Mulai hari ini Gerald meminta Ryo untuk memindahkan Anjani sebagai Receptionist. Awalnya Ryo ingin bertanya mengapa Anjani bisa dipindahkan, dan hal ini tentu saja akan menjadi bahan pembicaraan karyawan lain, tapi mengingat yang memerintahkan dirinya adalah pemilik hotel ini sendiri, tentu niat itu harus dilupakannya.
Bukan tanpa alasan Gerald memindahkan Anjani ke bagian lain. Ia hanya tidak menyukai Anjani melayani orang lain. Ia tidak menyukai jika melihat Anjani harus keluar masuk kamar tamu untuk membawakan pesanan mereka. Ia tidak bisa menyingkirkan pikiran buruknya akan Anjani dan kemungkinan yang dilakulannya bersama para tamu. Entah pikiran buruk itu datang darimana, dan hal itu sangat mengganggunya.
Anjani tentu saja senang mendengar informasi yang baru saja didengarnya. Ia melompat kegirangan akan posisi yang akan ditempatinya. Ia diberitahu oleh pak Ryo bahwa ia hanya akan menggantikan salah satu receptionist yang sedang cuti melahirkan. Meski hanya sementara, namun ia sangat senang. Paling tidak ia tidak akan bertemu Gerald di dalam cottagenya. Ataupun mendengarkan ia yang sedang berbicara dengan lembut dengan kekasihnya.
"Jan, kamu beruntung banget. Aku senang banget bisa sama kamu disini" ucap Sandra sambil merapikan anak rambut dari kepala Anjani.
" Iya, aku juga. San,ajarin aku ya...Sapa tau aja aku bisa disini terus". Balas Anjani dengan antusias.
Tok Tok
Pak Ryo lalu mengetuk meja di hadapan mereka
" Jangan kebanyakan ngobrol saat jam kerja, pak Gerald sekarang rajin banget mantau Cctv-nya, tau sendiri kan pak Gerald orangnya nggak suka bercanda." tegur pak Ryo yang langsung membuat Anjani dan Sandra menutup mereka dengan jari telunjuk dan membuat mereka bertiga tersenyum.
Senyum mereka tiba-tiba harus terhenti saat receptionist lain memberi isyarat untuk melihat ke arah pintu masuk.
Gerald memasuki lobby hotel itu dengan kacamata hitamnya. Dengan kemeja dan setelan jas yang juga berwarna hitam. Entah mengapa sekarang Anjani merasa Gerald semakin menjaga jarak dengannya. Tidak seperti receptionist wanita lainnya yang terlihat antusias, ia hanya menghela napas pelan saat mengingat bagaimana Gerald menyaksikan dirinya ditampar, bagaimana Gerald yang setelah kejadian itu seperti menganggapnya tidak ada saat mereka tidak sengaja bertemu di dalam private cottage miliknya, bahkan dengan jelas seperti tidak ingin terlibat apapun dengan dirinya.
Bahkan ponsel miliknya hanya diletakkan di meja ruang tamu yang ada diruangan itu. Tanpa mengatakan apapun. Sungguh Anjani lebih menyukai Gerald menyuruhnya melakukan hal-hal aneh daripada menganggapnya seperti tidak ada.
****
Saat ini Anjani sedang berjalan di trotoar dekat hotel tempatnya bekerja. Sambil memainkan ponsel yang sudah beberapa hari dianggapnya hilang.
Anjani terhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Dan saat si pengemudi membuka kaca di kursi penumpang di sebelahnya, ia tersenyum memamerkan lesung pipinya.
"Maaf pak, saya nggak lagi pesan taxi online" godanya pada si pengemudi
" Nggak apa-apa mbak. Dibayar pake sate juga boleh" Jawab si pengemudi sambil membuka pintu mobil penumpang dari dalam.
Tanpa mereka sadari ada sebuah mobil lain yang daritadi mengamati interaksi diantara mereka. Yang saat Anjani menutup pintu mobil itu, ia langsung memukul kemudinya dengan keras.
" Apa yang kamu lakukan sih Anjani? Kamu dulu bilang kamu nggak tertarik sama harta saya ataupun keluarga saya. Tapi skarang,smua kamu kerjain hanya untuk dapatin uang."
Gerald yang tanpa sadar mengikuti arah pergi mobil yang Anjani tumpangi, terpaksa harus memutar arah ponselnya berdering dan menampilkan nama mamanya pada layar. Ia hampir saja melupakan kalau malam ini ia memiliki janji makan malam bersama mamanya dan menemaninya untuk membelikan Cheryl hadiah karena sebentar lagi ia akan merayakan ulang tahunnya.
****
"Ger, kamu makan apa sayang?" tanya Arini pada anak sulungnya.
"Apa aja deh ma, yang nggak berat aja" jawabnya sambil membuka beberapa pesan di ponselnya.
Setelah mengambil pesanan perhiasan di toko perhiasan langganan milik Arini dan berkeliling sedikit, tentu saja mereka tidak sempat jika harus pulang untuk makan malam bersama di rumah. Dan sampailah mereka di salah satu rumah makan jepang yang menjadi kesukaan Arini.
" Aburi salmon roll satu, chicken karage salad satu, hakone satu, hot ocha satu, lemongrass lychee satu, air mineral dua. Mau yang lain Ger?" tanya Arini sambil melipat buku menu dan mengembalikannya pada waitress yang berdiri di samping mereka.
"Nggak ma...itu aja." jawab Gerald tetap menatap layar ponselnya.
Arini hanya tersenyum dan geleng kepala melihat anaknya tidak pernah tertarik dengan dunia luar selain pekerjaanya. Sesekali ia mengajak Gerald berbicara dan hanya ditanggapi dengan iya dan tidak.
" Kamu baru ya?kamu nggak tau saya siapa?"
Gerald dan Arini yang sedang bersiap menyantap makanan mereka tiba-tiba terkejut, lalu mereka bersamaan menoleh pada arah datangnya suara. Dilihatnya seorang wanita yang umurnya hampir sama dengan Arini sedang memarahi seorang pelayan. Arini hanya menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada makannya.
" Nama kamu siapa?siapa? Anjani? kamu tahu berapa harga baju saya?"
Mendengar nama Anjani disebut, Gerald tanpa sadar menoleh yang juga diikuti oleh Arini.
Wanita yang baru saja disiram wajahnya oleh wanita tadi memang benar adalah Anjani. Gerald tanpa sadar meremas serbet yang ada di atas meja dengan tangannya. Tapi mengingat apa yang tadi dilihatnya dan kejadian beberapa hari lalu saat Anjani merangkul pria lain, ia mencoba tidak menghiraukannya dan kembali memakan makanan di hadapannya. Arini pun mencoba melakukan hal yang sama namun sisi kemanusiaan dalam dirinya sangat tidak menyukai apa yang dilihat dan didengarnya.
"Eh kamu, jawab? kamu tahu harga baju saya berapa?mahal.sangat mahal.tas saya yang ikut terciprat juga mahal. kamu jual diri berapa kalipun nggak akan bisa kamu ganti. Trus skarang kamu mau minta maaf? kamu berlutut, setelah itu akan saya pikirkan untuk terima ganti rugi kamu. Cincin kawin kamu ini nggak ada nilainya"
Mendengar itu Arini menghentikan kegiatan makannya dengan kasar.
"Ger, kamu kok diam aja? Nggak kasian apa ibu itu udah keterlaluan sama Anjani. Lakuin sesuatu dong Gerry" desak Arini pada anaknya.
"Mama nyuruh aku nolongin Anjani? Apa mama serius?" tanya Gerald dengan heran. Ya,tentu saja ia heran dengan sikap Arini saat ini. Beberapa hari lalu ia menampar Anjani dua kali dan menghinanya, tidak lebih baik dari yang wanita tadi lakukan pada Anjani. Dan sekarang, ia malah menyuruh Gerald menolong Anjani
" Ya iyalah serius Ger. Lihat deh,managernya juga ngga berani kayaknya. Kesel banget mama liatnya. Kalau bukan kamu, siapa yang harus nolongin. Kasian ih dia digituin orang"
" Iihh,kamu kelamaan ah Ger" ucap Arini yang langsung berdiri dari kursinya karena tidak sabar dengan gerakan Gerald yang terlalu lambat.
Anjani hanya menunduk sambil mengucapkan maaf berulang kali. Kini bersiap ingin berlutut, namun langsung dicegah oleh Arini yang kini memegangi pundaknya.
Anjani terkejut melihat Arini yang kini merangkul pundaknya.
"Tolong ibu jangan keterlaluan. Dia kan sudah minta maaf, dia bersedia ganti sebisanya. Lagian dia pasti nggak sengaja. Ibu jangan kelewatan nyuruh orang berlutut" Ucap Arini pada wanita yang sedang melipat tangan didada yang kini ada dihadapannya.
"Ibu siapa?nggak usah ikut campur. Ibu nggak tau siapa saya?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Saya nggak kenal ibu, Anjani nggak kenal ibu, berarti ibu nggak cukup terkenal. Berapa sih harga baju ibu? Kalau emang ibu orang kaya banget, nggak perlu marah dong kalau cuma baju gitu aja. Kecuali kalau belinya juga pake nabung dulu berbulan-bulan. Tas ibu juga bukan asli. Tadi ibu paling terakhir bersihin tasnya, nggak kelihatan panik. Berarti nggak mahal, bukan asli. Nggak usah lebay. Ini 1juta,bisa buat ke laundry dan beli tas baru di online shop. Ibu mau nipu lihat CCTV dulu" ucap Arini sinis namun bisa membuat ibu tadi meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata lagi.
Arini membawa Anjani yang masih menangis keluar dari tempat itu. Membawanya ke parkiran mobilnya. Anjani menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapan Arini. Lalu berlutut, menangis dan memegangi kaki Arini.
" Tante Arini, maafin saya. Maafin saya tante. Saya tau saya salah. sangat salah. Tante boleh mukul saya, boleh nampar saya, boleh lakukan apapun untuk keluarkn semua amarah tante sama saya selama ini. saya pantas dapetin smua itu. Saya sudah jahat sama tante dan Gerald, sama keluarga tante. Saya salah tante. Maafkn saya"
Arini yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan Anjani, tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih saat Gerald kini berjalan ke arahnya.
" Ger, cepet sini. Bantuin mama" pintanya sambil mencoba menarik Anjani agar berdiri.
Gerald yang kini berdiri dihadapan Anjani, menarik dan menatapnya tidak suka.
" Apa sih mau kamu?"
Lalu menarik Anjani menaiki mobilnya, mendudukannya di kursi sebelah pengemudi. Memasangkan sabuk pengamannya. Lalu menutup pintunya dengan keras. Membuat Anjani menutup matany karena terkejut.
Setelah membukakan pintu untuk Arini, ia lalu menjalankan kendaraannya dan mengantarkan Anjani untuk pulang.
Selama perjalanan tidak ada satupun dari mereka bertiga yang mengucapkan sepatah kata. Sampai mereka tiba di alamat yang diberikan Anjani sebagai alamat tempat tinggalnya, Anjani hanya mengucapkan terima kasih yang dijawab dengan senyuman dan anggukan kecil dari Arini. Namun Gerald bahkan tidak menoleh padanya.
****
Anjani menghempaskan tubuhnya di sofa abu-abu miliknya (milik Nala maksudnya). Ia menyadarkan kepalanya menghadap langit-langit. Mengingat kejadian tadi sungguh diluar bayangannya. Arini, orang yang beberapa hari lalu menampar dan menghinanya, kini malah berdiri membelanya. Merangkulnya dan bahkan bersedia mengantarkannya pulang. Dan jangan lupakan Gerald yang tadi menarik tangannya, memasangkan sabuk pengamannya dengan jarak yang begitu dekat dengan wajahnya. Membuat Anjani bisa merasakan nafasnya yang hangat tepat di wajahnya. Anjani merasa frustasi dengan anak dan ibu tadi. Sikap mereka sungguh sama persis. Terkadang mereka bisa sangat baik, sangat manis, sangat hangat. Tapi tanpa alasan yang jelas mereka juga berubah menjadi sedingin es.
Anjani lalu meraba dadanya,memegangi kalung yang selama ini dipakainya. Ia menyesal telah menyerahkan cincin miliknya pada ibu tadi. Tadinya ia menyimpan cincin itu agar suatu hari saat bertemu Gerald nanti, ia akan meminta maaf dan mengembalikan cincin pemberiannya itu, namun apa boleh buat kini cincin pernikahan mereka dulu entah kemana perginya.
Ia lalu membuka kalung yang biasa dipakainya untuk menggantungkan cincin itu dilehernya. Saat membuka lemari untuk menyimpan kalung itu, ia baru sadar kalau jas milik Gerald yang dipinjamkannya saat itu belum ia kembalikan setelah diambilnya dari binatu. Ia lalu mengambilnya agar besok ia tidak lupa untuk mengembalikannya kepada sang pemilik. Tanpa sengaja ia meraba saku yang ada di sisi dalam jas tersebut. Anjani menemukan sebuah dompet berwarna coklat tua. Ia membukanya ingin tahu siapa pemilik dompet ini. Mengingat jas ini sudah dibawanya ke binatu beberapa hari lalu. Namun yang dilihatnya sungguh membuatnya terkejut. Ini foto dirinya. Foto Anjani beberapa tahun yang lalu. Dibukanya kartu yang lainnya dan bertuliskan Gerald Javier Winata.
"Berarti ini memang dompet Gerald. Tapi kenapa foto lama aku bisa disini? Apa iya dia sengaja nyimpen foto aku? Tapi untuk apa?" lamunan Anjani terhenti ketika ponselnya berdering.
"Yess manager?" ucapnya lemas.
"Loh kenapa? sate tadi nggak bikin kenyang?lapar lagi?Ya udah,nanti pulang aku jemput,kita cari makan lagi ya". ajak Nala
" Nggak usah..Aku udah pulang. Ngantuuuk banget"
"Yaudahh...kamu istirahat ya...dont think too much, bye bye" balas Nala.
****
Sepeninggal Anjani, Arini langsung turun dari mobil dan duduk di samping putranya.
"Ger, Anjani tinggal di sini? kok bisa? ini kan lumayan mahal. Tapi sebenarnya Anjani itu punya berapa kerjaan sih?kayaknya kemana-mana dia melulu yang jadi pelayan. Mama penasaran apa yang terjadi sama dia ya?" tanya Arini bertubi-tubi pada anaknya.
" Mana Gerry tau ma, tadi kenapa nggak nanyain emang? Malah diem aja. Eh tapi mama tadi hebat banget loh, bisa bikin ibu tadi speechless gitu. Baru ketemu sama yang lebih cerewet dari dia kali ya ma?'goda Gerald pada ibunya.
"iisshh...apaan sih kamu. udah buruan, mama ngantuk" sanggah Arini dengan cepat. Mencoba mengalihkan pembicaraan putranya. Tentu saja ia malu jika harus membahas bagaimana ia membela orang beberapa hari lalu juga disakitinya.
****
Gerald POV
Aku sungguh tidak tahan mendengar setiap kata yang wanita itu keluarkan untuk Anjani. Mama mendesakku untuk membantu Anjani, namun rasa muakku padanya kembali meracuni pikiran ku. Melihat aku yang belum bergeming dari tempat dudukku, mama sudah lebih dulu berdiri dan menarik Anjani agar tidak berlutut meminta maaf. Aku sempat heran bagaimana mama bisa membela Anjani sedangkan ia juga baru saja membenci Anjani. Tapi satu hal yang kusuka dari mama adalah rasa kemanusiaannya yang besar. Mungkin setelah ia meluapkan amarah dan kecewanya pada Anjani selama ini, kini hatinya merasa lebih baik.Mungkin...
Ketika hendak mengikuti mama dan Anjani keluar, seorang gadis kecil menarik jas ku dan memberikan sebuah cincin padaku.
" Ini punya mbak tadi om, dikasih ke mama tapi di buang sama mama. Tolong dibalikin ya". ujarnya padaku sebelum keluar dan meningglakan tempat ini.
Ku lihat cincin yang kini kupegang di tanganku, aku langsung mengenali ini adalah cincin pernikahan ku dan Anjani dulu. Aku sempat merasa senang beberapa saat karena mengetahui kalau Anjani masih memyimpannya, namun aku kembali sadar bahwa nyatanya Anjani tidak menganggap ini penting karena ia baru saja memberikannya pada orang lain. Ya, Anjani akan melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya. Egois,sangat egois.
Aku berjalan menuju mobil ku yang ku parkir di area parkir samping rumah makan ini. Namun saat aku berjalan mendekati mama dan Anjani aku melihat Anjani sudah duduk bersimpuh di kaki mama. Meminta dan memohon maaf pada mama.
Mengapa ia bisa serapuh ini?mengapa ia bisa sebodoh ini?kemana perginya wanita yang dulu selalu menatapku sinis, wanita yang selalu tertawa sepanjang hari, wanita yang selalu mempertahankan prinsipnya. Wanita yang selalu bangga pada dirinya. Mengapa kini ia melakukan apa saja hanya untuk memuluskan jalannya atau apapun itu.
Aku mempercepat langkahku menariknya agar berdiri, lalu ku bawa ia untuk duduk di sebelah kursi pengemudi. kupasangkan sabuk pengamannya. Jarak yang begitu dekat membuatku bisa melihat sisa air mata pada bulu matanya, bibirnya yang memerah karena pasti sedari tadi ia menggigit bibirnya karena gugup dan panik.
Setelah mengantarkannya pulang, mama lalu memecahkan kebisuan yang sejak tadi tercipta di dalam mobil ini. Mama menanyakan padaku hal yang selama ini juga selalu ada di pikiranku. Apa yang terjadi padanya, mengapa ia bisa tinggal di apartemen ini, siapa pria yang selalu bersamanya, apakah mereka tinggal bersama, berapa pekerjaan yang dia punya, dan masih banyak lagi.
Semoga suatu saat aku bisa menanyakan langsung kepadanya.
****
" Jani, tadi kemana aja sih? Pak Gerald tadi dateng sama pacarnya loh..cantik banget. Kita kayak berasa nonton Mr and Mrs Smith in real life." Kata Wita salah satu receptionis yang tepat berdiri di samping Anjani.
" Oh ya? sayang banget ya, tadi aku dari toilet" jawabnya dengan senyum kecil.
Pasti wanita yang dimaksud adalah wanita yang saat itu datang bersama Gerald di pesta perkawinan sewaktu insiden tante Arini menamparku. Batin Arini menjawab pertanyaanya sendiri.
Anjani mengakui bahwa ia merasa aneh setiap melihat Gerald bersama wanita itu. Entah apa. Namun sungguh ia ingin Gerald menemukan kebahagiaan bersama wanita yang juga mencintainya. Gerald berhak bahagia. Ia pria yang baik. Gerald berhak mendapatkan wanita seperti Cheryl.
Saat Anjani sedang melayani seorang tamu yang hendak check out, Gerald terlihat akan keluar bersama wanita yang tadi Wita maksudkan. Benar saja, itu adalah wanita yang sama. Wanita yang memberi kesan ceria di wajahnya. Wanita yang selalu membuat Gerald sedikit mengangkat sudut bibirnya. Anjani melihat Gerald menggandeng tangan wanita itu, bahkan membukakan pintu untuknya. Namun entah mengapa ia selalu tidak menyukai saat wanita itu bersama Gerald. Apakah ia cemburu? Tidak...Anjani sadar bahwa ia tidak memiliki hak untuk cemburu mengingat apa yang dulu dilakukannya. Lagipula mereka sekarang hanyalah orang asing bukan?