Adimas dengan cepat memutuskan untuk mengikuti saran SINTA dalam mengenal Ara --yang dia mantapkan untuk menjadi calon istrinya. Niat baik Adimas akhirnya dia laksanakan hari ini dengan MIRA, Dana, sepupu perempuan Adimas serta dua pamannya yang akan ikut dalam prosesi lamaran ini.
Apa akan terkesan terburu-buru? Jawabannya bisa iya bisa tidak. Karena Adimas hari ini akan melamarnya terlebih dahulu, langkah selanjutnya yaitu mengenal satu sama lain melalui perantara.
Dengan kemeja putih dan celana hitam, Adimas nampak gagah dan rapi dengan setelan tersebut. Ditambah rambutnya juga ditata apik oleh sang adik yang membantunya menyiapkan semua ini. Meskipun saat menyiapkannya Dana selalu menggodanya karena pada akhirnya Adimas melamar pasiennya sendiri. Unik dan ajaib aja gitu, Dana berasa lagi baca cerita fiksi macam cerita dunia oren gitu.
Mumpung masih pagi, mereka semua berangkat menggunakan mobil Adimas yang memiliki kapasitas cukup untuk ketujuh orang tersebut. Dan yang mengetahui rumah Ara hanya Adimas dan Dana saja, jadi Adimas menyetir sendiri mobilnya.
Oh iya, Ara sendiri sudah keluar dari rumah sakit kemarin lusa saat Adimas bertanya kapan dia bisa mengunjungi perempuan tersebut di rumah. Bertepatan dengan hari libur, Adimas memanfaatkan waktunya untuk melakukan hal ini karena demi Tuhan --Ara selalu membuatnya kepikiran terus menerus tanpa alasan yang pasti. Bahkan sampai terbawa dalam mimpinya.
Sungguh, mungkin memang ini petunjuk dari Tuhan bahwa Ara adalah jodohnya yang sudah ada dalam garis takdir Tuhan.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Ara. Dia akhirnya memberikan izin keluar MIRA terlebih dahulu untuk melihat Ara yang dia penasarani. Kebetulan ada SINTA yang sedang menyapu halaman depan dengan pakaian yang rapi seperti biasa melihat kedatangan Adimas dan SINTA lalu menyambutnya masuk.
"Ara-nya ada, Bu?" tanya Adimas begitu bokongnya mendarat di kursi empuk di ruang tamu.
"Ada. Saya panggilkan dulu sekalian hidangkan minuman dulu ya. Mari," SINTA memberi senyuman hangat kepada tamu-tamunya lantas bergegas ke kamar Ara dan berlanjut ke dapur.
Karena Ara kaget dengan kedatangan Adimas yang mendadak ini, dia lalu berganti baju dengan rapi sebelum keluar. Tidak lupa, dia mengoleskan make up tipis untuk mengurangi bengkak pada matanya karena semalaman menangis merindukan mendiang Papanya yang sedang berada di surga.
Sosok Arabella Quina yang muncul untuk pertama kalinya di hadapan MIRA membuat perempuan paruh baya tersebut begitu terpukau dengan kecantikan dan kemanisan wajah Ara. Ara menunduk sopan dan duduk di bangku seberang MIRA.
Sinta yang baru datang lalu menyajikan teh hangat dan mempersilahkan tamunya untuk makan seadanya. Dua perempuan tersebut —SINTA dan Ara sedikit terheran karena Adimas datang dengan wanita seusia SINTA. Dugaan Ara bahwa itu adalah ibu Adimas, walau memang benar meski ia memang belum tahu.
"Apa dokter ingin menanyakan keadaanku? Saya baik-baik saja, hati saya perlahan membaik saat bersama keluarga," kata Ara yang mencoba memahami kedatangan Adimas.
Keluarga, hanya Sinta yang ia maksudkan.
Tidak ada keluarga lain, semuanya sedikit acuh semenjak kematian ayahnya.
"Bukan, saya ke sini ada maksud lain." Wajah rupawan tersebut tersenyum menyiratkan sesuatu yang membuat Ara semakin bingung.
"Maksud lain?"
Adimas dan MIRA mengangguk yakin.
"Iya. Saya ke sini untuk melamar kamu, Ara."
Ara terkejut mendengar pernyataan tujuan lelaki tersebut datang ke rumahnya. "A-apa?" Tak langsung dia percayai, apalagi SINTA. "Dokter Adimas bercanda kan? Bukannya dokter ke sini mau cek kondisi saya?"
Dia harap ini bercanda atau sebatas prank. Mereka baru kenal hampir dua minggu, belum ada satu bulan dan Adimas datang untuk melamarnya?
"Tidak, memang tujuan saya ke sini untuk melamar kamu sebagai istri saya. Ara, niat saya baik dan tulus. Bahkan saya juga membawa yang lain datang ke sini, namun saya ingin menyampaikan dulu ke kamu niat sebenarnya saya," ungkap Adimas.
Lagi-lagi Ara hanya speechless dan bingung harus merespon bagaimana. Ini bahkan belum genap satu bulan pasca Ara putus dengan Jovan, dan Adimas yang notabenya sebagai dokternya justru melamar dirinya. Masa Adimas suka sama Ara saat pandangan pertama sih? Kondisi Ara saat itu bahkan tidak dalam keadaan yang baik.
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Jika belum siap, saya akan menunggu. Jujur saja, saya memang mulai menyukai kamu satu minggu terakhir. Kalau ditanya apakah kamu adalah tipe saya atau bukan, jawabannya adalah iya." Sekali lagi Adimas berusaha menjelaskan.
"Nak Ara mirip dengan mendiang putri sulung saya. Persis sekali mata dan bibirnya, apalagi saat tersenyum membuat saua rindu pada dia," timpal MIRA yang suka pada Ara dalam sekali pandangan.
"Jadi.. gimana jawaban kamu, Ara?"
Ara masih terdiam sambil berpikir. Jujur saja ini sangat mendadak bagi gadis itu melakukan pernikahan dalam waktu dekat setelah putus secara menyakitkan.
Ara kembali menatap Adimas. Dua mata tersebut saling bertemu dalam satu pandangan yang sama --pandangan saling berharap dan saling mencoba untuk dalam satu pemahaman. Adimas memang orang yang baik, Ara bisa merasakan itu setelah bertemu dengan pria tersebut.
Ada keraguan, ada pertimbangan.
Sesungguhnya sulit untuk memutuskan jawabannya atau mengeluarkan suara untuk berkata iya maupun tidak. Tetapi, mengingat penderitaannya setelah putus dari Jovan diobati dengan kesabaran Adimas, entah mengapa Ara pun jadi suka dengan pria tersebut. Suka yang masih dalam batas betapa baiknya sosok Adimas ini.
Di samping itu, SINTA sendiri antara setuju dan ragu menerima lamaran untuk putrinya itu. Melihat bagaimana kondisi Ara sebetulnya belum siap untuk menikah.
Namun karena ada harapan bahwa Adimas akan membuat putrinya bahagia —bagaimana raut wajah tersebut terlihat meyakinkan untuk melamar Ara dan profesi Adimas juga menjanjikan masa depan anaknya. Dokter, bukan sembarang profesi. Orang bilang kalau seorang dokter menghabiskan banyak pengeluaran semasa kuliah dan Koas.
"Sebentar nak Adimas, saya mau bertanya sesuatu. Apa jaminan agar putri saya, Arabella, ini yakin tidak akan disakiti? Saya juga ikut takut setelah apa yang dialaminya akhir-akhir ini. Saya hanya ingin tahu jaminan tersebut," ucap SINTA yang dapat dipahami oleh lelaki tersebut.
"Saya bisa menjamin, Bu. Kalau pertengkaran dalam rumah tangga mungkin akan menjadi hal lumrah, tapi saya sebisa mungkin akan membuat suasana kami kondusif. Saya sangat menyayangi Ibu saya, dan tidak mungkin menyakiti beliau. Bagi saya, setiap wanita harus dilindungi dan bukan disakiti baik fisik maupun hati mereka," jelas Adimas.
"Anak saya jarang sekali marah kepada lawan jenis dan seringnya cuman memendam. Kalau sedang kesal ke saya juga biasanya cuman diam dan dia juga sayang sekali sama putri sulung saya," imbuh MIRA ikut menimpali penjelasan Adimas sekaligus berusaha meyakinkan calon besannya ini.
Belum ada balasan yang keluar dari bibir Ara —masih bungkam dan sibuk memikirkan jawaban atas lamaran Adimas. Kepalanya masih menunduk dan jari-jarinya bermain ujung pekaiannya.
Lalu, dia teringat pesan mendiang ayahnya saat Ara masih sekolah dulu. Ayah tidak bisa menjaga putrinya sendiri selama itu, maka dari itu Ayah ingin Ara menikah dengan lelaki tulus. Tulus bukan karena seberapa lama dia memiliki hubungan dengan putrinya, tetapi seberapa serius dia ingin meyakinkan hati itu. Manusia sepenuhnya tempat penuh daya tipu dan kita harus pandai-pandai tau mana yang baik dan mana yang buruk.
Tidak, Ara tidak boleh menangis hanya karena rindu dengan sang ayah yang sudah berada di surga. Tetapi kematian beliau sangat membuat Ara terpukul —tepat saat dia sedang berjuang menyusun skripsi.
"Apa Ara memang tidak mau? Kalau tidak mau, saya tidak keberatan. Saya paham jika Ara belum siap untuk menjadi—"
"Saya mau."
Adimas terdiam saat Ara memotong perkataannya dan dia terdiam cukup lama. Hanya suara kecil namun dapat ditangkap baik oleh telinganya.
"Maaf?" Lelaki tersebut ingin memastikan.
"Iya, saya mau... mau menikah dengan dokter Adimas," ucap Ara mengangkat kepala dan memberanikan diri menatap lawan bicaranya.
Tentu saja itu menjadi kabar bahagia yang memang ingin Adimas dengar meski terlihat Ara masih takut dan ragu untuk memilih iya atau tidak. Ada kupu-kupu yang terbang dalam perutnya, euforia ini sungguh tidak bisa dia abaikan dan patutnya ditunjukan secara blak-blakan. Namun apa daya Adimas ini bukan Dana yang suka ceplas ceplos, dia lebih tenang.
Lalu, SINTA memanggil yang berada di mobil dan menyerahkan seserahan tunangan. Sebagai bentuk niat untuk mengikat Ara, seorang Adimas ini menyematkan cincin dan mengalungkan sebuah kalung indah di leher perempuan tersebut. Kebetulan ukurannya pas di jari manis Ara sehingga Adimas merasa beruntung memilihnya.
Pikiran Ara tidak seratus persen dalam keadaan tenang untuk saat ini. Ada rasa kalut yang bersemanyam di pikirannya, sehingga dia merasa bahwa akan membicarakan hal ini dengan Adimas sebelum melangsungkan janji suci.
Ia memikirkan kejadian malam itu—di hotel, tempat terakhir Ara dan mantannya bertemu dan merasakan kebahagiaan—bahwa akan ada sesuatu yang pasti terjadi. Dia berpikir .... tidak mungkin kan kalau Jovan mengeluarkannya di dalam? Sudah tidak perawan, apa kata orang-orang kalau anak yang dikandungnya bukan anak Adimas melainkan anak mantan kekasihnya yang luar biasa berengsek.
"Ara? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Adimas membuyarkan lamunannya.
"Ah, engga—aku cuman gak menyangka aja." Ara menggelengkan kepala dengan cepat. Pandangannya lucus entah ke titik yang sekarang dia pandang. "Kita bertemu begitu singkat. Berawal dari pasien-dokter akan menjadi suami-istri. Takdir sedang melucu atau bagaimana?"
"Tidak ada takdir yang lucu. Ayo jalani ini bersama saya sampai tua. Saya berjanji akan membahagiakan kamu, tangis yang muncul pun karena sebuah kebahagiaan bukan pelabuhan kesedihan."
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan bagi Adimas, semua akan sesuai dengan rencananya dan takdir dari Tuhan untuknya.
Usai acara penyematan dan pertukaran cincin pertunangan, Adimas berencana akan membawa Ara ke rumah baru yang terletak di dekat rumah sakit tempat Adimas bekerja. Di sana, ada rumah yang sudah dia bangun sedari kuliah dan dia akan menyesuaikan selera Ara setelah mereka menikah dan menetap satu minggi di rumah Ara terlebih dahulu.
Seniat ini, demi calon istrinya. Adimas tidak mau sampai ada air mata yang mengalir dari mata Ara lagi. Dia mulai takut kalau masa lalu Ara berdampak pada kesehatan mentalnya. Tidak, Adimas tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ini akan menjadi hal tergilanya, menikah dengan cepat dan persiapan yang cukup mepet. Tetapi, ia tak masalah.
Dia sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk menyayangi dan juga melindungi perempuan itu.