“Anna, maafkan aku.”
Anna semakin terkejut dengan apa yang didengarnya. Adam minta maaf? Pria itu minta maaf padanya?
“Maaf? Untuk apa?”
Adam menghela nafas. “Selama ini aku salah paham. Aku mengira kamu orang suruhan Rima. Jadi aku … kau tahu, aku mengacuhkanmu selama ini.”
Anna menatap genggaman tangan Adam lalu menghempaskan. “Aku tahu aku salah. Aku memperlakukan kamu dengan buruk. Tapi ini hanya kesalah pahaman.”
“Lalu?” Anna menatap tajam.
“Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku akan menebus semua kesalahanku.”
Anna terkekeh. Dia merasa lucu. Menebusnya? Dengan apa. Adam bilang ini salah paham? Lalu siapa yang menciptakan kesalahpahaman itu. Jadi selama ini perlakuan Adam hanya karena mengira dia bersekutu dengan ibu tirinya?
“Kamu tahu sejak dulu Mama Rima selalu memperlakukan aku dengan buruk. Dan kamu bilang aku suruhannya?”
“Aku pikir itu hanya kamuflase karena kamu pun gak pernah melawan. Tapi waktu aku lihat kamu mulai melawan aku mulai berpikir ulang tentang kamu. Dan hari ini Eyang jelasin semuanya. Kalau kamu sebenarnya istri yang Eyang pilihkan untukku. Bukan Rima.”
“Gak masuk akal.” Anna menggeleng pelan. “Apa kamu gak pernah berpikir untuk tanya aku secara langsung?”
Adam membuka mulutnya hendak bicara, namun ucapan Anna kembali menghentikannya.
“Lupakan, bahkan meski aku bilang itu gak benar, kamu pasti tidak akan percaya, kan?”
Adam menghela nafasnya saat Anna memasuki mobil. Dia tahu mungkin ini tidak mudah. Dia tahu keterlambatan ini terlalu lama. Dua tahun dia memperlakukan Anna dengan dingin. Tapi Adam juga tak boleh membuat Maria semakin kecewa padanya. Dia harus mendapatkan maaf Anna.
….
Adam melangkah ke arah meja makan saat mendengar suara Anna yang tengah berbincang. Benar saja Anna tengah memakan sarapannya dengan menempelkan ponsel di telinganya.
“Hm, hari ini aku latihan lagi.”
“Aku pikir kamu akan menyerah?”
Anna terkekeh. “Tidak mungkin, aku benar-benar mau ikut touring dengan kalian minggu depan.”
“Touring apa?” Anna mendongak menatap Adam di depannya.
“Mas, udah dulu. Aku kesana nanti.” Anna mematikan teleponnya lalu kembali melanjutkan niatnya untuk makan, tanpa menjawab pertanyaan Adam.
“Kamu gak mau jawab?” Adam mendudukan dirinya di kursi, di depannya ada secangkir kopi yang masih mengepul. Melihat itu Adam tersenyum dan meraih kopinya untuk menyesapnya. Namun senyumnya kembali hilang saat merasa kopinya masih tidak seperti sebelumnya. Dan itu artinya ini bukan buatan Anna.
Adam kira Anna sudah kembali memasak dan membuatkannya kopi untuknya, tapi rupanya wanita itu masih marah padanya.
Adam kembali menatap Anna, dan mengernyit saat Anna masih juga belum menjawab. Dia bahkan menatap Anna tanpa mengalihkan tatapannya ke arah lain menujukan tekadnya.
Anna yang di tatap seperti itu menghela nafasnya kesal, hingga mau tak mau dia menjawab. “Touring bersama komunitas motor gede minggu depan. Jadi hari ini aku mau belajar lagi.”
Adam menatap tak suka mengingat bagaimana Anna saat duduk di depan seorang pria. “Kamu gak takut jatuh lagi?”
“Enggak.” Anna berkata acuh.
Adam mengepalkan tangannya dengan kaki yang bergerak gelisah. “Oke, kalau begitu aku yang ajari kamu.” putusnya.
“Hah?” Anna menatap tak percaya, apa dia tak salah dengar?
“Kamu gak berpikir kalau kamu belajar sama cowok lain dan dilihat orang? Gimana tanggapan orang-orang kalau tahu kamu istriku. Duduk dengan posisi seperti itu kamu tidak risi?!" Adam segera menjelaskan.
Anna menaikan alisnya. Sejak kapan pria itu peduli. Namun Anna juga tak ingin berdebat, jadi dia pun hanya mengedikkan bahunya. Terserah! Yang penting di bisa belajar dan segera bisa mengendarainya.
Adam tersenyum saat Anna menyetujuinya.
“Hm, ngomong- ngomong kamu gak berniat membuatkan aku kopi lagi?” Adam bertanya dengan menatap cangkir kopinya. “Aku gak tahu kalau selama ini kamu yang buat kopi juga. Dan sekarang rasanya berbeda.”
“Jadi maksudnya kopi buatanku enak?” Anna menaikan sudut bibirnya.
“Hm, dan aku terlalu terbiasa dengan rasanya.” Tidak disangka dia yang setiap pagi menyiapkan makanan untuk Adam tapi Adam tetap tak peduli. Dan Anna menyadari jika Adam hanya selalu minum kopi lalu pergi meninggalkan makanan yang sudah susah payah dia buat. Anna tak menyangka jika pria itu suka kopi buatannya.
Tapi Anna yang sekarang jangan harap bisa melakukannya sepenuh hati. Jadi Anna tersenyum menatap Adam
“Boleh, 20 juta.” Anna menyodorkan ponselnya pada Adam, sementara Adam menghela nafasnya.
“Dua puluh juta untuk secangkir kopi?”
“Kalau gak mau gak usah. Saranku kamu beli saja di mall 100 ribu udah dapat yang enak.”
Adam menggeleng pelan, lalu membuka ponselnya.
Anna tersenyum saat melihat notifikasi muncul jika uang 20 juta sudah masuk ke rekeningnya. Setelahnya Anna benar-benar beranjak dan membuatkan kopi untuk Adam. Setelah siap Anna menyimpan kopi tersebut di depan Adam. “Silakan kopi 20 jutanya, Pak. Kalau nanti Pak Adam butuh sesuatu bilang saja, ya. Cuma 20 juta." Anna tersenyum menepuk pundak Adam, lalu beranjak dengan riang.
Adam mengepalkan tangannya kesal. Menatap kopi di depannya. Wanita itu pasti masih mau membuatnya kesal dan meminta perceraian. Tapi jangan harap dia mengabulkannya.
Adam meniup kopinya perlahan dan menyesapnya, saat kopi masuk ke mulut dan mengalir ke tenggorokannya Adam memejamkan matanya. Rasanya memang berbeda. Entah racikan apa yang dibuat Anna hingga rasanya pas di lidah Adam.
….
Saat keluar dari rumah Anna melihat sebuah motor di pelataran rumahnya. Anna menoleh ke arah lain sebuah punggung terlihat sibuk dengan ponsel di telinganya. Tak lama kemudian punggung itu berbalik dan menoleh. “Sudah siap?” katanya dengan memasukan ponsel ke saku jaket yang dia kenakan.
Anna tertegun dengan mata yang terpana saat melihat penampilan Adam yang lain dari biasanya. Pria itu kini mengenakan jaket kulit dengan celana jeans hitam. Tak ada setelan formal seperti biasanya. Dan tentu saja Adam semakin terlihat tampan.
“Anna?”
Anna mengerjapkan matanya lalu mengangguk. Anna tak menyangka jika Adam benar-benar akan mengajarinya.
"Kamu gak sibuk?"
"Aku sudah janji. Untuk hari ini semuanya di pegang Reihan." Adam menatap Anna yang masih terdiam. Anna pasti terharu jika tahu dia membatalkan semua jadwalnya demi mengajari Anna naik motor.
“Ayo!” Adam mengulurkan tangannya dan membantu Anna naik.
“Aku bisa sendiri.” Tapi Anna juga tak menolak dan meraih tangan Adam untuk segera naik.
“Sekarang kamu kemudikan, aku yang jaga di belakang.” Mata Anna melirik sedikit ke belakang dimana punggungnya bersentuhan dengan d**a Adam di belakangnya. "Kita akan mulai di jalan raya."
Anna memejamkan matanya sebentar saat merasa jantungnya berdebar kencang. Suara Adam terlalu dekat di telinganya hingga Anna merasa bibir Adam menempel disana.
Sialan! kenapa dia masih berdebar saja saat bertekad untuk melupakan Adam.
Adam tersenyum saat Anna mulai melajukan motornya perlahan dan pelan.
“Sekarang tambah kecepatannya.” Anna memutar gas ke dalam agar bisa melaju semakin cepat.
“Pertahankan. Konsentrasi.” Anna menuruti Adam. Namun saat ini d**a Adam serasa semakin merapat padanya hingga Anna kehilangan konsentrasinya. Beruntung dengan sigap Adam memegang setang hingga motor tidak jadi oleng, namun akibatnya tubuh mereka semakin merapat.
“Aku bilang konsentrasi.” Suara itu terdengar tegas membuat bulu kuduk Anna merinding. Bagaimana lagi, pria itu bicara tepat di telinganya. Anna bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria itu di telinganya.
Anna berdecak saat merasa masih lemah dalam mengendalikan perasaannya. Bisa- bisanya dia kembali terpesona pada pria menyebalkan ini. Anna mengambil kembali kemudi memutar gas hingga motor kembali melaju kencang.
….