10. Sentuhan Memabukkan

1029 Words
Rafa mencium aroma memabukkan yang berasal dari tubuh Sabrina. Biasanya ia tidak suka wewangian bunga. Namun, Sabrina adalah sebuah pengecualian. Rafa sangat hafal, aroma sabun seperti apa yang sejak dulu Sabrina suka. Dan baginya, wangi bunga pada sabun itu adalah perpaduan sempurna dengan aroma tubuh asli dari Sabrina. Sabrina meremang. Ia baru saja keluar dari kamar mandi beberapa menit yang lalu, dan Rafa langsung menyerangnya dengan kecupan-kecupan basah di sekujur tubuhnya. Saat ini, pria itu sedang asyik menciumi leher jenjang Sabrina, membuat Sabrina tertarik oleh kabut gairah yang dilontarkan oleh Rafa. Perempuan itu memundurkan tubuhnya. Hingga akhirnya ia terjatuh di atas ranjang yang empuk. "Kak ..." "No. I'm not your brother, ingat?" Sabrina mengangguk. Tatapan sayunya, membuat pria yang saat ini sedang mengungkung tubuhnya merasa seperti terbakar. "Please let me, Sabrina!" Sabrina menggigit bibir bawahnya. Ia sangat gugup. Ia belum pernah secara sadar melakukan hal seperti itu dengan seseorang. Apalagi, dengan orang yang tumbuh dewasa bersamanya. "Arh ... sial. Aku rasa aku nggak butuh lagi izin dari kamu. I'm so sorry. Tapi aku nggak bisa lepasin kamu malam ini," ucap Rafa. Rafa mengecup bibir Sabrina dengan dalam. Awalnya hanya kecupan yang dalam. Namun, pelan tapi pasti, bibirnya bergerak menggoda bibir Sabrina, memainkannya atas dan bawah secara bergantian hingga membuat Sabrina kewalahan. Kedua tangan Sabrina menahan d**a pria di atasnya agar tidak terlalu menimpa tubuhnya. Namun, Rafa yang merasa terganggu, membawa kedua tangan gadisnya itu untuk ia kunci di atas kepalanya. Bersamaan dengan itu, ia berikan satu gigitan nakal di bibir Sabrina. Hanya sebuah gigitan kecil, tapi mampu membuat Sabrina meremang. Satu tangan Rafa yang bebas, ia gunakan untuk menyusuri bagian perut Sabrina. Ia mengusapnya dari balik baju tidur gadisnya. Sebelum akhirnya tangannya masuk dan menjamah secara langsung kulit mulus Sabrina. Rafa bisa merasakan bergerakan gelisah dari gadis di bawahnya. Ia tersenyum menang. Permainan bibirnya berpindah ke arah leher. Sedang tangannya di dalam sana mulai merambah naik hingga mencapai gundukan kembar yang masih terbungkus satu kain lagi. Rafa menyingkapnya. Lalu, ia mengusap bagian yang menonjol itu hingga membuat Sabrina berkali-kali mendesah tak tertahan. "Ah ... Kak, ahhh ..." Rafa melepaskan bibirnya dari leher Sabrina. Ia menatap nyalang wanita di bawah kungkungannya. "Sepertinya gadis nakal ini memang ingin aku hukum." "Kak?" Rafa mencium kilat bibir Sabrina. "Panggil sekali lagi! Dan aku pastikan besok pagi kamu tidak akan bisa berjalan." Sabrina menelan salivanya dengan susah payah. Tubuhnya terbakar oleh gairah yang berhasil Rafa sulut. Tubuhnya tak lagi melawan atas apa yang Rafa lakukan padanya. Munafik bila ia bilang ia tidak menyukai sentuhan Rafa pada bagian-bagian sensitifnya. "Rafa ..." Sabrina menggigit bibir bawahnya. Jemari Rafa telah sampai di inti tubuhnya. Pria itu sengaja menggodanya di sana, menggerakkannya naik-turun, dengan tatapan nakal yang dapat dengan jelas Sabrina lihat. "Bagaimana, sayang? Mau melanjutkannya sekarang?" Sabrina tidak menjawab. Ia menggigit bibirnya semakin kuat, tidak ingin sampai kelepasan mengatakan sesuatu yang akan membuat ia merasa malu. Ia tahu, dalam kondisi seperti ini, apapun yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang hina dan pasti akan sangat memalukan untuknya ketika ia terbangun besok pagi. Rafa menekan sesuatu di dalam sana, Sabrina memejamkan mata erat, dan penglihatannya mulai mengabur. Permainan Rafa benar-benar menyulut adrenalin Sabrina yang selama ini terpendam. "Do you like it? You want it? Like this?" Rafa menggerakkan jarinya acak, membuat kaki Sabrina bergerak resah dengan mulut meracau tidak jelas. "Ahhh yah di situ. Ah, Rafa, aku ... aku tidak kuat!" jerit Sabrina. Rafa tersenyum nakal. "Mau keluar lebih dulu dariku, hng?" Rafa menghentikan pergerakan jarinya, membuat Sabrina membanting punggungnya yang sempat terangkat ketika ia nyaris menjemput puncaknya. "Ahhh ..." desahnya kecewa. Rafa melepas satu persatu kain yang melekat di tubuhnya dan Sabrina. Setelah itu, ia mengkungkung kembali tubuh Sabrina dan mulai mempertemukan dua pusat tubuh mereka, menyebabkan suara ringisan ngilu dari bibir Sabrina. "Rafa, sakit." "Tahan sebentar ya, sayang!" Sabrina memejamkan matanya erat-erat. Tubuhnya serasa seperti dibelah sampai air matanya menetes deras. Tangannya menggenggam sprei di sekelilingnya hingga tampak kusut. Tak kuasa melihat kesakitan gadisnya, Rafa mendorong keseluruhan miliknya masuk ke liang sempit itu. "Ahhh! Sakit, Kak!" jerit Sabrina. Rafa mendiamkan miliknya berada di dalam sana. Ia begitu menikmati sensasi sempit dan hangat yang melingkupi miliknya. Namun, mendengar kata yang sensitif baginya, membuat ia langsung menunduk menatap wajah memerah wanitanya. "Kak? Lagi? Kamu nantangin aku, ya, sayang?" "Plis, NO! Jangan gerak dulu! Ini masih sakit." Rafa tertawa. "Tapi kamu udah melanggar laranganku. Itu artinya aku harus menghukum kamu." "Arrhh ... Rafa!" Sabrina lagi lagi menjerit merasakan gesekan panas di area miliknya yang masih perih. Rafa mulai menggerakan tubuhnya dengan konstan. Rasa sakit itu, perlahan berubah menjadi nikmat. Desahan Sabrina perlahan berubah. Desahan mereka saling bersautan membuat suasana kamar terasa semakin panas dan menggairahkan. Permainan Rafa semakin lama semakin cepat. Bahkan, saat Sabrina meneriakkan namanya di puncaknya, Rafa sama sekali tidak mengurangi temponya. Ia berusaha mengejar ketertinggalannya. Hingga di satu titik, tubuhnya bergetar bersamaan dengan rasa hangat yang melingkupi bagian bawah Sabrina dan menyebabkan ia kembali mendapat puncaknya untuk kedua kalinya. Mata Sabrina memejam saat ia merasakan kecupan penuh cinta di bibirnya. Ia masih sibuk mengatur napasnya. Namun, merasakan benda di bawah sana masih belum juga keluar dari miliknya, Sabrina mendongak bingung. "Siap memulai ronde kedua?" "Ap apa?" "Arrhhh ... biarkan aku istirahat dulu, Rafa! Akuh ... masih ... sensitif, ssshhh." Rafa bergerak tanpa persetujuan Sabrina. Sepertinya pria itu benar-benar akan membuktikan kuasanya atas tubuh Sabrina. Ia akan benar-benar memberikan hukuman pada Sabrina hingga gadis itu tidak bisa berjalan keesokan paginya. Permainan itu bahkan belum selesai saat lewat tengah malam. Rafa baru menarik keluar miliknya setelah Sabrina mendapatkan pelepasannya sebanyak lima kali, dan pria itu tiga kali. Ini adalah permainan yang sangat luar biasa. Tulang Sabrina terasa remuk karena Rafa yang terus menggempurnya selama berjam-jam. Sebelum membiarkan wanitanya tertidur, Rafa memberikan satu kecupan selamat tidur pada kening Sabrina. Sabrina tersenyum tipis di tengah rasa ngilu di pangkal pahanya. Meski sangat menyakitkan dan melelahkan, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia juga menikmati permainan Rafa pada tubuhnya malam ini. Sabrina dapat merasakan cinta dan ketulusan yang pria itu luapkan melalui permainan panasnya bersama dirinya. Mungkin ini salah. Namun kenyataannya, Sabrina kini mulai terperangkap pada rasa aneh yang membuat ia tidak yakin jika dirinya bisa bertahan jika jauh dari pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD