Sejak pagi, Sabrina sangat semangat menyiapkan makanan kesukaan kakaknya. Dan ia menyambut pria itu dengan riang begitu mendengar suara mobil masuk ke pekarangan rumahnya.
Sama halnya dengan Sabrina, Rafa juga sangat merindukan pujaan hatinya itu. Ia langsung berhamburan memeluk Sabrina begitu ia melihat sosok manis itu menghampirinya dari arah dapur.
"Aku punya hadiah buat kamu." Rafa menunjukkan beberapa paper bag yang ia bawa.
Mata Sabrina membulat. Ia tidak memperhatikan jika sejak tadi, Rafa membawa banyak sekali barang di tangannya. "Semua ini buat aku?"
Rafa mengangguk. "Nggak mungkin aku ninggalin kamu tanpa bawa oleh-oleh, kan?"
Sabrina kembali memeluk kakaknya. "Kakak ke mana aja? Kenapa perginya lama sekali? Kakak juga jarang hubungin Sabrina. Sabrina khawatir, Kak."
"Yang penting kan aku sudah di sini sekarang. Lagi pula apa yang harus kamu khawatirkan? Bukannya kamu senang aku nggak di rumah? Nggak ada lagi yang marahin kamu dan mengekang hidup kamu."
"Kakak!" kesal Sabrina.
Sabrina akhirnya sadar. Berada jauh dari Rafa tidak seindah yang ia bayangkan. Ia memendam rasa rindu selama beberapa hari ini. Meski dulu ia sudah mulai terbiasa hidup tanpa kakak angkatnya itu, tapi beberapa hari ini akhirnya ia tersadar. Jika tidak ada orang yang menyayangi dan memperhatikannya selain Rafa. Hanya Rafa, satu-satunya orang yang peduli pada Sabrina dan menganggap ia berharga.
"Mana makanan buat aku?" tagih Rafa.
Sabrina terkekeh. Ia mendorong Rafa untuk duduk di kursi meja makan. "Kakak tunggu di sini sebentar, biar Sabrina siapin makanannya!"
Rafa mengangguk patuh. Tak lama, ia melihat Sabrina kembali bersama asisten rumah tangga mereka, membawa beberapa sajian dari dapur.
"Gurame bakar kesukaan Kakak!" seru Sabrina. Ia meletakkan satu gurame bakar berukuran cukup besar di hadapan Rafa. Dan sajian lain, ia tata sedemikian rupa di atas meja makan.
Saat Sabrina akan duduk di kursinya, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Rafa. Rafa membuat Sabrina duduk di pangkuannya, hingga membuat wajah gadis itu memerah.
"Kakak ..."
"Sshh! Duduk di sini saja!"
Sabrina hanya bisa diam. Ia patuh pada perintah kakaknya. Sedangkan asisten rumah tangga yang tadi membantu pekerjaan Sabrina, sudah berlalu ke dapur.
Rafa menyuapi Sabrina seperti saat mereka masih kecil dan Sabrina yang selalu manja padanya.
"Kakak juga makan mumpung masih panas!" ucap Sabrina.
"Nanti dulu. Bayiku ini jadi lebih ringan dari yang terakhir aku ingat. Jadi, aku harus memastikan dia makan banyak terlebih dahulu," balas Rafa.
Sabrina mendecak. Padahal ia sudah tidak sabar melihat Rafa mencicipi hasil masakannya. Ini adalah pertama kalinya ia memasak untuk Rafa, setelah sekian lama mereka berpisah.
"Aaaa." Sabrina menyodorkan sesendok nasi dan lauk ke hadapan Rafa.
Rafa terkekeh geli. "Dasar bayi. Sok-sokan mau nyuapin orang dewasa."
Sabrina menyentuhkan ujung sendoknya pada bibir Rafa, membuat pria itu akhirnya membuka mulutnya dan melahap suapan gadisnya.
Sabrina bersorak senang. Tanpa sadar, ia bergerak-gerak di atas pangkuan Rafa, hingga menimbulkan efek seperti sengatan bagi pria itu. Suara geraman Rafa membuat Sabrina akhirnya kembali diam.
"Kakak nggak papa?" tanyanya khawatir.
Rafa tidak menjawab. Ia akui, bagian bawahnya terasa nikmat saat Sabrina bergerak di atasnya. Rasanya, Rafa menginginkan lagi dan lagi. Namun, bagaimana cara ia menyampaikan hal itu pada Sabrina?
"Kak ..."
Rafa berdehem. Ia memegangi pinggang Sabrina dengan kedua tangannya, dan menarik gadis itu untuk lebih menempel padanya. Sabrina terkejut. Ia merasa tidak nyaman hingga ia berusaha untuk turun. Namun, Rafa menahannya. Hal itu menimbulkan gerakan-gerakan provokatif yang membuat milik Rafa di bawah sana semakin mengeras. Namun, tampaknya Sabrina belum menyadarinya.
"Kakak kenapa, sih? Memang nggak sesak kalau aku nempel-nempel banget begini?" Sabrina kembali bergerak.
"Arhh ..."
Geraman Rafa membuat Sabrina tersentak. Ia akhirnya juga sadar, jika ia menduduki bagian yang terasa semakin mengeras di bawah sana.
Wajah Sabrina memerah. Ia berniat untuk turun untuk memilimalisir seuntuhan yang lebih jauh dari ini. Sayangnya, pinggangnya masih ditahan erat oleh Rafa.
"Kenapa, hng? Kamu bisa merasakannya, kan?" goda Rafa.
Wajah Sabrina semakin memerah dan tampak lucu di mata Rafa. Rafa mencium gemas pipi gadis itu. "Kakak yang tegang kok pipi kamu yang merah?"
"Kak, ini-"
"Sabrina, dengar! Kamu bukan adikku. Kita nggak punya ikatan kekeluargaan apapun. Jadi, apa yang terjadi sekarang bukanlah sebuah kesalahan."
"Tapi Mama dan Papa-"
"Mereka seperti itu karena mereka egois. Mereka mau mengatur hidupku sesuai yang mereka inginkan tanpa mempertimbangkan perasaanku. Apa sekarang kamu juga mau berbuat seperti itu padaku? Kamu mau menjauhiku dan tidak peduli jika aku bisa hancur tanpamu?"
Sabrina menggigit bibir bawahnya. Ia sangat menyayangi Rafa. Ia tidak ingin kakaknya hancur karenanya.
"Selama ini aku menderita jauh dari kamu. Bukankah mereka begitu egois, tidak mau mendengar suara hati anak mereka sendiri dan terus menekanku untuk jadi apa yang mereka mau?"
"Sabrina, tidak ada yang salah dengan hubungan kita. Aku sangat mencintai kamu. Dan kamu bukan adikku. Keegoisan orang tuaku yang membuat kita menjadi serba salah."
"Sabrina cuma nggak mau bikin Mama dan Papa kecewa. Mereka baik sama Sabrina," cicit Sabrina.
"Lalu, bagaimana denganku? Apa selama ini aku kurang baik padamu, sehingga kamu ingin membuatku kecewa? Setelah orang tuaku, sekarang kamu juga ingin menghentikanku mengejar kebahagiaanku sendiri?"
Mata Sabrina memanas. Dadanya terasa sesak mendengar kata demi kata yang meluncur dari bibir kakaknya. Benarkah, jika selama ini Rafa juga menderita? Benarkah jika perasaan Rafa tidak pernah salah, dan keegoisan orang tuanya lah yang membuat semua ini jadi rumit?
"Satu-satunya harapanku cuma kamu. Cuma kamu yang mungkin bisa peduli dengan perasaanku," imbuh Rafa.
Tak sanggup melihat sorot kesakitan di mata Rafa, Sabrina memeluk leher pria itu dengan erat. "Aku nggak mau Kak Rafa menderita."
"Kalau begitu, lihat aku sebagai pria dewasa, Sabrina! Aku bukan kakakmu, tapi aku kekasihmu!" tegas Rafa.
Sabrina mengangguk ragu. Ia dan Rafa tidak memiliki ikatan darah sedikit pun. Dan ia berhutang budi sangat banyak pada pria itu. Lagi pula, bukankah ia tahu sendiri bagaimana Rafa sangat mencintainya? Sabrina yakin, Rafa pasti bisa membahagiakannya. Dan ia akan membalas budi serta kebaikan Rafa dengan kebahagiaan yang sama besar dengan yang pria itu berikan padanya.
"Aku sayang Kakak ..."
Rafa terkekeh. "Jangan panggil aku seperti itu! Aku bukan kakakmu."
Sabrina melepas pelukannya. Ia menatap bingung ke arah Rafa yang tersenyum aneh padanya. "Panggil namaku, Rafa!"
"Tapi kan-"
"Kita pasangan kekasih mulai sekarang. Kamu harus membiasakan diri untuk melupakan status kita dulu. Aku tidak suka panggilan kakakmu itu karena itu akan terus mengingatkan kita pada waktu yang sudah lalu, dan membuat kamu tidak bisa bangkit dari rasa serba salah itu."
Sabrina mengangguk. "Akan aku coba ya ... Rafa."
Rafa tersenyum. Ia memiringkan kepalanya. Mendekat ke arah Sabrina sambil menahan tengkuk gadis itu agar tidak bisa lolos darinya. Dan akhirnya, dua bilah benda kenyal itu bertemu.
Rafa mengulum bibir Sabrina dengan lembut, membuat gadisnya terlena dengan afeksi yang ia berikan. Sedangkan Sabrina, perlahan mulai mengalungkan tangannya di leher sang kakak. Meski ia tidak bisa mengimbangi permainan Rafa, tapi ia mengizinkan pria itu untuk mengobrak-abrik isi mulutnya, sebagai hadiah atas perjuangan Rafa selama ini untuknya.