3. Gadis malang

1265 Words
Sabrina memegangi pipinya yang memanas setelah mendapat tamparan dari sang ibunda. “Buk…” ringisnya. Air matanya sudah mengalir deras karena sedari tadi mendengar cercaan dari ibunya. “Dasar anak nggak tahu diri! Ibu jodohin kamu sama Fadli itu juga demi kebaikan kamu juga. Dia anak orang kaya, kerjaannya juga bagus. Kamu pikir, siapa yang akan menikmati itu semua setelah kamu resmi menikah sama dia?” omel Bu Tari - ibunda Sabrina. “Bu, Fadli yang selingkuh. Ibu tahu kan, dari awal Sabrina sudah nurut sama Ibu soal perjodohan ini. Tapi Fadli yang ngerusak semua ini, Bu. Bukan Sabrina,” Sabrina membela diri. “Apa sulitnya sih kamu memaafkan Fadli? Lagi pula, yang mau dia nikahin kan kamu, bukan teman tidurnya itu. Lama-lama juga dia berubah. Apalagi kalau kamu sudah melahirkan anak buat dia. Kamu bisa jadi lebih berkuasa-” “Ini cuma soal uang, kan, Bu? Ibu mau Sabrina nikah sama Fadli, biar Sabrina bisa bantu Ibu mengeruk hartanya, kan?” potong Sabrina. “Alah, akhirnya kan kamu juga yang seneng tapi. Sekarang juga, kamu minta maaf sama Fadli dan yakinin dia buat lanjutin rencana pernikahan kalian! Ibu nggak mau tahu, kalau kamu gagal meyakinkan Fadli, Ibu bakal jual kamu!” ancam Bu Tari. “Bu, Sabrina anak Ibu. Fadli udah jahat sama Sabrina. Tapi-” “Orang hidup itu perlu realistis, Sabrina. Kamu pikir gaji kamu yang nggak seberapa itu cukup buat biaya makan kita sehari-hari? Bahkan UMK aja nggak sampai gaji kamu itu. Mau kamu hidup melarat seperti ini terus?” “Andai uang Sabrina nggak buat bayar utang suami baru Ibu itu, harusnya cukup, kok. Bu, Sabrina kerja buat kita. Sabrina-” Plak! “Kurang ajar ya kamu sama orang tua? Sudah, tutup mulut kamu! Pokoknya, sampai nanti malam kamu belum bisa mendapat maaf dari Fadli, Ibu beneran akan jual kamu ke p****************g!” bentak Bu Tari. Wanita itu membanting pintu kamar Sabrina. Di dalam sana, Sabrina hanya bisa menangis dan menangis. Dadanya terasa sesak mendengar perkataan ibunya sendiri. Ia merasa seakan-akan dirinya tidak memiliki arti apapun bagi ibunya. Semua kerja kerasnya selama ini, seolah tidak terlihat di mata Bu Tari. “Bu, aku nggak mau, Bu. Hari aku juga sakit, kecewa lihat calon suamiku berselingkuh dengan perempuan lain. Apalagi sampai berhubungan badan di depanku. Kenapa Ibu malah tega menyuruhku untuk mengemis pada Fadli?” isak Sabrina. Sabrina pikir, apa yang ibunya ucapkan tadi siang hanyalah ancaman belaka. Namun, saat tiba-tiba Bu Tari menyeretnya dan memaksa ia mengganti pakaian dengan pakaian yang tidak senonoh, saat itulah Sabrina sadar jika ibunya sudah benar-benar tidak waras. “Bu, Sabrina nggak mau!” “Diam kamu! Daripada Ibu nampung anak nggak berguna kayak kamu di sini, mending kamu Ibu jual biar bisa menghasilkan duit,” kata Bu Tari. Sabrina meronta sambil menangis. Tapi, suami baru Bu Tari membantu istrinya untuk menyeret Sabrina, membawanya ke sebuah club dan melemparnya di salah satu ruang VIP di club tersebut. “Ini, Bang Thomas. Dia masih bersih, lugu, persis seperti yang Bang Thomas mau,” kata ayah tiri Sabrina. Sabrina menepis tangan p****************g yang hendak menyentuh wajahnya itu. “Sabrina!” sentak Bu Tari. “Saya justru lebih suka sama gadis yang sok jual mahal di depan seperti ini. Pasti buat menaklukannya akan sangat menantang. Dan saya suka desahan wanita yang saya perkosa, daripada wanita yang melakukannya secara suka rela,” kata Bang Thomas. “Tidak! Jangan! Saya mohon jangan apa-apa kan saya!” Sabrina menghampiri ibunya. Ia bersujud di kaki wanita yang sudah memberinya kehidupan itu. “Bu, Sabrina janji bakal lebih rajin bekerja dan menghasilkan uang lebih banyak. Tapi Sabrina mohon, jangan jual Sabrina, Bu!” “Kamu pikir kamu bisa ngasih uang Ibu lima puluh juta tunai? Kalau kamu bisa kasih uang segitu ke Ibu, Ibu lepaskan kamu. Kalau enggak, jangan harap! Bang Thomas udah bayar mahal-mahal ke Ibu. Kamu harus nurut sama dia!” “Apa? Lima puluh juta?” kaget Sabrina. Bu Tari tersenyum sinis. “Nggak mampu, kan? Setahun ke depan, kamu harus nurut sama dia! Jangan jadi anak durhaka, Sabrina! Bukannya kamu yang dulu ngemis-ngemis ke Ibu buat menerima kamu lagi? Sekarang, waktunya kamu buat balas budi dan membayar semua yang sudah pernah Ibu kasih ke kamu selama ini.” Sabrina meronta saat dua anak buah Pak Thomas menyeretnya dan melemparnya ke dekapan p****************g tersebut. Hati Sabrina sangat sakit. Di dunia ini, ia hanya punya sang ibu. Lalu, ibunya menikah lagi dengan pria yang gemar berjudi hingga akhirnya mereka terlilit hutang. Sabrina pernah melihat ibunya dipukuli oleh debtcollector, yang akhirnya membuat dia tidak tega apabila meninggalkan Bu Tari sendirian. Bang Thomas menyeret Sabrina menuju ke sebuah kamar dan membanting tubuh gadis itu di atas ranjang. “Rasanya sudah lama saya nggak masukin perawat. Ah… saya sangat merindukan rasa kesat itu,” ucap Bang Thomas fulgar. “Saya mohon jangan! Saya akan lakukan apapun asal Anda nggak melakukan itu ke saya,” ucap Sabrina memohon. Bang Thomas tertawa keras. “Kamu pikir buat apa saya bayar kamu mahal-mahal? Saya sudah sewa kamu ke ibu kamu selama setahun. Jadi, selama setahun ke depan, kamu harus jadi pemuas nafsu saya, cantik,” ujar Bang Thomas. Bang Thomas mulai menyerang Sabrina. Ia mencium bibir Sabrina, dan dalam seper sekian detik bibirnya berpindah menyusuri leher jenjang Sabrina. Dia membubuhkan kecupan-kecupan basah di salah satu area paling sensitif bagi Sabrina itu. Tak tinggal diam, Sabrina berusaha melawan dengan segenap kesadarannya yang tersisa. Ia mendorong tubuh Bang Thomas. Lalu, ia berusaha untuk kabur dari ruangan terkutuk itu. Sayangnya, ia terlambat. Bang Thomas berhasil menangkap lengannya dan kembali membantingnya ke atas tempat tidur. “Bang, saya mohon jangan! Ah…” “Saya suka desahan kamu, Sabrina. Iyah, teruslah mendesah!” Bang Thomas semakin intens melancarkan aksinya. Ia begitu menikmati wajah Sabrina yang memerah kala ia meremas gundukan di d**a gadis itu. Bang Thomas tersenyum miring. Ia menarik tubuhnya menjauh untuk memberi ruang bagi Sabrina hingga gadis itu bisa duduk dan berusaha mengatur napasnya yang mulai berantakan. Lalu, dalam sekali tarikan, ia memaksa Sabrina meminum cairan beraroma pekat yang memabukkan, membuat kepala Sabrina terasa pening seketika. “Shhh… ah, jangan!” Sabrina mulai pesimis bisa lari dari sini. Dunianya serasa hancur saat tenaganya tak mampu untuk melawan pria yang sedang melecehkannya itu. Sentuhan sentuhan intim semakin mengaburkan kesadaran Sabrina. Bahkan, ia ia hanya bisa menggerakkan kakinya risih saat merasakan sentuhan halus di paha bagian atasnya. Sentuhan yang kian lama kian naik, mendekati inti tubuhnya. Air mata Sabrina terus mengalir. Bibirnya tak kuasa untuk tidak mengeluarkan desahan laknat yang semakin membakar gelora pria yang sedang mengkungkungnya itu. Namun, entah mendapat kekuatan dari mana, Sabrina akhirnya berhasil mendorong Bang Thomas menjauh. Bang Thomas yang tidak siap dengan serangan itu pun ambruk, jatuh dari kasur. Saat pria itu bangkit dan akan menahan Sabrina, Sabrina menendang bagian privasi pria itu hingga dia mengaduh kesakitan dan kembali ambruk. Sabrina memegangi kepalanya. Ia memaksakan diri untuk berjalan ke arah pintu. Ia membuka kuncinya, lalu keluar dari sana secepat yang ia bisa. “GADIS SIALAN! KEJAR DAN TANGKAP DIA!” Sabrina bisa mendengar teriakan itu. Namun ia terus berlari secepat yang ia bisa untuk menyelamatkan dirinya. Hingga kemudian, di satu belokan, ia bertabrakan dengan seseorang yang membuat tubuhnya hampir jatuh, andai orang itu tidak dengan cepat menahannya. “Tolong! Aku mohon selamatkan aku!” Tatapan Sabrina mengabur. Ia tidak bisa mengenali wajah pria yang ia tabrak itu. Namun, hanya dialah satu-satunya yang bisa Sabrina harapkan saat ini. Setelah itu, Sabrina tidak tahu lagi apa yang terjadi. Kesadarannya menghilang setelah ia mendengar teriakan memilukan dan suara layaknya tulang yang dipatahkan dengan sengaja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD