Sabrina menyeret kakinya untuk masuk ke sebuah rumah mewah yang berlokasi di ibu kota. Napasnya tampak berat. Ia masih tidak menyangka, dirinya akhirnya akan menuruti ucapan pria yang menolongnya dua hari yang lalu.
Saat kopernya ditarik oleh pria yang mengajaknya tinggal di apartemen ini, Sabrina hanya menurut. Selanjutnya, pria itu membawa Sabrina menaiki anak tangga hingga mereka sampai di lantai kedua rumah tersebut.
“Di sini kamar kita. Apa kamu suka? Atau ada yang perlu aku perbaiki untukmu?” tanya si pria.
“Kamar kita?” kaget Sabrina.
Pria itu terkekeh. Ia merangkul pinggang Sabrina mesra. Meski merasa risih, Sabrina tidak bisa mengelak karena hidupnya kini sudah terikat dengan pria itu.
“Kamu nggak lupa kalau kamu kembali ke Kakak bukan sebagai adik kecil Kakak lagi kan, sayang?”
Sabrina menggeleng kaku. “Maaf.”
“It’s oke, kamu cuma belum terbiasa. Tapi, Kakak mau, mulai sekarang biasain diri kamu buat melihat Kakak sebagai seorang pria dewasa, bukan sebagai anggota keluargamu. Karena biar bagaimana pun juga, kita tidak punya hubungan darah dan Kakak akan mengikatmu dengan cara Kakak sendiri,” ucap pria itu - Rafa.
Sabrina menelan salivanya kasar. Ia ingin membantah. Tapi ia tidak berani. Mereka pun masuk ke kamar utama di rumah itu - kamar yang sengaja Rafa siapkan jika sewaktu-waktu dirinya bisa membawa Sabrina kembali ke pelukannya. Dan tenyata, hari itu akhirnya tiba.
Rafa menghampiri Sabrina. Ia membelai mesra bahu gadis lugu itu. Kepalanya mendekat, memberi kecup ke bahu tegap Sabrina.
Sabrina memejamkan mata erat-erat. Ia merasa seperti w************n karena bahkan tidak mampu untuk menolak sentuhan itu.
Lepas mengecup bahu Sabrina, Rafa juga memberikan satu kecupan singkat ke bibir Sabrina, yang membuat tubuh gadis itu menegang.
Ini adalah kali pertama bagi Sabrina merasakan kecupan bibir dari lawan jenisnya, saat ia dalam keadaan sadar. Sebab, biar bagaimana pun juga, pada kejadian kemarin ia dan Rafa berciuman saat Sabrina sedang dikuasai oleh pengaruh bius.
Rafa terkekeh. Ia merapikan anak rambut Sabrina. “Kenapa seperti itu, hm? Kamu kelihatan sangat awam. Apa dua calon suami- maksudku mantanmu itu tidak ada yang pernah mengajarimu cara berciuman?”
Sabrina mengernyitkan alisnya. “Kakak tahu?”
Maksud dari pertanyaannya, ia bingung dengan Rafa yang tahu jika Sabrina sempat memiliki dua mantan kekasih yang keduanya juga sudah merencanakan pernikahan dengan Sabrina. Selain Fadli yang berhianat dan hampir mencelakainya beberapa hari yang lalu, Sabrina juga sempat akan menikah dengan pria bernama Bima - yang kini mendekam di penjara karena kasus korupsi dan kecelakaan yang menyandungnya.
Rafa terkekeh dengan nada remeh. “Kakak tahu semua tentang orang-orang yang Kakak sayang. Dan di antara mereka semua, kamulah yang berada di urutan pertama.”
Sabrina mengalihkan tatapannya ke arah lain, menatap ke jendela besar yang kini terbuka dan menyalurkan udara segar dari luar. Ia melangkah ke sana, melihat taman yang ada di tengah rumah ini, dan kolam renang di tengah-tengahnya.
Tiba-tiba, ia dapat merasakan pelukan intim dari arah belakang. Deru napas hangat Rafa menyapa lehernya, membuat Sabrina bergedik.
“Kakak sudah cari tahu tentangku dari lama, kan?” tanya Sabrina.
“Kakak bahkan nggak pernah memalingkan wajah Kakak darimu. Soal wanita sialan itu pun Kakak tahu. Kakak hanya menunggu waktu yang tepat untuk muncul di hadapanmu, dan merebutmu kembali,” terang Rafa jujur.
“Kak … nggak seharusnya Kakak ngomong kayak gitu ke aku. Biar bagaimana pun, dia ibu kandungku. Dia nggak sejahat yang Kakak kira. Dan dia-”
“Jadi, menjual anak gadis yang selama ini menghidupi dirinya dan suami barunya itu bukan kejahatan besar?” potong Rafa. “Dia mengambil kamu dari Kakak, lalu dia menjadikanmu sapi perah hingga akhirnya menjualmu. Tapi, kamu masih belain dia?”
“Dia ibu aku, ibu kandung aku,” tegas Sabrina.
Rafa terkekeh. “Terserah lah. Yang terpenting sekarang, kamu sudah kembali ke pelukan Kakak. Kamu nggak perlu takut lagi, karena sekarang kamu punya Kakak yang bisa melindungi kamu dari apapun.”
Sabrina diam. Seketika ia teringat pesan dari orang tua angkatnya, yang juga merupakan orang tua Rafa.
“Soal Mama dan Papa, kamu nggak perlu khawatir. Mereka tanggung jawab Kakak. Ini hanya soal waktu saja, sayang,” ucap Rafa, seakan-akan ia memiliki kemampuan untuk menerawang pikiran orang lain.
Sabrina melepas pelukan Rafa pada pinggangnya. Ia beranjak ke arah kasur dan duduk di sana tanpa sedikit pun menoleh ke arah Rafa.
Rafa tesenyum miring. Ia mendorong hingga gadis itu berbaring di atas ranjang dan langsung menindihnya. Mendapat perlakuan seperti itu, Sabrina pun terkejut dan membulatkan matanya.
“Kak Rafa…”
“Jangan pernah menolakku, Sabrina! Karena semua itu akan percuma. Aku akan selalu membuat kamu berada di bawah kendaliku. Kali ini, akan aku pastikan jika kamu tidak bisa lari dariku,” ucap Rafa dengan aura d******i yang kuat.
Sabrina mengalihkan tatapannya. Rasanya sangat menyakitkan baginya saat harus beradu tatap dengan keadaan seperti ini dengan pria yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.
Saat mendapat kecupan basah di bibirnya, Sabrina memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, lalu ia meluapkannya dengan kepalan tangan di kedua sisi tubuhnya.
Kecupan Rafa semakin menuntut balas. Pria itu menyerang Sabrina tanpa ampun hingga akhirnya Sabrina meringis kala Rafa menggigit bibir bawahnya untuk membuka akses permainan mereka ke arah yang lebih jauh.
Bohong jika tubuh Sabrina tidak beraksi dengan permainan Rafa. Tubuhnya mulai memanas, dan ada dorongan dari dalam jiwanya untuk membalas permainan panas Rafa di bibirnya. Namun, Sabrina menahan dirinya setengah mati. Ia tidak ingin memberi kesempatan pada Rafa untuk berbuat lebih jauh hari ini.
***
Sabrina baru saja keluar dari kamar mandi. Dilihatnya, ada dua orang ART yang sedang membereskan kamarnya. Rafa sudah tak berada di sana. Pria itu sudah berangkat bekerja sejak satu jam yang lalu.
“Nona, pakaian baru dari Tuan Rafa sudah kami tata di lemari Anda,” lapor salah satu ART berpakaian khusus itu.
“Pakaian baru?” bingung Sabrina.
“Ya, Nona. Tuan Rafa menyiapkan beberapa pakaian baru untuk Nona. Tak lupa, tas, sepatu dan asesoris lain juga Beliau beli untuk Anda,” jawab satu ART yang lain.
Sabrina menghela napas kesal. “Dia begitu niat menyiapkan semuanya, seakan-akan aku memang tidak akan pernah bisa lari dari tempat ini.”
“Tuan Rafa memperlakukan Anda dengan sangat istimewa. Saya yakin, Beliau sangat mencintai Anda, Nona. Anda pasti sangat bahagia dicintai orang hebat seperti Tuan Rafa.”
Sabrina terkekeh. Lucu menurutnya. Mereka sepertinya tidak tahu jika Sabrina dan Rafa pernah hidup bersama sebagai kakak beradik yang saling menyayangi. Andai mereka tahu, pasti pandangan mereka terhadap perasaan Rafa ke Sabrina akan berubah menjadi jijik, sama seperti yang Sabrina rasakan selama ini.
“Apa Anda memerlukan sesuatu?”
“Tidak. Kalian boleh pergi. Aku akan bermalas-malasan saja hari ini di kamar,” jawab Sabrina.
Memang apa lagi yang bisa ia lakukan? Rafa melarangnya pergi tanpa izin darinya. Dan pria itu mengatakan jika ia akan mengantarnya jika Sabrina ingin pergi ke suatu tempat. Rafa benar-benar tidak main-main saat mengatakan jika ia tidak akan membiarkan Sabrina lolos dari pengawasannya. Pria itu berniat untuk selalu mengawasi setiap gerak-gerik Sabrina.
“Aku harus mencari cara untuk bisa lari dari Kak Rafa, sebelum semua terlambat. Tapi malam itu… aku benar-benar tidak mengingat apapun. Apa kami sudah melakukan hubungan layaknya suami istri? Jika sudah, bagaimana jika aku sampai hamil? Arrrh! Kenapa aku sama sekali tidak ingat, selain bagian diriku yang menyerang dia duluan dan pagi-pagi aku menemukan diriku dalam keadaan seperti itu,” lanjut Sabrina dalam hati.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus meminta bantuan pada Mama dan Papa? Tapi, di satu sisi aku tidak mau membuat mereka kecewa karena mengetahui apa yang sudah aku dan Kak Rafa lakukan.”
Sabrina cukup sadar diri. Kabur dari sosok seperti Rafa bukanlah hal yang mudah untuk dia lakukan tanpa bantuan orang lain. Rafa memiliki harta dan kekuasaan. Sedangkan Sabrina tidak punya apapun yang bisa ia andalkan. Bahkan, tempat bernaung untuk meminta perlindungan setelah pergi dari tempat ini pun, ia tidak memilikinya. Dirinya sama sekali tidak sebanding untuk menjadi lawan dari seorang Rafa Aswantara.