12. Hal yang ditakutkan

1359 Words
Sabrina tersenyum kecil saat berjalan di samping Rafa di dalam mall. Dari awal, Rafa sudah bilang ingin mengajaknya belanja, tapi ia tidak menyangka Rafa benar-benar serius hingga meliburkan diri dari pekerjaannya. Mereka baru saja keluar dari sebuah toko perhiasan, dan di tangan Sabrina kini sudah ada tas belanja berisi kalung emas dengan liontin cantik. “Rafa, ini udah cukup banyak, nggak usah belanja lagi,” kata Sabrina sambil melirik kantong-kantong belanjaan yang digantung di kedua tangannya. “Baru pemanasan, Honey,” jawab Rafa santai sambil tersenyum. Ia mengarahkan langkah mereka ke sebuah butik terkenal. Sabrina menghentikan langkahnya, menatap Rafa dengan bingung. “Pemanasan? Rafa, kita udah belanja tas, sepatu, perhiasan… aku bahkan nggak tahu mau pakai semuanya kapan.” “Makanya aku bilang, kita belum selesai,” kata Rafa, menarik tangannya pelan. “Ayo, aku janji ini yang terakhir.” Sabrina mendesah, tapi tetap mengikuti Rafa masuk ke dalam butik. --- Di Butik Pakaian Sabrina duduk di sofa kecil di dekat ruang ganti, menunggu Rafa yang sibuk memilih beberapa pakaian. Ia mengernyit melihat Rafa mengumpulkan beberapa potong baju yang jelas bukan gaya sehari-harinya. “Rafa, aku nggak butuh semua ini. Aku masih punya banyak baju di rumah. Bahkan masih banyak juga pakaian di lemari yang belum sempat aku pakai,” protes Sabrina sambil melipat tangan. Rafa menoleh dengan senyum jahil. “You deserve all that I give, sayang. Kamu butuh sesuatu yang bikin kamu lebih percaya diri.” “Aku udah percaya diri kok,” bantah Sabrina sambil melirik ke arah pelayan yang membawakan lebih banyak pakaian ke ruang ganti. “Rafa, serius, ini udah keterlaluan.” Rafa berjalan mendekat, duduk di samping Sabrina. “Sayang, denger ya. Aku nggak ngelakuin ini buat pamer atau apapun. Aku cuma mau kamu senang. Aku tahu kamu nggak pernah minta apa-apa, makanya aku pengen kasih sesuatu yang nggak pernah kamu pikirin buat diri kamu sendiri.” Sabrina terdiam, menatap Rafa dengan bingung. “Tapi aku nggak perlu barang-barang ini untuk bahagia, Rafa.” “Aku tahu. Tapi aku senang kalau bisa kasih kamu sesuatu. Jadi biarin aku lakuin ini, oke?” Rafa menatap Sabrina dengan lembut, membuatnya sedikit luluh. Akhirnya Sabrina menghela napas panjang. “Baiklah, tapi jangan banyak-banyak lagi, ya.” --- Di Toko Sepatu Setelah dari butik, Rafa menarik Sabrina ke sebuah toko sepatu. Kali ini Sabrina benar-benar tidak tahu harus berkata apa. “Rafa, kita udah beli sepatu tadi di toko pertama,” protes Sabrina sambil menunjuk kantong belanjaan di tangannya. “Yang tadi itu buat acara formal. Ini buat sehari-hari,” jawab Rafa ringan sambil menunjuk sepasang sneakers putih yang terlihat mahal. Sabrina memutar bola matanya. “Aku udah punya sneakers, Rafa.” “Tapi bukan yang ini. Coba deh, ukurannya pasti pas,” kata Rafa sambil menyodorkan sepatu itu ke pelayan. Sabrina akhirnya menyerah dan mencoba sepatunya. Setelah memakainya, ia berdiri dan berjalan sedikit. “Oke, aku akui ini nyaman. Tapi kamu nggak perlu sampai segininya.” Rafa tertawa kecil. “Makanya aku bilang, kamu perlu percaya sama aku.” --- Di Restoran Setelah puas belanja, mereka duduk di sebuah restoran untuk istirahat. Sabrina menatap tumpukan kantong belanjaan di sebelah meja mereka dan menghela napas panjang. “Rafa, ini gila. Aku nggak pernah belanja sebanyak ini sepanjang hidupku,” katanya sambil mengaduk minuman di depannya. Rafa tersenyum lebar. “Ya kan sekarang waktunya buat ngelakuin sesuatu yang beda. Lagipula, aku senang lihat kamu bahagia. Aku sudah memimpikan ini dari lama. Semua yang aku miliki sekarang, memang aku siapkan untuk bisa bahagiain kamu, sayang.” Sabrina menatapnya, matanya melembut. “Aku bahagia bukan karena barang-barang ini, Rafa. Aku bahagia karena kamu ada di sini. Perhatian yang kamu tunjukin ke aku udah cukup buat aku bahagia.” Rafa terdiam sejenak, lalu tersenyum lebih tulus. “Tapi kalau aku bisa kasih lebih, kenapa nggak?” Sabrina tersenyum kecil, merasa sedikit lebih tenang. “Kamu benar-benar nggak masuk akal.” “Tapi kamu suka, kan?” goda Rafa sambil tertawa kecil. Sabrina hanya menggeleng pelan, menyembunyikan senyum di wajahnya. Hari itu, meskipun merasa bingung dan sedikit kewalahan, ia tahu Rafa benar-benar peduli padanya. "Setelah ini kita mau ke mana lagi? Aku udah atur jadwal biar nggak ngantor seharian. Sayang banget kalau kita mau selesai habis ini," tanya Rafa. Sabrina berpikir keras. Jangan sampai Rafa menggunakan kesempatan ini untuk kembali mengajaknya berbelanja barang-barang mewah. "Gimana kalau ke supermarket? Aku pengen penuhin kulkas kamu, sama beli beberapa keperluan kita di rumah," tawar Sabrina. Setidaknya, jika berbelanja di supermarket tidak akan menghabiskan uang sebanyak seperti saat mereka berkeliling mall, kan? *** Sabrina memutuskan untuk mengajak Rafa ke supermarket yang terletak di lantai dasar mall. Dia ingin sekali berbelanja beberapa bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga, meskipun dia tahu Rafa tidak begitu tertarik dengan hal-hal semacam itu. Tapi kali ini, ia ingin melakukannya dengan Rafa, seperti pasangan yang biasa berbelanja bersama. “Kita beli ini, ya? Kayaknya enak buat makan malam nanti,” kata Sabrina sambil memeriksa bumbu-bumbu di rak. Rafa hanya mengangguk sambil tersenyum. “Iya, boleh. Kamu aja yang pilih.” Sabrina memilih berbagai macam bahan, mulai dari sayur-sayuran, buah, sampai beberapa camilan. “Kita juga butuh saus sambal, kan? Aku rasa makan malam nanti akan lebih nikmat kalau ada sambalnya,” ucap Sabrina sambil mengambil sebotol saus sambal dari rak. Rafa mengangkat alis, merasa sedikit bingung. “Kamu serius belanja sebanyak ini? Aku kira cuma beli beberapa barang aja.” Sabrina tersenyum manis. “Aku suka masak, jadi lebih baik beli yang banyak sekalian, biar nggak kekurangan.” Rafa tertawa kecil. “Bener sih, nggak apa-apa. Yang penting kamu senang.” Sabrina lalu menarik Rafa menuju bagian daging dan bahan makanan lainnya. Mereka melanjutkan perjalanan berkeliling supermarket, Sabrina yang lebih aktif memilih barang, sementara Rafa hanya mengikuti. --- Tiba-tiba, ponsel Rafa berdering, dan dia mengangkat teleponnya dengan sigap. “Halo?” Sabrina melirik Rafa sejenak, kemudian melanjutkan memilih barang dengan cepat. Namun, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang tak terduga. Dari kejauhan, dia melihat Mama Indah—ibu angkatnya—sedang berdiri di dekat rak s**u, tampak sedang memilih barang. Sabrina terdiam sesaat, dan rasa cemas tiba-tiba datang menyergap. Apa yang harus aku lakukan? pikirnya panik. Perasaan bersalah atas apa yang sudah ia lakukan bersama putra kesayangan Mama Indah semalam kembali tergambar jelas di kepala Sabrina. Dia melihat sekeliling, mencoba mencari jalan keluar. Mama Indah mulai bergerak ke arah yang lebih dekat, dan Sabrina semakin gelisah. “Aduh, Mama Indah!” bisiknya dalam hati, merasa takut kalau ibunya akan melihatnya. Sabrina segera mencoba berbalik, berharap bisa menyelinap pergi tanpa diketahui. Namun, sialnya, saat dia berbalik, Mama Indah sudah melihatnya. Dengan senyum lebar, Mama Indah langsung menghampiri Sabrina. “Sabrina! Kamu kok di sini? Sejak kapan kamu kembali? Kenapa nggak ngabarin Mama?” Mama Indah bertanya dengan nada ceria, tapi terlihat sedikit kaget. Sabrina yang panik mencoba menyembunyikan kegugupannya. “Eh, Mama! Aku… lagi belanja beberapa barang aja.” Mama Indah memandang Sabrina dengan pandangan yang penuh pertanyaan. “Sama siapa?” Sabrina tergagap, mencoba berpikir cepat. “Aku… aku sendirian, Mama.” Namun, saat itu Rafa selesai berbicara melalui telepon dan berbalik, melihat Mama Indah yang sudah mendekat. Sabrina memberi kode pada Rafa. Mengerti maksud dari gerak-gerik pujaan hatinya, Rafa pun segera mengambil jarak. "Sejak kapan kamu tinggal lagi di sini? Kok nggak ngabarin Mama?" "Maaf, Ma. Memang belum lama, kok." Mama Indah menatap belanjaan Sabrina. Ia merasa aneh melihat belanjaan Sabrina yang tampak banyak. "Ini semua belanjaan kamu?" Sabrina mendadak merasa gugup. "Oh ini sama titipan orang-orang kos Sabrina, Ma. Ini Sabrina sampai bikin list-nya biar nggak lupa." Sabrina menunjukkan ponselnya. Beruntung ia tadi sempat membuat list belanjaan. Dan ternyata itu sangat berguna sekarang. Mama Indah menggenggam tangan Sabrina, membuat perempuan muda itu keringat dingin. Tatapan Mama Indah begitu dalam dan penuh kasih. "Mama kangen banget sama kamu. Mama ingin kamu pulang. Tapi bagaimana caranya? Mama takut, kalau kamu kembali, Rafa akan berbuat gila lagi." Ucapan Mama Indah membuat hati Sabrina terasa seperti ditusuk oleh sebilah pisau. Tubuhnya bergetar membayangkan akan seperti apa sorot mata Mama Indah nanti jika tau apa yang terjadi antara dirinya dan Rafa. "Waktu sudah bergulir begitu cepat. Tapi, Mama tau, Rafa belum bisa melupakan kamu, sayang ..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD