Kehidupan layaknya seperti roda yang berputar kadang di bawah kadang sudah berada di atas. Tapi kenapa kehidupan Kemala selalu di bawah? Kapan ke atasnya? Mungkin ini lah yang sekiranya ingin ia tanyakan kepada Tuhan, kenapa tuhan harus menciptakan dirinya sebagai anak pertama yang jelas jelas akan memikul beban yang luar biasa beratnya. Beberapa hari ini sebenarnya Kemala mengalami hari hati yang berat. Hubungannya dengan kedua orang tuanya tidak sedang baik baik saja.
Semua ini perihal tuntutan keuangan yang di mana Kemala diwajibkan untuk membayar uang kuliah sendiri. Mau tidak mau Kemala harus mengiyakan dan mulai berpikir bagaimana ke depannya nanti.
"Mal, nanti kalau gajian uang nya titip ke mamak aja."
Itulah ucapan bapak nya begitu tahu jika ia akan gajian, Kemala merasakan sebuah perubahan sifat dan sikap kedua orang tuanya yang akan sangat ramah ketika dietnya berduit, akan tetapi ketika dirinya sudah dalam keadaan kehabisan uang maka sikap sinis lah yang ia dapatkan.
Memberikan gajinya kepada sang mamak? Itu adalah pilihan terberat dan kalau bisa mungkin Kemala tidak akan memberikan nya. Sebab sang emak adalah sosok yang menganggap jika uang itu ada di tangannya maka Kemala tidak lagi memiliki hak atas uang nya.
Pagi ini Kemala sudah dibuat kesal sekali dengan tingkah adik nya Fika, bukan apa apa, tapi gadis itu masih bisa membeli baju di tengah dirinya yang sedang dicekik keinginan emaknya. Kemala tidak masalah dengan Fika yang membeli baju, hanya saja ia sedikit kesal lantaran gadis remaja itu akan dengan mudah ya meminta uang bulanan kepadanya untuk membeli paket internet, tapi di samping itu uang pribadinya sendiri digunakan membeli barang sesuai kemauan dia. Kemala ingin rasanya marah mengatakan jika ia juga butuh uang, tapi tidak bisa sama sekali.
"Kau itu kalau ada uang di simpan, buat beli paket kau sendiri."
Fika cengengesan, tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Kemala yang melihatnya memilih keluar dari kamar menuju ruang televisi tempat nya biasa menulis. Semakin lama larut dalam tulisannya entah kenapa ia malah tidak tenang dan rasanya ingin ngamuk saja. Mood nya turun drastis yang bahkan dirinya sendiri saja merasa kebingungan dengan apa yang terjadi..
"Anjing lah, entah gimana ini emosi kali aku," ujar nya lirih menepuk dadanya pelan mengurangi rasa tidak enak itu.
Ia menatap tayangan televisi sejenak, mencoba menjernihkan pikirannya dengan menonton serial kartun Spongebob. Namun itu tidak membantu sama sekali.
Hingga tanpa ia sadari secara tiba tiba air matanya mengalir, seolah ia tengah menahan lara yang tidak ia ketahui sebab nya. Dengan terisak pelan ia mengusap matanya berusaha menghalau air yang hendak turun.
"Gila aku, nangis tiba tiba."
Dia menyadari dalam beberapa waktu ini, mood Kemala sedang tidak baik. Ia merasakan seperti ada yang berbeda dengan kepribadian dan tingkah lakunya sekarang.
"Mal, ada uangmu sepuluh? Mau beli bensin bapak."
Kemala mengusap matanya terlebih dahulu lalu masuk ke dalam kamar mengambil dompetnya dan meraih uang pecahan sepuluh ribu. Dan memberikannya kepada sang bapak.
"Napa nya kau?"
Kemala menggeleng pelan. Ia memilih diam saja dari pada berbicara sekalipun tidak ada gunanya.
"Mala kan ada gila gila nya, kadang kadang nesu, kadang marah gak jelas kadang dah ketawa ketawa," ujar sang mamak yang entah sejak kapan sudah bangun dan tengah berdiri di depan pintu kamar.
Kemala hanya bisa tersenyum getir. Mungkin benar apa kata mamak nya kalau dia sudah gila.
"Masuk kuliah jam berapa?"
"Jam dua." Jawab Kemala dengan fokus ke ponsel miliknya sebab ia sambil menulis cerita dayli bulan ini.
"Kapan mulai Kkn?"
"Bulan depan."
"Haru nabung banyak banyak lah kau, KKN bukan dikit biayanya."
Kemala menatap kedua orang tuanya dengan raut wajah bingung, kenapa semua menjadi beban nya? Orang tuanya seolah sudah lepas tangan terhadap dirinya sejak ia memiliki gaji dari hasil menulis? Bahkan KKN yang dalam artian masih dalam lingkup pendidikannya sekalipun ia yang harus menyiapkan dana.
Sedikit nyeri ia rasa di uluh hatinya, tapi mungkin dengan begini ia bisa membalas sedikit kebaikan kedua orang tuanya.
"Iya." Jawabnya singkat padat dan jelas. Ia tidak tahu harus merespon bagaimana lagi selain mengiyakan.
"Bulan berapa Kkn?"
Kemala menggeleng karena ini masih semester enam, kemungkinan Kkn akan dilaksanakan pada awal semester tujuh.
"Bukan tujuh mungkin."
"Dipastikan cepet lah, jangan tiba tiba mendadak kau bilang Kkn mana ada uang nya," sahut emaknya dengan suara ngotot seolah menuntut Kemala untuk segera mengetahui Kkn itu kapan dilaksanakan.
"Yah mana bisa, Mak. Aku bukan pimpinan kampus. Itu dari bagian administrasi kurikulum, jangan paksa aku seolah olah aku pula yang punya kampus."
"Yah jangan ngotontlah, gitu aja ngotot. Emang gak ada sopan santun mu, percuma di kuliah kam kalau attitude aja gak ada."
Kemala langsung terdiam. Ia tidak tahu lagi harus merespon seperti apa ibunya ini. Yang jelas saat ini Kemala ingin rasanya mengamuk kepada semua orang.
" Jadi anak kok gak ada otak! Salah emang mamak nyuruh kau pastikan itu?"
Kemala diam, ia tidak mau menambah keruh suasana yang nantinya malah mengundang amarah sang mamak lebih besar. Pernah waktu itu Kemala hendak pergi reuni bersama teman satu sekolah dasarnya. Di mana masing masing orang dikenakan sepuluh ribu sebagai uang yang akan dibelikan ikan untuk dibakar. Kemala yang kebetulan sedang libur kuliah tentunya tidak memiliki uang sama sekali. Dengan pelan dan hati hati ia meminta uang kepada ibunya sepuluh ribu untuk makan makan nanti malam.
Namun jawaban sang ibu sesuai dengan dugaannya yang membuat ia selalu tidak berani meminta uang bahkan dari jaman SMP dulu.
"Mak, boleh nya aku minta duit sepuluh ribu?" Tanya Kemala waktu itu.
"Buat apa?"
"Mau manggang manggang sama kawan SD di rumah Ucy." Jawab Kemala dengan hati yang sudah ia kuat kuatkan untuk sabar jika kemungkinan buruk terjadi.
"Enak kali kau, kau yang mau makan aku pula yang bayar."
Jleb.
Kemala langsung terdiam dengan mata memerah menahan tangis, ia segera balik badan dan melanjutkan acara masaknya yang kebetulan tadi sedang masak.
Ia melihat sayur bekas makan adiknya paling kecil. "Ini sayur Adek masih mau di makan gak?" Tanya nya karena melihat sayur itu masih banyak.
"Menurut kau di buang apa enggak?" Tanya mamaknya dengan suara yang membuat kemala jengkel bukan main.
Dengan tetap menjaga kesabarannya Kemala membuang sayur itu dari pintu dapur yang kebetulan mamaknya di sana sedang duduk menghalangi pintu bersama dengan adiknya yang paling kecil.
Tanpa sengaja tetesan air sayur itu mengenai rambut adiknya yang menguat sebagian rambut terlihat basah. Kemala segera mengusap itu tapi secara tiba tiba ibunya melemparkan mangkok kaca yang berisi sayur itu ke arahnya.
Mangkok tersebut pecah dengan beling kaca yang berserakan, bahkan ada yang mengenai kakinya. Ia terdiam berdiri membisu dengan mata yang memanas. Air mata yang sejak tadi ditahannya pada akhirnya tumpah ruah tanpa suara. Ia menatap kakinya yang mengeluarkan darah lumayan banyak, sedangkan sang emak bukannya merasa bersalah malah memilih menggendong putri terakhir nya sembari terus mengumpati Kemala.
"Anak anjing nya memang kau, babi. Setan kau! Gak ada otaknya. Liat lah nanti kau punya anak, bakal lebih bandel dari kau biar tau rasa. Gak ikhlas aku maafin kau lebaran kemarin."
Deg!
Kemala terisak pilu dengan d**a yang teramat sakit sekali, kata kata dan sumpah serapah emaknya bagai cambuk yang merajam dirinya secara berulang ulang. Kalimat sumpah itu yang bahkan sampai detik ini masih ia ingat dan membuatnya ketakutan. Bukan takut jika anaknya bandel, hanya saja takut jika suatu saat ia akan melakukan anaknya persis seperti yang dilakukan sang emak.
Dan saat ini, setelah kejadian itu Kemala memilih diam, apa pun kalimat emaknya yang membuat ia sakit hati ia akan tahan semuanya. Toh lama lama akan sembuh sendiri dan kembali seperti semula, pikirnya.
"Kalau dibilangin diem, tapi diem nya diem diem bodat."
Kemala memejamkan matanya sejenak, memilih melanjutkan menulisnya dibandingkan harus mendengar suara emaknya yang masih memaki. Jangan harap bapak nya aja membela atau paling tidak menghentikan amarah istrinya, pria itu malah diam atau terkadang ikut menimpali kalimat emaknya dengan cara halus tapi menyudutkan.
Kemala yang tidak tahan lagi akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar. Melihat adiknya Fika yang tengah asyik bermain ponsel tanpa beban. Matanya melirik ke arah koper yang berada di sebelah lemari pakaian miliknya. Berpikiran untuk kembali lagi ke kost yang dalam artian kembali ke kota Medan yang ia rasa lebih menenangkan dibandingkan pulang ke rumah.
Ponselnya bergetar pelan menandakan adanya notifikasi pesan masuk, begitu ia lihat ternyata pesan dari Adi yang menanyakan dirinya sedang apa sekarang.
"Lagi nulis." Jawabnya singkat. Jika Adi merupakan pemuda yang peka kemungkinan Adi akan paham ada yang salah dari cara Kemala membalas pesan.
Mas
Yaudah, semangat sayang...
Jika biasanya Kemala akan menjawab itu dengan kalimat lebih manis lagi. Maka kali ini kemala hanya membalasnya dengan jempol
Drt... Drt....
Kemala melihat siapa yang menelpon dirinya yang ternyata Adi. Ia menormalkan suara terlebih dahulu lalu mengangkat panggilan itu.
"Kamu lagi ada masalah?"
Kan, apa Kemala bilang. Kekasihnya itu sangat peka sekali.
"Gak mau cerita?" Tanya Adi lagi yang malah membuat Kemala langsung menangis pilu tanpa suara. Adi bisa mendengar suara isakan dari Kemala dan memilih diam sampai gadis itu tenang.
"Udah?"
"Udah."
Adi terdiam sejenak. Lalu bertanya tentang keadaan Kemala yang sebenarnya. "Kamu kenapa? Ada masalah? Soalnya dari cara kamu balas pesan aku udah curiga."
"Lagi berantem aja sama mamak. Biasalah."
Adi menghela nafas sejenak. Seolah pemuda itu sudah terbiasa mendengar pertengkaran ini. "Apa lagi masalahnya sekarang?"
"Gak masalah besar sih, cuma yah tau sendiri Lala orang nya gimana. Cuma karena bahas Kkn doang tadi."
"Kenapa sama KKN?"
Kemala bingung harus menceritakan nya seperti apa. Sehingga ia hanya menjelaskan secara rinci aja tanpa menjelaskan menyeluruh.
"Ya udah, berarti kamunya memang harus mulai hemat. Tapi kan kamu ada tabungan?"
"Iya ada."
"Udah berapa?"
Kemala menghitung hitung total tabungan yang ia miliki namun berada di tangan mamak nya.
"Sekitar 8 juta."
"Udah cukup lah tuh buat sewaktu waktu kalau ada keperluan. Nanti aku tambah kalau kurang."
Kemala mengangguk, ia sudah sedikit lebih tenang dengan bercerita kepada Adi, meskipun terkadang Adi sangat mengesalkan, tapi dia merupakan pendengar yang baik.
"Makasih..." Ujar nya dengan lirih.
"Buat apa?" Tanya Adi yang kebingungan dengan kalimat terima kasih Kemala.
"Gak papa, makasih aja."
Dan di saat saat seperti ini Kemala sangat bersyukur memiliki Adi walaupun selama ini ia selalu merasa bersyukur. Terkadang orang yang tengah ada masalah tidak membutuhkan saran melainkan sebuah wadah untuk bercerita dan didengarkan seperti ini. Dan Adi yang memahaminya lebih dari siapa pun, pemuda itu tahu perubahan mood nya yang luar biasa dan bisa mengakalinya dengan baik. Jika ada yang mengatakan orang yang paling mengenal kita adalah kedua orang tua kita sendiri, maka itu salah! Nyatanya terkadang orang tua hanya terasa dekat secara raga namun secara ikatan tidak. Itu kenapa banyak orang tua yang memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan keinginan anak anaknya.