“Ah… panas,” erang Sabrina. Ia berusaha melucuti pakaiannya sendiri. Ia memaksa kakinya untuk berdiri, dan mulai melepas satu per satu kain yang melekat di tubuhnya.
Saat melihat sesosok pria memasuki ruangan yang ia tempati, ia langsung menghampirinya dan memeluknya erat.
“Sabrina…”
“Kak Rafa, sentuh aku, Kak! Aku mau Kakak. Aku butuh Kakak.” Sabrina kehilangan kesadarannya. Gadis itu tidak mungkin mengatakan hal paling laknat itu jika ia sadar.
Pria yang ia panggil Kak Rafa itu membantu Sabrina kembali ke tempat tidur. Ia mendudukkan gadis manis itu dan membantunya meminum segelas air.
“Habisin!” paksanya saat Sabrina menjauhkan bibir gelas tersebut saat haru hanya meneguknya sedikit.
“Ah, Kak, panas!” erangnya.
Rafa berusaha menghentikan pergerakan Sabrina. Namun, saat tiba-tiba gadis pujaan hatinya itu berdiri dan menyerang bibirnya, Rafa seakan kehilangan arah. Ia mendorong Sabrina dengan keras, membuat gadis itu terbaring di atas tempat tidur.
Di waktu bersamaan, Sabrina berhasil menyobek baju yang ia kenakan.
“Jangan salahkan aku atas apa yang aku lakukan malam ini, sayangku. Tapi aku janji, aku pasti akan bertanggung jawab dan membuat kamu terus berada di sisiku,” gumam pria itu, lalu mulai menciumi wajah Sabrina.
Sabrina yang berada di bawah kendali obat bius, hanya bisa mendesah dan mendesah. Ia seolah menikmati apa yang sedang diberikan oleh pria yang sedang mengkungkungnya.
Puas dengan bibir dan seluruh wajah Sabrina, Rafa menyerang leher jenjang wanita itu. Ia mengecupnya dua kali, sebelum akhirnya mulai menghisap ganas, membuat sang wanita menjerit nikmat.
Kecupan-kecupan basah itu perlahan naik ke telinga Sabrina. Ia mengulumnya seakan itu adalah permen yang nikmat.
“Ahh… terus, Kak! Ahh… yahh”
“Sssshhh sentuh aku! Sentuh Sabrina!”
Rafa tersenyum miring. Ia menarik diri untuk dapat menanggalkan pakaiannya satu persatu. Setelah itu, ia kembali mencumbu gadis di bawah kungkungannya. Tangannya bergerak membantu Sabrina melepaskan kain-kain yang masih melekat di tubuh bagian atasnya. Lalu, ia meremas gundukan kembar yang membuat Sabrina lagi lagi menjerit tak tertahan.
“Ahhh! Yahhh! Terus!”
Rafa kian bergelora. Ia mengulum salah satu puncak dari gundukan itu. Tak kuasa dengan rangsangan di sekujur tubuhnya, tubuh Sabrina akhirnya menegang. Ia menjerit nikmat bersamaan dengan sesuatu yang keluar dari tubuhnya. Tenaganya terkuras habis hingga akhirnya ia jatuh tidak sadarkan diri dengan pria yang sudah terlanjur terbakar gairah di atas tubuhnya.
“Arrrhh! s**t!” umpat Rafa saat menyadari jika wanitanya sudah benar-benar tak sadarkan diri setelah pelepasannya.
***
Boss Reserved Blue. Sabrina yakin, dirinya sangat mengenali aroma parfum maskulin ini. Aroma itu masuk ke indera penciumannya kala matanya masih terpejam. Aroma harum, menenangkan, tetapi berhasil membawa Sabrina kembali ke masa-masa manis yang tidak seharusnya ia ingat.
“Rasanya begitu mirip. Aroma dan pelukan ini membuat aku kembali teringat pada Kak Rafa,” batin Sabrina.
Kepalanya berdenyut saat ia berusaha membiasakan diri dengan cahaya yang masuk ke matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah plafon putih yang tampak elegan. Ia yakin, dengan suasana ruang yang ia rasakan kini, ia tidak sedang berada di kamarnya.
Potongan memori mulai memenuhi kepalanya. Ia meringis kala mengingat jika dirinya sempat mendapat perlakuan yang tidak seharusnya semalam. Lalu, ia menarik diri, berusaha lepas dari pelukan yang membuatnya nyaman itu. Saat ia menoleh, matanya seketika membulat melihat siapa yang kini tengah berbaring di sampingnya.
Sabrina membungkam mulutnya seerat yang ia bisa. Matanya memerah basah. Ia bergerak pelan turun dari tempat tidur. Saat ia menyadari keadaan tubuhnya saat itu, ia langsung memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.
Bagaimana mungkin ia hanya mengenakan kemeja putih polos milik seorang pria yang hanya menutupi hingga sepertiga pahanya?
Sabrina memegangi kepalanya. Ia berusaha untuk mengingat apa yang terjadi padanya semalam. Tanpa sadar ia meringis. Dan ringisan itu, berhasil mengusik pria yang tidur bersamanya.
“Kamu sudah bangun?”
Suara serak itu membuat Sabrina melompat kaget. Wajahnya memucat saat ia menoleh dan menyadari jika pria itu benar-benar sosok yang paling ia hindari selama ini.
Sabrina memunguti pakaiannya. Namun, ia mengeluh saat menemukan bajunya yang koyak.
“Jangan salahkan aku! Kamu sendiri yang semalam menyerangku dan mengoyak kain itu,” kata Rafa. Ia beranjak mendekat ke arah Sabrina.
Sabrina mengalihkan pandangannya menyadari jika Rafa hanya mengenakan celana kain hitam di tubuhnya. Tubuh bagian atasnya shirtless - karena kemejanya ia pakaikan pada Sabrina.
Rafa menyentuh rahang Sabrina dengan sensual, memaksa wanita itu untuk membalas tatapannya. “Aku senang kamu kembali,” ungkapnya
Sabrina menggeleng. “Ini cuma salah paham. Aku nggak tahu kalau Kakak yang menolongku tadi malam. Dan… aku harus kembali sekarang.”
“Kembali ke mana?” tanya Rafa dengan nada meremehkan.
“Pulang, ke rumah aku dan Ibu. Sekali lagi, terima kasih Kakak sudah menolongku. Tapi aku harus pergi,” tegas Sabrina. Ia membawa kain-kain yang bentuknya sudah tidak karuan itu ke kamar mandi. Tapi, Rafa menahan lengannya.
Rafa membanting Sabrina di atas tempat tidur. Tatapan matanya mengisyaratkan kekuasaan mutlak dirinya atas Sabrina.
“Kamu nggak ingat? Aku sudah membelimu dari ibumu dan pria bodoh itu. Itu artinya kamu tidak bisa pergi begitu saja dariku, sampai aku yang lebih dulu bosan dan membuangmu.”
Sabrina menajamkan penglihatannya. “Beli? Kakak pikir aku barang yang bisa dengan mudah dijual-belikan?”
“Tapi kenyataannya, seperti itulah cara dua orang i***t itu memandangmu selama ini, kan?” balas Rafa.
Sabrina mengerti siapa yang sedang dibicarakan Rafa saat ini. Ia merasa sangat malu, menyadari jika Rafa sudah tahu bagaimana keadaan keluarganya kini.
“Aku janji bakal balikin uang yang Kakak gunain buat menebus aku. Tapi, izinkan aku pergi, Kak! Aku-”
“Dua ratus juta, apa kamu sanggup membayarnya?” potong Rafa.
“Apa? Dua ratus? Bukannya seharusnya cuma lima puluh juta?” Seingat Sabrina, sang ibu menjualnya dengan nominal itu semalam, pada p****************g berusia matang.
Rafa tertawa remeh. “Apa menurutmu ibumu akan melepaskanmu padaku jika aku hanya membayarnya dengan nominal yang sama?”
Sabrina merutuki nasib sialnya. Dua ratus juta. Bahkan melihat angka itu berjejer di rekeningnya saja ia tidak pernah. Nominal itu sangat besar untuknya. Rasanya sangat tidak mungkin ia mendapatkan uang itu jika ia hanya bekerja bermodalkan ijazah SMA yang ia miliki, dan keadaan ibunya yang terlanjur terbelit hutang puluhan juta rupiah.
Rafa duduk di samping Sabrina. Ia membelai rambut kusut wanita itu dengan penuh cinta. “Tinggalah denganku dan aku akan menganggap semuanya lunas.”
Sabrina memejamkan matanya. Ia tahu, apa maksud “tinggal” yang Rafa inginkan. Ia teringat kembali dengan kedua orang tua Rafa yang juga merupakan orang tua angkatnya. Semurahan apapun dia, dia tidak ingin membuat dua orang yang sangat baik itu kecewa padanya.
“Aku akan cari cara supaya bisa gantiin uang Kak Rafa tanpa-”
Brak
Rafa mendorong Sabrina hingga wanita itu kembali berbaring, dan langsung mengkungkungnya. “Kamu pikir aku kekurangan uang? Aku sudah punya segalanya, Sabrina. Segala sesuatu yang bahkan kamu sendiri tidak pernah memilikinya. Kamu pikir, aku akan tergoda dengan uang recehmu itu?”
“Kak…”
“Kamu. Cuma kamu yang aku mau. Aku akan memberi dua pilihan untukmu. Tinggal dan bersikap baik sebagai wanitaku, atau aku izinkan kamu keluar, tapi aku akan binasakan wanita tua yang selama ini membuatmu menderita itu!”
Mata Sabrina bergetar. Ia menggeleng ribut menyadari siapa yang menjadi target ancaman Rafa.
“Tidak! Jangan sentuh ibuku!” pinta Sabrina.
Rafa tersenyum miring. “Dia sudah mengambil dua ratus juta milikku. Jika kamu tidak ingin aku mengambil dua ratus jutaku bersama kompensasinya, maka anaknya yang manis ini harus bersedia menjadi gantinya.”
Tangis Sabrina pecah. Meski bibirnya masih tertutup rapat, tetapi air matanya mengalir deras membayangkan akan seperti apa hari esok yang ia lalui, jika ia memutuskan untuk setuju tinggal bersama pria yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya itu.
“Ma, Pa, maafin Sabrina. Sabrina harus membuat kalian kecewa, tapi Sabrina tidak punya pilihan lain lagi.”