Chapter 10

1143 Words
Matteo tidak taahu apa yang dimaksud oleh Anna kemarin, hingga hari ini, akhirnya ia paham. Secara tiba-tiba dan tanpa ia duga, Aya—mantan kekasihnya yang baru saja menikah kemarin—tiba-tiba saja datang ke kantornya dan mengajaknya untuk bertemu. Matteo ingin sekali menolaknya, namun terlanjur tidak bisa ketika Aya sudah berada di depan pintu ruangannya. “Bisa kita bicara?” tanya Aya dengan sendu dan menatap Matteo memohon. Matteo menghela napas. Dia masih memiliki rapat dengan investor yang akan menyewanya untuk menggunakan jasa arsitekturnya, namun dia harus menundanya karena Aya. Wanita itu sepertinya tidak kenal penolakan. “Masuklah,” ujar Matteo mempersilakan Aya walaupun dia enggan. Aya duduk di kursi tamu, sementara Matteo duduk di hadapannya. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah beberapa tahun, lebih tepatnya, setelah Aya meninggalkan Matteo tanpa sebab yang jelas. “Jadi, ada apa?” tanya Matteo—bermaksud memangkas waktu yang akan terbuang sia-sia jika dia tidak segera bertanya kedatangan Aya kemari. “Aku ingin meminta maaf.” Matteo mengeryitkan dahinya. Sungguh, apa maksud wanita ini? Sudah bertahun-tahun lamanya dan baru sekarang dia meminta maaf? Setelah dia menikah dengan pria lain?! Matteo benar-benar tidak tahu apa maksud wanita itu sekarang. “Tunggu, jelaskan dulu maksud kedatangan kamu dan jangan membuat aku terkena serangan jantung mendadak, Aya.” Aya tertawa kecil melihat Matteo yang menurutnya lucu ketika gugup. Aya menyangka bahwa Matteo gugup karena kedatangannya yang membuatnya kembali teringat masa lalu mereka, Aya hanya tidak tahu bahwa Matteo sudah tidak memiliki hati lagi untuknya. Yap, Aya terlalu besar kepada. “Aku membuat kamu gugup?” Matteo mendengus, menyadari kalau wanita itu tidak mengganggap dirinya serius. “Tidak, aku hanya tidak tahu kenapa wanita yang sudah meninggalkan aku, dengan tidak tahu malunya, menghampiri aku dan mengatakan minta maaf.” “Aku hanya tidak mengerti ini semua, Aya. That’s it.” Matteo tidak ingin membuat Aya berpikir macam-macam soal mereka. Benar kata Anna, kakaknya, Aya memang berbahaya. Aya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. “Aku rasa, kita memiliki masa lalu yang belum selesai. Kemarin, di pernikahanku, aku melihat kamu dan sayangnya kamu sama sekali tidak menghampiri aku, Matteo. Kamu bertingkah seolah kita adalah musuh, dan aku tidak mau itu. Aku tidak mau membuka lembaran baru dengan suamiku, dengan bayang-bayang masa lalu dari kamu.” Matteo berdecak. Sungguh, pembicaraan ini ternyata memang membuang-buang waktunya. Seandainya dia memiliki keberanian dan hati yang cukup tega untuk mengatakan bahwa dia tidak akan peduli pada Aya. Apapun yang akan dilakukan oleh wanita itu, tidak akan ia pikirkan. Seharusnya Aya tidak perlu besar kepala dengan berpikir bahwa dia belum bisa berpindah hati. “Aya, aku tidak akan peduli.” Matteo terkekeh meledek mantan kekasihnya. Sebenarnya, dia ingin sekali bertindak biasa saja dan mencoba untuk tidak membuat Aya malu di hadapannya sendiri, namun ternyata wanita itu terlalu menyebalkan untuk Matteo sikapi biasa saja. Matteo mulai bertanya-tanya apa yang membuatnya dulu ingin memacarinya. “Matt?” Aya terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Selama ini, dia selalu memikirkan Matteo. Dia percaya bahwa Matteo akan mengerti kondisinya yang harus menghilang beberapa tahun yang lalu dan berakhir dengan memutuskannya. “Apa yang kamu harapkan, Aya? Aku yang bersedih karena kamu menikah dan meninggalkan aku? Ayolah, aku tidak selemah itu dan kamu tidak se-spesial itu untuk aku perlakukan demikian. Get over it!” Matteo mulai kesal. Kini, dia sudah memutuskan untuk tidak menanggapi wanita itu lagi, jadi dia memilih untuk berdiri dan menyuruh wanita tersebut untuk keluar. “Sebentar lagi aku ada meeting. Jika kamu tidak memiliki urusan denganku lagi, lebih baik kamu pergi.” Mata Aya berkaca-kaca. Dia menggelengkan kepalanya pelan, sedikit tidak sudi diperlakukan layaknya w************n. “Kamu akan menyesal, Matteo.” Adalah kalimat terakhir penuh ancaman yang ia ucapkan sebelum dia melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan terkutuk itu. Matteo menghela napasnya. Astaga, harinya baru saja berjalan dan sudah dikacaukan oleh wanita tidak tahu malu itu. Untungnya, sisa hari Matteo tidak berjalan seburuk yang ia kira. Dia berhasil menyelesaikan desain dari proyek yang akan ia pimpin beserta dengan anak buahnya dan sebelum dia pulang ke rumahnya setelah bekerja, dia menyempatkan diri untuk makan malam bersama dengan kakaknya. “Wanita itu tidak tahu malu,” ujar Anna sambil memotong daging steak di hadapannya seolah itu adalah Aya. Anna tersulut emosinya ketika Matteo menceritakan apa yang terjadi ketika Aya datang ke kantornya. “Dia hanya ingin membuat kamu kembali mengingatnya dan membuat kamu memohon agar tidak meninggalkannya. Sementara di sisi lain, she’s gonna bragging karena dia tahu dia sudah menikah. She’s the real manipulative,” ujar Anna. Sementara itu, Matteo diam saja dan hanya menganggukk-anggukkan kepalanya. “Jangan sampai termakan oleh bujuk rayuannya.” “Oh iya, jika dipikir-pikir, apa perilaku Aya sekarang sama dengan kamu dulu pada Regan?” tanya Matteo dengan polos. Hal itu membuat Anna mendongakkan kepalanya dan mengeryitkan dahinya tidak mengerti. “Maksud kamu?” tanya Anna dengan tidak bersahabat. “Dulu, kamu tahu bahwa Regan sudah menikah dan kamu mendekatinya lagi, bukan?” Anna menjatuhkan pisau dan garpu yang ia pegang hingga membuat Matteo terkejut. Dia sala kata? “Dengar, aku dan dia sangat berbeda, Matty. Aku hanya ingin memintaa maaf pada Regan dan tidak memiliki niatan apapun, apalagi membuat Regan mengingat masa lalunya denganku—” “Well, Aya juga tadi meminta maaf. Posisinya juga sama, Aya sudah menikah.” “Matt! Posisiku tidak menikah ketika bertemu dengan Regan, bukan?!” Anna kesal bukan main pada adik tirinya itu. “Sekali lagi kamu mencoba untuk menyamakan aku dengan wanita itu, pisau ini akan datang ke mata kamu, Matteo, kamu dengar itu?!” Matteo tidak takut dengan amarah Anna, alih-alih takut, pria itu hanya terkekeh geli. “Dan akhirnya kamu membuat Regan berpisah dengan Zee.” “Dan kamu mengambil kesempatan itu untuk mengambil Zee.” Kini, Matteo yang giliran menatap Anna dengan kesal. Dia tidak suka diingatkan soal Zee—karena, jujur saja, Matteo masih belum bisa meyakinkan dirinya sendiri kalau dia memang kehilangan wanita itu. Zee adalah wanita yang baik, sangat baik. Hal itu yang membuat Matteo ingin selalu melindunginya dan— “Dan sekarang kamu mengingatnya lagi, ‘kan?” Anna membuyarkan lamunan Matteo dengan senyuman miringnya yang jelas-jelas meledeknya. “Hentikan, Anna!” Anna tertawa terbahak-bahak. “Makanya, jangan coba-coba untuk menyamakan aku dengan wanita itu karena kami sangat berbeda, Matt. Oh iya, jangan coba-coba lagi untuk menemuinya. Kamu bisa menolak kedatangannya jika dia kembali ke kantor kamu.” Matteo menganggukkan kepalanya sekilas. “Tapi, apa dia bahagia?” tanya Matteo entah pada siapa. Dia menyuarakan isi hatinya yang sejak kemarin ia pendam. “Dia sudah menikah dengan pria pilihannya, tapi … apa dia bahagia?” Anna menatap adiknya heran. “Dia bahagia atau tidak, bukan urusan kamu, Matt. Kamu hanya akan membuat diri kamu tersiksa kembali jika memikirkan soal wanita yang tidak layak untuk berada di pikiran kamu.” ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD