Bab 26: Ikan lele ikan belut, Ayo lek Gelut!

1802 Words
Hubungan Kemala dengan Adi berjalan sudah hampir enam bulan lamanya, dan selama itu tidak pernah terjadi pertengkaran hebat atau bahkan memang tidak ada pertengkaran sama sekali yang terjadi di antara mereka. Mungkin karena lagi masa-masa bucinnya, atau karena jarak yang membuat mereka sama-sama berfikir malas untuk memperbesar masalah yang sebenarnya bisa di kecilkan lalu dihilangkan. Satu-satunya masalah yang sering muncul berasal dari pikiran Kemala sendiri, susah memang jika menjadi sosok manusia yang memiliki over thingking. Segala kemungkinan-kemungkinan yang bahkan tidak tahu benar atau tidaknya akan menjadi momok menakutkan, membuat beban pikiran dan hati nya sendiri. Seperti bulan kemarin, di mana Adi mengirimkan sebuah gambar ponsel yang layarnya terlihat rusak parah. Sontak Kemala dengan cepat langsung berpikir jika kekasihnya itu mengalami kecelakaan mengingat paginya Adi pamitan untuk jalan-jalan sore nanti bersama dengan adiknya. Mas Yang rusak. Kemala panik, ia bertanya cepat mengenai penyebab ponsel itu rusak. "Kok bisa? Kenapa itu mas?" Mas Jatuh dari tas, lupa ngancing nya. Astaghfirullah... membaca pesan yang baru saja Adi kirim membuat hati Kemala merasa lega sekaligus prihatin melihat kondisi ponsel itu yang jauh dari kata baik. "Jadi gimana? Masih bisa hidup?" Mas Belum tahu, kayaknya parah banget ini. Paling besok atau lusa aku bawa ke konter ponsel. "Lain kali hati-hati kalau mau jalan-jalan. Tas nya dilihat dulu udah dikancingkan atau belum." Ketik Kemala dalam pesannya, lalu menangkap layar sehingga percakapan dirinya dengan Adi ter screenshot, ia menutupi nama dan foto profil Adi lalu menjadikannya sebagai status w******p. Tak lama masuk beberapa komen di antaranya milik salah satu penulis yang cukup dekat dengan Adi bahkan sudah seperti keluarga, komenan yang selalu mengganggu Kemala dan sedikit mengusik ketenangan dirinya. "Adi juga ngirim ini juga tadi, hp nya jatuh pas kerja." Kerja? Kemala mengernyitkan dahinya heran, bukannya tadi Adi bilang jika ponselnya rusak karena jatuh dari dalam tas, lantas kenapa malah jatuh saat kerja? Kan Adi sudah keluar dari pabrik tempatnya bekerja dulu. "Hahaha.. iya Mak." Balas Kemala yang memilih mengikuti perkataan salah satu emak online nya . "Adi itu udah berulang kali kayak gini, pernah kemarin dia kecelakaan motor juga." Kecelakaan motor? "Oh iya Mak? Terus gimana?" "Yah untungnya gak parah sih, pernah juga jatuh dari tangga di tempat kerja. Anaknya keras kepala sih, makanya itu.. kamu kalau mau serius sama Adi harus benar-benar serius yah." Kemala sebenarnya sedikit terganggu, karena ini bukan pertama kalinya beliau bertindak seperti ini, namun guna menjaga kesopanan karena Adi juga sangat dekat, membuat Kemala hanya bisa mengiyakan saja. "Kalau mas Adi serius, yah Mala juga serius, Mak. Tergantung Mas Adi nya gimana." "Iya, Cukup sekali Adi nangis-nangis sama emak gara-gara mantan dia yang kemarin. Itu cuma sama emak sih dia nangisnya." Mantan? Siapa? Pernah dengar jika musuh bebuyutan seorang perempuan adalah mantan pacar kekasihnya yang terkahir sebelum menjadi pacarnya. Dan pembahasan mantan ini sangat sensitif bagi Kemala, meskipun ia memilih diam tapi di dalam hatinya akan sangat dongkol sekali. "Iya, Mak? Gara-gara apa?" Tanya Kemala yang sebenarnya sama sekali gak tahu apa permasalahan dan penyebab Adi menangis, karena itu masa lalu Adi yang mungkin memang tidak ingin dibagi kepadanya. Dan Kemala menghargai privasi itu. "Adalah pokoknya, nanti bakal diceritakan Adi sendiri. Adi itu orangnya penyabar, baik pula. Makanya jangan sakiti yah. Dia gak bakal mau cerita sama siapa pun itu kecuali sama mamak, mamak tahu semua perjalanan hidup dia." "Iya, Mak." Entah memang mood Kemala yang sedang buruk, atau memang topik yang sedang ia bicarakan menyentil sedikit hatinya yang tiba-tiba merasa tidak berguna karena sama sekali tidak mengetahui kehidupan kekasihnya dan malah tahu dari orang lain. Rasanya Kemala ingin ngamuk dan berteriak jika cerita itu tak perlu diberitahu kepada dirinya. Yang mana akan semakin membuat Kemala seperti orang bodoh yang tidak tahu menahu mengenai Adi. Sangking kesalnya dan memang mood yang tidak begitu baik, mata Kemala memerah dan tak lama menangis dengan air mata yang menetes satu per satu membasahi pipinya. Ia kembali membaca Pesan yang sudah berulang kali ia terima sejak kabar hubungannya dengan Adi diketahui beberapa orang salah satunya yang tadi sedang berkirim pesan dengannya. Entah kenapa ia merasa sebagai orang bodoh yang sama sekali tidak mengetahui apa pun itu, padahal bisa saja ia mengatakan jika itu masa lalu, dan sekarang Adi telah bersama dirinya, sangat tidak pantas jika menceritakan masa lalu orang lain di depan kekasihnya sendiri. Beruntung ia tengah berkirim pesan dengan Adi. Ia akan membicarakan hal ini terutama untuk ke depannya, takut jika suatu saat yang terjadi di antara mereka berdua menjadi perbincangan publik. "Mas, bisa gak Kemala minta tolong." Balas Kemala yang sebelumnya memang sudah berkirim pesan dengan Adi. Tak lama ponsel nya berdering tanda pesan masuk. Mas Boleh, apa tuh? "Kalau suatu saat nanti kita punya masalah, boleh gak cuma kita aja yang tahu, jangan biarkan orang luar tahu masalah kita." Mas Boleh lah, lagian aku juga gak mau orang lain ikut campur. Kemala menghela nafas. " Tadi ada beberapa orang yang komen status terakhir Mala, salah satunya itu orang terdekat kamu. Dia ngomong masa lalu kamu gini, kamu gitu. Mala bukannya gak sombong atau gak terima temen mas, tapi ini udah kesekian kalinya loh Mala diginiin. Boleh cerita, Mala gak larang mungkin mas juga butuh temen curhat selain Mala, tapi selagi bisa, cukup diantara kita berdua aja." Mas Emang siapa yang cerita sama kamu nya? "Mas gak perlu tahu, intinya selagi masih bisa kita selesaikan kita selesaikan berdua, jangan undang orang lain masuk ke dalam hubungan kita, sekalipun itu udah kamu anggap sebagai mamak kamu sendiri, di luar hubungan kita yaudah fine fine aja, mala gak ngelarang sama sekali, toh sebelum kenal Mala mas nya udah Deket sama mereka." Kemala mengusap matanya yang bengkak lantaran menangis untuk pertama kalinya selama lima bulan lebih mereka berhubungan. Selama ini Kemala diam dan menghormati semua orang terdekat Adi, tapi kali ini sangat keterlaluan dan Kemala tidak tahan lagi, ia harus membicarakan hal ini kepada Adi. Beruntung Adi bukan lelaki yang modelnya ingin menang sendiri, hal yang membuat Kemala bertahan meskipun terdengar sangat tidak mungkin mereka akan bertemu nanti nya adalah hanya Adi yang bisa menerima dirinya tanpa embel-embel seharusnya kamu gini, kamu gitu. Cuma Adi yang bisa menerima dirinya dengan apa adanya, cuma Adi pula yang bisa mengimbangi sifat egois dan kekananakannya dan Adi pula yang minat kekurangan nya sebagai suatu kelebihan yang tidak dimiliki gadis lain. Jika ditanya ia bersyukur bisa bersama dengan Adi? Sangat bersyukur. Salah satunya ketika sang bapak selalu bersikap over protective kepada dirinya jika memilik kekasih, tapi kali ini bapak nya biasa saja malah bertanya kapan Adi bisa datang ke Medan. Hal yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah bapaknya lakukan. Dan kini, hubungan itu sudah berjalan setengah tahun tanpa ada perkelahian, saling egois atau saling menyalahkan. sesuatu yang sangat membuat Mala sendiri takjub. Sebab selama ini jika menjalin hubungan tak jarang selalu diisi dengan pertengkaran yang melelahkan. "Mas, kita kok gak pernah gelut?" Tanya Kemala tiba-tiba setelah terdiam cukup lama. Adi yang mendapat kan pertanyaan tidak berbobot dari gadisnya pun hanya bisa menghela nafas panjang lalu berteriak frustasi merasakan tingkah Kemala yang terkadang diluar nalar. "Gak mau lah, ngapain gelut orang gak ada masalahnya," ujar Adi yang diangguki Kemala. Ada benarnya juga sih, tapi kan dirinya juga pengen tuh berantem marah-marahan biar gak hambar kali ini hubungan. "Yok lah, ikan lele ikan belut.... Yok lek Gelut." Ajak Kemala lagi. "Enggak!" "Mas... Ayo gelut..." "Enggak mauu.." jawab Adi kekeh. Adi tetap pada pendiriannya, lagian kenapa harus gelut coba? Sedangkan mereka dalam kondisi baik-baik saja. Tidak ada cekcok, tidak ada masalah, kok yah tiba-tiba ngajak gelut.. Kemala sendiri sudah merengut tidak suka, kenapa doinya ini aneh sekali? Hubungannya yang kemarin saja hampir setiap hari ia beradu jari karena ngetik panjang kali lebar saling adu pendapat dan merasa paling benar. Yah maklum saja, selama ini Kemala selalu sengaja mencari kekasih yang jauh sehingga ia sudah terbiasa hubungan jarak jauh atau LDR. "Yok lah, Mas. Gelut, masa kita udah setengah tahu gelut pun tak pernah." Rengek Kemala yang meminta agar dirinya dengan Adi gelut atau dalam artian berkelahi. "La,nanti gelut nangis. Dah lah jangan ngada-ngadi kamunya, orang gak ada masalah kok tiba-tiba minta gelut, kalau Deket bisa aku samperin selesaikan secara langsung, lah kalau kayak gini gimana selesaikan nya? Dari hp? Yang ada makin ambyar." Kemala diam, ia merutuki idenya yang tidak ia pikirkan bagaimana dampak untuk hubungan mereka ke depannya. Bagaimana jika tadi Adi terpancing dan berakhir mereka berantem, habislah riwayat dirinya. "Jangan pernah ajak berantem lagi, ada masa nya kita bakal emosi bakal kesel, tapi jangan dipancing. Biar aja adem ayem kan enak, dari pada tiap hari ribut makan hati terus kamunya." "Yah maaf, lagian heran aja kok yah gak pernah gelut." "Bukan gak pernah, kayak pas aku nya ngeselin gak ada kabar, kamu milih sabar kan? Padahal bisa aja itu kamu marah-marah, kamu kesel atau gak kamu ninggalin aku, buktinya gak tuh! Kamu milih sabar, nunggu aku ngasih kabar padahal itu udah hampir semingguan loh, dan kamu juga tau kabar aku dari orang lain." Kemala terdiam, ia memang sempat kesal dan ragu dengan Adi kemarin, namun rasa marah dan kesalnya ia lampiaskan dengan menghapus semua chat dirinya dengan Adi dari awal dan itu yang paling membuatnya menyesal hingga sekarang. Tapi setelah itu ketika ia chat atau Adi menelpon sama sekali tidak menampakkan kemarahannya. Alhasil hubungannya kembali baik-baik saja sampai sekarang. "Mas juga, padahal Mala sering ganggu mas pas nulis yah, hahahaha... Mala ngeselin juga kalau gabut." "Karena menurut aku kenapa harus marah, toh masih normal-normal saja, selagi kamunya gak neko-neko di sana yah aku di sini juga gak neko-neko." "Kalau Mala neko-neko gimana?" Tantang Kemala dengan beraninya, padahal pada kenyataannya sama sekali tidak berani. "Yah gampang, kalau kamu neko-neko aku laporkan sama mamak... MAK LIHAT INI MALA MAU NEKO-NEKO." Kemala langsung tersentak kaget, apalagi begitu telinganya dapat mendengar suara tawa milik ibunya Adi. "Si anjir, Bambang! Ngapa dibilang dodol. Enggak Mak, mas Adi bercanda itu ngada-ngadi." Panik Kemala yang mengundang gelak tawa Adi. "Lah tadi dia yang bilang sendiri mau neko-neko yaudah sekalian aku bilang lah sama mamak biar Afdhal." "Afdhal gundulmu, aduan akh! Gak enak banget."Rajuk Kemala dengan nada yang mendramatis. Adi semakin tertawa ngakak, betapa absurd nya tingkah Kemala, dan sialnya entah kenapa ia bisa kecantol bocah kemarin yang baru saja masuk grup beberapa hari, padahal ada banyak penulis lain yang sudah terlebih dahulu ia dekati malah ada yang mau di ajak serius, bahkan tak jarang penulis lain mengira dirinya naksir salah satu anggota grup, Ana misalnya. "Ngetawain Mala masuk neraka jalur ngejek baru tau rasa mas. " "Nyenyenyenye.... Misik niriki jilir ngijik biri tii risi." Kemala mendesis tidak suka, kekesalannya semakin bertambah lantaran mendengar suara Adi yang mengejeknya. "NYEBELIN, MINTA DIBAKU HANTAM MEMANG! GAK TEMEN SAMA MAS ADI!" "BAHAHAHAHAHAHA... YA ALLAH HAHAHAHAH..." Tawa Adi tidak lagi bisa ditahan, pemuda situ bahkan sampai membuat telinga Kemala berdengung sakit sangking kerasnya suara tawa itu. Adi kambeng memang, paling jago buat orang emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD