Chapter 18

1148 Words
Kalila benar-benar terkejut ketika melihat Matteo di hadapannya. Bagaimana bisa priaa itu kembali menemuinya dalam keadaan yang tidak tepat? Apalagi jika Matteo sempat mendengar apa yang diucapkan oleh dirinya dan ayahnya, maka tamatlah Kalila di sekolah. Mungkin Matteo akan mencabut beasiswa untuknya secara sepihak karena tahu Kalila bukan gadis yang benar. “Pak Matteo?” Matteo hanya menatap matanya dalam diam, namun Kalila masih bisa merasakan cengkramannya di kedua lengannya dengan erat. “Pak Matteo, apa tidak apa-apa?” tanya Kalila dengan nada lirih. Sekuat hati dia berusaha untuk menahan tangisannya. Dia tidak boleh menangis di hadapan orang asing. “Pak?” tanya Kalila sekali lagi ketika dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Matteo. “Apa tadi adalah ayah kamu?” Matteo bertanya dengan nada yang sangat dingin. Pria itu seolah ingin menghancurkan sesuatu dan berusaha untuk menahannya. Kalila tidak tahu kenapa. Namun, melihat ekspresi Matteo, dia semakin bertambah takut. “Jawab, Kalila.” Kalila menelan ludahnya kasar dan dia mengangguk cepat. “I-iya.” Perlahan, dia bisa merasakan cengkraman di kedua lengannya mengendur. Pria itu menatapnya lebih lembut dari sebelumnya. “Bagaimana bisa seseorang yang kamu panggil Ayah tega melakukan sesuatu yang sangat kejam seperti itu?” Yap. Matteo Aarav mendengarnya dan ini adalah mimpi buruk bagi Kalila. “Pak Matteo, tolong jangan salah sangka. Tadi, tidaklah seburuk seperti yang Bapak pikirkan.” Kalila menggeleng cepat. Dia tidak bermaksud untuk melindungi ayahnya, karena dia kini membenci pria itu. Tapi, jika Matteo salah sangka dan berpikir bahwa ini adalah tindak kejahatan, maka Kalila juga akan ikut terseret. Kalila tidak menginginkan itu. “Kal, kamu jelas-jelas—” “Siapa kamu?” Pria paruh baya yang sedari tadi mendengar percakapan putrinya dengan seorang pria itu keluar dari tempat persembunyiannya. Tony, menatap Matteo dengan tatapan mengintimidasi—walaupun Matteo sama sekali tidak terpengaruh olehnya. “Siapa dia, Kalila?” Kalila tergagap. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskannya pada ayahnya. Tony adalah orang yang licik, jika tahu Matteo berasal dari keluarga yang berada, mungkin ayahnya itu akan merencanakan hal yang lebih buruk dari sebelumnya. “Anda ayahnya?” Matteo berbalik bertanya dan dijawab oleh anggukan Tony. Tony sedikit takut melihat kedua mata yang nyalang padanya seolah ingin menerkamnya saat ini juga. Namun, demi mengais sisa-sisa harga dirinya sendiri yang sudah hancur di hadapan anaknya dan juga pria itu, Tony mencoba untuk tidak gentar. “Kenapa? Apa ada masalah dengan itu? Kamu tidak suka ketika tahu bahwa aku adalah ayahnya?” Matteo hanya tersenyum miring. Dia melipat kedua tangaannya di depan tubuhnya. “Saya rasa, Anda tidak pantas untuk disebut sebagai Ayah oleh dia.” Matteo menunjuk Kalila dengan mengendikkan dagunya ke arah gadis yang sekarang ketakutan itu. “Anda menyuruh anak Anda … menjual diri?” Astaga, Matteo bahkan tidak tega saat mengatakannya, bagaimana bisa pria di hadapannya ini dengan mudahnya mengatakan hal itu pada darah dagingnya sendiri? “Kamu tidak tahu apa-apa, jadi untuk apa kamu ikut campur?” “Saya memang tidak tahu apa-apa. Tapi, saya rasa saya berhak untuk membela anak Anda ketika tindakan Anda menyeleweng.” Kalila memutar bola matanya malas. Ingin sekali dia memberitahu pada Matteo bahwa berdebat dengan ayahnya tidak akan ada habisnya. Ayahnya tidak akan mengalah ataupun merasa salah. “Berhenti bertindak pahlawan. Kamu hanya orang asing.” “Saya—” Kalila menahan Matteo dengan memegang lengan kekar pria itu. Kalila tetap diam, namun tatapannya seolah mengatakan; jangan katakan apapun. Dia tidak ingin ayahnya tahu siapa posisi Matteo di sini. “Kal, ayo pergi.” Matteo tahu sikapnya mungkin keterlaluan. Tapi, dia tidak bisa membiarkan gadis ini terjebak dengan ayahnya sendiri. Satu-satunya hal yang benar adalah membawanya pergi dari sini. Kalila menundukkan pandangannya. Menatap pergelangan tangannya yang dicekal oleh pria itu. “Kamu tidak bisa membawa putri aku seenaknya.” Ayahnya tidak mencoba menahannya dengan menahannya, Tony hanya berujar dengan tegas. “Aku ayahnya.” “Tidak. Anda bukan ayahnya. Tidak ada Ayah yang tega untuk menjadikan putrinya sendiri seseorang yang sangat rendah.” *** Kalila mengingkari janjinya sendiri. Sebelumnya, dia sudah mengatakannya dan memantapkan hatinya bahwa dia tidak ingin lagi berhubungan dengan Matteo. Mereka cukup hanya sebagai kenalan. Fakta bahwa Matteo adalah donatur di sekolahnya adalah satu hal yang membuat Kalila memilih untuk menjaga jarak. Namun ternyata, entah mengapa selalu banyak hal yang membawanya selalu bertemu kembali dengan pria itu. “Minumlah.” Kini, Kalila sudah berada di dalam mobil pria itu, tepatnya mobil yang diparkirkann di minimarket dua puluh empat jam. Kalila sendiri masih tidak bisa memproses dengan akal sehatnya sendiri; bagaimana dia bisa berada di sini dengan Matteo dan bagaimana pria itu dengan mudahnya membawanya pergi dari tempat kerja dia ketika Kalila masih harus bekerja. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Matteo ketika Kalila sudah menengguk minuman yang dibelikan olehnya. Kalila hanya diam dan menghela napasnya. “Pak Matteo, tolong jangan beritahu siapapun soal tadi.” “Soal apa, Kalila?” Matteo berpikir, bahwa ada dua masalah yang dihadapi oleh Kalila sekarang. Satu, dia memiliki ayah yang sangat tidak becus—walaupun Matteo baru bertemu dengannya sekali, namun firasatnya sudah mengatakan bahwa pria paruh baya tadi sangat tidak bertanggung jawab. Kedua, Kalila yang dipaksa untuk menjual dirinya sendiri. Astaga, emosi Matteo memuncak ketika percakapan tadi kembali muncul dalam ingatannya. “Soal ayahku, dan … apa yang ia ucapkan dan suruh padaku.” Kalila memilih untuk menundukkan pandangannya dan menautkan jari-jemarinya. Dia malu—sangat malu, ketika mengakui bahwa dia memiliki ayah yang seperti itu. Dia sangat takut jika Matteo sampai memberitahu orang lain mengenai ini. “Kal.” Tangan Matteo terulur untuk menggenggam tangan Kalila. Gadis itu merasakan kehangatan dari telapak tangan pria di sampingnya. “Aku tidak memiliki alasan untuk memberitahu orang-orang mengenai apa yang terjadi tadi. Jadi, kamu tidak perlu takut.” Matteo tersenyum tipis. “Apa kamu takut?” Kalila mengangguk. “Sangat. Aku takut pada ayahku tapi aku juga lebih takut …” Kalila menoleh kepada Matteo. “…pada kamu.” “Aku tidak akan melakukan apapun mengenai itu, Kal. Seharusnya kamu tidak perlu memikirkan aku. Yang perlu kamu pikirkan adalah; bagaiman caranya untuk menghentikan ayah kamu sendiri.” Matteo serius. Dia tidak mungkin membiarkan gadis belia seperti Kalila menghadapi ini semua sendiri. Sekalipun gadis itu menolak, Matteo tidak akan menyerah untuk membantunya. “Pembicaraanku dengan Ayahku tadi, mungkin terdengar sangat mengerikan. Namun percayalah, Pak Matteo, itu tidak seperti apa yang Bapak pikirkan.” “Jelaskan padaku, Kalila.” Matteo menyentuh dagu Kalila agar gadis itu mau menatapnya. “Jelaskan agar aku mengerti.” Kalila hanya menghela napas. Terlalu berat untuknya mengatakan semuanya pada Matteo. Sekalipun pria itu tadi tidak sengaja mendengar percakapannya dengan ayahnya dan sekalipun Matteo ingin membantunya, tetap saja Kalila tidak bisa menceritakannya dengan mudah. “Aku ingin pulang, Pak Matteo.” Matteo langsung terdiam. “Aku tidak bisa menceritakannya. Aku hanya ingin pulang.” Ada satu nama yang terpatri dalam benak Kalila. Atlas. Dia hanya ingin Atlas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD