Chapter 6

2300 Words
"Ihhh, kenapa Dana jadi dijewer sih, Kak?" Dana mendengus sebal sembari mengusap telinganya yang memerah akibar bekas jeweran keras dari Adimas yang sudah menampilkan muka kesal saat tiba di rumah. Bekasnya tidak main-main, sekarang telinga Dana sudah semerah kepiting rebus. Antara Adimas yang terlampau sebal atau menggunakan tenaga dalam saat melakukannya yang jelas rasa sakitnya juga tidak main-main menurutnya. Mira, ibu dari dua nak tersebut yang mendengar keributan dari dapur lantas menghampiri dua anak laki-lakinya. Ia terheran saat melihat keduanya saling bertatapan sengit. Walau pun pemandangan seperti ini lazim dilihatnya kalau kedua anaknya sudah berkumpul tanpa kesibukan, ia masih tetap saja heran. "Ini ada apa sih ribut-ribut? Dana kenapa?" Mira mencoba menengani keributan tersebut. "Ini kakak jewer adek, bU. Kan telinga Dana sakit jadinya," adu Dana lalu menunjukan telinganya yang jelas merahnya dari kulitnya yang putih bersih. "Adimas kenapa jewer Dana? Dia udah gede gak perlu dijewer juga kali," kata Mira membuat Dana seketika senang atas aduannya yang membuat sang ibu menjaDI membelanya. "Dih, tukang ngadu, udah gede juga. Ini si Dana, Bu. Tadi kan ada pasiennya Dimas yang kebetulan ketemu di bioskop, terus kita nawarin mereka buat dianter karena kebetulan kemarin Dimas pernah anter pasiennya. Nah ini nih Dana malah tanya aneh-aneh sampai bilang suruh aku nikah sama dia. Gak enak atuh Bu sama dia," jelas Adimas yang masih kesal pada Dana yang pada Mira. "Dana kok kamu gitu, Nak. Gak sopan loh main jodoh-jodohin orang kayak gitu." Mira menasehati anak bungsunya tersebut. "Ibu aja kan gak jadi jodohin kalian biar kalian sendiri yang tentuin. Ibu gak mau kalau dijodohin, nanti kalian kabur terus tinggalin calon istri." Kenapa Mira jadi membahas perjodohan sih? Berbalik deh dari ekspetasi Dana. Dia kira akan menang kalau Mira sudah berhasil membelanya, tetapi justru sekarang wanita tersebut menasehatinya dengan nada yang begitu tenang. Ah, dua-duanya jadi kena nasehat. "Oh iya, Dimas. Kamu tadi bilang pernah anter dia sebelumnya. Itu kapan?" tanya Mira penasaran dengan satu kalimat yang belum pernah ia dengar. "Minggu lalu, pas Adimas pulang rapat yang waktu itu, Bu. Awalnya Adimas cuman mau cari tempat makan yang direkomendasi temen, tempatnya lewat jalan yang gak bisa dilewatin mobil. Pas tau dia mau lompat, Adimas berhasil cegah dia yang mau bunuh diri dari jembatan layang yang sepi, terus dia juga dateng pas jam praktek Adimas dan setiap malam selalu coba konsul perihal kecemasannya," jawab Adimas. Mira bingung. "Bunuh diri?" "Karena ditinggal pacar, Bu." Celetuk Dana tiba-tiba. "Ibu turut sedih dengernya tapi syukurlah kalau kamu selamatkan dia, Adimas," Mira merasa lega jika mendengar anaknya ini menyelamatkan orang lain apalagi yang sudah mengancam nyawa. "Kamu gak mau coba deketin dia, Mas?" "Nah, kan. Dana juga penginnya Kakak juga gitu, Bu. Tadi Teh Ara juga orangnya keren, dia lulusan S2 di luar negeri —malah ditinggal pacarnya. Pacarnya belegug pisan euy," beber Dana dengan semangat delapan enam, pemuda itu malah merasa kini Sinta kembali membelanya. Sinta mendengar perkataan putra bungsunya jadi ikut tambah menyetujui. Namanya Ara, nama yang cantik. Sinta rasa perempuan tersebut terdengar baik meski belum bertemu secara langsung. Tidak ada salahnya jika Adimas mencoba mendekati Ara, jodoh tidak ada yang tau. "Ibu kenapa jadi kayak Dana? Adimas kan bilang kalau udah waktunya nikah ya Dimas bakal deketin yang jadi calon sendiri lah," tekan lelaki berusia 27 tahun tersebut. "Bukan Adimas mau jadi perjaka tua, Bu. Belum, belum saatnya." "Kamu masih belum move on dari mantan kamu?" Adimas memutar bola matanya malas. "Jangan bahas dia, Dimas gak suka kalau inget kelakuan dia main di belakang tapi wajahnya kayak orang sok polos. Kalau dibilang karena trauma dibegituin, Dimas bakal bilang, iya," ungkapnya. "Ya sudah, Ibu gak akan memaksa. Tetapi kalau ada calon yang kamu suka, segera bilang ke Ibu sama Dana." "Adimas mau istirahat dulu ya, Bu." Lelaki tersebut pamit menuju ke kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat hingga suara bantingannya terdengar agak kasar. Dana mendekati Ibunya yang sedikit mencemaskan perasaan sang Kakak yang masih tersinggung jika ditanyakan perihal kapan akan menikah. Itu topik sensitif jika dibicarakan di depan Adimas langsung. Kakaknya akan ilfeel jika terus ditanyakan calon istri. Meskipun Dana juga sering iseng menanyakan hal tersebut, mengingat umur Adimas juga akan masuk berkepala tiga, Dana tidak mau jika Kakaknya terus menerus sibuk dalam pekerjaan sehingga tak ada yang mengurusnya dengan baik selain Ibu mereka. Pentingnya menikah juga sebagai bentuk melupakan mantan Adimas yang begitu b******k meninggalkan dia demi pria lain. Dana mendekati Mira yang menampilkan raut cemas pada putra sulungnya. Dia mengusap pelan punggung sang Ibu berharap dapat memberikan sedikit ketenangan di hati beliau. "Ibu yang sabar, ya. Kakak emang gitu kalau udah bahas kapan dia menikah." Dana berujar. "Ayah kalian juga udah pernah tanya kapan kakakmu manikah. Soalnya kan siapa tau kalau dia udah menikah bisa diajak main anaknya sama adik tiri kamu itu," ucap Sinta. Selepas bercerai dengan Mira, Wisnu Sanjaya --sang mantan suami menikah lagi beberapa bulan kemudian. Dia tidak pernah selingkuh selama pernikahan, hanya saja karena perbedaan keyakinan yang dianut Sinta dan Wisnu yang membuat keduanya bercerai secara damai. Mendiang putrinya mengikuti Wisnu, sementara Adimas dan Dana mengikuti dirinya. Pernikahan kedua Wisnu membuatnya memiliki seorang anak lagi bernama Rhea Zeanita --gadis kecil yang menggemaskan yang sangat mirip dengan istri baru Wisnu. Wisnu memang sempat bertanya pada Mira kapan Adimas akan menikah karena dikhawatirkan Adimas akan terus sibuk dalam pekerjaan hingga lupa bahwa dia pun harus segera menikah. Karena bagi Wisnu, umur Adimas sudah cukup matang untuk menikah sebelum menginjak umur 30 tahun. "Ayah kayaknya emang pengin lihat kakak nikah secepatnya deh. Eh, Bu, tadi pas Dana lihat Kak Ara tuh jadi keinget Kak Dara. Mata sama hidungnya persis mirip banget, awalnya Dana aja kaget lihatnya," ungkap Dana membuat Mira semakin penasaran. "Serius kamu, Na?" Dana mengangguk yakin. "Bener, Bu. Coba nanti kalau semisal Kak Adimas bisa nikah sama Kak Ara, Ibu juga kaget lihat wajahnya Kak Ara mirip sama Kak Dara." "Semoga aja ya, Ibu juga pengin tau." *** Senin menjadi jadwal praktek Adimas untuk menggantikan rekan kerjanya, dokter Fahmi, yang tengah menjalani cuti karena masalah kesehatannya. Sebetulnya bisa saja dokter Jihan yang menggantikan, namun beliau ada praktek di rumah sakit lain dan mau tidak mau Adimas yang harus menggantikan. Sementara, dia juga memang tidak ada pekerjaan lain. Pasien hari ini cukup banyak dibandingkan dengan minggu kemarin. Kebanyakan bercerita mengenai depresi perihal masalah keluarga, kantor atau teman. Ada juga yang mengidap Schizophrenia yang mengamuk saat ditangani. Saat pasien terakhir datang, rupanya sosok yang datang dikenalinya selama seminggu ini. Dia adalah Ara. Dengan pakaian sederhana yang dia kenakan, perempuan tersebut tersenyum ke arah Adimas. Dan dia pun tidak menyangka bahwa Adimas kembali menjadi dokternya, padahal dia pikir akan bertemu dokter lain. "Halo, Ara. Bagaimana kabarnya? Apa ada masalah lagi sehingga kamu datang ke sini?" tanya Adimas seramah mungkin berekspresi pada pasiennya. "Kabarku baik, Dok. Selama ini ada perubahan sedikit demi sedikit selama satu minggu sesuai anjuran Dokter. Itu cukup efektif rupanya, saya merasa lebih hidup dan kembali seperti seorang manusia lagi," ujar Ara membuat Adimas senang atas penuturannya tersebut. "Syukurlah kalai begitu. Saya sebagai dokter senang jika pasien saya perlahan membaik kondisinya." "Eum, Dok. Saya mau tanya." "Silahkan." "Bedanya Psikiater sama Psikolog itu apa?" Pertanyaan sederhana ini tidak lepas dari pemikiran orang-orang yang menganggap dua profesi itu memiliki tugas yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan yang cukup menonjol. "Psikiater itu berbeda dengan Psikolog, meskipun keduanya memiliki ranah untuk menangani pasien yang memiliki masalah kesehatan mental." Adimas menjeda sejenak. "Psikiater memiliki tugas menangani kondisi yang cukup berat, seperti depresi, skizofernia, OCD, dan gangguan bipolar. Itu kasusnya sudah berat dan memerlukan obat dan perawatan khusus. Depresi juga perlu ditangani jika sudah mengarah ingin bunuh diri." Kalimat terakhir seperti tertuju oleh diri Ara sendiri, dia memang mengalami stress dan sudah tahap depresi hingga berpikir untuk bunuh diri pada malam itu sebelum diselamatkan oleh Adimas. "Kalau Psikolog?" "Psikolog lebih mengarah ke masalah kesehatan yang dapat ditangani secara efektif dan melalui dorongan psikologis. Seperti depresi ringan, kecemasan biasa, ketakutan, stress, dan lain-lain. Mereka lebih banyak mendengar dan memberikan dorongan agar pasien dapat merencanakan hal yang lebih baik nantinya," jelas Adimas. "Lalu kenapa hari itu saya meminta kamu untuk datang ke Psikiater? Saya kira akan lebih bagus jika langsung ke sana karena Psikolog hanya menangani masalah yang masih sederhana. Psikiater pun akan mendengarkan keluhan pasiennya meski mereka terus menerus berpikir untuk mati dan bunuh diri. Kami sebagai dokter pasti sebisa mungkin untuk menekankan untuk menjauhkan keinginan tersebut agar pikiran pasien bisa pulih dan normal. Dan mengurangi gejala-gejala pada penderita masalah kesehatan yang sulit disembuhkan seperti Bipolar dan Skizofernia," imbuhnya panjang lebar secara jelas. Ara hanya bungkam ketika semuanya dijelaskan. Semuanya sudah jelas mengapa hari itu Adimas memintanya datang ke Psikiater, memintanya meminum obat, dan memintanya untuk berhenti berpikir bunuh diri. Dalam seminggu lebih semenjak Jovan mengumumkan pernikahannya, Ara sudah sedepresi itu hingga berpikir untuk bunuh diri. Bagaimana jika hari itu mereka tidak melakukannya? Dia tidak akan sestress itu. Dia pasti tidak terus memikirkan bagaimana pendapat calon suaminya kelak jika ternyata Ara sudah tidak virgin. Terlebih memikirkan betapa brengsekya Jovan padanya. Tiba-tiba saja memikirkan hal itu membuatnya pusing dan kepalanya terasa berat. Adimas sedikit khawatir padanya. "Kamu tidak apa-apa?" Ara mencoba menahan rasa sakitnya. "Tidak apa-apa. Cuman tiba-tiba kepala saya pusing dan sakit." Entahlah, memikirkan Jovan adalah ide yang buruk yang membuatnya jadi suka merasa pusing. "Jangan terlalu memaksakan diri, ya?" "Iya." Ara mencoba tersenyum meskipun rasanya masih saja sakit. "Kalau begitu, mari kita bicarakan hal-hal yang kamu suka untuk mengalihkan penyebab utama. Kamu bisa bercerita apapun yang sekiranya bisa membuat kamu senang melakukannya." Sebuah saran yang baik dari Adimas dapat diterima baik pula oleh Ara. Ada banyak hal yang Ara suka, kesukaannya mulai dari makanan hingga kota impiannya sudah tersimpan baik dalam kotak memori lain di otaknya. "Ada banyak," tanggapnya. "Saya suka belajar. Ketika orang lain merasa malas untuk belajar, justru diri saya tertantang untuk terus belajar. Jika lelah belajar, saya akan menulis sebuah cerita karena kebetulan saya suka menuangkan ide-ide fiksi kedalam bentuk tulisan. Dan selayaknya orang lain, di Korea pun saya jadi ikut menyukai musik Kpop yang memiliki lirik yanh begitu mendalam. Jika tidak suka akan musiknya, saya pasti akan berganti genre. Tidak akan mencela suatu karya musik kecuali jika itu bentuk plagiatrisme." Adimas menilai bahwa Ara adalah orang yang ambisius dan juga idealis namun tetap memegang dalam prinsip realistis. Keunikan perempuan ini adalah bagaimana dia berekspresi saat menjelaskan kesukaannya dalam belajar. Rasanya memang Ara ini ingin menyetarakan diri dengan laki-laki dalam hal pendidikan. Dia juga tidak mau terlihat seperti wanita yang ketinggalan zaman. Tetapi dia tetap menyaring seluruhnya denngan baik. Adimas suka dengan perempuan seperti ini karena artinya mereka sangat menjunjung tinggi harga dirinya dan orang lain. Saat Ara tersenyum, wajahnya begitu manis dan elegan di matanya. Memang kalau boleh Adimas akui memang Ara ini cukup menjadi perempuan ideal untuk menjadi istrinya karena tipe idealnya adalah seperti sang Kakak. Eh, kenapa dia malah justru berpikir seperti ini? Adimas, sadarlah! "Bagus kalau seperti ini. Terdengar kamu memang sangat suka belajar jika melihat latar pendidikan kamu yang sudah mengambil S2 di luar negeri. Kamu bilang juga suka menulis kan? Otak kanan dan otak kiri kamu seimbang dalam bekerja. Kamu memang wanita yang cerdas," puji Adimas membuat Ara tersenyum malu. "Terima kasih." "Saya pikir kamu sekarang cukup baik. Sesi kali ini saya senang karena kamu yang sekarang --ceria dan tidak terlihat sedih." "Kalau saya sudah sembuh, bolehkah saya tetap chat dengan dokter kalau tidak mengganggu?" Ara menatap Adimas yang sedikit bingung dalam menjawab. Namun pada akhirnya Adimas mengangguk, "Boleh. Silahkan. Saya tidak keberatan. Pastikan tidak dalam jam kerja saya, ya. Oh iya, adik saya suka dengan cerita kamu dan dia jadi giat belajar karena motivasinya pengin kuliah di luar negeri." Mendadak Adimas curhat tentang Dana. "Benarkah? Wah, terima kasih. Dia orang yang ceria," ungkap Ara. "Padahal dia biasanya lebih banyak diam kalau di depan orang asing. Tapi kemarin memang tumben gak gitu. Hahaha, haduh maaf jadi cerita gini," Adimas tertawa renyah. "Tidak apa. Saya tidak masalah juga, Dok." "Cukup untuk hari ini. Terima kasih untuk datang dan memberitahu perkembangan diri kamu sendiri Ara. Sekali lagi saya katakan kalau kamu adalah wanita yang hebat." Dua jempol diberikan dokter tersebut sebagai penutup. Setelah Adimas mencatat perkembangan Ara dalam buku panduan per pasien, keduanya kemudian berpisah karena Ara harus pulang. Sebagai pasien terakhir, Ara menutup waktu praktek hari itu di poliklinik Kejiwaan yang letaknya tertutup sekali dibandingkan poliklinik lainnya. Adimas menurunkan kacamatanya dan bersender pada kursi dokternya yang empuk itu. Kenapa saat Ara baru saja pergi, justru pikiran Adimas bercabang menjadi dua? Dia memikirkan Dara dan Ara sekaligus. Sepertinya karena kemarin dia dan Sinta berdebat masalah pernikahan lagi membuat Adimas jadi banyak pikiran. Padahal dia adalah seorang Psikiater atau dokter Kejiwaan --yang selalu menangani berbagai masalah pasien, tetapi untuk masalahnya sendiri dia justru sering stress sampai tidak mau makan. Beberapa waktu lalu juga Wisnu menanyakan hal yang sama seperti ibunya, bikin puyeng dan otaknya terbebani dengan hal tersebut. Lalu, dia mengingat senyum Ara barusan. Sebuah senyuman tulus yang terasa damai dan menyejukan hati orang yang tengah dalam amarah yang menggebu-gebu. Hati Adimas jadi meleleh dan kembali sejuk. Pikiran tentang pernikahan jadi hilang sejenak karena itu dan dia jadi memikirkan Ara. "Eh, kok jadi-," Buru-buru Adimas menggelengkan kepala dan menepuk pelan pipinya. "Dim, kenapa malah jadi gini sih pikirannya. Kok malah mikirin dia." "Dim, mau ngantin bareng?" suara rendah milik Dennis yang ada di daun pintu membuat Adimas menoleh. "Yang lain kemana?" "Udah pada ke sana." "Oke. Bentar, gue ambil tas gue dulu." Hari ini dia begitu aneh karena setelah pulang praktek pun dia tetap memikirkan Ara. Entahlah, apa karena sang Ibu yang waktu itu ingin dia dan Ara berkenalan lebih lanjut atau karena wajah Ara yang mirip dengan Dara sang kakak. Adimas tidak tau. Dirinya hari itu seperti bukan dirinya sendiri. Ada rasa tertarik mengenal lebih jauh tentang Ara namun dia sadar bahwa mereka awalnya hanya sebatas dokter dan pasien semata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD