Bab 29: Kisah kita, ada Ana di dalam nya

2110 Words
Benar saja apa yang mereka obrolkan tadi malam. Pagi ini grup lebih gempar lagi dengan banyak nya penulis yang mencoba untuk mendaftar menjadi penulis tetap. Kemala malah senang jika seperti ini, paling tidak ia punya teman yang akan menetap si start hahahaha.... Adi sendiri sudah tidak ada lagi kabar nya, maklum ini sudah tanggal tua dan hampir mendekati akhir bulan yang Kemala sendiri sudah paham jika pemuda itu menghilang bagaikan ditelan bumi. Pada awalnya ia akan emosi atau paling tidak kesal, tapi semakin ke sini dirinya semakin paham jika Adi juga punya kehidupan dan target nya sendiri, ia tidak boleh mengganggu apa lagi mengeluh. Sedang asyik asyiknya membaca pesan di grup rumpi. Ia malah melipir masuk ke obrolan grup lain yang hanya beranggotakan sembilan orang. Pada awalnya grup hanya terisi lima orang dan membicarakan mengenai sesi curhat ala perempuan pada umumnya. Tapi entah bagaimana tiba tiba muncul empat orang lagi yang merupakan rombongan dari ana. Masih kenal ana kan? Iya, gadis yang menghibahi nya di depan Adi. Ana Iya, pada tergila gila sama Ftw semua. Padahal jadi Ftw gak seenak itu, apa lagi ternyata remun nya sedikit banget cuma lima puluh lebih baik gak usah. Sebenarnya Kemala setuju sih sama pendapat ana ini, ia saja bisa dikatakan menyesal sebab hanya mendapatkan lima puluh dolar sedangkan teman yang lain bisa lebih, kenapa ia tidak menunggu tulisan di platform lain itu satu juta pembaca mungkin ia bisa setara dengan ana dan Adi. Tapi Kemala segera menggelengkan kepalanya pelan, ia harus mensyukuri apa pun itu paling tidak ia bisa mendapatkan sekitar enam ratus ribu untuk jajan nya. Kemala keluar dari obrolan grup, memilih mengecek grup kelas nya yang kebetulan dalam waktu dekat ini masuk perdana secara online, kebetulan kemarin sedang UTS jadi dua Minggu ini sedang libur. "Ini yang masuk dosen baru siapa?" -udin Relator. Kemala ikut mengecek nama dosen yang tertera di lembar KRS kelas di sana terdapat nama dosen yang sangat asing, dalam artian tidak pernah masuk di kelasnya selama bangku perkuliahan hampir dua tahun ini. "Kurang tahu itu dosen siapa"- Rifa. "Kayaknya gak dosen tetap fakultas agama Islam, Din"- Clarisa. "Iya, kayaknya dosen fakultas lain"- sahut Rifa lagi. Kemala membaca nama dosen tersebut "Oktri? Micro teaching." Kemala segera menghubungi Yola yang menjadi satu satu nya teman paling akrab di kelas. "Be..." Panggilan khusus yang Kemala sematkan untuk seorang yola Anggraini seorang. Menunggu beberapa saat, pada akhirnya Yola membalas pesannya itu. Cinteh "Kenapa be?" Balas Yola. "Itu pak Oktri itu siapa?" Tanya nya yang sebenarnya jika diteliti ini pertanyaan orang bodoh, bagaimana mungkin Yola bisa tahu sedangkan ia sendiri aja gak tahu siapa dosen Oktri itu. Cinteh. "Lah mana aku tau, Be. Kamu Ngada Ngadi, kamu aja gak tau gimana aku, paok paok. " Kemala terkekeh geli membaca pesan Yola. "Kira kira gimana yah dosennya, killer gak?" Cinteh "Gak ada dosen umsu yang killer sejak kejadian pembunuhan itu." Ada benarnya juga, jadi tahun dua ribu lima belas atau enam belas Kemala lupa tepat nya tahun berapa, ada kasus mahasiswa bunuh dosen yang terjadi di kampusnya saat ini tapi bukan di fakultas yang sama, melainkan fakultas keguruan. Kasus itu sempat booming bahkan sampai sekarang orang-orang akan mengingat itu sebagai identitas kampus sebelum kampusnya bisa semaju sekarang. Kasus yang melibatkan mahasiswa dengan dosen itu tentunya menjadi catatan kelam kampus bahwasanya setiap mahasiswa punya kepribadian yang tidak di duga duga. "Iya juga, kalau inget kasus itu jadi horor. Apalagi kamar mandinya dikunci dan dikasih garis polisi." Setelah hampir enam tahun berlalu kamar mandi itu tetap dikunci bahkan awalnya Kemala menduga jika mahasiswa yang menikam dosen itu berasa dari fakultas ekonomi, akan tetapi ketika dirinya hendak menghadiri sebuah seminar di fakultas keguruan, ia dikagetkan dengan kamar mandi yang dikunci dan dikasih garis polisi. Dengan santai ia bertanya kepada satpam yang bertugas menjaga di lantai dua. Dan di situ ia mendapatkan sebuah fakta mengejutkan yang ternyata kasus itu terjadi di fakultas keguruan bukan ekonomi. Cinteh. "Aku malah belum pernah liat ke sana, kau kapan liatnya?" Balas Yola yang memang itu hanya seminar organisasi, Yola yang bukan merupakan organisasi tentunya tidak ikut. "Pas seminar, Be. Aku pikir di fakultas ekonomi kejadiannya nah pas aku mau ke kamar mandi lantai dua kamar mandinya di kunci terus dikasih palang garis polisi. Yah aku tanya lah sama satpam nya, di situ lah aku tahu." Cinteh "Lah, bukannya fakultas hukum itu be? Katanya fakultas hukum." "Ini bocah dapet info dari mana coba?" Batin Kemala yang menggeleng pelan melihat pesan sahabatnya itu. Sejak kapan dari fakultas hukum? "Itu dari keguruan, dapet info dari mana coba dirimu itu dari hukum?" Lama tak mendapat respon dari Yola, Kemala membuka pesan grup rumpi yang ternyata sangat ramai sekali. Sangking ramainya itu pesan grup sudah mencapai seribu pesan setelah tidak sampai setengah jam ia tinggalkan . "Gila ini grup over load banget, bahas apa coba sampai sebanyak ini?" Ujar nya dengan penuh tanya melihat grup yang pesan nya tidak berhenti masuk. Sekilas ia membaca ada beberapa orang yang terdaftar dari atasan untuk menjadi Ftw jika penulis itu setuju, dan rata rata merupakan orang yang cukup Kemala kenali dengan baik. Mas "Yang, itu banyak yang dilist, remun nya berapa?" Kemala langsung membalas pesan itu dengan cepat. "Kalau kata ana sih itu 50 Yang. Gak tau bener gak nya." Mas "Halah, ana aja kamu percaya. " "Ekwkwkw Adek kamu kok itu." Ejek Kemala yang mengingat jika sosok ana merupakan Adek online dari Adi. Mas "Ngejek aja kerja kamu. Tapi lumayan juga lah, kesempatan tidak datang dua kali kan?" "Iya mas. Gak papa lah, rezeki mereka." Kemala tidak pernah merasa iri atas pencapaian orang lain, malah dirinya merasa sangat senang dan bangga jika bisa berteman dengan orang-orang hebat salah satunya seorang kak Puput yang memiliki pembaca dan penghasilan fantastis. Wajar sih, tulisan beliau sangat enak dibaca, bahasa dan alur cerita juga tidak seperti cerita kebanyakan. Akh membayangkan jika kelak ia bisa menjadi penulis famous seperti itu, betapa senangnya ia bisa terlepas dari tekanan orang tuanya. *** Sore harinya Kemala tengah bersantai di belakang rumah. Dirinya tengah memikirkan ide yang ia buat untuk cerita baru yang besok akan ia kirimkan. Angan-angan menyantaikan diri di sini malah diganggu oleh tuyul tidak berkepala botak yang bernama Fayyaz Faradiba. Si pengganggu kecil yang suka mencuri uang nya di dompet. "Gendut, kakak gendut." Kemala langsung menatap sang adik dengan tajam, seolah harga dirinya baru saja dilecehkan oleh anak berumur kurang dari dua tahun itu. "Siapa yang ngajarin itu?" Tanya Kemala dengan tajam. Bocah cilik itu bukannya merasa bersalah malah tertawa kesenangan seolah itu adalah hal yang lucu, dan bisa ditebak siapa guru dari kesopanan tuyul satu ini, sudah pasti emak nya yang saat ini tengah duduk di depan pintu dapur. "Mamak ini jangan ngajarin yang enggak-enggak dah tau anaknya cepet nangkep yah diikuti dia terus lah." Terus Kemala yang takut adiknya akan terjerumus dalam lembah bahasa kasar. "Halah emang nyatanya kau gendut juga, masih gadis badan kayak emak anak tiga." Sindir emaknya dengan tawa ringan seringan omongannya yang tidak memikirkan perasaan Kemala yang sudah tak terbentuk. Ia hanya bisa tersenyum tipis seolah memaklumi setiap ejekan yang selalu dilontarkan sang emak. Emang nyatanya dia gendut kan? Dia seperti emak anak tiga? Gak papa, Kemala anggap itu adalah doa yang nantinya akan terwujud. "Iya, emang aku gendut kok." "Bagus lah kalau sadar, makanya diet Dabo kak, biar gak kayak gajah gitu." Allah! Sakit banget rasanya kalau denger emak sendiri yang ngatain. Mungkin kalau orang lain Kemala akan lebih tenang dan masa bodo, ini emaknya yang seharusnya menjadi pelindung dan penyemangat ya malah mengatai ngatai seperti ini, emang siapa yang mau gendut, toh besar badannya masih normal karena ia bisa dikatakan tinggi untuk seukuran seorang gadis. "Terserah mamak lah mau ngomong apa. Gak peduli aku." Kemala memilih masuk ke dalam rumah karena hari sudah hampir petang. Ia juga masih menulis setengah dari biasanya, rencana akan mengejar ketertinggalan di akhir bulan. Kebetulan setelah itu adzan magrib berkumandang. Kemala yang kebetulan sedang tidak sholat memutuskan untuk masuk ke dalam kamar seraya membuka w******p. "Gila ini pesan makin menjadi banyak nya, bisa bisa ngelag hp ku." Lirihnya membaca sederet pesan itu, akan tetapi satu grup yang biasanya ramai kalau ada pengumuman tiba-tiba ramai seperti ada hal yang penting. Kemala langsung melihat grup inti yang ternyata ada pengumuman dari editor mengenai tawaran Ftw yang katanya ada penulis salah paham. Awalnya Kemala tidak ngeh siapa penulis yang dimaksud memforward chat editor dan dijadikan sebagai status. Ternyata ada salah seorang penulis lain yang menjadi Cepu dan melaporkan berkedok bertanya dengan polos. "Gila sih ini, diliat liat dari status nya juga gak ada kata kata dipilih editor. Kenapa malah merambat ke sana." Tepat setelah mengatakan itu, Adi menelpon dirinya lewat sambungan w******p. Ternyata dengan pembahasan yang sama. "Kenapa, Mas?" Tanya Kemala. "Tau gak siapa yang ngelaporin itu ke editor?" Tanya Adi yang jelas saja Kemala tidak mengetahuinya. "Mana lah Mala tahu, lagian itu gak ada kata kata pilihan editor, Mas." "Yah memang gak ada. Orang yang ngelaporin sebenarnya yang nambahin itu," jawab Adi dari seberang sana. Kemala semakin bingung. Ditambah lagi dengan penulis yang bersangkutan sedang tidak aktif dalam artian ia tidak tahu jika status w******p nya bermasalah. "Memang siapa yang ngelaporin? Isi nya apa?" "Ana, doa yang nanya sama editor apa bener yang Ftw itu list namanya dipilih editor. " Kemala terkejut bukan main, bukan apa apa, tapi karena itu malah menimbulkan kesalah pahaman. "Gila sih, kan kakak itu juga gak ada nulis pilihan editor?" "Yah gak tahu." Ini kenapa malah runyam jadinya, lagian kakak yang terkena masalah ini masih penulis baru, bahkan lebih baru dari dirinya. Bayangkan jika masih baru tapi sudah terkena masalah lumayan besar, apa gak down langsung. Baru saja Kemala hendak menjawab, grup yang berisi dirinya dan beberapa orang termasuk ana mendadak ramai, dan benar saja seperti dugaannya, gadis itu tengah membahas masalah kakak penulis yang baru saja ia buat bermasalah. Padahal jika ia tidak menanyakan demikian juga tidak akan sebesar ini. Beberapa chat terlihat sangat menyudutkan si kakak, sedangkan mungkin beliau juga tidak tahu jika tindakan memforward chat editor itu tidak baik. Bukannya diberi tahu secara pelan malah seperti ini. Ternyata tak jauh berbeda dengan grup yang ada Kemala di dalamnya, grup adi yang juga ada ana di dalam nya membicarakan hal yang serupa. Bahkan ia dengan Adi takjub menyadari jika kecepatan dan kejelian ana dalam membuka chat di grup yang berbeda beda patut di acungi jempol. "Gila Adek mu mas, jarinya cepat bener pindah pindah grup." Adi di sana terkekeh geli, keduanya memantau pergerakan ana persis seperti kejadian beberapa bulan lalu ketika ana menjelekkan dirinya di depan Adi di samping itu pula ana menjelekkan Adi di depan kemala, perbuatan yang menurut Kemala sangat Paok dan entah apa tujuannya. "Tapi kan mas, kakak itu gak ada nyebut nama editor di sana loh kenapa tiba tiba bahasanya seolah olah membawa editor?" "Bener sih kata kamu. Entah siapa lah yang bener gak tau juga kita." Kemala mengiyakan, lagian ia tidak tahu bagaimana cerita yang sebenarnya hanya mendengarkan dari satu sisi saja. Jadi tidak bijak rasanya jika menghakimi. Dan tanpa tersadar mereka berdua mengirimkan pesan yang sama di dua grup yang berbeda namun ana ada di dalam nya. Sebab ana sendiri tidak mengetahui jika Kemala dan Adi tengah berdiskusi via telpon. Alhasil secara mendadak ana ngamuk di grup yang ada Kemala di dalam nya. Ana "Ada orang munafik di grup ini." Kemala awalnya mengernyitkan dahi pelan, hingga begitu ia sadar jika ana tengah kesal kemungkinan karena bantahannya dan juga ad di grup. Dengan lincah jari Kemala menari di atas papan ketik bertanya ada apa gerangan yang tak lama ana langsung keluar dari grup diikuti oleh antek antek nya. Jujur saja mengenal ana sebenarnya membawa sedikit dampak baik, paling tidak ia bisa mengetahui informasi terbaru, setiap ada penulis yang bermasalah maka ia akan gerak cepat mencari tahu lalu menyebar luaskan nya. Seolah olah dirinya tidak pernah bermasalah. Kemala melaporkan hal ini kepada Adi, dan respon pemuda itu sama seperti dirinya yang tertawa karena ana juga mencak mencak di grup sebelah mengatakan jika di grup itu ada Cepu, padahal secara tidak langsung dirinya juga Cepu bahkan lebih parah, karena Adi hanya akan bercerita kepada dirinya sedangkan ana kemungkin semua orang akan tahu. "Kompak bener dah kita," ujar Adi setelah reda dengan tawanya Kemala masih tertawa lalu mengiyakan. "Kompak, lagian dia gak merasa bersalah gitu yah, kayak biasa aja padahal punya salah sama kita." "Yang jelek-jelek in itu?" "Lala gak tau sih yang dimaksud dia mas atau bukan, tapi kalau liat ciri cirinya setelah Mala satuhin malah ngarah ke dirimu hahahah..." "Emang dia ngomong apa?" Tanya adi penasaran. Namun Kemala masih keep silent menutup semua secara rapat sampai suatu saat itu menjadi boom untuk ana yang hobby mencari perhatian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD