Kemala tidak sabar menunggu Adi selesai pangkas, ia penasaran gimana Adi jika tidak gondrong, sebab selama mengenal dan menjalin hubungan dengan laki-laki itu Kemala hanya melihat rambut gondrong yang keriting.
"MALA!!!"
Allahu Akbar, kenapa pula lah mamak nya ini menganggu dirinya yang sedang membayangkan wajah Adi tanpa rambut gondrong.
"MALA!! b***k EMANG KAU YAH, CONGEK KALI."
"IYA MAK IYA, RO MA AU (Datang lah aku)," ujar nya sembari teriak keluar dari kamar.
Mungkin yang baru saja menjadi tetangga Kemala akan terkejut dengan tingkah dan pola hidup keluarganya yang hobby berteriak..kalau tetangga lama mah sudah biasa malah ikut serta seperti itu.
"Kenapa?" Tanya nya begitu sampai di hadapan sang mamak yang tengah duduk di pintu dapur menatap ayam nya yang tak seberapa.
"Ambilkan dulu beras. mau makan ayam nya."
"Kenapa lah gak bilang dari tadi coba? Jadi bolak balek awak, kebiasaan." Kesalnya menatap sang mamak dengan sinis.
Mamak Kemala sendiri malah cengengesan. Ia sangat senang sekali jika melihat anak anaknya kesal seperti ini. Walaupun kesal Kemala tetap melaksanakan apa yang telah diperintah oleh ibu negara Konoha itu. Jika tidak bisa bisa peperangan akan dimulai dalam waktu dekat.
"Nah nih, kasih makan lah itu anak mamak."
Mamak Kemala menatap anaknya dengan aneh. Hal ini membuat Kemala kembali menatap mamak nya dengan bingung, kenapa emak nya itu seperti menatapnya dengan penuh maksud?
"Kenapa nya mamak?"
"Gak, aneh aja mamak rasa kau, masa sama ayam pun cemburu."
"Apa lah mamak ini, dah lah. Mau lanjut nulis aku."
"Nulis lah kamu biar dapat duit banyak beli kan mamak kulkas."
Kemala yang mendengarnya mencibir pelan. "Gak perlu kulkas. Bengek aku nantinya."
"Yang bengek kan kau, jadi gak papa lah."
Astaghfirullah!
Ngatain mamak sendiri dosa gak yah? Rasanya kemala ingin memaki mamak nya dengan kata k********r.
KASAR!
Dengan begitu kesabaran yang sangat tinggi Kemala memutuskan untuk masuk kamar dan melanjutkan acara menghalu nya sekaligus menunggu kabar sang kekasih yang sedang memotong rambut keriting nya. Tapi belum sempat merebahkan diri, dari arah dapur sang emak kembali berteriak memanggil namanya.
"MALA!!! LA..."
"Allah, sabar kan aku ya Allah dari godaan setan ingin memaki mamakku ini." Lirihnya sembari mengusap d**a secara perlahan.
"Mala! Kau dengar nya dipanggil."
"Dengar! Tunggu dulu."
"Akh, gak nya pernah kau dipanggil kalau gak nanti dulu."
Sekali lagi Kemala menghela nafasnya pelan. Lalu kembali melangkah menuju dapur dengan wajah yang sudah berubah kecut. Liat saja emaknya kalau gak urusan yang penting bakal Mala sleding.
"Apa nya lagi?"
"Gak masak emang kau!"
Kemala langsung teringat akan jam yang sudah menunjukkan pukul tiga sore lewat seperempat, dan ini sudah waktunya ia masak sore.
Dengan sangat terpaksa Kemala mengambil berbagai sayuran yang akan ia masak untuk sore ini.
***
Malam harinya Kemala tengah mengajari murid les yang berjumlah tiga orang, dengan salah satu di antaranya adalah siswa kelas 1 SD yang masih belajar mengenal huruf.
"Huruf apa yang perut nya ada dua?" Tanya Kemala dengan begitu semangat, sedangkan anak yang sedang ia ajari malah terlihat santai merebahkan diri di atas tikar yang sengaja digelar. Anak itu hanya menatap buku itu dalam dia sama sekali tidak menghiraukan Kemala.
Dengan rasa sabar yang hampir menipis, Kemala menghembuskan nafasnya pelan seraya berdoa meminta Tuhan mempertebal rasa sabarnya.
"Abang Latif kenapa? Lagi gak mood belajar?" Tanya nya yang menurut Kemala ini adalah sisi terlembutnya sebagai seorang manusia yang terkenal bar bar.
Anak itu tidak menjawab, membuat dua anak lain yang Kemala ajari terkekeh geli.
"Bang Latif kenapa? Lagi nesu atau gimana?'
"Lagi nesu nya itu, tadi ditinggal orang Aidil main sepeda." Jawab mamak Kemala yang kebetulan sedari tadi duduk di teras rumah.
Kemala hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Mau sampai lebaran monyet ini bocah pun tidak akan mau belajar kalau sudah ngambek begini. Terpaksa ia harus memulangkan anak ini dari pada di rumah nya terus ngambek kan barebe. Ada dua anak lagi yang belum ia ajari.
"Ya udah, bang Latif pulang dulu, besok malam datang yah, kita belajar besok malam."
Anak bernama Latif itu pun mengangguk lalu mengambil tas nya yang bermodel kan motor sport khas anak-anak. Setelah nya Kemala mendatangi dua siswa yang berada di kelas yang sama. "Sampe mana semalam?"
Keduanya tampak membuka buku catatan les. "Baru sampe bilangan pecahan, kak . "
Kemala mengangguk lalu mulai membuka buku matematika nya, memulai pembelajaran untuk malam ini masih tentang pecahan bilangan.
"Jadi setengah sama seperempat besaran mana?"
"Seperempat." Jawab mereka berdua dengan kompak, Kemala menggeleng pelan lalu membuat ilustrasi berupa dua buah lingkaran lalu membaginya menjadi dua bagian satu lingkaran, sedangkan satu lagi dibagi menjadi empat bagian.
"Yang mana yang lebih besar?"
Kedua siswa itu memilih lingkaran yang dibagi menjadi dua bagian.
"Jadi, ini berapa?"
"Setengah."
"Yang lebih besar berarti yang mana?"
"Setengah."
Kemala mengangguk puas. Salah satu cara yang paling ia sukai adalah belajar sambil bermain dan praktek langsung dengan menggunakan media yang sesuai, selain siswa nya lebih mudah paham, model belajar seperti ini tidak membuat ia bosan begitu juga dengan siswanya.
Sedang asyik asyik nya mengajar ponsel Kemala berdering menunjukkan nama Adi di sana. Ia menolak panggilan tersebut lantaran masih mengejar anak didik les nya, mungkin setelah isya nanti baru ia akan menghubungi pemuda itu.
Setelah selesai dengan segala urusan les nya, Kemala segera meraih ponsel miliknya dan menghubungi Adi. Bersyukur pemuda itu bukan jenis pemuda yang mewajibkan fast respon, bisa bisa barabe dia nya.
"Kenapa yang?" Tanya Kemala begitu Adi menelpon setelah ia miscall.
"Ada paket gak?"
"Ada, mau ngapain?" Tanya Kemala lagi.
Tanpa mengatakan apa apa Adi segera mematikan sambungan telponnya. Lalu tak lama begitu Kemala menghidupkan data internet langsung masuk panggilan video call dari Adi. Setelah Kemala mengangkat panggilan itu alangkah terkejutnya ia melihat sosok Adi di seberang sana yang terlihat lebih fress dengan rambut model baru miliknya. Rambut keriting gondrong yang selama ini selalu Kemala tegur untuk dipangkas pada akhirnya beneran dipangkas, bahkan Adi terlihat lebih rapi sekarang.
"Serius? Pangkas beneran?" Tanya Kemala takjub. Matanya tidak berkedip menatap look Adi yang sangat sangat berbeda dari biasanya, hampir satu tahun mengenal Adi dengan ciri khas rambut gondrong entah kenapa Adi terlihat lebih emm... Tampan. Menurut nya.
"Serius lah, ini udah dipotong." Jawab Adi dengan raut wajah yang bangga.
Kemala menggeleng pelan, sedikit ada rasa bersalah yang tersempil di hatinya, takut jika sebenarnya Adi merasa terpaksa untuk memotong rambut gondrong itu.
"Em... Gak nyesel kan?" Tanya Kemala memastikan yang sebenarnya.
Adi menggeleng pelan. "Kan aku udah bilang, kalau udah bosen yah aku pangkas. Sekarang aku udah bosen jadi aku pangkas."
"Kirain yang kemarin itu bohong doang. Eh dipangkas beneran dong."
Adi di sana terkekeh geli, ia mengusap rambutnya yang mungkin menurut Kemala pemuda itu risih karena belum terbiasa, bertahun-tahun dengan rambut gondrong, tiba-tiba dapat doi yang tukang maksa buat dipotong. Hahahaha... tapi gak maksa juga sih, Kemala cuma mengatakan itu tidak lebih dari tiga kali, selanjutnya begitu Adi bilang menunggu bosan baru dipotong Kemala memilih diam dan membiarkan saja. Lagian belum hak nya mengatur ini itu dengan Adi..
"Gimana? Keren gak?"
Kemala mengangguk beberapa kali, lalu mengacungkan jempol tangannya ke arah Adi yang terlihat cengengesan di sana. "Mantap kok, keren."
"Iya dong, Adi gitu loh."
Kemala mencibir pelan, lalu kembali menatap Adi dengan lekat seolah tidak percaya jika pemuda itu sudah tidak gondrong. Kenapa rambut sangat mempengaruhi penampilan sih? Kan Kemala jadi sedih sendiri begitu sadar jika jarak mereka jauhs sedangkan Adi berubah menjadi lebih ganteng gini. Bisa gak kalau rambut gondrong balik lagi aja?
"Kenapa toh yang? Ngeliatnya gitu banget?"
Kemala menggeleng pelan. "Bisa gak gondrong nya balik lagi aja mas?"
Adi mengernyitkan dahinya heran. "Balik gimana?"
"Yah itu, gondrong nya dibalikin lagi. Jangan pendek gini."
"Ngawur kamu. Dikira ini apaan rambutnya."
Kemala terkekeh pelan, tapi demi Alek! Dia tidak terima itu. Pokoknya Adi harus terlihat jelek tidak mau tahu.
"Emang kenapa?" Tanya adi yang sepertinya penasaran dengan alasan dibalik permintaan aneh Kemala.
"Gak papa." Jawabnya singkat yang tentunya tidak membuat Adi puas.
"Ngapa sih, jangan buat penasaran."
Kemala menggeleng kembali. "Btw, Mas. Kok tumben gak ada pengumuman lolos yah."
Biasanya setiap hari Jumat editor mereka akan mengumumkan naskah yang lolos. Dan itu merupakan kabar yang sangat di nanti nanti oleh penulis seperti mereka. Terlebih bulan ini Kemala menyerahkan lebih dari empat naskah sekaligus.
"Mungkin besok, kak Raha lagi sibuk."
Kemala mengangguk, bisa jadi sih. Soalnya editor mereka termasuk orang yang multi talent menurut Kemala. Bayangkan saja, di samping menjadi seorang editor yang mengasuh ratusan penulis, kak Raha juga berperan sebagai ibu rumah tangga yang memiliki tiga orang anak di antaranya masih balita, memiliki keterampilan memasak aneka menu, membuat mainan anak dan sangat kreatif, apa lagi kak raha sangat piawai dalam melukis. Paket komplit kalau kata Kemala mah.
Beberapa kali Kemala berinteraksi secara via chat dengan Kak Raha tenyata orang nya asyik diajak ngobrol. Terlebih seputar resep masakan.
"Udah nulis?" Tanya Adi yang langsung membuat Kemala terhenyak dari lamunan nya menatap Adi dengan cengiran.
"Belum pasti..." Tebak Adi yang bisa tahu dari raut wajah Kemala.
"Belum ada ide, Mas. "
"Yah dicari, kalau nunggu ada ide gak bakal dapet."
Salah satu tidak enaknya punya doi satu kerjaan yah begini, dipantau terus.... Bahkan di grup sekalipun.
Mau tidak mau yah kemala harus mulai nulis, jika tidak nanti di akhir bulan ia akan kewalahan sendiri dan paling mengerikan jika mendengar suara ceramah bapak Adi.
Video call sambil menulis...
Sebuah rutinitas Kemala semenjak menjalin hubungan dengan Adi. Bahkan lucu nya mereka bisa saling berdiam diri karena sibuk menulis di ponsel masing-masing. Sampai-sampai terkadang kedua orang tua Kemala heran dengan tingkah keduanya yang sangat mubazir dengan paket data.
"Udah berapa?" Tanya adi setelah Dian beberapa menit.
"Lima ribu karakter," sahut Kemala tanpa melihat ke arah kamera ponsel. Adi sendiri hanya mengangguk lalu melanjutkan kembali pekerjaan nya merangkai kata menjadi sebuah kalimat dan paragraf. Setelah mencapai dua ribu kata, kedua nya langsung mengaploud tulisan tersebut ke akun masing-masing yang nantinya setiap akhir bulan akan ada target untuk mendapatkan gaji.
"Ada kebijakan baru yah?" Tanya Kemala yang baru saja membuka grup rumpi tengah membaca kebijakan kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan.
"Apa?" Adi balik bertanya sebab ia belum ada membuka grup sama sekali.
Kemala membaca pesan dari teman temannya yang rata-rata membahas tentang penulis tetap yang dikontrak selama tiga tahun oleh perusahaan.
"Ini pada dapat tawaran jadi Ftw. Kayaknya perusahaan mau ngikat penulis kontrak banyak banyak."
"Bisa jadi sih, apa persyaratan nya?"
"Cuma nulis enam puluh ribu kata doang."
Adi mengangguk. "Mungkin kontes Ftw itu kali?"
"Mas ikut kontes nya?"
Adi mengangguk. Kemala tahu jika kekasihnya ini pantang ada kontes menulis pasti ia langsung Ng mengikutinya. Berbeda dengan ia yang ogah dan bodo amat, yang penting nulis, target dah bar kata terpenuhi setiap akhir bulan.
Tapi Kemala memang sudah Ftw (full time writer) atau penulis tetap yang dikontrak tiga tahun dengan larangan menulis di platform mana pun kecuali platform nya yang sekarang sejak tiga bulan resmi menjadi penulis stary.
Dengan bermodalkan nekat ia atas perintah dari Baginda Adi mau tidak mau mendaftar dengan modal cerita di platform orange yang mencapai 800 ribu pembaca. Beruntung saya itu persyaratan menjadi Ftw dipermudah dengan minimal pembaca di platform sebelumnya 100 ribu view. Meski dengan honor yang lebih kecil dibandingkan Adi, tapi Kemala tetap mensyukurinya.
"Pada banyak yang daftar?"
Kemala mengangguk. "Tapi masih ragu juga, soalnya kan sekarang platform nulis yang digaji juga banyak, kalau fokus sama start rugi lah remun cuma lima puluh. Lagian mereka ada di daftar dari perusahaan mas, editor tinggal hubungi doang." Jelas kemala dengan telaten.
Adi mengangguk pelan. "Kemarin Mala sama siapa aja masuk Ftw?"
"Kalau gak salah sama Mak Novi, bang Tomi anak editor sebelah, sama kak Daysi juga."
"Banyak yah pas rombongan mala?"
"Banyak kok. Tapi Mak Novi lama dapet kontrak."
"Kok bisa?"
Kemala menggeleng. Mana ia tahu kenapa lama mendapatkan kontrak, mereka kan dalam hal kontrak itu nasib nasib an, bahkan ia menunggu satu bulan untuk kontra cerita pertamanya di bulan april dan baru bisa ikut dayli bulan mei, peraturan menulis di platform nya sebenarnya tidak memberatkan, hanya menulis lima puluh ribu kata per bulan untuk reguler, sedangkan penulis Ftw enam puluh ribu kata, dengan maksimal libur dua hari saja.
Jika ini bisa dipenuhi maka setiap tanggal satu nya akan ada gaji sebesar 150 dolar yang merupakan gaji dayli di luar remunisasi.