11. Bangun sebagai miliknya

1193 Words
Sabrina membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa berat dan pegal. Dia mendesah panjang, mencoba mengusir kabut di pikirannya. Namun, bayangan kejadian semalam langsung menerobos masuk. Wajahnya memerah, tapi kali ini bukan karena malu—melainkan rasa bersalah yang menghantam tanpa ampun. “Apa yang aku lakukan…” gumamnya lirih. "Mama dan Papa pasti kecewa banget kalau tahu apa yang sudah aku lakuin. Aku sudah menyakiti mereka." Tangannya bergerak menutupi wajah, mencoba meredam gelombang emosi yang mulai muncul. Ia ingin menangis. Perasaan bersalah pada Mama Indah dan Papa Arya—orang tua angkatnya sekaligus orang tua Rafa—menghantui pikirannya. Ia takut mereka akan kecewa. Takut mereka tidak akan pernah memaafkannya. Sabrina terisak kecil, tapi cepat-cepat menyeka air matanya saat mendengar ketukan di pintu. “Sayang, aku masuk ya,” suara Rafa terdengar dari balik pintu sebelum pintu itu perlahan terbuka. Rafa masuk membawa segelas s**u hangat. Matanya langsung tertuju pada Sabrina yang tampak pucat di atas ranjang. “Kamu sudah bangun,” ujarnya lembut. “Aku bawain s**u. Kamu butuh ini.” Sabrina menatapnya dengan mata berair. “Rafa, aku…” suaranya bergetar. “Kamu nggak perlu ngomong apa-apa dulu,” potong Rafa, meletakkan gelas di meja kecil di samping tempat tidur. “Minum ini dulu, biar lebih tenang.” Sabrina menggeleng pelan. “Aku nggak bisa, Rafa. Aku nggak tahu harus gimana sekarang. Aku... aku nyesel.” Mata Rafa melembut. Ia duduk di kursi dekat ranjang, menjaga jarak agar Sabrina tidak merasa terpojok. “Sabrina, aku tahu kamu lagi bingung. Tapi coba tenang dulu, oke? Sekarang minum susunya!” Sabrina menunduk, tangannya meremas selimut dengan erat. “Bagaimana kalau Mama Indah tahu? Kalau Papa Arya tahu? Mereka pasti benci aku, Rafa. Aku nggak tahu harus gimana ngadepin mereka.” “Dengerin aku,” Rafa mencondongkan tubuh, suaranya penuh keyakinan. “Mama dan Papa nggak akan tahu kecuali kita yang bilang. Dan kalau pun mereka tahu suatu saat nanti, aku yang akan jelasin. Aku nggak akan biarin kamu nanggung ini sendirian.” “Tapi…” Sabrina menarik napas, suaranya semakin kecil. “Aku tetap nggak bisa ngilangin rasa bersalah ini. Kamu dulu kakak angkatku, Rafa. Ini… salah.” Rafa menghela napas panjang. “Sayang, aku sudah bilang, kan. Kamu nggak perlu pikirin itu. Kita tidak terlahir dari rahim yang sama. Secara harfiyah, hubungan kita nggak salah. Dan soal Mama, Papa dan yang lainnya, biar aku yang urus semua.” Sabrina mendongak sedikit, menatap Rafa dengan mata penuh kebingungan. “Aku nggak tau. Aku nggak yakin aku akan sanggup melihat tatapan kekecewaan mereka. Kamu tau gimana berartinya mereka buat aku kan, Rafa? Mereka dewa penyelamatku." Rafa mengulurkan tangan, tapi berhenti di tengah jalan, memberi ruang. "Kamu masih punya aku. Aku nggak mungkin akan biarin kamu menderita, sayang. Kamu bisa kan percaya sama aku?" Sabrina mengangguk. Ia tau, mau sekeras apapun ia mengutarakan keresahan di hatinya, Rafa pasti akan selalu meyakinkannya untuk tetap melanjutkan hubungan mereka. Dan pada akhirnya, Sabrina akan kalah. Sabrina menarik napas panjang setelah menyesap s**u hangat yang Rafa bawakan. Perlahan, ketegangan di dadanya mulai mereda, meskipun rasa bersalah itu masih ada di sudut hatinya. Namun, tatapan Rafa yang penuh perhatian memberinya sedikit keberanian untuk percaya bahwa mereka bisa melewati ini bersama. “Aku nggak tahu apa aku bisa sepenuhnya tenang, tapi… aku percaya sama kamu, Rafa,” katanya lirih, menatap gelas s**u di tangannya. Rafa tersenyum kecil, lega mendengar kata-kata itu. “Itu udah lebih dari cukup buatku, Sayang. Kita jalani pelan-pelan, nggak perlu terburu-buru.” Sabrina mengangguk pelan. Setelah beberapa saat hening, ia menghela napas dan menatap Rafa. “Tapi… aku butuh mandi. Rasanya badanku berat banget.” Rafa tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Mandi emang solusi paling ampuh buat segar lagi.” Ia berdiri dan menatap Sabrina yang masih tampak lemah di tempat tidur. “Kamu bisa jalan sendiri, atau aku bantuin?” Sabrina mendengus kecil, mencoba tertawa meski lemah. “Aku rasa aku butuh bantuan. Lagi pula, bukannya kamu juga harus bertanggung jawab?” Tanpa banyak bicara lagi, Rafa membungkuk dan mengulurkan tangan. “Oke, ayo.” Sabrina ragu sejenak, tapi akhirnya membiarkan Rafa mengangkatnya dari tempat tidur. Rafa menggendongnya dengan hati-hati, memastikan Sabrina merasa nyaman di pelukannya. “Rafa, aku bisa jalan kok sebenarnya,” protes Sabrina pelan, wajahnya memerah karena malu. “Ya, aku tahu. Tapi aku nggak mau kamu jatuh atau makin sakit,” jawab Rafa sambil tersenyum, berjalan menuju kamar mandi. “Lagipula, kapan lagi aku bisa ngerawat kamu kayak gini?” "Kalau tau akan begini, aku rasa kita bisa melakukannya lebih sering. Biar aku bisa lebih banyak melihat sisi manjamu seperti ini. Aku suka tiap kali kamu bergantung padaku, honey ..." Sabrina hanya menggeleng pelan, merasa canggung tapi juga diam-diam lega karena Rafa ada di sisinya. Setelah sampai di kamar mandi, Rafa menurunkannya dengan lembut di dekat pintu. “Kamu yakin nggak butuh bantuan lagi?” tanyanya, memastikan Sabrina baik-baik saja. Sabrina mengangguk, meski pipinya memerah. “Aku bisa sendiri. Kamu tunggu aja di luar.” “Oke, panggil aku kalau ada apa-apa,” kata Rafa sambil mundur perlahan. Sabrina masuk dan menutup pintu, menghela napas panjang. Air hangat yang mengalir di kulitnya membantu menghilangkan rasa lelah, baik secara fisik maupun emosional. Meski pikirannya masih penuh, ada sedikit rasa lega. --- Di Dapur Sementara Sabrina mandi, Rafa sibuk di dapur. Ia membuka kulkas, mengeluarkan beberapa bahan sederhana—telur, roti, dan buah-buahan. Ia memutuskan membuat sarapan ringan untuk mereka berdua. “Semoga dia suka,” gumam Rafa sambil menggoreng telur. Tak lama kemudian, Sabrina keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah dan wajahnya tampak lebih segar. Ia mengenakan pakaian bersih yang diambil Rafa. “Kamu masak apa?” tanyanya, berjalan pelan ke meja makan. “Telur dan roti. Nggak terlalu mewah, tapi pasti enak,” jawab Rafa sambil menyajikan piring di depan Sabrina. Sabrina tersenyum kecil, duduk di kursi. “Terima kasih, Rafa. Kamu nggak harus repot-repot.” “Nggak repot kok,” kata Rafa sambil duduk di depannya. “Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja, dan aku seneng bisa ngelakuin ini itu buat kamu.” Rafa memutar tubuhnya, menghadap ke arah Sabrina sepenuhnya. Lalu, sebelah tangannya memeluk pinggang gadis itu. "Kamu harus tau, kalau aku sudah memimpikan saat-saat seperti ini sejak lama." Sabrina menatap Rafa, matanya melembut. “Aku merasa lebih baik karena kamu ada di sini." "Kalau begitu, pastikan kamu akan selalu ada di sisiku! Jangan pernah lagi punya pikiran untuk pergi dariku!" Sabrina terkekeh. Ia tidak menjawab, karena tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Mereka mulai makan bersama dalam keheningan yang nyaman. Meskipun masalah mereka belum selesai, momen ini terasa seperti awal baru—sebuah kesempatan untuk merasakan kebersamaan dan perasaan saling memiliki satu sama lain. "Oh! Kamu nggak kerja?" Sabrina akhirnya sadar jika hari sudah mulai siang. Namun, Rafa masih tampak santai dengan kaus rumahnya. "Aku mau nemenin kamu, sekalian kasih kamu hadiah," balas Rafa. Sabrina mengernyitkan keningnya. "Karena kamu sudah memberikan sesuatu yang paling berharga milikmu untukku, maka itu artinya aku harus membalasnya, kan?" "Hm ... jadi?" "Aku mau nyenengin kamu seharian ini. Kamu bisa kuras tabunganku sesuka kamu!" "Rafa!" "Habis ini kita ke mall, dan kamu bisa beli semuuuua yang kamu mau," putus Rafa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD