Anna melajukan mobilnya pelan. Melihat cuaca yang mulai hujan dan jarak pandang yang terbatas Anna tak bisa gegabah.
“Manusia- manusia munafik,” ucapnya kesal dengan memukul setir. Air mata tiba-tiba menetes, namun dengan cepat dia mengusapnya. Dia tak ingin menangis, tak sudi kehilangan air matanya yang berharga. Tapi tetap saja menghadapi pengkhianatan itu menyakitkan. Apalagi Anna menganggap Lia seperti saudaranya sendiri.
Setelah melaju cukup jauh dari vila Anna mengernyitkan keningnya saat melihat kemacetan di depannya hingga dia pun menginjak rem dengan pelan agar berhenti perlahan.
“Macet parah.”
Anna melihat sekitarnya. Mobil- mobil di depannya mulai melaju perlahan, begitu pun dirinya. Namun baru beberapa meter mobil melaju dia harus kembali berhenti sebab mobil di depannya juga berhenti.
Anna membuka jendela dan melongokan wajahnya. Hujannya cukup deras membuat suasana gelap nampak lebih menyeramkan.
Baru akan mencari orang untuk bertanya, Anna melihat orang-orang berlarian dan keluar dari mobil.
“Ada apa, Pak?” Anna menahan seorang pria yang berlari.
“Ada longsor Mbak, gak bisa lewat. Turun dulu, Mbak. Cari aman. Takutnya longsornya makin luas, soalnya hujannya juga gak berhenti,” Anna melihat di sebelahnya memang tebing yang curam, memang pantas jika terjadi longsor.
“Ada jalan alternatif lain gak, Pak?”
“Ada, tapi kalau begini gimana putar arahnya.” Anna melihat ke sebelahnya di penuhi kendaraan. Jadi, tak ada pilihan lain selain turun dan mencari tempat aman dulu.
Anna meraih tas, ponsel lalu payung di kursi belakang dan pergi meninggalkan mobilnya.
“Tanahnya bergerak lagi!”
….
Reihan melangkah terburu-buru menuju Adam yang memang menunggu kabar darinya. “Terjadi longsor di jalan utama menuju kota, Pak.”
Adam berdiri dengan terkejut. “Gimana keadaannya?”
“Banyak kendaraan tertimbun longsor, Pak.” Adam memejamkan matanya. Tangannya mengepal menahan gejolak kekhawatiran dalam dirinya. Entah kenapa dia harus peduli. Padahal sebelumnya dia juga tak pernah memikirkan keadaan Anna.
“Kalau dihitung waktunya Anna pergi sih pasti di sekitaran sana.” ucapan Harras membuat Adam semakin gelisah. Berbeda dengan Adam, Harras justru berucap acuh.
“Biasa aja, Mas.” Dan tentu saja Harras menyadari kegelisahan Adam. Yang dia tak mengerti kenapa Adam harus sekhawatir itu. “Lagian bukan salah kita. Siapa suruh pulang malam- malam begini.”
Di tempat duduknya Lia tersenyum. Dalam hati dia berharap Anna benar-benar ikut tertimbun longsor dan tak pernah kembali. Bila perlu jasadnya pun tidak pernah di temukan. Namun saat ini senyum Lia segera hilang saat Adam menyentak dengan ucapannya.
“Jangan bicara sembarangan. Anna itu istriku! Kamu pikir jika terjadi sesuatu siapa yang di salahkan?” Harras menggaruk tengkuknya merasa bersalah.
“Siapkan mobil, Rei. Kita pergi ke lokasi.” Rei mengangguk patuh dan mengikuti langkah Adam.
“Mas tunggu! Aku ikut.” Harras segera mengejar Adam meninggalkan Lia seorang diri.
“Loh? Aku gimana?” Lia menyentak kakinya saat dia di tinggal sendiri, ketiga pria itu bahkan tak peduli padanya.
….
Adam melongokan wajahnya dari jendela melihat kemacetan yang terjadi hampir satu kilometer dari tempat terjadinya longsor membuat mobilnya tak bergerak. Adam mencoba menghubungi Anna, namun wanita itu tak menerima panggilannya membuatnya semakin khawatir.
“Aku turun disini.” Adam meraih payung dan membuka pintu.
“Mas jangan gila deh! Mas!” Harras menggeleng tak percaya melihat Adam yang pergi berjalan kaki demi mencari Anna dari jarak satu kilometer. Pria itu bahkan tak mendengarnya.
“Gimana nih, Rei?”
“Pak Adam udah dewasa biarin ajalah.” Rei melihat kepergian Adam. Entah itu kekhawatiran sebagai sesama manusia atau sebagai seorang suami, tapi Adam sedang bertanggungjawab dengan Anna. Yang tak pernah orang lain tahu adalah, meskipun Adam terlihat acuh tapi pria itu selalu memperhatikan dengan caranya.
“Rei, menurut kamu Mas Adam mulai suka Anna gak?”
Reihan menoleh dengan dahi mengernyit. “Akhir- akhir ini Mas Adam aneh banget,” ucap Harras lagi.
“Kalau saya ditanya, buat saya sendiri, Pak. Bu Anna memang cantik. Wajar Pak Adam mulai menyukai Bu Anna.”
“Masalahnya, dia itu sekutunya Tante Rima. Jelas- jelas dia jahat.”
Reihan tak bisa membantah. Lagi pula belum terbukti kebenarannya jika Anna adalah mata- mata Rima untuk mengawasi Adam. Selama ini Anna nampak patuh pada perintah Rima. Dan beberapa kali juga mereka kecolongan sebab rahasia perusahaan bocor ke luar. Hanya saja Anna juga mulai menunjukkan perlawanan saat di acara keluarga beberapa waktu lalu. Jadi harus di selidiki lebih lanjut apakah Anna memang mata- mata Rima atau bukan.
…..
Adam menyusuri jalanan dan melihat satu persatu mobil yang mirip dengan milik Anna. Namun sudah hampir sepuluh mobil serupa bukan Anna di dalamnya.
“Harusnya beli mobil jangan yang pasaran. Menyusahkan!”
Adam kembali mengetuk jendela, namun ternyata lagi- lagi bukan Anna.
“Mau kemana, Pak. Jangan kesana, lagi longsor,” ucap salah satu polisi yang berjaga.
“Saya cari istri saya, Pak.”
“Istri Bapak salah satu korban?” Adam menggeleng.
“Saya gak tahu. Tapi istri saya ada disini. Dia dalam perjalanan ke kota.”
“Sudah coba di hubungi, Pak?” Adam membuka ponselnya. Lalu mencoba menghubungi Anna kembali. Panggilan pertama berdering, namun Anna tak menerima panggilannya. Di panggilan kedua pun masih sama.
“Dari tadi saya telepon juga gak di angkat Pak.” Dan itulah yang membuat Adam semakin khawatir.
“Coba Bapak ke toko itu, beberapa pengendara memilih menepi dan berteduh disana.” Polisi menunjuk mini market tak jauh dari sana. Adam memang melihat mini market tersebut nampak ramai.
“Terimakasih, Pak.” Adam mengayunkan langkahnya ke arah mini market tersebut lalu mengedarkan pandangannya. Tangannya kembali menekan ponsel untuk menghubungi Anna. Di saat yang sama suara ponsel berdering terdengar tak jauh disana dan saat melihat itu benar-benar Anna, Adam menghela nafas lega sekaligus kesal.
Wanita itu nampak mengabaikan dan mematikan ponselnya, dengan acuh tak acuh.
Ingin rasanya Adam memakinya karena sudah membuat khawatir. Namun saat melihat Anna tertawa dengan seorang anak kecil di sebelahnya membuatnya sedikit luluh.
Anna mengeluarkan roti dari kantong plastik di tangannya lalu membaginya dengan anak tersebut, tak lupa sekotak s**u yang sudah dia taruh sedotan di atasnya.
“Jangan khawatir, Mama Papa kamu pasti balik lagi. Ayo minum susunya.” Anna mengusap rambut anak gadis itu dengan tersenyum.
“Makasih, Kak. Kakak baik, cantik lagi.”
Anna tertawa. “Ah, masa?” Wajah Anna nampak bersemu malu- malu membuat Adam mendengus hingga kini Adam berdiri tepat di depannya membuat Anna mendongak.
“Kamu?” Anna nampak terkejut, sementara Adam menghela nafasnya.
“Apa gunanya hape kamu itu? Kenapa kamu gak angkat telepon dariku!” Adam menunjuk ponsel Anna. Sementara Anna menatap ponselnya dimana dia baru saja mematikan panggilan Adam.
“Ngapain Mas disini?” Bukannya menjawab Anna justru balik bertanya.
Adam memejamkan matanya kesal. Saat dia mengkhawatirkan Anna, dia justru nampak tenang seolah tak memiliki masalah apapun.
“Mobil kamu dimana?”
“Di depan. Gak bisa lewat ada longsor di depan. Mending Mas putar balik aja balik lagi sana ke vila.” Setelah berkata begitu Anna kembali acuh mengobrol dengan anak kecil di sebelahnya.
“Terus kamu?”
Anna kembali menoleh. “Aku nunggu macetnya berkurang nanti putar balik.”
“Sampai kapan?”
“Mana aku tahu, nanya terus.” Anna mulai kesal.
“Kamu mau disini sampai pagi?”
Anna menghela nafasnya. “Ya gak papa, banyak orang juga. Nanti aku cari penginapan yang deket sini.”
“Kamu bisa ikut aku, ayo!”
Anna menggeleng. “Gak usah, makasih.”
“Terserah!” Adam mendesah kesal lalu berbalik hendak pergi. Namun saat kembali menoleh ke belakang Anna masih duduk tenang seolah dia benar-benar tak peduli jika Adam pergi.
Adam berdecak kesal lalu menghampiri Anna dan duduk di sebelahnya.
Dan apa yang Adam lakukan membuat Anna mengerutkan keningnya. “Ngapain kamu balik lagi?”
“Nunggu jalanan normal.”