Touched

2222 Words
Setelah jam kerjanya usai, Anjani kini berjalan menyusuri pantai menuju cottage yang kini di tempati oleh CEO barunya. Angin pantai membuatnya bergidik seketika. Apalagi sejak tadi setelah istirahat makan siang ia merasa wajahnya sedikit pucat, yang sempat menarik perhatian Wita. Namun ia tetap menjalankan niatnya yang ingin mengembalikan jas milih Gerald agar urusan ini cepat selesai. Sesampainya di depan pintu, Anjani bingung harus menekan bel,mengetuk pintu ataukah meninggalkan paper bag itu di depan pintu saja. Ia tiba-tiba merasa sangat pusing dan mengetuk pintu dengan cepat. "Ada apa?“ tanya Gerald begitu membuka pintu. " Maaf pak saya mengganggu bapak. Saya cuma mau...." dan Anjani seketika meluruh ke lantai yang langsung di tangkap oleh Gerald dengan sigap. " Anjani...Jani kamu kenapa?" ia lalu menggendong Anjani masuk dan menidurkannya di tempat tidur miliknya. Setelah membenarkan posisi tidurnya, Gerald merapikan rambut yang menutupi wajah Anjani dan mengusap pipinya lembut. Menggenggam tangannya "Kamu demam, kamu pucat skali. Apa yang terjadi sama kamu?". Gerald kini terduduk di samping Anjani karena mengusap lembut rambutnya dan tanpa sadar Anjani langsung memeluk pinggang Gerald dengan erat sambil tetap tertidur. Ia terlihat nyaman memeluk Gerald. Membuat Gerald ikut memeluk tubuhnya dan kembali mengusap lembut pipinya. Perlahan Gerald mencoba melepaskan pelukan Anjani di pinggangnya, dan mencium keningnya dengan lembut. Ia lalu memesan semangkuk bubur ayam dan obat penurun panas melalui room service. Sambil menunggu pesanannya datang, ia mengompres Anjani dengan sapu tangan miliknya. Ia melupakan pekerjaan yang sejak tadi ingin diselesaikannya sebelum mendengar bunyi dan melihat Anjani yang beridi dibalik pintu. Ia segera bergegas ketika bunyi bel kembali terdengar, dan tampak seorang room service membawakan nampan berisi pesanannya. Ia mengambil nampan itu tanpa membiarkannya masuk melewati pintu. Gerald tidak ingin seseorang melihat Anjani yang kini terbaring di tempat tidurnya dan menimbulkan berbagai pertanyaan. Ia mengusap lembut pipi Anjani untuk membangunkannya. Anjani lalu membuka matanya dengan lemah. Namun terkejut melihat Gerald dan ruangan di sekitarnya. "Aku dimana?" tanyanya dengan nada suara yang hampir tidak bisa terdengar dan mencoba bangkit dari tempat tidur. Gerald menahannya dan menyuruhnya duduk di sandaran tempat tidur. "Kamu istirahat dulu. Jangan kemana-mana. Ini makan dulu" Perintah Gerald sambil menyodorkan sendok tepat didepan mulut Anjani. Anjani menggeleng " Nggak usah. Saya nggak lapar. Saya juga nggak apa-apa. Mungkin cuma masuk angin atau kecapean. Saya pulang aja" "Saya nggak akan membiarkan kamu pergi sebelum kamu makan dan demam kamu turun" ucap Gerald yang kembali menyendokkan bubur untuk Anjani. Dan Anjani langsung membuka mulutnya. Tidak ada yang berbicara sampai akhirnya bubur dalam mangkuk itu kini telah habis tak bersisa. Gerald tersenyum melihatnya "Ternyata kamu memang nggak lapar" lalu mengambilkan segelas air untuk Anjani dan memberinya obat untuk diminum. Anjani menurut saja pada semua yang Gerald suguhkan. Namun ia terkejut ketika Gerald tiba-tiba meletakkan punggung tangannya pada leher dan keningnya. Dan kini jarak mereka begitu dekat. "Jangan sakit lagi Anjani. Jangan terlalu maksain diri kamu" Ucap Gerald dengan lembut dan mengusap puncak kepalanya. Kini jantung Anjani benar-benar berdetak tidak karuan. Mengapa Gerald begitu manis padanya. Apakah Gerald baru saja mengkhawatirkannya? Anjani lalu menarik tangan Gerald yang hendak berdiri dari sisinya. "Makasih Pak...Untuk___ Untuk semuanya. Bapak sudah beberapakali membantu saya. Saya harap bapak selalu sehat dan bahagia." Namun Anjani merasa kalau tangan Gerald terasa lebih hangat dari telapak tangannya. Ia lalu bergegas berdiri berjinjit mencoba menyamai tinggi Gerald dan meletakkan punggung tangannya pada kening Gerald. Anjani memang memiliki postur tubuh yang cukup tinggi namun ternyata Gerald juga lebih tinggi darinya. Hal yang juga baru disadarinya. "Bapak juga demam?" Tanyanya sambil menyurih Gerald duduk di tepi tempat tidur. Gerald yang kini mengerjapkan matanya menggeleng lemah. "Saya nggak tahu. Hanya saja sejak tadi sore saya emang pusing banget. Atau kamu yang nularin saya?" tanyanya sambil mencoba berbaring di tempat yang tadi Anjani tempati. " Bapak sendiri nggak enak badan, malah ngurusin saya. Udah makan?"Gerald hanya mengangguk sambil menutup matanya. "Ya udah,bapak istirahat saja. Saya akan panggilin orang buat temanin bapak dulu. Saya pamit pulang saja pak. Atau bapak mau saya panggil pacar bapak atau asisten bapak mungkin?" Mendengar ini Gerald langsung membuka matanya dan terduduk menatap sinis pada Anjani " Tadi saat kamu demam saya jagain kamu sampai saya lupa kalau juga lagi nggak enak badan. Skarang kamu mau pergi ninggalin saya? Kamu nggak boleh kemana-mana, kamu juga masih demam. Ambilin saya obat yang tadi" "Ooowwhh, oke" Anjani langsung mengambil obat yang tadi juga diminumnya dan memberikannya pada Gerald. "Bapak istirahat dulu, saya bawa ini ke meja depan" Anjani lalu membawa nampan berisikan segala peralatan makannya ke meja yang terletak di ruang tamu. Setelah sedikit merapikan ruangan itu ia mendengar Gerald yang sepertinya sedang mengigau. Ia lalu mendekatinya dan mengusap keringat yang ada di dahi mantan suaminya yang kini menjadi atasannya. **** Cahaya matahari pagi masuk melalui sela-sela tirai kamar yang penghuninya masih terlelap dengan nyenyak itu. Anjani mengerjapkan matanya dengan malas merasakan sesuatu yang bergetar di dekatnya. Saat membuka matanya, ia lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan karena terkejut. Entah mengapa posisi mereka kini bisa seperti sekarang. Anjani yang tidur dalam pelukan Gerald dan satu tangan Gerald yang kini melingkar pada pinggangnya. Anjani dengan perlahan melepaskan tangan Gerald dan bergerak turun dari tempat tidur. Ia meraba seprai dan mencari benda yang sejak tadi bergetar karena takut akan membangunkan si pemilik kamar dan membuat suasana ini menjadi lebih canggung. Setelah menemukannya, dengan cepat ia mematikan alarm hariannya dan menghela napas. Ia lalu menengok ke dalam baju yang dipakainya dan memeriksa apakah ia masih mengenakan pakaian dalam. Anjani kembali menghela napas karena lega mereka tidak melakukan hal yang tidak mereka sadari yang bisa menjadi masalah baru nantinya. Tentu saja ia tidak ingin terlibat hubungan satu malam bersama sang CEO yang juga mantan suaminya, terlebih Gerald sekarang memiliki kekasih. "Bisa ribet kalau kelepasan sama pacar orang,untuung..untung..." gumamnya sambil mengambil barang-barangnya. Ketika hendak keluar dari kamar, Anjani menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Gerald yang kini masih terlelap. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada Gerald dan memeriksa keningnya. Anjani tersenyum karena suhu tubuh Gerald kini sama dengannya. Ia menatap wajah Gerald dengan lekat lalu mencium keningnya dengan lembut. " Jangan sakit lagi big boss" Ia lalu meninggalkan ruangan itu nyaris tanpa suara. Namun Anjani tidak menyadari kalau sebenarnya Gerald telah terbangun dari tidurnya beberapa saat sebelum Anjani membuka matanya. Namun ia memutuskan kembali menutup matanya. Menikmati momen yang mungkin tidak akan pernah lagi akan dirasakannya. Merasakan wanita yang dicintainya memeluknya dengan hangat. Menyaksikan kekonyolan yang dilakukannya. Mendapatkan kecupan manis di pagi hari yang membuatnya kembali menyadari kalau ia masih sangat mencintai Anjani. **** Hari ini Anjani sedang libur dari hotel dan kini sedang merapikan meja coffee shop yang akan tutup sebentar lagi karena jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Sudah dua hari ia tidak bertemu Gerald di hotel. Dari berita yang didengarnya kemarin, Gerald sedang sibuk dengan pembukaan hotel di daerah puncak yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Entah mengapa sejak hari itu ia selalu memikirkan Gerald. Bahkan saat bersama Sandra dan Nala ia seperti berada dalam imajinasinya sendiri. Hingga membuat kedua sahabatnya protes karena Anjani sedang fokus akan pembicaraan mereka.Ia mengingat bagaimana Gerald mengurusnya hari itu, bagaimana ia sangat terlelap dalam pelukan Gerald, dan keberanian yang dilakukannya ketika mencium kening mantan suaminya itu. "Aku pasti udah gila, kenapa juga jadi sering mikirin dia. Dia pasti ngelakuin itu karena kemanusiaan, karena kasian, ya iyalah Janiii masa iya dia khawatir. Yang ada dia pasti malah mau ngeracunin kamu, lagian dia pacar orang Jani" ucapnya pada diri sendiri. Setelah selesai, ia lalu mengambil jaket kulitnya dan memakai sling bag yang disimpannya dalam locker. " Mas Indra, aku udah selesai, duluan ya" pamit Anjani pada Indra, si pemilik coffee shop dan di jawab dengan lambaian tangan dan senyuman oleh Indra yang kini sibuk dengan struk dan kalkulator. Anjani berjalan keluar dari coffee shop sambil mengikat rambutnya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya bersiap memesan ojek online sambil berjalan menuju jalan raya. Ia terkejut saat seseorang merampas ponselnya dan menarik tangannya. Namun ia tetap mengikuti langkah kaki orang tersebut. Memperhatikan orang yang kini memegang tangannya. Ia masih mengenakan setelan jas hitamnya lengkap dengan dasi dan pantofel mahalnya. Menawan, itu yang Anjani lihat bahkan hanya dari sisi sampingnya.Dan entah mengapa jantungnya selalu berdetak hebat setiap kali mereka bersentuhan. " Pak Gerald, ngapain disini? Saya mau dibawa kemana?" Mereka berhenti di samping sebuah motor sport hitam yang terparkir tidak jauh dari coffee shop Anjani bekerja. Gerald lalu memberikan ponsel Anjani dan duduk di atas motor tersebut sambil memakai helmnya. "Naik," perintahnya pada Anjani tanpa menoleh. "Saya pak? Bapak mau saya naik motor ini sama bapak? Bapak mau boncengin saya?" tanya Anjani keheranan. Gerald yang kini telah memakai helmnya menoleh pada Anjani dan membuka kaca helm yang dipakainya. "Iya, cepat naik" Anjani yang heran masih tidak bergeming mengikuti perkataan Gerald "Kenapa? Kamu nggak mau kalau saya yang jemput kamu? Kamu nggak suka naik motor?Atau kamu lebih suka diboncengin ojek online?" tanyanya dengan sinis. Mendengar itu Anjani menurut saja dan duduk di belakang Gerald. "Bukan gitu pak. Kaget aja bapak tiba-tiba ada disini dan mau boncengin saya. Biasanya kan bapak marah-marah" Ucapnya santai sambil memegangi pundak Gerald untuk memudahkannya naik ke motor yang agak tinggi itu. " Pegangan, saya nggak bawa helm. Kalau kamu jatuh saya nggak mau ngurusin kamu" ucapnya sambil menjalankan motornya lalu mengeremnya dalam-dalam. Anjani tentu saja terkejut dan membuatnya refleks memeluk pinggang Gerald. Gerald yang tersenyum melihat wajah sinis Anjani dari spion lalu menarik kedua tangan Anjani dari pinggangnya dan melingkarkannya pada perutnya. Tarikan Gerald itu kini membuat Anjani menempelkan dadanya pada punggung lebar miliknya. Lalu dengan segera ia melajukan motornya. Anjani kini menyandarkan kepalanya di punggung Gerald. Sungguh ia sangat menikmati ini. Ia merasa sangat nyaman dan bahagia. Gerald yang merasakan gerakan Anjani tersenyum dan memegani tangan Anjani yang masih melingkar di perutnya. Mereka berhenti di sebuah gerobak nasi goreng yang ada di pinggir jalan. Anjani segera turun dan merapikan rambutnya. Gerald yang melihat itu langsung menarik ikatan rambutnya dan membuat rambut panjangnya tergerai bebas. Membuat Anjani memberengut namun Gerald dengan santai menarik tangannya dan memasuki tenda gerobak tersebut. " Eehh nak Gerald, ayo ayo duduk" sapa si ibu yang mungkin adalah istri dari si pembuat nasi goreng tersebut. "Seperti biasa ya bu...Tapi yang satunya jangan terlalu pedes" Pinta Gerald pada si Ibu sambil mengambil ponsel dari saku dalam jas yang dipakainya. "Saya lagi di Jakarta, handle semua sampai saya ada di sana. Dan jangan lupa email ke saya setiap laporannya" dan ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. "Bapak bukannya lagi di Bandung? Kok sekarang bisa ada di sini?, Ohh, kangen sama pacarnya ya pak?" Tanya Anjani sambil mencoba melihat ekspresi wajah Gerald. "Sok tahu" Jawab Gerald sambil menyentil jidad Anjani dengan pelan. Dan membuat Anjani mengusap jidadnya lalu menoleh karena si Ibu pemilik warung kini datang membawa pesanan mereka. "Yang pedes banget untuk mas Gerry, yang nggak pedes banget buat mbak Anjani" Ucapnya yang langsung membuat Anjani heran dan menatap Gerald penuh tanya " Kok si ibu tahu nama saya? Bapak suka ngomongin saya ya? Saya tahu bapak benci sama saya, tapi ngomongin orang lain sama orang yang nggak ada hubungannya juga nggak baik" bisiknya pada Gerald dengan pelan. " Tahu darimana aku benci sama kamu?" tanya Gerald sambil menatap tajam Anjani tepat di manik matanya. "Ng...udahlah makan aja..." Anjani kini salah tingkah dibuatnya. Mereka tidak banyak bicara hingga makanan mereka kini habis tak bersisa. Setelah Gerald membayar, mereka lalu pamit pada pasangan suami istri itu dan berjalan menuju motor yang tadi mereka tumpangi. "Pak...Makasih ya udah traktirin saya makan malam. Biarpun saya nggak tahu kenapa. saya bener-bener berhutang banyak sama bapak. Dan saya takut saya nggak bisa membalasnya nanti. Mmm...kalau gitu, saya pamit ya pak" Anjani memulai percakapan karena melihat Gerald yang kelihatan lelah. " Aku antar kamu aja. Sudah malam juga. Dan ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu" lalu ia menggandeng dan menggenggam tangan Anjani lembut. Anjani bahkan tidak mencoba untuk menolaknya. Dan entah mengapa mendengar Gerald mengubah saya menjadi aku membuat Anjani merasa lebih dekat dengannya. Setelah sampai di depan apartemen Anjani, Gerald mengeluarkan ponselnya karena ia merasa sejak tadi benda pipih itu terus bergetar di dalam sakunya. " Halo Cher, sorry aku tadi lagi di jalan. Ada apa?" Gerald terlihat serius mendengar jawaban dari seberang sana. " Ya udah, aku kesana sekarang." Dan Gerald langsung memutuskan panggilannya. " Anjani aku harus pergi. Aku akan temuin kamu nanti untuk membicarakan yang aku maksud. Kamu masuk aja" ucapnya sambil menyalakan mesin motornya dan tanpa menunggu jawaban Anjani ia langsung bergegas pergi. Anjani berjalan lunglai memasuki lift yang akna membawanya ke lantai milik unitnya berada. Ia penasaran kira-kira apa yang ingin Gerald bicarakan sampai harus datang menjemputnya di kafe. Dan baru saja ia keluar dari lift, ia lalu melihat Nala yang kelihatan baru saja datang dari arah unit miliknya. " Nala...Darimana?Nyariin aku?" tanyanya dengan tiba-tiba menghalangi langkah Nala. "Mau darimana lagi? Baru pulang? Udah makan?" Anjani hanya menjawab dengan mengangguk sambil tersenyum. "Ya udah, temanin aku aja. Aku laperrr banget dari Rumah Sakit". Nala langsung menarik lengannya memasuki lift menuju lantai bawah. Di bawah, Gerald baru saja memarkirkan motornya untuk naik menuju unit Anjani, ia memutuskan memutar kendaraannya dan menemui Anjani karena merasa tidak enak meninggalkannya seperti tadi. Namun baru saja ia hendak melepaskan helm nya, ia melihat Anjani yang baru saja memasuki mobil bersama pria yang dulu dilihatnya memeluk Anjani. Gerald kembali menaiki motornya lalu bergegas meninggalkan tempat itu sebelum Anjani melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD