Sabrina merasa kehidupannya dengan Rafa kini jauh lebih tenang. Rafa sudah tak lagi terlalu mengatur atau melarang banyak hal. Justru, ia mulai mendorong Sabrina untuk lebih mandiri—sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
“Hari ini kamu pengen ke mana? Jangan sampai telat makan, ya! Nanti kalau siang aku ada waktu, kita lunch di luar bareng,” kata Rafa suatu pagi sebelum berangkat kerja.
Ucapan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Sabrina tersenyum. Kebebasan kecil ini sangat berarti baginya.
Hari itu, Sabrina memutuskan untuk pergi ke minimarket dekat rumah. Ia menikmati waktu sendiri, memilih beberapa barang, dan merasa dunia di luar rumah tak lagi terlalu asing. Namun saat ia keluar dari pintu minimarket, ia mendengar suara yang sangat dikenalnya.
“Sabrina?”
Ia mendongak. Mama Indah.
Sabrina terdiam sesaat, melihat wanita yang dulu ia panggil ibu itu berdiri dengan wajah yang sulit ia artikan—antara kaget dan penuh harapan.
“Kamu di sini?” tanya Mama Indah.
“Iya... aku tinggal nggak jauh dari sini,” jawab Sabrina pendek, ragu-ragu.
“Sendirian?”
Sabrina hanya mengangguk. Ia tidak ingin memperpanjang percakapan, khawatir Mama Indah akan memancing percakapan yang membuat rahasianya dengan Rafa akan tercium. Dari nada bicara dan ekspresi wanita paruh paya itu, tidak ada amarah, hanya kehangatan yang dulu pernah ia rindukan.
***
Beberapa hari kemudian, Sabrina memutuskan makan siang di sebuah restoran kecil yang biasa ia datangi. Ia memilih meja di sudut ruangan, menikmati makanannya sendirian. Tapi, lagi-lagi, takdir mempertemukannya dengan Mama Indah.
“Sabrina,” panggil Mama Indah, kali ini dengan nada lebih akrab.
Sabrina mendongak, sedikit terkejut. “Mama?”
“Mama boleh duduk?” tanyanya, menunjuk kursi di depan Sabrina.
Sabrina mengangguk, walau hatinya masih sedikit waspada.
Mereka duduk dalam keheningan beberapa detik, sampai akhirnya Mama Indah berbicara. “Sekarang kamu menetap di Jakarta? Kayaknya akhir-akhir ini kita jadi sering bertemu. Gimana keadaan kamu? Dan apa aja kesibukan kamu di sini?"
Sabrina tersenyum kecil, lalu mengaduk minumannya. “Aku baik, Ma. Sekarang cuma di rumah aja. Nggak banyak kegiatan. Soalnya baru apply-apply kerjaan juga.”
Sabrina terpaksa berbohong agar tidak terlalu kentara jika dia memiliki seseorang yang menyokong hidupnya. Karena jika hal itu terjadi, pasti Maka Indah akan langsung tau siapa orangnya.
Mama Indah menatapnya dengan penuh perhatian. “Kamu lagi cari kerjaan? Gimana? Udah ada yang respons? Gimana kalau kamu kerja sama Mama aja? Salah satu restoran Mama lagi butuh orang. Kamu bisa bantu-bantu di sana. Lumayan kan, biar kamu ada kegiatan.”
Sabrina menatap Mama Indah, bingung harus menjawab apa. Karena sebenarnya itu hanyalah alibinya semata. Ia tidak sedang benar-benar butuh kerjaan. Dan ia justru akan merasa was-was jika terlalu sering dekat dengan Mama Indah.
“Bukan cuma soal kerja, sayang. Mama juga mau kita lebih sering ketemu. Mama tahu... dulu Mama salah, tapi Mama cuma pengen yang terbaik buat kamu. Mama kangen kamu, Nak,” suara Mama Indah terdengar tulus, hampir bergetar.
Sabrina terdiam. Di satu sisi, tawaran itu menarik. Ia memang ingin punya kegiatan supaya harinya terasa lebih bermakna. Tapi di sisi lain, ia tahu tawaran ini punya risiko lebih besar.
“Aku pikir-pikir dulu, ya, Ma,” jawab Sabrina akhirnya.
Mama Indah tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Mama cuma pengen kamu tahu, Mama selalu ada buat kamu. Mama selalu berharap kita bakalan bisa kumpul lagi seperti dulu. Mama selalu nunggu momen-momen itu terulang lagi."
Sabrina hanya bisa diam. Ia bisa menerima dengan baik maksud Mama Indah. Ia pun ingin juga merasakan kembali kasih sayang wanita itu. Hanya saja, ini terlalu rumit. Sepertinya ia harus bicarakan hal ini dengan Rafa.
***
Setelah makan malam, Sabrina duduk termenung di sofa, memeluk bantal kecil sambil menatap ke arah lantai. Rafa, yang baru selesai membereskan dapur, melihat ekspresi Sabrina dan langsung mendekat.
“Kenapa lagi, sayang? Kayaknya kamu kepikiran sesuatu,” tanya Rafa lembut sambil duduk di sebelahnya.
Sabrina mendongak, lalu menghela napas. “Fa, aku ngerasa aneh.”
“Aneh gimana?”
“Semua ini... aku terus ketemu Mama Indah. Di minimarket, di restoran, bahkan tempat-tempat yang aku nggak nyangka dia bakal ada. Aku nggak tahu, Fa. Rasanya nggak mungkin ini cuma kebetulan.”
Rafa mengerutkan dahi, mendengarkan dengan serius. “Kamu pikir ada maksud di balik semua ini?”
Sabrina mengangguk pelan. “Aku nggak tahu maksudnya apa. Mama nggak pernah maksa atau bikin aku ngerasa terpojok. Dia baik banget, persis kayak Mama yang dulu. Aku juga yakin Mama belum tau soal kita yang sekarang kayak gini. Tapi... aku ngerasa ada sesuatu. Kayak semesta lagi kasih tanda ke aku buat deket lagi sama dia.”
Rafa terdiam, mencoba memahami kekhawatiran Sabrina. “Kamu takut tanda itu berarti kamu harus pisah dari aku?”
“Bukan soal takut, Fa. Aku... aku cuma bingung,” jawab Sabrina, menundukkan pandangannya. “Aku tahu Mama Indah nggak berniat jahat. Tapi, setiap kali aku ketemu dia, aku selalu ngerasa sulit banget buat nolak apa yang dia minta. Sekarang aja, dia minta aku kerja di salah satu restorannya. Kalau aku bilang ‘enggak,’ aku takut nyakitin dia. Tapi kalau aku bilang ‘iya,’ aku takut malah semuanya jadi rumit.”
Rafa mengangguk pelan, memahami dilema Sabrina. “Sayang, kamu nggak harus selalu bilang ‘iya’ cuma karena takut menyakiti orang lain. Kalau kamu memang nggak nyaman, kamu boleh nolak.”
“Tapi dia nggak salah, Fa,” potong Sabrina, suaranya lirih. “Mama cuma pengen dekat sama aku lagi. Dia berusaha keras buat memperbaiki semuanya, dan aku tahu dia tulus. Aku ngerasa egois kalau terus menjauh.”
Rafa menggenggam tangan Sabrina, menatapnya dengan penuh ketenangan. “Kalau kamu merasa ini bukan kebetulan, mungkin memang ada alasan kenapa kalian terus dipertemukan. Tapi kamu juga nggak harus buru-buru ambil keputusan. Kita bisa pelan-pelan cari jalan tengah. Kamu tetap bisa dekat sama Mama Indah tanpa harus kehilangan hidup yang udah kamu bangun denganku sekarang.”
Sabrina tersenyum kecil, merasa sedikit lega. “Kamu selalu bikin segalanya terdengar lebih sederhana.”
“Karena hidup itu sederhana, sayang. Kita yang sering bikin ribet,” kata Rafa sambil tersenyum. “Yang penting, aku bakal selalu ada buat kamu. Apa pun yang kamu putuskan nanti.”
Sabrina mengangguk, merasa lebih tenang. Namun, di sudut pikirannya, ia masih bertanya-tanya: apakah ini benar-benar hanya kebetulan, ataukah semesta sedang mengarahkan jalannya?
Sabrina tersenyum. Ia memeluk Rafa dari samping, dan langsung dibalas pula oleh pria itu.
Rafa mencium puncak kepala Sabrina beberapa kali dengan penuh kasih. Merasa tak tahan menahan gemas, ia langsung menghujani wajah Sabrina dengan kecupan-kecupan yang membuat Sabrina berteriak kegelian sekaligus kesal.
Ya. Hubungan mereka terkadang tampak sesederhana dan semanis itu. Namun, keduanya sama-sama tidak bisa menampik, jika sesungguhnya masih ada ketakutan di dalam hati mereka atas apa yang akan terjadi di masa depan.
Rafa mengakhiri interaksi manis mereka dengan menggendong Sabrina ala bridal style, membawanya ke kamar, dan melakukan hal yang lebih jauh dengannya di dalam sana.
Beberapa menit berikutnya, hanya desahan panas yang terdengar dari celah pintu kamar yang tidak tertutup dengan sempurna itu.
"Ahhh... pelan! Rafa, ah yah! Pelannnn!"
Rafa menggeram. Ia sudah dilingkupi oleh nafsu. Sulit baginya untuk menurunkan ritme permainannya.
"Yahhhh! Rafaaaaa, aku mau ahh... aku mau... AHHH!!!"
"Sedikit lagi!" sahut Rafa.
Pergerakannya semakin tak terkendali. Hingga dalam beberapa hentakan kemudian, ia menekan dalam-dalam miliknya ke dalam milik Sabrina, menumpahkan cairan putihnya di dalam liamg wanita terkasihnya itu.
Mungkin itulah cara bagi mereka untuk melupakan sejenak permasalahan yang ada di depan mata mereka.