Sabrina duduk diam di samping Rafa selama perjalanan pulang. Selama di mobil, hanya suara musik yang mengisi keheningan di antara mereka. Rafa mencuri pandang beberapa kali ke arah Sabrina, merasa ada yang berbeda dari sikapnya. Sabrina tampak lebih pendiam, tidak seperti sebelumnya yang sudah semakin terbuka dengan Rafa.
Rafa menghela napas pelan dan akhirnya memecahkan kebisuan di dalam mobil.
"Ada yang mengganggu pikiranmu? Sejak tadi kamu diam terus. Apa yang Mama Indah bilang tadi di supermarket?"
Sabrina menoleh ke Rafa, terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Ia menghela napas panjang dan akhirnya berbicara dengan suara pelan.
"Mama... Mama bilang dia kangen banget sama aku. Dia pengen aku pulang, tapi dia juga takut kalau aku balik, kamu bakal berbuat gila lagi. Dia... khawatir."
Rafa merasa ada rasa berat di dadanya. Dia mengerti betul apa yang dimaksud oleh Mama Indah, meskipun kalimat itu terdengar sangat ambigu. Dia tahu, meskipun Mama Indah selalu menjaga tampilan tenang di luar, hatinya penuh kecemasan mengenai hubungan mereka.
Dan itu wajar. Bukan hal yang mudah untuk menerima kenyataan jika seorang ibu harus melihat anaknya dekat dengan orang yang pernah dianggap sebagai 'saudara'.
“Sayang...” Rafa mulai bicara dengan hati-hati. “Aku janji, suatu hari nanti aku akan yakinin Mama buat menerima kita, menerima hubungan kita. Aku tahu itu nggak mudah, apalagi buat dia yang sudah anggap kita sebagai saudara, tapi aku nggak akan menyerah. Kita berhak bahagia. Aku janji, kita bisa melaluinya bersama.”
Sabrina menunduk, matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku takut. Aku nggak tahu harus gimana. Aku nggak mau bikin Mama Indah sedih, apalagi kecewa. Tapi, di sisi lain, aku nggak bisa berhenti mikirin soal kita. Aku takut kalau akhirnya aku harus memilih antara kamu atau Mama Indah."
Rafa meraih tangan Sabrina, menggenggamnya dengan lembut. "Aku ngerti perasaanmu. Aku juga nggak ingin kamu terjebak di antara kita berdua. Tapi, aku yakin, kita bisa buat semuanya jadi lebih baik. Kita bisa meyakinkan Mama kalau ini bukan hal yang salah. Aku cuma butuh waktu, dan aku akan sabar. Yang penting sekarang, kamu jangan ragu sama perasaan kita berdua. Aku di sini buat kamu, selalu.”
Sabrina merasakan ketenangan saat mendengar kata-kata Rafa. Meski perasaannya masih campur aduk, ada rasa lega yang perlahan datang. "Aku tahu kamu akan selalu ada buat aku, cuma... aku nggak bisa berhenti khawatir soal Mama Indah. Aku tahu dia nggak akan mudah terima kita."
Rafa tersenyum lembut, mencoba memberikan keyakinan pada Sabrina. "Aku tahu, sayang. Tapi itu bukan hal yang harus kamu pikirkan sendirian. Aku akan selalu ada di sampingmu, kita akan hadapi semuanya bersama."
Sabrina akhirnya tersenyum tipis, meskipun masih ada kecemasan di matanya. "Terima kasih, Rafa. Aku... aku bakal coba lebih tenang. Aku tahu ini nggak akan mudah, tapi aku bakal berusaha. Kita harus bisa, kan?"
"Ya, kita bisa," jawab Rafa dengan penuh keyakinan, kemudian menggenggam tangan Sabrina lebih erat lagi. "Aku akan pastikan kamu nggak perlu khawatir lagi soal apapun. Ini perjalanan kita, dan aku janji kita akan melaluinya bersama, apapun yang terjadi."
Sabrina hanya mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang. Mereka kembali tenggelam dalam keheningan, namun kali ini, itu adalah keheningan yang terasa lebih nyaman. Di dalam hati Sabrina, ada secercah harapan bahwa segala sesuatu bisa berubah menjadi lebih baik, selama mereka berdua saling mendukung.
Sesampainya di rumah, Rafa melanjutkan obrolannya dengan Sabrina. Dia ingin memastikan Sabrina tahu bahwa dia akan selalu ada untuknya, terlepas dari tantangan yang akan mereka hadapi, terutama dengan Mama Indah. Meskipun perjalanan mereka baru dimulai, Rafa yakin mereka bisa menghadapinya bersama.
***
Hari berikutnya, Rafa kembali ke pekerjaannya, sementara Sabrina memilih untuk menghabiskan waktu di rumah. Sejak pagi, ia hanya berbaring di tempat tidur, menikmati ketenangan dan mencoba menenangkan pikirannya setelah kejadian kemarin.
Dia masih merasa cemas tentang reaksi Mama Indah, tetapi di sisi lain, perasaan kebersamaannya dengan Rafa membuatnya lebih kuat.
Saat sore menjelang, terdengar suara mobil Rafa di luar rumah. Sabrina langsung berdiri dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu dengan rasa penasaran. Begitu pintu terbuka, Rafa berdiri di depan pintu sambil memegang kotak besar pizza.
“Surprise!” kata Rafa dengan senyum lebar, lalu memberikan pizza itu ke Sabrina.
Sabrina terkejut tapi langsung tersenyum. “Pizza? Kamu beliin ini buat aku?”
“Iya, untuk kamu. Aku tahu kamu suka banget sama pizza, kan?” jawab Rafa sambil melirik ke arah pizza yang tampak menggugah selera. "Aku pikir, kita bisa makan bareng di atas rooftop, sambil nikmatin sore yang tenang ini."
Sabrina merasa senang dan sedikit tersentuh dengan perhatian Rafa. “Wah, terima kasih, Rafa! Tapi kamu nggak capek kerja seharian, malah sempat-sempatnya beli pizza?”
Rafa hanya tertawa kecil. “Capek sih capek, tapi aku nggak bakal rela kamu sendirian di sini. Lagipula, makan pizza sambil ngobrol santai itu kan enak. Yuk, naik ke atas.”
Mereka berdua berjalan ke tangga menuju rooftop. Saat tiba di atas, pemandangan kota yang mulai gelap dengan cahaya lampu-lampu menyala di kejauhan menyambut mereka. Sabrina langsung merasa tenang dengan suasana itu. Rafa menyiapkan selimut di kursi-kursi santai yang ada di sana, sementara Sabrina membuka kotak pizza.
Sabrina duduk, lalu tersenyum ke arah Rafa. “Kamu tahu nggak sih, aku suka banget kalau bisa makan pizza sambil ngobrol santai kayak gini. Ini beneran jadi salah satu momen favorit aku.”
Rafa duduk di sampingnya dan tersenyum. “Aku senang denger itu. Makanya aku pengen bikin kamu senang. Nggak ada yang lebih bahagia buat aku selain lihat kamu tersenyum.”
Sabrina sedikit tersipu, lalu mengambil sepotong pizza dan menggigitnya. "Mmm, enak banget! Kamu memang tahu apa yang aku suka."
“Aku selalu berusaha untuk tahu, sayang,” jawab Rafa dengan tatapan lembut. “Kamu itu spesial buat aku, jadi aku pengen jadi orang yang selalu bikin kamu bahagia.”
Sabrina terdiam sejenak, matanya menatap Rafa dengan perasaan yang semakin dalam. "Rafa, aku nggak tahu harus ngomong apa lagi. Aku kadang merasa cemas, takut kalau aku nggak bisa nyenengin kamu balik."
“Jangan khawatir soal itu,” kata Rafa sambil memegang tangan Sabrina. "Kamu nggak perlu nyenengin aku dengan barang atau apapun, cukup dengan menjadi diri kamu sendiri. Itu udah lebih dari cukup."
Sabrina menatap mata Rafa, merasakan kehangatan dari kata-kata itu. "Aku... aku juga pengen kamu bahagia, Rafa. Aku merasa sangat nyaman sama kamu. Semua yang kita lewatin bareng, itu bikin aku makin yakin kalau kita bisa menghadapinya."
Rafa tersenyum lebih lebar, lalu mengambil sepotong pizza dan memberikannya pada Sabrina. "Aku tahu kita bisa, sayang. Dan aku janji, nggak ada yang akan bisa menghalangi kita."
Sabrina menerima pizza itu, matanya terus memandang Rafa dengan penuh rasa sayang. "Makasih, Rafa. Kamu baik banget. Aku nggak pernah merasa secinta ini sebelumnya."
Mereka berdua duduk bersama, menikmati pizza, menikmati suasana, dan menikmati kebersamaan mereka. Langit malam mulai gelap, tetapi lampu-lampu kota membuat pemandangan semakin romantis. Rafa menggeser sedikit lebih dekat, lalu merangkul Sabrina dengan lembut.
Sabrina menyandarkan kepalanya di bahu Rafa, merasa aman dan tenang. “Ini benar-benar sempurna, Rafa.”
Rafa memeluknya lebih erat. “Aku nggak akan berhenti bikin momen ini sempurna buat kamu. Setiap saat bareng kamu, itu adalah momen terbaik dalam hidup aku.”
Rafa mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di puncak kepala Sabrina.
Mereka terus duduk di sana, menikmati pizza dan kebersamaan mereka, sesekali berbicara tentang masa depan dan apa yang mereka harapkan, sambil menikmati kedamaian yang terasa sangat hangat.
Momen itu terasa begitu sederhana, namun sangat berarti bagi Sabrina dan Rafa. Khususnya bagi Rafa yang akhirnya bisa mendapatkan hati Sabrina setelah bertahun-tahun ia berjuang sendirian untuk cinta mereka.
Sejenak, hari-hari mereka terasa begitu indah. Seolah inilah hasil dari perjuangan mereka selama ini.
Sabrina adalah wanita yang beruntung karena dicintai dengan begitu hebat oleh lelaki seperti Rafa.
Namun, ini bukan berarti perjuangan mereka harus usai sampai di sini. Karena kenyataannya, jalanan yang ada di depan sana tampak begitu terjal.
Rafa memang memiliki uang serta kekuasaan yang membuat ia bisa memperjuangkan cintanya.
Tapi, bukankah langit itu berlapis-lapis? Dan masih ada langit di atas langit?