7. Tak punya pilihan lain

1349 Words
Rafa hampir selalu menginap di rumah yang ia tempati bersama dengan Sabrina. Padahal, selain rumah ini, ia juga memiliki satu apartemen berharga milyaran di pusat kota Jakarta. Kedua orang tuanya mengira ia tinggal di apartemen itu selama ini. Sebab, Rafa memang merahasiakan pembelian rumah ini dari orang-orang. Ia sengaja, membeli rumah ini untuk ia tempati bersama Sabrina, dan tidak ingin ada seorang pun yang kelak akan mengganggu wanitanya itu. “Pakaikan dasiku!” pinta Rafa, pada Sabrina yang sedang membereskan tempat tidur mereka. “Biasanya siapa yang memakaikan dasi Kakak? Kenapa sekarang tiba-tiba harus minta tolong sama aku?” ketus Sabrina. “Oh … kamu memang lebih senang jika aku hukum dulu, ketimbang langsung nurut?” ancam Rafa. Sabrina menelan salivanya gugup. Ia dapat menangkap dengan jelas maksud ucapan kakaknya itu. Akhirnya, ia pun segera berjalan ke arah sang kakak dan mengambil alih dasi di tangan pria itu. “Menunduk sedikit!” Rafa menurut dan sedikit menekuk lututnya agar Sabrina bisa memasangkan kain panjang itu ke lehernya. Sabrina berusaha mengabaikan tatapan nakal kakaknya. Ia fokus membuat simpul di leher Rafa secepat dan serapi mungkin sebelum Rafa berbuat sesuatu padanya. Namun, saat Sabrina akan menarik diri, Rafa menahan pinggangnya. Ia sedikit mengangkat pinggang Sabrina hingga membuat perempuan itu memekik. “Arh!” Rafa terkekeh. “Cuma aku peluk aja sudah ngedesah. Gimana kalau-” “Kak, jangan ngomong jorok! Aku nggak suka!” sentak Sabrina. Rafa tersenyum miring. “Tapi aku suka, selagi itu sama kamu.” Sabrina mendengus sebal. Lalu, ia berusaha melepaskan jeratan Rafa pada pinggangnya. Sayangnya, meski Rafa hanya menahan dirinya dengan salah satu lengannya, kekuatan Sabrina tetap tidak lebih besar dari tenaga kecil Rafa tersebut. “Mau Kakak apa lagi? Dasinya kan sudah aku pasang. Kalau kita kayak gini terus, yang ada kemeja Kakak nanti jadi lecek,” dumel Sabrina. “Oh ya? Kalau mau lepas, coba cium aku!” “Kakak jangan-” “Jadi, masih betah kayak gini terus, nih? Aku sih oke aja. Malah seneng kalau-” Sabrina menyambar pipi kiri Rafa, menempelkan bibirnya dalam sepersekian detik di sana. Namun, aksinya itu hanya ditertawai oleh Rafa. “Kak!” “Kakak nggak bilang cium pipi. Kamu nggak tahu ciuman itu seperti apa, ya? Perlu Kakak ajarin?” “Kakak kan harus kerja. Buruan sana kerja aja! Lepasin aku! Yang penting aku udah turuti kemauan Kakak buat nyium Kakak,” protes Sabrina. “Tapi Kakak nggak mau kalau cuma cium pipi. Nggak berasa. Yang lain dong!” Sabrina mendengus sebal. Ia tahu, saat ini Rafa sedang mempermainkannya. Namun, ia tidak ingin menuruti hawa nafsu pria itu. Sabrina memilih diam, dan berpikir jika Rafa akan melepaskannya dengan sendirinya saat lelaki itu ingat pekerjaannya di kantor. Selang tiga menit dengan posisi itu, terdengar helaan napas berat dari pria yang memeluk Sabrina. Awalnya, Sabrina pikir Rafa mulai lelah dan akan melepaskannya. Namun, ucapan pria itu membuat semua harapan Sabrina buyar. “Jadi, masih harus aku ajarin, ya?” “Bukan begitu, Kak!” Rafa tak mengindahkan ucapan Sabrina. Ia membawa Sabrina ke kasur, lalu melemparkannya. Sabrina memekik kaget. Namun, ketika ia berniat untuk bangkit, Rafa sudah lebih dulu mengungkung tubuhnya. Seperti biasa, rontaan Sabrina seolah tak berarti bagi Rafa. Pria itu hanya tersenyum iblis menanggapi segala rontaan gadisnya. Beberapa saat kemudian, Rafa menempelkan bibirnya pada bibir Sabrina, mencecap manis bibir itu bergantian atas dan bawah. “Balas, atau aku nggak akan lepasin kamu?” ancam Rafa lagi. Sabrina memejamkan matanya erat-erat. Ia tidak punya pilihan lain selain mulai menggerakkan bibirnya membalas permainan Rafa. Ia menyesap bibir bawah Rafa dengan kikuk. Ia berusaha mengimbangi permainan Rafa, meski ia akui ketrampilannya memang terasa sangat payah dibanding kemahiran Rafa. Selang beberapa menit, Rafa melepaskan bibir Sabrina. Gadis itu terengah, membuat Rafa segera bangkit karena tidak ingin gadisnya pingsan sekarang karena dirinya. “Ingat, sekali kamu kabur, maka aku nggak akan kasih ampun ke kamu. Saat ini, aku masih membebaskan kamu untuk keluar-masuk rumah ini karena aku percaya sama kamu. Tapi, kalau kepercayaanku sudah hilang, jangan pernah salahkan aku kalau aku bertindak lebih gila dari ini!” ancam Rafa. Sabrina mengangguk pelan. Ia tahu, Rafa bukan orang yang bisa ia sepelekan. Apalagi, saat ini Sabrina sudah tidak memiliki siapa-siapa untuk membelanya. Ibu kandungnya bahkan rela menjualnya. Bahkan, jika Sabrina kembali, bukan tidak mungkin Sabrina akan dijual lagi pada orang lain. Rafa memberikan sebuah ponsel baru yang di dalamnya hanya ada kontaknya seorang. “Kak, memangnya ini nggak terlalu mahal?” tanya Sabrina, menerima ponsel mewah keluaran terbaru itu. “Apapun akan aku berikan untukmu selagi kamu nurut, sayang,” balas Rafa. Ia mengecup pipi Sabrina sebelum akhirnya meraih jasnya dan pergi. Tinggalah Sabrina seorang diri di sangkar emas itu. Ia tidak tahu akan melakukan apa lagi hari ini. Bahkan, membantu pekerjaan rumah saja tidak boleh. Sabrina hanya bisa berbaring sambil menonton serial romansa di televisi saat menunggu Rafa kembali ke rumah. Tapi, ia yang terbiasa bekerja di luar seharian tentulah merasa bosan dengan keadaan yang seperti ini. Kak Rafa: [Aku akan menjemputmu! Bersiap-siaplah!] Sabrina membulatkan matanya mendengar pesan yang beberapa belas menit lalu Rafa kirimkan. Sabrina: [Memang Kakak mau bawa aku ke mana?] Kak Rafa: [Aku nggak sejahat itu, sayang. Kamu pasti bosan, kan? Kita lunch bareng, oke?] Sabrina: [Lalu kerjaan Kakak? Nggak mungkin semua udah selesai, kan?] Kak Rafa: [Kamu nggak perlu pusingkan itu. Yang penting, sekarang kamu siap-siap! Pakai baju bagus dan make up yang aku belikan. Aku akan datang dalam setengah jam.] Sabrina menegakkan tubuhnya. Dengan mata tampak lebar, ia segera bangkit menuju ke lemari untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan kali ini. Ia baru sadar, di lemari itu ada banyak pakaian mewah yang semuanya cantik. Andai bukan karena Rafa yang membelikannya, mustahil Sabrina bisa memiliki salah satu dari mereka. Pilihan Sabrina akhirnya jatuh pada gaun polos berwarna lilac. Ia segera berganti pakaian, lalu merias wajahnya dengan riasan tipis. Tak lama, terdengar suara mobil Rafa memasuki pekarangan rumah mereka. Sabrina tidak tahu kenapa, ia jadi merasa sangat bersemangat untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Mungkin karena dia sudah benar-benar bosan dan merindukan suasana kebebasan di luaran sana? “Kak Rafa.” Sabrina berdiri saat melihat pantulan tubuh Rafa di cermin. Ia menoleh ke arah pria itu. “Kamu kelihatan seneng banget kayaknya mau jalan sama aku?” goda Rafa. Sabrina berusaha mengontrol ekspresinya. Ia tidak ingin Rafa salah paham dan menganggap Sabrina sudah menerimanya. “Aku senang karena akhirnya aku akan keluar, bukan karena Kakak,” ralat Sabrina. Rafa terkekeh. “Sudah, ayo!” Sabrina berusaha menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. Ia mengikuti langkah kaki Rafa keluar dari rumah megah berkonsep minimalis itu, lalu masuk ke pajero hitam milik Rafa. Rafa membawa Sabrina ke sebuah restoran Jepang. Sabrina sangat antusias mulai saat Rafa memarkirkan mobilnya. Sangat sulit untuk dia menahan senyumnya. Rasanya, ia sudah sangat rindu dengan makanan kesukaannya semasa masih tinggal bersama Keluarga Aswantara - sushi. Sejak pindah dan tinggal bersama ibu kandungnya, Sabrina tidak pernah lagi merasakan salah satu makanan khas Jepang itu, meski ia sangat menyukainya. “Kamu suka banget sushi, kan? Sekarang kamu bisa pesan sepuasnya,” kata Rafa. “Ch, Kakak pikir makanku sebanyak apa? Satu porsi saja cukup, kok,” ujar Sabrina. “Waktu kelas satu SMA saja kamu pernah habis tiga porsi sushi sekaligus. Kamu lupa, waktu kamu malakin aku minta lima porsi sushi dan akhirnya kamu cuma habisin yang tiga?” Sabrina mendecak. Namun, akhirnya dia benar-benar memesan lebih dari satu porsi. Satu porsi saja rasanya tidak cukup, mengingat sudah bertahun-tahun ia tidak pernah memakannya. “Lihat! Aku lebih dari mampu buat bahagiain kamu. Kamu nggak perlu lagi khawatirin soal restu Mama Papa, karena sekarang aku sudah punya power buat mempertahankan kamu. Kamu akan baik-baik saja selagi di sisiku. Tapi, sekalinya kamu pergi, maka aku bisa pastikan kamu bakalan hancur. Karena aku sendiri yang akan menghancurkanmu saat kamu memilih untuk pergi dariku.” “Kak Rafa itu gila. Tapi, semakin aku melawan, dia akan semakin gila. Seandainya aku menurut dan tetap di sisinya, dia pasti akan cepat bosan. Lebih baik aku berusaha bertahan menunggu dia sampai bosan, daripada aku keluar dari rumah itu tanpa nyawa,” batin Sabrina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD