Adam Raid Wirayudha pria tampan berusia 28 tahun. Pria idaman setiap wanita. Namun tidak ada yang tahu pria itu hanya manusia berhati dingin dan menyebalkan.
Kalau di pikir lagi Anna benar-benar bodoh karena selama ini hanya terpaku pada cintanya pada Adam hingga melupakan jika hidupnya sangat berarti. Padahal dua tahun pernikahan pria itu bahkan tak pernah menyentuhnya. Entah terbuat dari apa pria itu. Atau mungkin dia tak memiliki kemampuan untuk melakukan 'itu'. Terserah! Mulai sekarang Anna tidak akan pernah peduli lagi.
Anna duduk di kursi rias. Di depannya ada berbagai produk perawatan kecantikan dan juga parfum berbagai merk yang tentu saja mahal.
Tapi bukan untuk merias diri dia disana. Tangannya memegang ballpen berputar sebab di gerakan oleh jari- jarinya.
Anna menoleh sebentar pada jendela kamarnya yang menunjukan langit malam. Gorden tinggi dan mewah dia biarkan terbuka membuatnya bisa melihat cahaya bulan di luar sana.
Pikirannya masih kacau, namun dia juga tak ingin sehari hidupnya berakhir dengan tak berarti.
Jadi Anna mulai menggoreskan tinta dari ballpen di tangannya. Mulai merangkai apa saja yang harus dia lakukan sebelum dia benar-benar pergi.
Semua keinginan dia catat dan dia tuangkan dalam buku catatannya mulai dari hal kecil hingga sesuatu yang besar yang tidak pernah dia lakukan.
Keinginan apa lagi yang harus dia catat? Mata Anna menunduk melihat jari manisnya dimana terdapat cincin bertahtakan berlian disana.
Tangan Anna bergerak melepas cincin tersebut, mengangkatnya ke udara dan memicingkan matanya.
"Cih!" Bibirnya berdecih mencibir. "Ya, tentu saja itu harus ada dalam agendaku "
Memasukan kembali cincin ke jarinya Anna kembali menulis kata, 'Bercerai' di deretan barisan keinginannya. Setidaknya sebelum mati dia harus berpisah dari pria kejam itu.
Anna masih disana berkutat dengan catatannya. Hingga total yang sudah dia tulis ada 99 keinginan.
Anna menghela nafasnya. Ternyata sebanyak ini yang belum pernah dia lakukan. Kemana saja dia selama ini?
Angka 100 tertulis, namun Anna terdiam memikirkan apa keinginannya selanjutnya. Matanya kembali ke deretan paling atas lalu kembali ke bawah. "Aku pikirkan lagi nanti."
Tanpa terasa sudah tengah malam, dan Anna menyimpan ballpennya di sebelah buku catatannya.
99 keinginan. Apa dia bisa mewujudkannya?
Kalau dihitung 3 bulan sama dengan 90 hari, dan itu artinya dia harus bisa menyelesaikan keinginannya dua sampai tiga perhari untuk jaga- jaga kalau ajalnya datang lebih cepat.
Anna mendongak saat merasakan sesuatu keluar dari hidungnya. Meluncur bebas tanpa bisa di cegah.
Jarinya terangkat dan menyentuh bagian depan hidungnya yang terasa basah. Darah mengucur dari sana.
Anna berlari panik ke arah kamar mandi untuk membasuh dan membersihkan darah tersebut, beberapa tetes bahkan jatuh di atas buku catatannya yang belum di tutup.
Air yang mengucur dari keran berubah merah saat terjatuh di atas wastafel. Saat sudah benar-benar bersih Anna menghela nafasnya. Dengan menatap cermin dia melihat wajah pucatnya. Mengabaikan kepalanya yang pening Anna kembali memasuki kamar lalu membaringkan diri di ranjang.
...
Pintu terbuka di tengah suasana gelap yang khas saat dia pulang.
Pria itu melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumahan. Namun sebelum memasuki ruang tamu dahinya mengernyit saat merasa ada yang tak biasa. Tangannya yang memegang jas menggantung di udara saat tak ada tangan yang menyambutnya. Bahkan kakinya yang kini mengenakan sandal dia gunakan sendiri.
Tentu saja ini lain dari biasanya dimana seorang wania selalu sigap menyiapkan sandal saat dia datang atau mengambil jas dan tas kerjanya untuk dia bawa dan langsung di gantung dengan rapi.
Mata pria itu beralih pada suasana gelap dan hanya di terangi lampu kecil di sudut ruangan, lalu langkah lebarnya beralih pada ruang makan dimana tak ada makanan atau biasanya istrinya menunggu dengan terkantuk-kantuk.
"Kamu sudah pulang? Makanannya sudah dingin aku hangatkan lagi, ya?" Begitu kira- kira yang dia ucapkan.
Tapi saat ini meja makan kosong, bahkan tak ada Anna disana.
Wanita itu tak ada di rumah?
Masih dengan ekspresi bingung, pria itu memasuki kamarnya, kamar yang terpisah dari istrinya.
....
Anna baru saja turun dari kamarnya di lantai dua saat melihat seorang pria duduk angkuh di sofa ruang tamunya.
Tangannya memegang ponsel yang dia dekatkan ke telinga dan bicara dengan nada congkak yang menyebalkan.
"Kamu tahu dia adalah wanita yang paling gak tahu malu, sudah di tolak sama Mas Adam tapi masih nempel kayak perangko. Gak punya harga diri, kan?"
Harras Pratama adik sepupu dari suaminya, Adam. Pria itu memang kerap datang, dan dengan seenaknya mengejeknya. Ya, seperti yang sedang saat ini pria itu lakukan.
"Cantik, apanya. Percuma cantik tapi kepala gak ada isinya," ejeknya lagi.
Anna mendengus tak peduli dan melanjutkan niatnya untuk pergi ke ruang makan, bahkan dengan acuh melewati Harras yang langsung menaikan alisnya.
Tiba di dapur Anna membuka lemari es, dan mengeluarkan sereal dan s**u untuk dia bawa ke arah meja makan.
"Kamu gak masak?" Baru akan menuangkan sereal ke dalam mangkuk Anna mendengar suara adik sepupu laknatnya.
Anna mendongak lalu mendengus. "Apa di rumah kamu gak ada pembantu?"
Harras menaikan alisnya. "Setiap hari datang untuk minta makan, tapi masih bilang otakku gak ada isinya?"
Harras melipat tangannya di d**a menatap Anna dengan angkuh. "Aku datang minta makan ke rumah kakakku, kenapa? Tidak boleh?" Pria itu bahkan tak peduli meski Anna mendengar pembicaraannya tadi.
"Kalau begitu minta kakakmu yang masak." Anna mengaduk sereal yang sudah dia campur dengan s**u lalu memasukannya ke dalam mulut.
"Apa?" Harras mengernyit. Biasanya saat dia datang pagi- pagi Anna sedang sibuk memasak, dan dengan senang hati menyiapkan makanan juga untuknya. Lalu sikapnya yang selalu ramah tak pernah melawan saat Harras mengejeknya. Tapi, hari ini dia melihat ada yang aneh dengan Anna.
"Aku bukan pembantu, mulai sekarang kalau mau sesuatu bilang sama Bibi." Anna mengedikan kepalanya ke arah pelayan yang sedang membersihkan rumah.
"Kamu bersikap seperti itu gak takut Mas Adam marah?" Harras menyeringai saat Anna nampak tertegun. Gerakan tangannya yang hendak menyuapkan makannya terhenti.
Anna mendengus. Benar sebelumnya Anna selalu berpikir sebelum bertindak, bahkan hanya diam saat mereka mengejeknya, berpikir mungkin Adam akan marah dan semakin tidak peduli padanya. Namun kenyataannya meski dia begitu patuh dia tetap tidak bisa mendapat perhatian Adam. Tapi kali ini dia sudah tidak peduli. Dia akan segera mati. Jadi dia akan bertindak sesuka hati, termasuk melawan perkataan buruk mereka. Mulut busuk menyebalkan.
Jadi, dengan tatapan tajam dia menatap Harras. "Kenapa harus takut? Dia itu sudah seperti tembok, mau marah atau tidak sama saja. Wajah jeleknya membuat mual, menyebalkan."
Harras mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang di dengarnya, sementara Anna masih duduk tak peduli. Baru akan kembali makan Anna menyadari ada seseorang berdiri di depan pintu.
Pria itu yang baru dia bicarakan ada di sana menatapnya dengan datar dan dingin.
Harras menyeringai saat melihat Adam ada disana. "Mas, lihat istri kamu udah mulai berani ngelawan."
Bukannya takut seperti biasanya Anna melanjutkan makannya dengan acuh tak peduli Adam berjalan ke arahnya.