Adam Raid Wirayudha

1337 Words
"Buatkan aku, kopi," ucap Adam saat melewati seorang pelayan yang dengan sigap mengangguk. Langkah Adam berhenti di meja makan lalu menarik kursi di depan Anna yang masih acuh memakan sarapannya. Tak melihat makanan di meja membuat Adam sedikit menekuk keningnya. Sama seperti semalam meja makan kosong, dan pagi ini Anna hanya sarapan sereal? Saat mendengar wanita itu cekcok dengan Harras, Adam pun merasa ini lain dari biasanya. Dan yang membuatnya heran wanita itu semalam tak memasak padahal dia ada dirumah? Lalu apa yang dia katakan tadi, wajahnya jelek dan membuatnya muak? Apa dia sudah gila? Padahal selama ini dia selalu memujinya tampan, dan keren. Anna beranjak dari duduknya saat sereal di mangkuknya habis. "Kamu sudah selesai?" Anna menaikan alisnya saat Adam bertanya. "Kamu melihatnya?" Anna memperlihatkan mangkuknya yang kosong, dia bahkan enggan menjawab. Di saat yang sama seorang pelayan muncul dengan kopi di tangannya. Anna melanjutkan niatnya untuk memasukan mangkuk ke dalam wastafel tanpa berniat mencucinya lalu pergi. Namun baru beberapa langkah dia justru kembali mendengar suara Harras. "Kamu benar-benar gak akan masak? Gak buat aku, gak masalah, tapi Mas Adam gimana?" Anna menoleh dan melihat Harras yang menatapnya tak suka, lalu pada Adam yang tidak bereaksi apapun. Pria itu bahkan dengan tenang meniup lalu menyeruput kopinya. Seperti biasa wajah tembok menyebalkan. "Aku kira dia gak butuh makan. Toh selama ini juga begitu." Adam mendongak dan melihat ke arah Anna yang menatap sebal padanya. Memang selama ini Adam tak pernah menyentuh masakan buatan Anna, Adam bahkan lebih memilih membeli makan di luar. Tapi bukan berarti dia tidak butuh makan. "Apa kamu bilang? Tentu saja Mas Adam juga butuh makan!” Harras kembali bicara. "Syukurlah itu berarti dia masih manusia." Anna menoleh pada pelayan. "Siapin makan buat mereka." Setelah pelayan menyanggupi Anna melanjutkan niatnya untuk pergi ke kamarnya. Dia harus siap untuk mulai melakukan hal yang sudah dia catat. Tentu saja dia tak boleh menyiakan waktu singkatnya. "Mas kamu biarin dia gitu aja?" Harras menatap tak percaya. "Aku harus apa?" Adam berkata acuh tak acuh. Dia justru menunduk melihat kopi di depannya. Ada yang aneh dengan rasa kopi ini. Tak seperti biasanya yang setiap hari dia nikmati. "Ya, biasanya dia gak ngelawan. Sekarang berani ngelawan. Bukannya dia udah menunjukan taringnya? Itu wajah aslinya. seenggaknya marahi dia." "Dia punya nama, dia istriku, jadi sudah sepantasnya kamu panggil dia kakak." Haras tertegun. "Mas, kamu gak salah ngomong? Dia itu wanita yang di bawa wanita jahat itu. Atau kamu udah mulai jatuh cinta sama dia?" Adam menatap tajam membuat Harras berdehem karena ketakutan. "Aku gak lupa, dan jangan bicara sembarangan. Apa dia sudah menujukan wajahnya atau tidak kita lihat nanti." Adam mendorong cangkir kopinya tanpa berniat kembali meminumnya. “Apa kopi yang kali ini berbeda? Kenapa rasanya tidak sama seperti sebelumnya?” Adam bertanya pada pelayan yang tengah membersihkan bekas makan Anna, dan tentu saja yang membuatkannya kopi. Pelayan itu menoleh dan dengan takut- takut mulai berkata, “Enggak, Pak. Itu masih kopi yang biasa dibeli. Cuma—” Pelayan menghentikan ucapannya membuat Adam mengernyit karena tak sabar. “Cuma apa?” “Cuma biasanya kopinya di buat Ibu. Maaf, Pak. Saya kurang tahu selera Bapak mungkin takarannya berbeda.” Dengan alis yang masih menyatu Adam menatap ke arah kepergian Anna. Jadi selama ini yang membuatkannya kopi juga Anna. Dengan perasaan yang masih menggantung Adam beranjak untuk segera bekerja. Langkah lebarnya keluar dari ruang makan ke arah ruang tamu. Saat akan menaiki tangga Adam melihat Anna turun dari lantai dua. Langkah kakinya yang nampak terburu- buru membuat Adam menatap dengan mengernyit, wanita itu bahkan tak peduli dengan pijakannya. Bagaimana jika dia terjatuh? Namun bukan hanya itu yang menjadi perhatian Adam saat ini. Penampilan Anna yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans sepaha membuatnya tertegun. Jauh dari kata anggun yang biasa dia tampilkan. Tidak ada dress bahkan rambut tergerai anggun. Rambutnya yang kini di kepang lalu di taruh si salah satu sisi membuat penampilan Anna lebih segar dan terlihat seperti remaja belasan tahun. "Kau akan pergi?" Entah kenapa pertanyaan itu meluncur dari mulutnya membuat Anna berhenti. Mungkin Anna pun tak menyangka jika dia akan bertanya. "Hm." Anna bergumam dan melewatinya begitu saja. “Dengan pakaian seperti itu?” Entah kenapa dia justru merasa marah melihat setengah paha mulus istrinya terekspose. “Kenapa sama pakaianku?” Anna menatap dirinya. “Oh, semua dressnya sudah aku buang. Mulai sekarang kamu harus terbiasa melihatku seperti ini.” Ada apa dengan wanita itu. Berubah begitu saja? Atau hanya pura-pura untuk menarik perhatiannya? "Kamu tidak lupa kalau malam ini ada acara di rumah Papa, kan?" Anna yang hendak mencapai pintu berhenti. Diingatkan tentang itu mata Anna menajam. Tentu saja dia tidak lupa. Dan dia juga tidak akan menyiakan kesempatan untuk membuat mereka yang selama ini mengejeknya menyesal. Tentu saja itu ada dalam daftar keinginannya. Tanpa menoleh Anna mengangkat tangannya dan melanjutkan niatnya untuk pergi. …. Anna masih duduk dengan memainkan ponselnya, di belakangnya seseorang tengah menggoreskan pewarna rambut sedikit demi sedikit agar warna merata. Ya, Anna tengah mengecat rambutnya. Hal yang tentu saja belum pernah dia lakukan. Jika dulu Anna berpikir merasa sayang uangnya dia gunakan untuk mengecat rambut. Setelah menikah dan punya banyak uang dia justru takut Adam dan keluarganya tidak suka. Tapi sekarang dia ingin merasakannya sebelum mati. Tak tanggung- tanggung Anna menggunakan warna merah. Entah akan seperti apa jadinya. Namun menurut stylish, rambut merahnya akan bagus untuknya, sebab kulit putihnya akan cocok dan membuat rambut merahnya bersinar, tapi tidak norak. Masih asik menggulir ponselnya Anna melihat sebuah pesan masuk. Saya jemput Ibu pukul 7 malam. Itu pesan dari Reihan. Reihan adalah asisten Adam. Dan sudah jelas dia akan menjemput untuk pergi ke rumah mertuanya alias orang tua Adam. Tanpa membalas, Anna kembali memainkan ponselnya. Melihat destinasi liburan yang bagus, dan tentu saja dia harus pergi dan melihat beberapa tempat indah sebelum mati. Setelah menemukan tempat yang bagus Anna menghubungi sahabatnya. Tentu saja dia harus punya teman untuk bepergian. Lia, ayo kita liburan. …. Reihan benar-benar menjemputnya pukul 7 malam. Dengan reaksi terkejut pria itu menatapnya. Tentu saja penampilan yang cukup berani dan harusnya dia berpikir beberapa kali untuk melakukannya. Tapi dia justru merasa percaya diri. “Rei, bagaimana penampilanku?” “Mengejutkan, Bu.” Reihan tak berani bicara lebih lanjut, seperti biasanya pria itu tahu batasannya. Hanya saja meski reaksi Reihan tak pernah berlebihan, Anna tahu pria itu memiliki tingkat kewaspadaan tinggi terhadapnya. Mau bagaimana lagi orang-orang di sekitar Adam memang begitu, seperti halnya Harras. Hanya saja Reihan tidak seperti Harras yang berani menunjukkannya. “Itu yang aku harapkan.” “Tapi Bu Rima mungkin tidak suka, Bu.” “Itu tujuanku.” Anna berkata acuh. Tentu saja dia ingin melihat apa yang wanita tua menyebalkan itu lakukan saat melihat penampilannya. Sementara itu Reihan hanya melihat wajah Anna dari kaca atas. melihat wajah tenang dan acuh Anna seolah itu memang bukan masalah untuknya. Dahi Reihan mengernyit. Tak biasanya sikap istri majikannya begini. Biasanya dia akan berpikir berkali-kali bahkan hanya untuk penampilan, dan bertanya padanya apa dia sudah cocok? Apa penampilannya terlihat sopan? Atau apa Adam akan menyukainya? Meski penampilan ini juga sangat bagus, dan terlihat cocok untuk Anna. Tapi bagi keluarga Wirayudha jelas ini bertentangan dengan adab dan kesopanan mereka. Apalagi warna mencolok yang Anna gunakan. Anna keluar dari dalam mobil saat mobil berhenti di pelataran rumah besar Wirayudha. Di sana, di dekat mobil lain punggung Adam terlihat. Pria itu nampak tengah berbincang lewat telepon genggamnya hingga punggung itu menoleh dan tertegun saat bertatapan dengannya. “Aku telepon lagi nanti,” ucapnya pada sambungan telepon. Setelah menguasai keterkejutannya Adam segera mengakhiri panggilannya dan melangkah ke arah Anna. “Mengejutkan?” “Masalah?” Adam mengedikkan bahunya acuh dan hanya menaikan tangannya di perut. Tentu saja untuk Adam tak masalah. Dia justru ingin melihat sampai dimana kepura-puraan Anna dalam menarik perhatiannya. Tak perlu komando Anna yang terbiasa melakukannya langsung mengerti dan menyelipkan tangannya di lengan Adam. Dulu dia akan sangat bahagia dalam setiap kesempatan itu sebab hanya saat seperti inilah Anna bisa menyentuh Adam dan bergandengan, karena selebihnya Adam seperti hantu yang tak tersentuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD