Pertama Kalinya

1119 Words
Anna membawa tas kecil di tangannya. Tanktop hitam dengan rok kulit sepaha membalut tubuhnya, sangat cantik dan memberi kesan dewasa dalam penampilannya, turun ke bawah kaki kecilnya di balut sepatu boots hitam dengan tinggi 10 centi menambah rasa percaya diri sebab dia nampak lebih tinggi dari tinggi aslinya yang hanya 160 centi. Sebelah tangannya menyampirkan jaket kulit di bahunya dan melangkah keluar dari kamarnya. Waktu menunjukan pukul 21.00 dimana biasanya dia istirahat, tapi dia justru keluar dari rumah. Anna tersenyum membayangkan kemana dia akan pergi malam ini. Tentu saja Anna akan melakukan hal yang belum pernah dia lakukan selama usia dewasanya ini. Tempat yang memang selalu didatangi malam hari dan sebenarnya terlarang. Tapi Anna benar-benar ingin merasakannya. Sekali saja menginjakkan kakinya disana dan mengetahui bagaimana rasanya, Club malam. Mobilnya terparkir di depan sebuah club kenamaan dan eksklusif. Untuk bisa kesana Anna bahkan harus merogoh sakunya cukup dalam demi mendapat kartu anggota. Tentu saja karena tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Anna menunjukan kartu VVIP yang dia miliki dan tentu saja baru beberapa hari ini dia dapatkan. Anna menaikan alisnya. Dia tahu tempat seperti ini, dari Lia dan juga beberapa kali dia melihat dari televisi dimana drama- drama yang dia tonton terkadang menunjukkan kehidupan malam seperti sekarang. Lia bahkan beberapa kali mengajaknya kesana untuk bersenang-senang. Namun dia selalu menolak sebab tak ingin membuat namanya sebagai istri Adam menjadi buruk. Hebatnya dia, dua tahun berteman dengan Lia, tapi dia tak pernah tergoda sedikit pun untuk datang ke tempat ini. Padahal Lia yang memang memiliki niat buruk untuknya. Tapi sekarang dia justru datang kesini. Anna gila, menjelang ajal bukannya memperbaiki diri agar masuk surga, justru ingin merasakan hal- hal bodoh yang dia tahu itu tidak baik. Tapi, mari jangan bicarakan itu saat ini. Jangan memandang dari sudut searah. Tentu saja yang dipikirkan Anna bukan logika positif. Dan tidak untuk ditiru. Tapi Anna hanya ingin merasakannya. Duduk diantara hiruk pikuk dunia malam yang ramai dengan musik yang memekakkan telinga untuk menyamarkan rasa sepi di hatinya. Anna berjanji tidak akan menyentuh hal terlarang, dan benar-benar hanya akan duduk saja. Dalam hati Anna bertekad bahkan hanya akan memesan jus untuk minum setelah itu pergi. Begitu masuk Anna disambut cahaya gemerlap dari lampu disko, yang menggantung di udara. Musik keras memekakkan telinga dan membuat Anna mengusap dadanya karena sedikit terkejut. Mata Anna berpendar dan melihat sekitar. Suasana kebebasan yang nyata. Semua orang menari dan melakukan apa yang diinginkan, termasuk saling memeluk bahkan berciuman. Anna menggigit bibirnya. Adegan yang biasanya dia lihat di drama romantis, kini nampak di depannya. Tiba-tiba otak kecilnya bergerak liar. Namun sayangnya dia yang bahkan sudah memiliki suami belum pernah berciuman. Sial sekali, bukan? Langkah Anna mengayun ke arah meja bartender lalu duduk untuk memesan. “Hai boleh aku minta jus?” Anna mencondongkan tubuhnya agar suaranya terdengar pria yang meracik minuman di depannya. “Tentu. Kamu baru?” tanyanya basa- basi membuat Anna meringis malu. Namun dia juga tak bisa mengatakannya. “Aku hanya tak mau mabuk.” Pria di depan Anna terkekeh. “Tentu. Tapi kau tahu ada minuman yang memiliki kadar alkohol yang rendah dan tidak akan membuatmu mabuk. Kau ingin coba?” tawarnya. Dan itu artinya pria itu memang mengetahui dia memang baru. Sudahlah kenapa di pikirkan. Lagi pula kenapa harus malu jika memang dia pertama kali datang. Anna nampak berpikir. “Kau tidak berbohong?” “Ya, aku tidak memaksa. Aku hanya menawarkan.” Anna nampak berpikir, lalu mengangguk. “Aku akan mencoba.” Pria bartender itu tersenyum. “Segera.” Dan tak berapa lama minuman tersebut benar-benar tersaji di depan Anna. Sebelum benar-benar meminumnya Anna memperhatikan gelas di depannya. Cairan berwarna sedikit kuning dengan gelembung putih di atasnya seperti soda. Anna mengangkat gelasnya lalu menyesapnya sedikit. Rasa manis menjalar juga ada sedikit pahit, namun tetap nyaman sebab mungkin karena rendahnya kadar alkohol di dalamnya. Ada sensasi lembut yang menyapa dan membuatnya penasaran untuk meminumnya lebih banyak. Anna kembali menyesapnya dan tersenyum saat mulai merasa ini tidak buruk. “Ini enak,” gumamnya dengan menyesapnya kembali. …. Di sudut lain seorang wanita memperhatikan Anna. Merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya dia bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali. “Dia benar-benar Anna?” “Kamu mengenalnya?” tanya seorang teman di sebelahnya. “Tentu saja.” ucapnya dengan tersenyum. “Siapa?” “Menantu Wirayudha.” “Sungguh? Dia istri Pak Adam?” “Apa yang akan terjadi jika keluarga Wirayudha tahu menantunya ada di tempat seperti ini.” wanita itu mengarahkan ponselnya ke arah Anna dan memotretnya lalu mengirimkannya pada Adam. “Hei, kamu bisa bantu aku?” Wanita itu memanggil seorang pelayan dan memberikan tips dengan sebuah bungkusan yang dia selipkan diantara uangnya. “Masukan ini ke dalam minumannya.” Wanita itu menunjuk Anna yang masih duduk di kursi yang sama sejak dia datang. “Aku ingin tahu apa yang akan Adam lakukan jika tahu istrinya yang terhormat dan selalu menjaga martabat ada disini.” …. Anna memesan kembali minuman yang katanya rendah alkohol itu. Tentu saja karena dia juga tak merasa efek apapun pada dirinya, dan itu artinya bartender itu berkata jujur dengan mengatakan minuman itu rendah alkohol. Hanya saja Anna merasa tenggorokannya terasa kering dan ingin terus minum. Hal yang tanpa Anna sadari bartender tersebut justru memasukan sebuah serbuk yang diberikan pelayan ke dalam minumannya. Wanita yang sejak tadi memperhatikan Anna tersenyum saat mendapatkan isyarat jika apa yang dia perintahkan sudah di lakukan. Beranjak ke arah beberapa pria wanita itu mencondongkan tubuhnya dan berkata. “Hai, temanku sedang patah hati, kalian mau menghiburnya.” Para pria itu melihat telunjuknya yang mengarah pada Anna yang sedang meminum minumannya. …. Adam meraih jasnya yang tergantung di kapstok yang berdiri di sudut ruangan di ruang kerjanya. Dia akan pulang setelah seharian ini bekerja. Seperti biasa dia pulang malam, lagi. Adam sudah berusaha menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, tapi tetap saja sulit untuk pulang tepat waktu. Adam menghela nafasnya, saat keluar dari ruangannya semua karyawan sudah pulang hingga suasananya nampak sepi. Dengan ruangan yang mulai gelap Adam menyusuri kubikel demi kubikel dan berhenti di depan sebuah lift. Tanpa menunggu lama pintu lift terbuka dengan Adam yang segera masuk dan berhenti di lantai satu. Saat keluar dari lobi Adam melihat Reihan yang berdiri di depan sebuah mobil dan dengan sigap membukakannya pintu. Adam berniat segera pulang untuk istirahat sebab besok dia akan meluangkan waktu untuk Anna. Ya alasan utamanya pulang malam hari ini demi bisa meluangkan waktu esok hari bersama Anna. Lagi pula seperti janjinya pada Maria dia akan mendapatkan maaf dari Anna. Namun baru akan masuk ponselnya berdering. Sebuah pesan muncul dimana dia mengernyit demi memahami pesan gambar di layar ponselnya. Sesuatu yang membuatnya kesal sekaligus marah. “Sial! Rei, pergi ke club sekarang juga!” ucapnya dengan memasuki mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD