Tidak Butuh Bantuan

1154 Words
Setelah perdebatannya dengan Jeno, Dita memilih pergi ke kamarnya terlalu malas untuknya meladeni sikap tunangannya yang semakin hari semakin menyebalkan. Dita berjalan masuk ke dalam kamarnya, dia duduk dia atas ranjang, meraih buku diary di laci meja nakas. Dita mulai menuliskan semua perasaannya dari pagi sampai seharian itu.  Semua curahan itu tentu saja tentang dia dan tunangannya. Laki-laki yang dia anggap Juna yang begitu berubah sikap padanya. Mengingat pria itu yang selalu memanggilnya jelek akhir-akhir ini, hal itu mengganggu pikiran Dita. Dia turun dari tempat tidur kemudian berjalan ke sebuah cermin di kamar itu. Sesaat Dita menatap wajahnya sendiri. "Apa aku sungguh jelek? Kenapa Juna sering memanggilku seperti itu?" pikirnya dengan meraba wajahnya sediri.  Rasa tak mengerti dan penasaran membuat dia terus memikirkannya sampai kepalanya pening. "Ah, Dita. Sudahlah biarkan saja mau dikatain jelek atau apapun itu. Toh kenyataannya Juna adalah tunangan mu, pria itu pria yang akan menikahi kamu pada akhirnya."  Merasa terhibur dengan alibinya sendiri. Dita kembali ke atas ranjangnya. Dia memejamkan matanya dan tidur dengan lelap. *** Pagi hari yang sangat dingin, embun membasahi rerumputan dan membuat gelembung di ujung daun.  Dita membuka matanya perlahan, masih mengantuk tetapi Dita memaksanya. Dia harus berangkat pagi hari ini, Ibu Diana yang tidak ada di tempat beberapa ke hari ini membuat salon agak kacau. Lagi, Ibu Diana tidak berpesan apapun padanya. Hal itu yang membuat Dita bingung dan bertanya-tanya.  Dita melangkah masuk ke kamar mandi. Dia melangkah malas, sedikit menyeret kakinya. Merasa udara sangat dingin, gadis itu memutuskan mandi dengan air hangat.  Selesai mandi, Dita mulai bersiap-siap merapikan dirinya. Memakai setelan feminim rok dan polo t-shirt membuat Dita terlihat fresh. Tak lupa polesan make up natural mempercantik wajahnya. Setiap kali Dita melihat wajahnya sendiri di cermin, dia mengingat ucapan tunangannya. Dita menggelengkan kepala, dia mencoba fokus dengan pekerjaannya hari itu.  Sudah siap, Dita keluar dari kamar kemudian melihat Jeno yang juga keluar dari kamarnya. Kamar mereka berada di lantai dua, bersebelahan. Kamar Dita hanya beberapa langkah dari kamar Jeno.  Melihat Jeno keluar kamar, Dita enggan barengan turun dengan Jeno. Sengaja gadis itu kembali masuk ke dalam kamarnya, dia ingin menghindari Jeno.  Jeno yang melihat kelakuan Dita, segera dia mendekat. Jeno mengetuk pintunya beberapa kali.  "Dita, keluar! Ngapain kamu masuk kembali ke kamarmu? Mau menghindari ku?!" Jeno memanggil Dita, suaranya tinggi dan keras. Dia terus mengetuk meminta Dita membuka pintu.  Dita yang berada di dalam, tepat bersandar di daun pintu hanya mendengarkan tunangannya terus berteriak dan mengoceh tidak jelas.  "Dita... Keluar! Aku akan masuk jika kamu tidak juga mau keluar. Aku hitung sampai tiga ya. Satu... dua... Tiggggg- Sebelum hitungannya berakhir, Dita keluar dari kamarnya. Dia melihat Jeno dengan wajah mendengus kesal dan malas. Ingin rasanya dia membekap mulut Jeno yang menyebalkan itu.  Mereka berjalan bersama, Dita menyamakan langkah dengan Jeno ketika mereka menuruni anak-anak tangga menuju lantai bawah untuk sarapan bersama.  "Tumben kamu udah rapi pagi-pagi gini?" tanya Dita berbasa-basi kepada Jeno.  "Aku ada kelas pagi hari ini. Sebenarnya males tetapi mau gimana lagi," jawab Jeno yang membuat Dita berhenti menuruni tangga, dia meraih lengan Jeno.  "Males gimana? Bukankah menjadi dosen adalah impianmu. Kenapa kamu bilang malas, Jun?" Dita terus menatap gerak-gerik pria itu dengan perasaan aneh. Bahkan mata kekasihnya itu tidak memancarkan cinta untuknya. Seolah tatapan itu datar dan hambar. Dita merasakan sudah tidak dicintai seperti dulu.  Jeno menghela nafas pelan, "kamu serius banget. Aku hanya bercanda. Aku tidak malas dan aku semangat. Untuk itulah aku sudah bersiap sepagi ini," jawab Jeno meyakinkan.  Merasa lega, Dita melanjutkan langkah yang sempat tertunda. Mereka turun bersama dan berjalan ke arah meja makan. Terlihat Pak Artama sudah di sana. Dan yang paling mengejutkan, Dita lihat ada Ibu Diana juga. Dia tidak tau kapan wanita paruh baya itu kembali dari luar kota. Tentu saja Dita segera menyapanya.  "Selamat pagi, Ma. Mama sudah kembali dari seminar mama? Maaf Dita tidak tahu mama sudah pulang dan Dita tidak menyambutnya," ucap Dita dengan tulus penuh penyesalan.  Ibu Diana tersenyum hangat sembari menyendok nasi goreng untuk Pak Artama sebelum dia menjawab Dita. Selesai menyendok nasi, Ibu Diana menatap Dita kemudian Jeno, putranya.  "Tidak apa-apa, Dita. Ibu pulang sangat larut, wajar kamu tidak tahu. Oya, bagaimana hubungan kalian? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Ibu Diana yang langsung dijawab Jeno.  "Juna baik-baik saja. Nggak ada masalah sedikitpun, tapi tidak tau dengannya," jawab Jeno menoleh ke arah Dita. Senyum mengintimidasi terlihat jelas di wajah Jeno. Dita menjatuhkan lirikan kecil ke arah Jeno, kesal dengan kelakuannya yang selalu membuat masalah dalam hidupnya.  "Tidak masalah, Ma. Selama ini baik-baik saja," jawab Dita bernada pelan. Kemudian Jeno.... "Mm, yakin kamu tidak ada masalah. Jika benar seperti itu maka jangan terus mengeluh kepadaku," sahut Jeno, Dita melirik malas.  "Memang begitu. Aku merasa tidak punya masalah denganmu. Kamu saja yang selalu cari gara-gara," balas Dita.  "Apa tidak kebalik ya. Kamu yang selalu cari gara-gara denganku," kata Jeno.  Melihat percikan api pertengkaran mulai merambat, Pak Artama segera melerainya. "Juna, kamu antar Dita ke salon. Kamu juga harus menjemputnya ketika pulang. Kasihan calon istrimu jika harus naik angkutan umum atau bis." "Juna bukan sopirnya, Pa," jawab Jeno sepertinya keberatan harus menjadi seseorang yang mengantar dan menjemput Dita. Baginya itu sangat merepotkan.  Namun Pak Artama punya maksud dari permintaanya itu. Dia ingin Jeno bisa lebih mengenal Dita dan beradaptasi dengan keadaan mereka saat ini. Pak Artama harus menjadi media penghubung supaya Dita dan Jeno saling menyayangi satu sama lain.  Tertekan dengan itu, Jeno hanya mampu mengangguk mengiyakan permintaan ayahnya. Begitu juga Ibu Diana yang mendukung penuh ide suaminya. Jeno memang harus seperti itu.  Sudah selesai sarapan, Jeno berjalan keluar lebih dulu setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya. Begitu juga dengan Dita, dia mengekor di belakang Jeno, gadis itu mengikuti langkah tunangannya dengan gesit karena langkah Jeno begitu lebar dan cepat.  Mereka berdua masuk kedalam mobil, Dita memasang seat belt miliknya. Dia melihat pria di sampingnya itu belum menggunakan seat belt.  "Juna, kamu pakai seat belt-nya. Kamu tidak boleh mengabaikannya karena itu sangat penting ketika berkendaraan," ucap Dita mengingatkan tunangannya.  Jeno diam saja, dia acuh dengan ucapan Dita yang sepenuhnya benar. Pria itu sengaja, dia menyetel musik dengan keras dan sangat berisik.  "Juna, kamu apa-apaan sih. Matiin musiknya!" pinta Dita yang merasa terganggu.  Juna menyalakan mesin mobil, dia tidak sedikitpun mendengarkan ocehan Dita. Merasa diabaikan dan Jeno tidak juga memasang seat belt miliknya. Segera Dita mendekat, Jeno tersentak kaget dan mendorong tubuh Dita.  "Hei, apa-apaan kamu? Kamu ngapain dekat-dekat?" tanya Jeno yang tidak sengaja mendorong tubuh Dita karena dia kaget. Dita mengernyitkan dahi, punggungnya sedikit mendapatkan benturan.  Melihat hal itu, Jeno merasa bersalah dan meminta maaf kepada Dita. "Maaf, aku tidak sengaja. Habisnya kamu ngagetin aku," ucapnya sembari memasang seat belt di tubuhnya.  Dita menatap kesal, "aku hanya ingin membantu memasangkan seat belt itu," jawabnya dengan bernada marah.  "Aku bisa pasang sendiri, lain kali tidak usah bantu-bantu aku dalam hal apapun lagi. Aku tidak butuh bantuan kamu," kata Jeno dengan wajah serius. Sepertinya Jeno memang tidak suka jika Dita mengurusnya atau memperlakukannya dengan lebih. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD