Dita Mendorong Mobil

1130 Words
Mobil melaju dengan cepat ke arah salon Ibu Diana. Salon tempat Dita bekerja membantu Ibu Diana selama ini. Di tempat itu Dita banyak belajar bagaimana memotong rambut, perawatan wajah, mengecat rambut, dan masih banyak lagi.  Jeno yang cuek dengan santai menyetir mobilnya. Dia menggerakkan kepalanya sesekali menikmati musik yang dia putar. Dita diam saja, dia hanya bersandar malas menunggu sampai ke salon dengan cepat dan selamat.  Jeno meliriknya, Dita tidak melihat dan tetap bersandar kursinya. Tidak perduli sekeras apa musik yang diputar Jeno, Dita tidak lagi menggubrisnya. Hanya terus mendengarkan sampai Dita sakit kepala.  "Kenapa diem aja? Marah aku nyetel musik terlalu kencang?" tanya Jeno berbasa-basi. Dita tetap diam, dia mempertahankan egonya yang begitu besar. Khususnya ketika dia menghadapi Jeno si manusia super ngeselin seantero Jakarta.  "Kok saya dicuekin gitu, sih? Kamu serius marah sama aku, Dita?" tanya Jeno.  "Tapi ngomong-ngomong kamu marah karena apa ya?" lanjutnya yang membuat Dita tambah kesal dan diam.  "Hei Dita! Ngomong dong!" Jeno terus berbicara dengan Dita.  "Jelek... Ngomong apa, kek," lanjutnya terus mengganggu Dita.  Dita tidak mengerti dengan tunangannya, akhir-akhir ini bukan hanya sikapnya yang berubah tetapi kelakuannya juga berubah. Pria itu sering tidak jelas, kadang cuek dan kadang baik dan perhatian.  Saat keduanya terdiam, Jeno dan Dita fokus dengan pikirannya sendiri-sendiri. Namun tiba-tiba, mobil yang mereka berhenti di tengah jalan. Tentu saja Jeno kesal, dia melihat bensin mobilnya sudah habis.  "Loh, loh, loh, kok berhenti! Kenapa ini Jun?" tanya Dita yang merasakan firasat tidak baik ketika mobil itu berhenti dadakan.  "Mobilnya mogok. Kita harus cari bensin untuk mobil ini," kata Jeno.  "Kamu sih tidak di cek-cek dulu. Giliran bensin abis, baru deh kelabakan," sahut Dita dengan wajah kesal.  "Ya mau gimana lagi, ya sudah mending kamu turun dan dorong mobilnya!"  "What?! Aku dorong mobil?" Dita menunjuk dirinya sendiri. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya bahwa tunangannya meminta dia mendorong mobil.  "Iya, kalau bukan kamu siapa lagi yang harus dorong mobil. Nggak jauh kok, di depan ada pom bensin," jawab Jeno.  Dita benar-benar kesal dengan pria itu, dia terpaksa turun dan mendorong mobilnya. Tentu saja Dita kewalahan, tenaganya tidak cukup untuk mendorong mobil itu.  "Ayo Dita yang semangat dorongnya," kata Jeno di dalam mobil.  "Aku lelah, apa masih jauh pom bensinnya?" tanya Dita.  "Sedikit lagi." "Kenapa dari tadi cuma sedikit lagi, sedikit lagi. Kamu ngerjain aku, ya, Jun?" Dita yang lelah memilih istirahat di pembatas jalan. Jeno yang melihat gadis itu kelelahan, dia segera turun dari mobil dan menghampiri Dita.  "Minum ini," kata Jeno yang menyodorkan sebotol air mineral untuk Dita. Tentu saja Dita yang haus segera mengambil dan menenggaknya.  "Pelan-pelan nanti kamu tersed- Uhuk. Uhuk. Uhuk. Baru saja Jeno berbicara, bahkan kalimatnya belum selesai. Dita sudah benar-benar tersedak saat itu. Gadis itu mulai batuk-batuk tidak jelas.  "Belum selesai aku ngomong dan kamu susah tersedak," kata Juna penuh cibiran.  Dita tidak bicara apapun, selain lelah, haus, nafasnya juga ngos-ngosan. Tenaganya seperti terkuras habis begitu saja.  Jeno melihat gadis itu, sedikit kasihan tiba-tiba terpikir di hatinya. "Ya sudah kamu masuk kedalam mobil. Biar aku saja yang dorong," kata Jeno.  Lalu Dita menatap kesal wajah Juna. "Kenapa tidak dari awal? Kenapa aku yang harus mendorongnya?" Dita mendengus kesal.  Jeno tidak bicara apapun, dia hanya terkekeh geli melihat Dita yang seakan-akan begitu menderita. Dahinya berkeringat dengan wajah yang begitu merah kepanasan. Sungguh, Dita merasakan harinya sial saat itu.  Jeno yang melihat Dita sudah naik kedalam mobil, dia segera menghampiri. Dita melihatnya dengan malas. "Ngapain ke sini? Dorong saja mobilnya seperti yang aku lakukan sebelumnya? Jangan bilang kamu tidak kuat dan memintaku lagi yang mendorong.  Sebenarnya kenyataan itu memang benar, Jeno tidak bisa melakukan pekerjaan atau hal-hal yang berat yang membuatnya kelelahan. Dia bisa kolaps karena hal itu. Tetapi Jeno kasihan dengan Dita, tidak mungkin menyuruh gadis itu terus mendorong sampai pom bensin.  Tidak kehabisan ide, Jeno menghentikan mobil untuk membantunya membeli bensin.  "Dita, kamu tunggu sini ya! Saya mau beli bensin, saya tidak akan lama," ucapnya.  Dita membelalak, "kenapa tidak sedari tadi?" gumamnya.  Merasa kesal dengan tunangannya. Dita memukul-mukul kemudi mobil. Tidak menyangka bahwa pria itu akan mengerjainya mendorong mobil.  "Awas saja kamu Juna! Kamu cowok paling nyebelin yang bikin aku pengen cekik kamu rasanya."  Tidak lama Jeno datang, pria itu datang dengan ojek online. Itu dilihat dari seragamnya yang berwarna hitam dan hijau.  Sudah lega, Jeno sudah mengisi bensin untuk mobilnya. Jeno mulai menyalakan mesin mobilnya, sudah berhasil. Mobil itu sudah kembali normal.  "Kamu kenapa Dita? Kamu kelihatan capek?" Jeno terkekeh, dia menggoda Dita saat itu. Tak segan, Dita langsung saja memberi pukulan terhadap Jeno.  BUGH! BUGH! Dengan keras Dita memukul Jeno, dia mengerahkan semua kekuatannya saat itu. Terlalu kesal sampai-sampai moodnya begitu buruk saat itu.  Mobil sudah kembali jalan, mereka menikmati perjalanan itu hanya dengan saling diam, suasana begitu sepi di dalam mobil itu. Hanya Jeno yang sesekali menjatuhkan lirik singkat di wajah Dita.  Sudah beberapa menit berlalu, Dita sudah sampai di depan salon. Segera dia turun dari mobil. Tanpa pamit dan basa-basi seperti dulu, Dita langsung berjalan ke depan pintu masuk salon. Jeno memanggilnya. "Dita, mau dijemput, tidak, pulangnya?" tanya Jeno dengan ramah.  "Tidak usah, aku bisa pulang sendiri," jawab Dita dengan tegas tetapi Jeno menolak balik keinginan Dita.  "Tidak bisa, aku harus jemput kamu. Papa yang memintaku, jika aku tidak menurutinya papa akan marah padaku," ucapnya.  Dita membuang pelan-pelan nafasnya, dia melihat Jeno kemudian menjawabnya. "Terserah kamu kalau mau jemput, ya, jemput saja," kata akhirnya. Sementara Dita masuk kedalam salon, Jeno melanjutkan perjalanannya menuju kampus. Sangat malas hari itu, mengajar sama sekali bukan bidangnya. Tetapi mengingat banyak mahasiswi cantik dan keren, Jeno sedikit terhibur untuk tetap berangkat ke kampus.  Mobil melaju cepat ke arah kampus. Setengah jam sudah berlalu dan Jeno sudah sampai di depan bangunan universitas. Segera mobil itu masuk tempat parkiran.  Setelah memarkir mobilnya, Jeno turun. Tak disangka dia berpapasan dengan mahasiswi cantik bernama Ara yang kemarin berkenalan dengannya.  "Halo pak dosen ganteng!" Ara menyapa dengan dengan semangat.  "Hai Ara," balas Jeno bersikap datar dan biasa. Itu taktik supaya mahasiswinya penasaran.  "Kita jalan bareng yuk, Pak. Saya satu arah dengan bapak. Saya mau ke kelas dan bapak mau ke kantor. Dan kantor dosen dekat dengan kelas saya," kata Ara.  Jeno tidak menolak atau menerimanya, dia hanya tersenyum samar kemudian berjalan diikuti oleh Ara.  "Pak, kalau boleh tau bapak ini masih single ya?" tanya Ara dengan berani.  "Sepertinya seluruh mahasiswa tau jika saya sudah bertunangan," jawab Jeno yang terang-terangan. Walau tidak suka, Jeno harus mengakui Dita yang memang tunangannya. Lalu Ara menjawabnya dengan santai sembari tersenyum tipis. "Baru tunangan dan belum menikah. Masih bisa digoyang sampai goyah," ucapnya yang membuat Jeno menyipitkan matanya. Jeno sudah mampu menangkap pembicaraan Ara mengarah kemana.  Mereka sudah sampai di tempat tujuan masing-masing. Ara ke dalam kelas dan Jeno ke kantor dosen sebelum dia mengajar. Jangankan mahasiswinya. Dosennya saja terpikat oleh Jeno yang rupawan dan stylish. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD