“Terimakasih ya, Mbak. Sudah jagain anak saya.”
“Oh, iya, Bu. Sama- sama.” Anna melambaikan tangannya ke arah anak gadis yang sejak tadi menemaninya duduk di depan minimarket.
Dari tempat duduknya Adam memperhatikan, Anna begitu menyukai anak kecil seperti yang dia tahu. Wanita itu bahkan kerap menggodanya dengan menggunakan baju tipis dan berkata ingin memiliki bayi dengannya. Bukannya dia tak tergoda, dia bahkan selalu berusaha menahan dirinya saat melihat wanita itu menggoda dengan pakaian tipisnya karena berpikir jika dia dan Anna benar-benar memiliki bayi justru akan membuat Rima semakin berkuasa dengannya. Bukan hanya pada Anna tapi pada wanita- wanita di luar sana yang menggodanya Adam selalu menjaga dirinya. Pernah suatu hari Adam kedatangan seorang wanita. Wanita yang menggodanya mati- matian hingga dia telanjang di depannya. Hingga Adam yang kesal justru meminta anak buahnya untuk memberi pelajaran. Siapa sangka wanita itu ternyata di kirim Rima untuk menjebaknya. Sejak saat itu Adam selalu waspada dan menjaga jarak dari wanita termasuk Anna sebab bagaimana pun Anna adalah wanita yang di pilihkan Rima.
Ibu tirinya itu memang kerap melakukan segala cara untuk menjatuhkannya.
Adam melihat sekitarnya. Orang-orang mulai berkurang sebab hari semakin malam. Mungkin mereka juga mencari hotel untuk menginap sementara waktu. Hujan sudah reda hanya saja akses jalan yang tertutup membuat dia tetap tidak bisa lewat.
Di depan sana polisi masih mengatur lalu lintas agar berjalan kembali dan mereka bisa menuju jalan alternatif lain untuk melanjutkan perjalanan.
“Kamu mau kemana?” Adam mendongak saat Anna meraih tasnya hendak pergi.
“Cari hotel.”
Adam mendengus saat Anna meninggalkannya begitu saja. Wanita itu benar-benar mengabaikannya. Bahkan sejak tadi saat Adam menemaninya dia tetap mengacuhkan dan hanya mengobrol dengan anak kecil itu.
Adam melangkah mengikuti Anna, melihat wanita itu mengusapi lengannya Adam segera melepas jasnya dan mengenakannya di bahu Anna.
Anna menghentikan langkahnya dan menoleh. “Apa? Aku cuma takut kamu sakit terus merepotkan aku.” Anna mendengus hendak melepas jasnya, namun Adam justru menekannya agar Anna tak bisa melepasnya.
“Kalau gak ikhlas jangan! Sejak kapan aku merepotkan!” Namun Adam masih menekan jasnya membuat Anna menyerah dan membiarkan jas Adam tergantung di bahunya.
“Kamu ngapain ngikutin aku?” Anna menoleh dan menatap Adam yang masih mengikutinya di belakang.
“Aku juga harus pulang, kan?”
Anna memutar matanya malas. “Ya sana pulang, kenapa ngikutin aku?”
“Mobilku jauh.” Adam melangkah mendahului Anna membuat Anna semakin bingung dengan tingkah pria itu
“Kenapa sih?”
“Harusnya kamu berterimakasih karena aku temenin kamu, kamu gak takut apa sendirian.”
Anna mendengus. “Apa yang perlu di takutkan saat aku saja akan menjemput ajal.” Langkah Adam terhenti, lalu menoleh.
“Apa?”
Anna tak menjawab dan justru melangkah ke arah mobilnya yang sudah di lewati Adam.
“Hei!” Adam akan mengejar, namun saat ini ponselnya berdering membuatnya mengurungkan niatnya dan menerima panggilan tersebut.
“Hallo?”
“Mas gimana, sudah ketemu?”
“Sudah.”
“Terus gimana kamu udah mulai dekati Anna kan?”
Adam berdecak. “Kamu pikir ini gampang.”
“Ya gampang lah. Anna itu udah lama suka sama kamu harusnya begitu kamu mendekat dia langsung berjingkrak kegirangan."
Benar, harusnya wanita itu senang. Tapi sejak tadi Anna hanya mengacuhkannya. Atau mungkin dia masih bersandiwara dan pura-pura menjauhinya?
Adam memang berniat mencari tahu kenapa wanita itu tiba-tiba menjauhinya bahkan mengacuhkannya. Apa ini termasuk rencananya atas perintah Rima dia akan tahu saat dia mendekati Anna. Dia pikir akan mudah, tapi rupanya setelah sejak tadi dia menemaninya di minimarket Anna tetap saja tidak menyerah. Apa usahanya belum maksimal?
“Aku hubungi nanti. Aku langsung pulang, kamu bisa pulang besok sama Reihan.”
"Tapi Ingat Mas jangan sampai kamu yang terjebak!" Wajah Adam kembali datar dan menghampiri Anna yang hendak menaiki mobilnya.
“Tunggu, biar aku yang nyetir.” Adam menahan Anna untuk masuk.
Anna menatap Adam dengan mengernyit, namun dia tak membantah dan pergi ke kursi sebelah.
“Langsung pulang aja.” Anna berkata acuh. Biar saja toh bukan dia yang menyetir. Biar pria itu kelelahan sekalian.
….
Jalanan kembali lancar setelah mereka bisa putar arah. Adam memutuskan untuk langsung pulang seperti kata Anna. Melewati jalan alternatif lain hingga kini mereka tiba di kota. Belum benar-benar tiba di rumah sebab perjalanan harus ditempuh kurang lebih satu jam lagi. Adam memutuskan berhenti di sebuah restoran untuk sarapan sementara Anna masih tidur di kursi sebelah dengan memeluk tasnya.
Adam menoleh dan memperhatikan Anna yang masih memejamkan matanya. Wanita itu nampak tenang saat hanya tidur. Harras benar, Anna memang cantik dia tidak memungkiri itu. Tapi dia juga tak bisa menghilangkan kewaspadaan saat dia belum tahu tujuan Anna sebenarnya. Dari istri dan menantu yang penurut kini berubah melawan dan acuh.
Apa yang sebenarnya wanita itu rencakan?
Tatapan Adam jatuh pada tas yang ada di pelukan Anna. Saat tangannya mengulur untuk meraih tas tersebut, Anna justru terbangun dari tidurnya hingga Adam kembali menarik diri.
“Oh, udah sampe?” Anna menyipitkan matanya saat melihat sekiranya. “Ah, belum.” keluhnya saat dia tahu mereka masih di perjalanan. “Kenapa berhenti?” Anna menoleh menatap Adam.
Wajah Anna yang masih kusut karena bangun tidur terlihat lucu. Namun Adam saat ini hanya bisa berdehem.
“Aku capek. Butuh istirahat.” jawab Adam.
Anna mengangguk lalu kembali melihat sekitarnya.
“Aku laper mau sarapan.” Tanpa menunggu respon Adam, Anna turun dari mobilnya.
Anna melangkah memasuki restoran di depan mereka dan memesan di konter.
Adam mengikuti Anna memasuki restoran dan tak menunggu lama makanan yang di pesan Anna sudah datang. Keduanya makan dengan tenang bahkan tak bersuara. Hanya suara sendok beradu yang terdengar dan suara dari beberapa pengunjung lain.
Hingga Adam meletakan sendoknya menandakan jika dia selesai makan. "Sahabat kamu itu—” Adam menghentikan ucapannya saat Anna mendongak.
“Mantan sahabat!” Sanggah Anna membuat Adam mengangguk.
“Maksudku kenapa kalian jadi bermusuhan?” Adam harus mencari tahu dari hal terkecil tentang Anna, kenapa sampai wanita itu berubah tiba-tiba.
“Aku tidak butuh teman yang munafik.” Anna meletakan sendok dan garpunya lalu meneguk air mineral di meja. Setelah benar-benar memastikan makanan tertelan Anna membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah botol berisi obat lalu memasukannya ke dalam mulut dan mendorong dengan air.
“Obat apa itu?”
Anna menatap acuh. “Vitamin.” Namun Adam masih menatapnya seolah tak percaya. “Kamu tahu wanita itu gak suka kelihatan gemuk.” Dan Adam mengangguk.
Anna menegakkan tubuhnya lalu menatap Adam dengan serius. “Ada hal yang harus aku bicarakan sama kamu.”
Adam tak menanggapi dan hanya menunggu perkataan Anna selanjutnya.
Anna menghela nafasnya, tatapannya tetap terarah pada Adam, namun di balik meja tangannya mengepal erat bahkan saling meremas. “Aku mau kita bercerai.”
Wajah Adam yang sejak tadi tak beraksi berlebihan kini menatap dengan berkerut. Dia cukup terganggu dengan perkataan Anna hingga dia menatap tak percaya.
“Apa?”