Kuabaikan pembelaannya terhadap Nala dengan menjejalkan kamera ke dalam tas. Coba saja kau jadi aku. Seseorang menerormu dengan nada mengancam, seakan hidupmu akan tamat di tangannya dan kau perlu memikirkan apa tujuanmu hidup sebelum dihabisi olehnya. Memang, setiap orang memiliki pembenci. Namun bukan begini caranya. Mengancamku melalui ask.fmsecara anonim merupakan tindakan pengecut. “Ya... oke. Sebelum aku dapat bukti kalau anonim itu bukan Nala, aku nggak akan nuduh dia sembarangan.” Beranjak berdiri, aku menyandangkan ransel pada satu bahu. Abimanyu berdecak melihat tingkahku dan tak mengekoriku seperti biasa. Tumben? Menoleh ke belakang, masih kulihat ia duduk di tepi danau, hanya memandangku dari kejauhan. Senyum tipis terbentuk di bibirnya. Aku mendesah pendek, melanjutkan langkah menuju Student Center tanpa ditemani dirinya. Hari ini aku memiliki janji dengan Mbak Hana Tjaraka yang bekerja di radio kampus. Lebih tepatnya, ia yang menghubungiku dan memintaku mengosongkan jadwal untuk melakukan on air bersamanya. Sudah kukatakan aku tak suka dipublikasi. Namun undangan ini semata-mata untuk membahas lebih acara Bulan Bahasa yang bisa dikatakan sangat sukses melebihi tahun-tahun sebelumnya, bukan karena kepiawaianku menciptakan lagu, kemampuanku menggambar, atau bahkan melambungnya nama Padang Bulan di ranah sastra—tak ada yang tahu Padang Bulan itu nama penaku kecuali Abimanyu. Aku masih tak habis pikir bagaimana si anonim tahu nama penaku, kode wartawanku, apalagi Nala. Ini memang terasa sangat berkaitan, antara si anonim dengan Nala. Tapi sudut pikiranku berulang kali membelot dan berteriak mengatakan Nala bukanlah anonim itu. Bhisma juga diundang, tapi menjelaskan bahwa ia terlambat hadir lantaran masih banyak urusan HMD yang belum ia selesaikan. Seekor kupu-kupu terbang rendah di sebelahku. Warna merah yang identik dengan kharismatik menarik minatku. Ia mengikutiku, mengepak-ngepakkan sayapnya mengelilingiku, lalu terbang di sebelah seakan menjadi pengantarku sampai di Student Center. Bahkan sampai aku di dalam elevator, ia mengikuti masuk. “Hey, kamu datang dari mana?” Telunjukku terulur dan disambut ramah olehnya. Kaki mungilnya hinggap di jariku, sementara sayapnya terus mengepak-ngepak perlahan. Aku tersenyum mengamati bintik-bintik hitam pada sayap merahnya. Kupu-kupu itu seakan mengamati wajahku dengan kedua mata kecilnya. Ia seperti ingin mengajakku bercakap-cakap. Pintu lift yang hampir menutup tertahan oleh sepatu seseorang yang lantas nyelonong masuk. Senyumku lenyap begitu dihadapkan dengan Nala yang kini berdiri di sebelahku, memandang kosong ke depan seraya membenamkan tangan ke dalam saku. Dagunya ditarik ke atas angkuh. Aku membiarkan kupu-kupu merah itu terbang di antara kami, seperti wasit yang akan menengahi pertengkaran di sini. Baru saja aku membicarakannya dengan Abimanyu, sekarang ia sudah ada di sebelahku. Aku menunggunya menekan tombol angka. “Kamu mau ke lantai berapa?” Barulah ia menoleh ke arahku setelah beberapa menit tak menganggapku ada. Ekspresinya berganti dari monoton menjadi terkejut yang dibuat-buat. “Hai... Padang Bulan. Aku baru sadar kamu ada di sini. Destinasi kita sama loh, lantai akhir.” Aku memutar mata. “Kamu bikin aku yakin kalau kamu itu anonim di ask.fm yang suka neror aku. Buktinya, sekarang kamu nguntit aku. Apa sih mau kamu?” Ia memutar badannya menghadapku. “Menurut kamu, apa alasan logis aku menguntit dan meneror kamu, hm?” “Ya nggak ada, kecuali kalau kamu psycho.” Sebelah alisnya tertarik tinggi. “Oke. Aku psycho. Dan kamu ada di dalam lift sama orang psycho. Hm... apa yang biasanya dilakukan cowokpsycho yang terkurung di lift sama seorang perempuan?” Lamat-lamat aku mundur ke belakang, sedangkan ia makin maju menyerang. Aku sadar aku akan tamat saat punggungku menempel pada dinding lift. Ia mengungkung tubuhku dengan kedua tangannya. Wajahku memucat bersipandang dengan matanya yang menyorot lekat. Sadarlah aku bahwa aku tak berkedip entah berapa lama. Mataku bertubrukan dengan matanya yang berwarna kayu manis. Bila aku seakan melihat jagad raya di mata Abimanyu, di mata Nala aku justru menemukan surga lengkap dengan malaikatnya. Bunyi ding terdengar seiring terbukanya pintu lift. Spontan, Nala menarik dirinya dariku dan memasang tampang ‘biasa’ seakan tak pernah mengenaliku sebelumnya. Sekitar tiga dosen berbincang-bincang di depan lift. Melewati pintu, Nala menyapa ketiga-tiganya ramah. Aku memberondong keluar sebelum pintu lift menutup. Baru kusadari keberadaan kupu-kupu merah itu tak ada di sekitarku. Aku sempat clingukan mencari-carinya, namun tiada jejak yang ditinggalkannya. Di ruang radio, Mbak Hana sudah menungguku. Ia menyempatkan break dengan memutarkan lagu untuk menyambut kedatanganku. Mataku mengekori sosok Nala yang menghempaskan badannya di sofa dan mengangkat kaki di atas meja. “Nirbita, Bhisma belum datang ya?” “Loh, aku malah mau tanya sama Mbak Hana.” Mbak Hana menepuk pundakku. “Ya udah, tunggu Bhisma aja ya, baru kita mulai. Kamu duduk dulu di sofa sana.” Dahiku mengernyit keberatan. Hendak aku meminta ijin keluar saja sampai Bhisma datang, namun Mbak Hana sudah kembali ke ruang siaran setelah menyapa Nala. Aku tak tahu kalau mereka saling mengenal. Meski menggondok, aku putuskan berdamai dengan pikiranku yang ingin meletuskan perang bersenjata. Bagaimana kalau aku duduk di sebelahnya dan berbicara baik-baik, membahas anonim itu? Kurasa itu ide bagus. Ia tampak sibuk dengan musik yang didengarkan dari headphonenya. Sambil memainkan ponsel, tak diacuhkannya aku. Aku tendang kakinya dan membuatnya spontan misuh, langsung melepas headphonenya. “Apa sih?” matanya membeliak kesal. “Aku mau ngomong sama kamu. Kita lanjutkan yang tadi.” “Lanjutkan yang tadi? Yang mana?” Tatapan mesumnya sangat menggangguku. “Soal anonim,” buru-buru kulanjutkan ucapanku. “Ada yang neror aku di ask.fm, pakai akun anonim. Dia tahu nama pena dan kodeku di media cetak. Terus, kemarin kamu manggil aku Padang Bulan. Aku nggak punya alasan buat nggak nuduh kamu pelaku di balik teror itu.” Napasnya yang dibuang kasar memberi penekanan padaku bahwa ia sangat jengah dan menahan diri untuk tak membentakku. “Begini ya, aku nggak punya ask.fm. Kayak anak alay tahu nggak main begituan. Tiap hari ngebaperin jawaban-jawaban celebask, disuruh ngepap sesuatu dikasih selfie yang nggak banget, belum lagi yang manfaatin fitur sembunyikan nama alias anonim buat ngehujat orang lain. Dih. Itu mainan anak alay.” Balasan sarkastis dan tawa mengejeknya menyentilku. Aku tersinggung dibuatnya. Mukaku memberengut. “Kalau nggak punya ask.fm kok tahu aktivitas anak ask.fm!” aku menyengal sentimen. “Mantanku dulu mainnya juga ask.fm. Makanya buru-buru aku putusin.” Ia geleng-geleng kepala. “Aku tahu nama pena kamu dari isi di map kamu. My mother loves your poems, to be honest.” Jemariku terasa kaku. Aku memainkannya seraya memalingkan wajah menyembunyikan wajah meronaku. Bukan karena ibunya menyukai karyaku, tapi karena salah tuduh. Penjelasannya memberiku penegasan bahwa aku adalah manusia tak tahu terima kasih. Ia sudah berulang kali menolong dan membantuku, namun balasanku sungguh kurang ajar. Abimanyu benar, tak seharusnya aku menjustifikasinya buruk. “Maaf soal kemarin,” kurendahkan suaraku. Ia melepas headphonenya, menggantungnya di leher sekadar mendengar kalimat apa yang baru keluar dari mulutku. “Apa?” “Maaf soal kemarin,” aku mengulang lebih keras dan jengah. “Aku takut dan kesal diteror kayak gitu.” Obrolan di antara kami tak sempat berlanjut lantaran Mbak Hana bergabung tiba-tiba di sofa lain dengan wajah sumringahnya. Aku bergeser lebih jauh sampai menubruk lengan sofa. Di sudut lain, Nala sibuk lagi dengan ponselnya. “Kalian udah saling kenal?” Mbak Hana membuka percakapan lagi. “Hm,” Nala mewakili jawabanku, terus bertekur dengan ponselnya. Tampak sudah terbiasa menghadapi sikap seperti itu, Mbak Hana lebih memilih aku yang dijadikan teman bicaranya. “Kamu kenal Anarki dari mana?” “A...narki?” Dahiku mengernyit. “Nama akrabnya di lingkungan aktivis mahasiswa. Kita sesama aktivis demonstrasi.” Oh. Aku sebetulnya tak suka aktivis yang hobi demonstrasi di jalan dan mengundang kerusuhan. Anarki, tampaknya mewakili tingkahnya yang begajulan. “Ya... kenal tanpa sengaja waktu ada demo di Jalan Tunjungan.” Begitu Bhisma datang, segera Mbak Hana meminta kami memulai bincang-bincang tentang kesuksesan Bulan Bahasa yang bahkan dilirik media nasional terkemuka. Sekitar satu jam kami berjibaku dalam obrolan dan candaan. Aku sempat curi-curi pandang ke arah Bhisma yang menjawab pertanyaan-pertanyaan Mbak Hana. Kalau saja di dekat pintu Anarki tak berdiri mengamatiku seraya melipat tangan seakan mencemooh, aku tak akan berhenti mengamati Bhisma. Bibirku mencebik mendapati ia masih mengawasiku.   *   Padahal aku berharap Bhisma mengantarku pulang, alih-alih ia pamit duluan karena memiliki janji. Ia tak memberiku penjelasan janji dengan siapa. Lambaian tangannya tertangkap di mataku sampai ia lenyap di balik tembok. Aku berdiri dalam kegemingan, terlihat menyedihkan. Memang aku datang kemari seorang diri menggunakan taxi—lalu Abimanyu datang tiba-tiba menemaniku di danau angsa. Daripada bermanja-manja meminta diantar, alangkah baiknya aku mencari taxi dan lekas enyah dari kantor radio kampus? Barangkali Abimanyu menungguku di tempat tadi. “Nirbita pulang sama siapa?” Mbak Hana menepuk pundakku. “Ngg... mungkin sendirian.” “Diantar sama Anarki aja ya. Mumpung dia bawa mobil.” “Nggak usah.” Aku menggeleng cepat. “Ya udah kalau nggak mau,” aku mendengar suaranya yang tak terima. Ia ngeloyor begitu saja melewati kami dalam langkah gusar. Mbak Hana berseru memanggilnya, membuat ia berhenti. “Aku nggak enak kalau Nirbita pulang sendiri.” Dipandangnya aku kemudian. Suara petir di luar seolah bersekutu agar aku bersedia diantar pulang sebelum terlanjur kehujanan. “Kamu mau ya diantar dia. Bentar lagi hujan loh.” Nadanya yang memohon membuat aku tak enak hati. Kuselipkan rambut di belakang telinga, sedikit menimbang. Aku mengkhawatirkan diriku yang bisa saja diturunkan di tengah jalan dan kehujanan. “Ck. Banyakan mikir. Keburu hujan nih, udah kesorean juga.” Ia mengetuk-ngetuk jam tangannya. “Iya ah!” Aku mendesah pendek. “Mbak Hana nggak pulang?” “Mau ketemu Pak Kadir. Aku bawa kendaraan sendiri kok.” Lagi-lagi aku mendesah. “Ya udah deh. Sampai ketemu lagi, Mbak.” Nala mendahului di depan. Perasaanku jadi tak enak tiap berdekatan dengannya. Ia seperti menyimpan dendam padaku. Mungkin kejadian di kedai waktu itu masih membuatnya kesal. Apa lagi yang harus kulakukan selain minta maaf? Aku kalut waktu itu. Sekarang jadi serba salah. Kami saling berdiam sepanjang jalan menyusuri koridor, dalam lift, bahkan koridor lagi di lantai bawah menuju keluar rektorat. Rintik hujan berubah jadi guyuran deras yang langsung menghentikan langkah kami di selasar. Nala mengumpat dan menggerutu lantaran hujan mendahului kami menuju tempat parkiran. Mau tak mau kami menunggu sampai reda di selasar. Di sampingku, ia tak membuka suara sekadar menyalahkan aku atas kesialannya. Aku tak berminat memulai percakapan, takut membuatnya meradang. Maka, aku diam saja memeluk badanku dan menggigil samar. Diam-diam aku melirik ke samping, melihatnya berdiri dalam jemu tanpa mengajakku bicara. Kami bagaikan manekin pakaian di toko baju yang tak disinggahi ruh. Namun, mataku tak ingin beralih darinya, kendati aku tahu tampaknya ia tidak suka aku amati diam-diam. Perhatianku lantas ditarik pada satu tempat. Aku maju mendekat sekadar mengamati sesuatu itu hingga ia menoleh dan bergerak menghindar. “Mau ngapain?” “Di bawah telinga kamu.” Aku menunjuk lehernya antusias. “Aku kenal gambar itu.” Spontan, Nala menyentuh lehernya, mengusapnya hingga menyentuh daun telinganya. Dipandangnya aku meminta penjelasan. Kali ini ekspresinya tidak main-main. “Emang ini apa?” “Bulan sabit dan paku, itu lambang dari perguruan Pandawa Lima, kan? Rana Naya Dwara Candra.” Aku mengikrarkan salam yang hanya diketahui murid-murid perguruan silat itu. Dalam bahasa Jawa, Rana Naya Dwara Candra dapat diterjemahkan menjadi perang di musim keenam yang mengantarkan sampai di gerbang rembulan (ini ungkapan yang melukiskan terjadinya kerusuhan di suatu masa yang membawa pasukan tersisa pada keberanian menghadapi perang lainnya). Di kebudayaan Jawa, kami mengenal istilah ‘sengkalan’. Rana Naya Dwara Candra merupakan bagian dari sengkalan lamba yang menunjukkan tahun, artinya 1963. Tahun didirikannya Pandawa Lima. “Kamu tahu dari mana?” ia bertanya sungguh-sungguh dengan berbisik di sebelah telingaku. “Kamu tahu dari mana, Padang Bulan?” Rupanya ia tak suka identitasnya aku buka. Kini aku bisa terbahak dalam hati. Ia berhasil mengungkap siapa itu Padang Bulan, giliran aku yang menelanjanginya sekarang. Memang tak banyak yang tahu perguruan itu, kecuali orang-orang yang memiliki relasi dengan murid-muridnya. Aku tak kaget melihat ekspresi Nala seperti itu. Kalau ia hidup di era Orde Baru, barangkali ia sudah diciduk dan dibunuh. “Aku lahir dan dibesarkan di Lemahdadi. Bundaku salah satu murid Pandawa Lima di sana.” “Oh.” “Ada lima ajaran yang disebut Panca Astra, kan? Nah, kamu sampai mana? Sampai kebatinan nggak? Bundaku udah sampai kebatinan loh. Berarti kamu bisa baca pikiran orang dong?” “Haisssh. Bisa diem nggak sih? Berisik!” Ia menyentil poniku membuat aku berkedip. “Aku nggak ikut sampai selesai, baru astra ke dua.” “Yah... sayang banget, tahu. Kalau bisa sampai astra ke lima, kamu—” Mulutku dibekap tak dibiarkan melanjutkan. “Aku nggak lanjut karena keberatan sama persyaratan dan sumpahnya. Ajaran itu udah melangit, sedangkan aku masih ada di bumi. Paham nggak, sih?” Kudorong tangannya dari mulutku. “Emang kenapa sama syaratnya? Kata Bunda nggak susah kok.” “Ada banyak dan susah buatku. Salah satunya: tidak boleh bersetubuh tanpa ikatan perkawinan saat mempelajari astra ke tiga. Karena keberatan sama syarat itu, ya udah, aku keluar.” Sudut bibirku terangkat dibarengi kernyitan dahi. Obrolan tentang perguruan tak lagi berlanjut karena hujan telah reda, hanya menyisakan rintik-rintik dan hawa dingin yang menelusup di kulitku. Nala melangkah lebih dulu. Aku setengah berlari mengikutinya dari belakang sembari menaungi diriku dengan ransel menghindari rintiknya yang bisa saja membawa flu. “Jalannya jangan cepat-cepat dong! Licin nih!” Aku hampir sampai di sebelahnya. Melewati jalan setapak sempit menyeberangi taman berumput yang basah, aromanya hadir seperti sengaja meruap di penciumanku atas satu alasan. Ia berhenti dan berbalik menungguku dengan wajah bosan. Sepatuku terasa licin menyusuri sempitnya jalan setapak. Beberapa kali aku menghindari kubangan air. Saat menghindari satu kubangan kecil, kakiku tergelincir. Aku terpeleset dan tersorong ke depan, spontan saja menabrak tubuh Nala yang tak sempat menangkapku. Bumi seakan menarik kami dengan hukum gravitasi. Ia jatuh terlentang lebih dulu di rerumputan sedangkan aku menyusul tengkurap menindih tubuhnya. Bibir kami bertubrukan tanpa sengaja. Aku dapat merasakan sengatan halilintar dalam jantungku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD