Seperti baru dicambuk dengan cemeti kuda, praktis aku melompat berdiri dan pura-pura merapikan kemejaku yang separuh basah, demikian dengan jinsku. Jauh dari ekspektasi, Nala tak mempermasalahkan tragedi ‘tanpa sengaja’ tadi, alih-alih menggerutu lantaran pakaiannya juga basah dan kotor. Diamatinya lengan dan kemejanya sebelum kepalanya tengadah ke arahku. Aku tak berani memandang wajahnya secara langsung dan sibuk menghitung detak jantungku yang hampir mirip gedoran pintu di musim perang.
“Maaf, maaf,” aku terpaksa merendahkan diri—lagi!
Ia terus menggerutu dalam bahasa yang sulit kupahami—Prancis?—, menekan kata-kata seperti ‘merde’ dan ‘la puta’ berkali-kali seperti sumpah serapah sembari mengangkat tubuhnya dari rerumputan basah dan menepuk-nepuk kemejanya. Matanya tak ingin mengalah dariku dengan sorot lekat mengancam. Ada baiknya aku tak ikut dengannya daripada aku tamat.
“Aku naik taksi aja ya.” Kakiku melangkah ke depan.
“Non! Non!” bentaknya, spontan menghentikan langkahku. “Kamu nggak bisa lari dari tanggung jawab, Nirbita Arunika.”
“Aku nggak sengaja tadi, sumpah.” Dua jariku membentuk huruf V di depan wajahnya. Masih kupertahankan posisiku membelakanginya. “Terus mau kamu apa sekarang?”
“Kamu hitung nggak kesalahan kamu sama aku ada berapa?”
Banyak. Banyak sekali. Mulutku terkunci sebelum aku menjawabnya. Kubiarkan ia melanjutkan kalimatnya tanpa menunggu pembelaanku seperti sebelum-sebelum ini.
“Banyak,” balasannya memang mewakili jawabanku. “Pertama, kamu nggak tahu terima kasih udah ditolongin. Kedua, kamu nggak tahu terima kasih soal lensa kamera yang aku benerin—itu mahal loh, mahal!” Ia sengaja meninggikan nada di belakang kalimat seperti waktu aku menekan kata ‘mahal’ padanya. “Ketiga, kamu nyiram aku di depan orang banyak. Terakhir, kamu mendorongku sampai jatuh. Aku nggak mungkin ke basecamp dan mimpin rapat kayak gini, kan? Dan oh, tadi kamu juga main nyosor aja loh. Nggak nyangka ya, cewek macam kamu ternyata suka main nyosor.”
Main nyosor. Kalimat keji yang entah mengapa membuat aku jijik pada diriku sendiri. Aku berbalik badan, memberanikan diri bersipandang dengannya. Tanpa kusadari, rintik-rintik samar sisa hujan tadi sudah tak kurasakan—mungkin karena badanku basah sehingga aku tak sempat memikirkan rasanya disentuh air yang tercurah dari langit? Ada peri kecil hinggap di atas bahuku, berbisik di telingaku dengan nada lembutnya,
“Coba lihat sepasang mata yang indah itu. Abimanyu membawa jagad raya beserta isinya dalam satu ruang seperti Kresna. Di depanmu, kau bisa melihat rupa swargaloka.” Lantas ia terbang, lenyap dibawa angin, seperti kupu-kupu merah berbintik hitam tadi.
“Halo...” Suara jentik jari di depan wajahku praktis membuat aku berkedip. “Ck. Nggak usah kayak gitu dong ngelihatinnya.”
“Terus, aku harus apa buat nebus kesalahan aku sama kamu?” Meski aku menyesal berurusan dengannya, sudut hatiku oposisi dengan pikiranku. Ia menggeleng dan berdecak memanggilku bodoh bila menyia-nyiakan kesempatan. Kesempatan apa? Mengenal sebrengsek apa dirinya?
“Kamu nggak boleh pulang dan ikut aku ke basecamp.”
“Idih... ngapain? Basecamp tempat bocah-bocah yang doyan demo?” Bola mataku terputar ke atas. Berulang kali aku bilang padamu bahwa aku tak suka aktivis demo. Lebih-lebih berkumpul dengan mereka dan mendengarkan rencana mereka membuat kerusuhan di jalanan.
Nala mengedikkan bahu. “Oke kalau nggak mau. Cuci bajuku.”
“Nggak! Binatu kan banyak, minta mereka aja sana!”
“Pilihannya cuma dua kok. Terserah kamu mau pilih yang mana.”
Aku kehabisan kesabaran berurusan dengannya. “Aku mau pulang naik taksi. Keburu malam nih. Bye.” Melenggang tak acuh, aku melangkah menjauh. Baru empat hitungan, lenganku ditarik sampai membuat aku berbalik badan.
“Kamu yang suka nulis artikel soal pembunuhan Lentera Dewi, kan?”
Aku ternganga. Ia tahu aku pelakunya... Batinku mengutukku. Tentu saja ia tahu. Padang Bulan adalah nama penaku, ia sudah tahu itu. Aku yang kerap memblow up berita pembunuhan mahasiswi itu, Lentera Dewi, dan menuliskan analisis-analisisku terkait bukti-bukti yang bersangkutan. Tulisanku pun bukan sekadar omong kosong, sebab aku menghubungi penyidiknya langsung dan mendengarkan praduga bahwa Lentera Dewi dibunuh oleh salah seorang pejabat. Sebab belakangan ini, ia dikabarkan dekat dengan si pejabat sebagai simpanan. Tinggal selangkah lagi kasus Lentera Dewi selesai, meski banyak media yang mulai mengaburkannya agar masyarakat tak lagi meributkan aib si pejabat. Tugasku sederhana, hanya menyampaikan apa yang kudengar dari si penyidik. Kalau tulisanku dituduh sebagai ancaman, mana aku sadari. Memang begitulah resiko berjibaku dengan kasus kriminal. Sudah banyak cerita wartawan yang dibunuh demi menutupi kebejatan oknum-oknum yang merasa tersudutkan.
Tiba-tiba aku teringat anonim di ask.fm. Benarkah ia salah satu yang akan membuntutiku sampai di ujung dunia lantaran tulisanku dapat mengancam?
“Kenapa?” aku menelan ludah susah payah.
“You are in danger, Darling.”
*
Bahaya yang disebutnya tadi mengantarkan aku menuju sebuah tempat yang tadinya tak sudi kudatangi. Sepanjang jalan ia tak memberiku penjelasan mengapa aku dalam bahaya dan siapa yang memerangkapku dalam bahaya. Hingga memasuki rumah kecil di Jalan Karimun Jawa yang dijadikan tempat berkumpulnya aktivis demonstrasi, aku diam terpaku mengamati kesibukan anggota yang terdiri dari mahasiswa-mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi. Aku diperkenalkan pada teman-teman Nala dan mulai menghapal nama mereka yang mudah menempel di kepalaku. Mbak Hana sempat menyapa dan memintaku bergabung, namun aku menolak dengan sopan dan memilih menunggu di sofa. Awal kedatangan kami, mereka menertawakan Nala yang basah kuyup. Ia meminta waktu penundaan untuk berganti baju, sedangkan Mbak Hana memberiku kausnya dan memintaku segera berganti di kamar khusus anggota perempuan.
Aku bahkan tak tahu apa yang kulakukan di sini. Apa yang dimintanya dariku? Baru kusadari, aku kelihatan bodoh mengikuti perintah seseorang semudah ini. Mereka merapatkan aksi untuk mendorong aparat menyelesaikan kasus pembunuhan Lentera Dewi agar tak bernasib seperti kasus serupa yang ditutup tanpa keadilan. Rencananya, aksi bukan hanya dilakukan oleh mahasiswi kota ini. Dipastikan aktivis se-Indonesia akan terlibat ke dalam aksi ini di berbagai kota.
Nala bolak-balik duduk, berdiri, mengitari meja, menulis di whiteboard mendengarkan satu per satu aspirasi anggotanya tentang konsep aksi dan tempat yang cocok mereka gunakan.
“Coba konsep kita lain daripada biasanya deh,” Mas Anta menjentikkan jari. “Kita bawa light stick gitu, terus nyanyi-nyanyi I want you... I need you...”
“Bleh.... Lu kira wota! Peler.” Banyu melempar kulit kacang ke arah Mas Anta disambut tawa anggota lainnya. Melihat dari tempatku duduk, aku ikut dibuat mereka tertawa. “Eh, pada ngelihat si Nabila di poster film terbarunya, nggak?Cakep, bro.”
“Loh, bukannya main sama Om-Om ya dia?” Mas Kresna dengan medok Jawanya mengikuti perbincangan.
“Ck. Tau gitu gue mah ikutan casting, biar bisa jadi lawan mainnya dedek Nabil. Ada adegan ciumannya juga loh, Bro! Menang banyak tuh Om-Om.”
“Eits!” Mendadak Mas Anta melompat di atas meja memberikan sikap kuda-kuda, menantang Mas Banyu. “Nabila cewek gue. Sini, battle dance sama gue dulu.”
“Ini kenapa bahas Nabila sih. Turun.” Nala menghantamkan gulungan mapnya pada kepala Mas Anta sekuat mungkin, membuat ia mengaduh dan duduk di kursinya lagi.
“Ahhh lebih nyesek lagi ngelihat ayang gue si Chelsea Islan sama Hamish Daud. Nonton film mereka di bioskop pas bagian endingnya itu, gue langsung misuh-misuh. Bayangin aja kalau takenya berkali-kali. Menang banyak kan Hamish.” Mas Banyu menepuk meja. Tubuhnya merangsek maju ke depan.
“Ya Chelsea yang menang banyak bisa ciuman sama Hamish!” kali ini dari kubu perempuan tak mau kalah. Aku rasa, Sarasvati salah satu penggemar Hamish, seperti teman-teman asramaku yang seringkali menjerit histeris tiap melihat Hamish di infotainmen.
Nala mengetuk whiteboard menggunakan spidol berkali-kali menghentikan perdebatan di luar forum. Ia mengarahkan telunjuknya ke arah pintu yang menjeblak terbuka/
“Pintunya kebuka loh. Ada yang mau keluar?”
Tak ada yang membuka mulut. Hanya tawa tertahan Mas Jodipati di meja terjauh yang disembunyikan dengan tangannya. Rapat kembali berjalan tertib tanpa keributan di luar forum lagi.
Tanpa aku sadari, sejak awal perhatianku telah berlabuh pada mereka. Keakraban mereka, bukan sekadar antaranggota organisasi. Aku melihat adanya kekeluargaan yang membelit erat menyatukan mereka. Adanya tawa yang hadir bukan hanya sebagai penetralisir di sela-sela ketegangan berpikir, melainkan murni datang tanpa diminta lebih dulu.
Peri kecil yang berbisik di kupingku datang lagi. Kali ini menjelma menjadi perempuan bertubuh langsing dan tinggi semampai yang duduk mengatung-ngatungkan kaki di atas meja. Ia mengenakan gaun panjang berbahan brokat dan satin warna merah. Jangan-jangan ia jelmaan kupu-kupu merah tadi?
“Kadang malaikat jatuhnya selalu bertepatan dengan larinya sesosok iblis dari swargaloka.”
Aku memandangnya tanpa kata.
“Kau percaya pada dongeng Nawang Wulan? Kebohongan Jaka Tarub memisahkannya dari perempuan yang ia cinta. Bidadari macam Nawang Wulan datang ke bumi bukan untuk bersuami, Nirbita. Namun, takdir dan cinta hadir tanpa terduga di antara mereka.” Perempuan itu tertawa kecil. “Jaka Tarub bodoh. Mengapa ia harus membohongi Nawang Wulan demi cinta yang tak seabadi dirinya?” Dipandangnya aku kemudian. Kedatangannya bagaikan menyihirku sehingga aku tak diberi waktu untuk menanggapi ucapannya.
“Dunia menyimpan misteri terpendam. Kau, Putri Dandelion, menyimpan rahasia besar yang hanya kau percayakan pada Sang Klandestin. Bila kau bertemu dengan sesosok Kerub, apa kiranya yang kaulakukan? Ia mempertanyakan rahasia yang kau bawa sampai ke dalam mimpimu.”
Rahasia. Aku menyimpannya dan hanya Abimanyu yang tahu. Tanpa bertanya maksud perkataannya pun aku sudah paham.
“Tapi iblis berlari lebih cepat dari yang kau kira, Nirbita. Kau hanyalah setangkai Dandelion rapuh yang tak memiliki daya di dalam cengkeramannya.” Tangannya bergerak bagaikan seorang penyair yang tengah mendendangkan syairnya. “Sang Klandestin bukanlah seorang kesatria yang dapat berperang dengan iblis. Ia hanya dapat melarikanmu pergi dengan kudanya. Sejauh yang ia bisa. Namun Kerub mampu melindungimu dengan empat sayapnya. Ia akan memotong dua pasang sayapnya demi menyembunyikanmu dari mata para iblis. Kerub tampan yang menjelma menjadi manusia dengan mata seindah swargaloka...” Ia memejamkan mata, tersenyum, lalu menghilang membentuk asap tipis.
Saat itu pula, kudengar suara Nala menghampiriku. Suaranya serupa gaung di ceruk telinga. Aku memandang ke arahnya. Bayangan sesosok Kerub yang diceritakan perempuan tadi muncul di depan mataku. Di balik cahayanya, aku lihat Kerub tersebut mengajakku bicara. Ada empat sayap di balik punggungnya.
“Nirbita.”
Aku terpana. Ia begitu indah. Sungguh ingin kuraih dan kusentuh wajahnya yang bercahaya. Tanganku terangkat hampir menyentuhnya.
“Padang Bulan!”
Spontan aku terperanjat dan mengerjapkan mata berkali-kali. Kuamati tanganku yang kini berada di pipi Nala. Buru-buru aku menurunkan tanganku dan memangkunya. Ia perhatikan aku seperti baru berhadapan dengan makhluk testral. Kerub yang semula memenuhi kepalaku dan membuatku dipermainkan oleh alam bawah sadar lenyap digantikan oleh eksistensi Nala.
“Rapatnya udah selesai?” aku baru mendapatkan diriku detik ke sekian.
*****
Dua jam lagi pesta tanteku dimulai. Dari tadi Maman mencoba menelepon dan mengirim pesan memintaku segera pulang dan bersiap. Karena berjanji akan datang bersama Mara, rasanya aku akan terlambat datang untuk menjemputnya di apartemen lebih dulu.
Waktunya sungguh tidak tepat. Aku harus menjelaskan pada Nirbita sebelum angkat kaki dari basecamp. Di teras, kawan-kawanku bernyanyi macam bujangan yang ditinggal kawin kekasihnya. Jodi dengan gitar di tangan seperti biasa, mengiringi yang lain membawakan lagu-lagu Payung Teduh dan Barasuara. Langit tak semendung perkiraanku. Bintang-gemintang menampakkan diri dari peraduannya, menyemarakkan nyanyian sumbang di sini.
“Terus, aku harus gimana?” Nirbita tampak kebingungan mendengar penjelasanku tentang perburuan wartawan yang telah menyudutkan seorang pejabat.
“Ganti nama pena kamu dan berhenti jadi jurnalis lepas. Mau apa lagi?”
Ia mendesah putus asa. Kalau tak mau tamat di tangan mereka, ia harus merelakan nama penanya.
“Kenapa kamu nggak bantu aku laporin ini ke polisi?”
Aku terbahak. “Heh, kamu ini lagi ngadepin pejabat yang aksi bejatnya nggak mau kecium publik. Gayus aja bisa jalan-jalan ke Bali waktu masa tahanan, apalagi pejabat yang kasusnya masih abu-abu.” Nirbita menggigit buku-buku jarinya, memikirkan masalah dan mata yang tengah mengawasi gerak-geriknya.
“Nggak ada rencana apa gitu sama teman-teman kamu itu?” Pandangan kami serentak menuju pada kawan-kawanku yang sekarang nyaris teler dengan botol-botol minuman.
“Mereka cuma aktivis, bukan intel. Malahan, mereka nggak tahu seluk-beluk kasus Lentera Dewi.”
“Kamu tahu?” nadanya meninggi tak percaya.
Mau kujelaskan macam apa anak ini? “Aku nggak ada waktu ngejelasin semuanya sama kamu.”
Bunyi pesan masuk serentak membuat kami mengecek ponsel masing-masing. Kukira ada pesan di ponselku, rupanya Nirbita yang mendapatkannya. Ia tersenyum lebar, mendekap ponsel pada dadanya menghentak-hentakkan kaki di atas lantai.
“Anterin aku pulang sekarang dong. Bhisma mau jemput aku di asrama.”
Bocah tengik itu lagi. Aku berniat memberinya peringatan, tapi melihat betapa senang ia diajak pergi, keinginanku tertahan hanya di pikiran. Kami berpamitan pada yang lain. Nirbita berlari terburu-buru ke dalam mobilku dan meminta aku lekas mengantarnya sebelum Bhisma sampai.
“Aku harus dandan dulu!” begitu katanya.
Ya... perempuan dan kesibukan tak penting mereka. Memang membuang-buang waktu.
*
“Nalaaaa! Ya ampun! Udah segede ini keponakan Tante!” Tante Mona mencium kedua pipiku. Aku mengernyit, merasa risih diperlakukan macam anak TK. Aku mengusap-usap pipi, khawatir ada bekas lipstik merah di sana.
Pesta orang borjuis dan arisan keluarga besar seperti ini bukan duniaku. Arisan keluarga besar dilaksanakan tadi sore dan sekarang dilanjutkan pesta untuk teman-teman Tante Mona, baik teman bisnis atau teman sekolahnya—yang tentu saja sederajat dengannya.
“Tante sama Om kan baru pulang dari Jerman, makanya langsung ngadain acara kecil-kecilan seperti ini. Kangen pesta di Indonesia.” Ia terkikik.
Pesta yang dihadiri orkestras mahal yang bermusik di dekat kolam renang, berpuluh-puluh piring berisi makanan dan minuman populer sedunia, dan mendatangkan ratusan undangan ia sebut pesta kecil-kecilan? Aku bahkan heran, bagaimana ceritanya Maman memiliki saudara macam Om Seno? Maksudku, lihatlah kekayaan melimpah ruah milik keluarga ini. Om Seno bahkan tak keberatan putri semata wayangnya rela melangkahi benua demi benua demi menghadiri konser One Direction. Tak puas di Inggris, Norwegia, Prancis, Italia, ia rela terbang menuju Jepang, Turki, dan Amerika Serikat. Demi konser yang sama!
Pandangan mata Tante Mona beralih pada teman kencanku malam ini, Asmara, yang bersikap layaknya seorang model kelas dunia. Ia tahu bagaimana memperlakukan masyarakat borjuis macam Tante Mona.
“Ini siapa?”
“Asmara Rindu Levesque,” Mara berjabat tangan bersama Tante Mona, tetap mempertahankan senyum simpul dan tatapan memikatnya.
“Cantik sekali.” Tante Mona berbinaran takjub. “Sama-sama ada darah Prancisnya, ya? Pacar kamu?” Pandangan Tante Mona beralih padaku.
“Oui (ya). Ini pacarku.” Tanganku melingari pinggang Mara yang balik menggamit lenganku mesra. Mata Tante Mona tak henti-hentinya menyoroti Mara dari puncak kepala sampai kaki yang dihiasi heels perak sepuluh senti. Sebelah alisnya tertarik ke atas begitu matanya yang bak kucing betina kelaparan itu menangkap gambar ular melilit di lengan Mara.
“Dia seniman, Tante,” aku menjelaskan.
“Kami punya galeri pribadi di Prancis. Ibu saya suka melukis juga. Dia seniman Bali,” Mara mengeluarkan bakat akting dan menipunya. “Papa saya pengusaha sekaligus salah satu investor dunia. Tante tahu Prada? Loubotin? Dior? Chanel? Papa saya menanam saham di perusahaan mereka.”
Aku hampir menyemburkan tawaku mendengar bualan tololnya. Padahal bapaknya bule Prancis tukang judi yang sekarang menjelma menjadi orang kaya berkat pacar barunya, seorang desainer terkenal di Prancis.
“Hebat sekali... Kamu memang cocok sama keponakan saya.” Ditepuknya pipi Mara ramah. “Have fun ya. Tante mau nemuin teman-teman Tante dulu. Daaah, Nala.” Dengan anggun dan penuh ketukan, Tante Mona melimbai menjauhi kami berdua, menuju segerombolan sosialita bermerek mahal yang mengerumun jadi satu memamerkan perhiasan masing-masing.
“I’m so impressed, kamu bisa tahan di tengah keluarga abnormal macam mereka.” Mara meraih dua gelas berkaki dan menyerahkan satu untukku. Kami sama-sama bersulang dan menenggaknya bersamaan.
“You shall cheer your glass for my mother.”
Kami terbahak. Tawaku terhenti begitu menangkap sosok gadis dalam gaun biru tua dan rambut digelung menyisakan beberapa helai membingkai wajahnya melenggang masuk bersama seorang laki-laki.
Nirbita dan Bhisma?
“Kenapa, Darl?” Mara bergeser lebih dekat di sampingku. Tangannya menggantung di atas pundakku. Ia mengikuti arah pandangku dan beralih menuju wajahku. “Kamu kenal?”
“Itu Padang Bulan,” aku berbisik.
“Quoi (apa)???”
“Ngapain dia di sini?” Dan untuk apa pula Bhisma mengajaknya kemari? Nirbita sempat bertatap muka denganku beberapa detik dan mengalihkannya ketika Bhisma mengajaknya menghampiri gerombolan lain di seberang ruangan.
“Hm... kalau dari pengamatanku, dia seperti kelinci kecil yang nggak ada bahaya-bahayanya.”
“Penampilan bukan refleksi sebuah pemikiran, Mara. A pendoes.” Itu kalimat sakral Maman yang kerap disabdakan.
Pembicaraan tentang Padang Bulan tak berlanjut saat kami menumbukkan perhatian pada seantero tempat di rumah ini dan mengenali pengusaha-pengusaha mana yang pernah bermain api dengan Mara. Menikmati ceri dan segelas wine, Mara menunjuk satu per satu pria-pria berjas dari balik meja bersamaku.
“Siapa yang bisa menolak Queen Mara?” aku menarik dagunya.
“No one, Honey.”
Aku meraup bibirnya dengan ciuman, melenyapkan krim yang ditinggalkan tadi. Mara terkesiap tiba-tiba dan menarik dirinya dariku. Ia mencengkeram kerah tuksedoku. Matanya mendelik ngeri macam dihadapkan dengan arwah penasaran.
“Kenapa, Mara?”
“Kenapa ajudannya ada di sini?” ia berbalik badan, seperti menyembunyikan diri.
“Ajudan siapa!” aku berbisik penasaran.
“Si tikus, Anarki! Big Rat!” Ia menoleh ke belakang, mencari-cari keberadaan anak buah Big Rat yang dimaksud tadi. “Aku hapal ajudan tikus itu. Kalau dia ada di sini, artinya Big Rat juga ada di sini.”
Tiba-tiba selentingan ingatan menamparku. Nirbita ada di tempat ini. Pena yang menyudutkan tikus berjas itu ada di sini. Kalau mereka tahu Padang Bulan ada di tempat ini, akan ada kasus Lentera Dewi lain yang muncul di koran esok pagi.
Berselang cukup lama ketika kuajak Mara menghindari ajudan-ajudan itu agar tak memergokinya berada di sini, aku dengar suara teriakan teredam dan bunyi debur air yang sontak mengundang perhatian tamu lainnya.
“Nirbita!”
Mendengar seruan Bhisma, kepalaku tersentak. Spontan saja aku berlari menuju sumber suara.