6. Obsesi Rafa

1193 Words
Malam kian larut. Sejak beberapa waktu yang lalu, Sabrina ketiduran di kursi pijat yang ada di kamar Rafa. Niatnya untuk selalu siaga terhadap kakak angkatnya itu pun sirna karena ia yang dikalahkan oleh rasa kantuknya sendiri. Namun, di tengah lelap tidurnya itu, Sabrina merasa terusik kala ada sebuah tangan yang menyentuh wajahnya dengan sensual. Matanya perlahan terbuka. Ia bergerak refleks mendorong saat mendapati wajah kakaknya berada sangat dekat dengannya. “Kakak?” Rafa tersenyum miring. Ia mencium bibir Sabrina dengan gerakan tiba-tiba sehingga gadis itu tidak bisa menghindar. Selanjutnya, Rafa membopong tubuh gadis mungil itu dan memindahkannya ke kasur. Sabrina sontak menyilangkan tangannya di depan d**a. Ia juga memberontak saat Rafa berusaha mendorongnya untuk berbaring. “Apa mau Kakak?” Rafa tersenyum penuh arti. Ia yang awalnya hanya ingin Sabrina kembali tidur pun mulai terpancing adrenalinnya karena keteguhan Sabrina yang menolak sentuhannya. Harga dirinya sebagai lelaki terluka. Dan ia pun duduk di samping Sabrina dengan satu lengan mendekap pinggang ramping gadisnya itu agar Sabrina tak bisa menghindar lagi darinya. “Kak-” “Diam!” sentak Rafa. Sabrina langsung diam dengan napas tak beraturan. Ia sangat takut jika Rafa akan berbuat lebih padanya. “Bagaimana bisa kamu takut sama aku, Sabrina?” tanya Rafa dengan senyuman yang mematikan. “Kakak memang menakutkan.” “Kamu lupa, Kakak yang sudah menyelamatkanmu dari neraka itu. Kakak yang membantumu saat kamu akan dilecehkan oleh pria berengsek itu. Tapi, kamu tenang saja. Sekarang dia tidak akan mungkin bisa mengganggumu lagi. Tangan kanannya yang sudah lancang menyentuhmu sudah Kakak patahkan,” ujar Rafa. Sabrina tentu kaget. Tubuhnya mulai gemetar menyadari jika pria yang sedang bersamanya itu adalah orang yang sangat berbahaya yang bisa dengan tega menyakiti siapa saja. “Kakak begitu mencintaimu. Apa kamu tidak bisa menyadarinya?” tanya Rafa. “Kak, ini salah. Nggak seharusnya Kak Rafa suka sama Sabrina. Sabrina adik Kakak, anak angkat Mama dan Papa Aswantara,” bantah Sabrina dengan suara bergetar. Rafa menyentak tubuh Sabrina, mendorongnya hingga gadis itu terbaring di ranjang. Lalu, dengan gerak cepat, ia menindih gadis malang itu. “Lepasin! Lepas! Kak, Sabrina adik Kak Rafa!” Rafa menopang berat tubuhnya dengan satu tangan. Sedang tangan yang lain ia gunakan untuk menyentuh wajah Sabrina, dan bergerak turun hingga menyentuh bibir. “Nakal sekali. Sudah Kakak tegasan kalau kamu bukan bagian dari Keluarga Aswantara. Darah Aswantara tidak mengalir di tubuh kamu. Tapi mungkin …” Rafa menggantungkan kalimatnya. Lalu, tangannya menuju ke tubuh bagian bawah Sabrina. Ia mengangkat rok yang gadis itu kenakan, lalu, tangannya dengan leluasa menyentuh bagian intim Sabrina yang masih terbungkus celana dalam. “Ah!” teriak Sabrina sebagai reaksi refleks atas rasa sengatan itu. “Iya, begitu. Kakak suka melihat kamu yang mendesah di bawah kungkungan Kakak, Sabrina,” ungkap Rafa. Sabrina menggeleng sambil meneteskan air matanya. Harga dirinya benar-benar hancur mendapat perlakuan sehina ini dari seseorang yang tak pernah ia duga. Namun, bukannya merasa kasihan, Rafa justru kembali menggesekkan jari tengahnya pada celana tipis yang membaluk privasi Sabrina itu. Mata Sabrina memejam. Ia menggigit bibir dalamnya untuk menahan suara laknat yang mungkin bisa keluar kapan saja dari mulutnya. Namun, Rafa tak mau kalah. Ia ingin membuat Sabrina benar-benar mendesah nikmat di bawah tubuhnya malam ini. Maka dari itu, bibirnya mulai memangut bibir Sabrina. Ia gerakkan bibirnya dengan buas hingga membuat tubuh di bawahnya menegang. Setelah puas, ia memindahkan bibirnya ke leher gadis itu. Rafa membuat beberapa tanda di sana. “Arrh, Kak, jangan!” teriak Sabrina saat Rafa menggigit bibirnya. Rafa tersenyum menang di sela kegiatannya. Tak berhenti di situ, tangan Rafa mulai menyingkap satu-satunya kain yang melapisi bagian intim adiknya. Sabrina bergerak gelisah, teruma saat sentuhan asing itu mulai menggapai area pribadinya. Air matanya mengalir semakin deras, tapi Rafa seolah tidak mempedulikannya. “Nikmati saja, sayang! Kakak mau menyadarkan kamu, seperti apa posisi kamu di keluarga Aswantara,” ucap Rafa dengan suara serak seolah dia juga sudah mulai terbakar gelora. Sabrina semakin resah. Kekuatannya semakin menipis kala tubuhnya bereaksi berlawanan dengan pikiran dan nuraninya. Tubuhnya sama sekali tak kuasa menolak sentuhan-sentuhan itu -- bahkan, mungkin ia menginginkan lebih. Rafa mulai menyelipkan jarinya di antara celah sempit di bawah sana. Seketika, tubuh Sabrina terangkat dan menegang. Rafa senang melihatnya. Ia senang, saat berhasil menggoda adiknya. Lalu, saat ia menggerakkan jarinya di dalam sana, Sabrina lagi-lagi kelepasan menjerit dengan sensual yang membuat Rafa semaki terbakar. “Arrh! Kak Raf - ah! Cuk kup arrh.” “Yah. Seperti itu, Sabrina. Terus mendesah untukku!” “Ah, Kak …” Gadis itu bergerak gelisah, tetapi tak menunjukkan sedikit pun perlawanan. Rafa merasa menang. Ia semakin gencar menggoda milik adiknya di bawah sana. Namun, saat merasakan tubuh adiknya benar-benar menegang seakan sudah dekat dengan puncaknya, ia segera mengakhiri semuanya. Sabrina dengan pelan membuka matanya. Ia tatap dengan sayu pria yang baru saja memberinya pengalaman menakjubkan itu. Ada sedikit rasa tak rela kala Rafa mengakhiri permainannya. Sekarang, bagian intinya benar-benar terasa gatal karena hasrat yang tak tertuntaskan karena Rafa yang sengaja menggodanya. “Kenapa? Mau lagi, hm?” goda Rafa. “Jika kau meminta, maka aku akan berikan. Sekarang, katakan apa yang kamu mau, Sabrina! Katakan kalau kamu ingin aku kembali bermain di liang sempitmu! Katakan kalau kamu ingin aku membuat kamu keluar!” Harga diri Sabrina terluka. Ia mengabaikan gairah yang bergelora di dalam dirinya. Dengan air mata, dan segenap tenaga yang tersisa, ia mendorong Rafa sekuat mungkin hingga pria itu akhirnya mengalah dan bangkit dari posisinya. Plak Sabrina menampar pipi Rafa, membuat pria itu tampak kaget, lalu kembali memecah suasana dengan suara tawanya. “Begini cara kamu berterima kasih setelah Kakak memberimu kenikmatan, sayang?” “Berhenti bersikap kurang ajar sama aku, Kak. Aku juga punya harga diri. Dan aku adik Kakak!” tegas Sabrina. Tawa Rafa kembali pecah. “Coba sekali lagi kamu mengatakan jika kamu adalah adiklku! Katakan, Sabrina! Berani kamu mengatakannya, aku akan benar-benar membuat kamu sadar kalau kamu bukan adikku, dengan menanamkan benihku di rahimmu!” Sabrina memejamkan mata mendengar ancaman itu. Napasnya masih terengah karena sisa permainan Rafa, serta isak tangisnya. Dengan hati yang hancur, ia berjalan gontai ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang kotor. Laju air matanya tak dapat ia tahan. Bahkan, tangisnya semakin hebat saat merasa dirinya memiliki ruang untuk sendirian di daalam kamar mandi tersebut. “Aku kotor. Aku benar-benar hina. Kak Rafa jahat. Kenapa dia tega melakukan semua ini padaku? Sampai kapan dia akan terus bersikap seperti ini padaku?” isaknya yang teredam suara kran wastafel yang menyala. Namun, di luar sana, Rafa dapat mendengar semuanya. Ia tidak ingin melihat Sabrina terluka. Ia sangat kesal melihat aliran deras di pipi gadis itu. Namun, ia tidak memiliki cara lain. Bertahun-tahun ia berusaha mendapatkan hati Sabrina, tetapi gadis itu selalu menolaknya karena status mereka. Hal itu membuat Rafa marah. Setiap kali ia teringat jika Sabrina adalah adiknya, maka ia ingin menghancurkan semua hal yang ada di depan matanya. “Cinta … atau obsesi? Bukankah keduanya sama saja? Yang terpenting adalah aku bisa menjadikan dia sebagai milikku selamanya. Tidak peduli meski awalnya aku akan terus melihat air matanya, tapi, jika waktunya tiba dan dia bisa membalas perasaanku, aku akan pastikan jika ia akan menghabiskan sisa hidupnya dengan bahagia di sisiku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD