Badan Adimas luar biasa pegal. Beberapa hari belakangan dia belum beristirahat secara baik, sepulang bekerja dia akan selalu mengecek rumahnya yang masih tahap finishing.
"Kangen Ara...," gumamnya lalu segera tersadar dengan ucapannya barusan. "Duh, saya kenapa sih? Kenapa jadi main kangen gini. Saya gak kesambet 'kan? Baru empat hari lamaran udah bilang main kangen aja. Ingin kirim pesan tapi takutnya ganggu. Apa basa basi dulu kali, ya? Saya coba tanya juga kabar dia sudah minum obatnya apa belum, takutnya dia tidak meminumnya."
Adimas langsung membuka ponselnya lalu mengirimkan sebuah pesan yang ditujukan kepada Ara—tunangannya—untuk tanya apakah sudah meminum obat atau belum.
Adimas
Ara, apakah obat kamu sudah diminum? ^^ [delete]
Apa kamu sudah minum obat?
Ah, Adimas masih malu-malu jika memberikan pesan kepada Ara dari biasanya. Kalau tiba-tiba mengetik pesan yang terlalu rileks akan jadi aneh, bagi Adimas. Karena hubungan mereka sudah terikat sebagai tunangan, maka wajar saja akan ada sedikit kecanggungan yang meliputi keduanya. Mereka, bahkan Adimas sendiri, sama sekali tidak akan menduga mengambil tindakan ini. Ini pasti akan dikenal dengan pernikahan tak terduga bagi Adimas Chandrasurya. Sampai Wisnu saja juga merasa kaget.
Fokus Adimas kembali pada pasiennya yang baru saja datang ke ruangannya. Sebetulnya, dokter kejiwaan atau Psikiater bukan hanya menangani gangguan kejiwaan yang bersifat parah saja. Berbeda dengan psikolog juga, Psikiater juga menangani kasus pasien yang mengalami kesulitan tidur atau semacamnya.
Kali ini ada seorang wanita yang datang dengan wajah yang ditekuk dan terlihat pandangan kosong bersama dengan seorang ibu yang berada di samping wanita tersebut.
Dengan tatapan ramah, Adimas menyapa dan mempersilahkan keduanya duduk di hadapannya. Sang ibu mengusap surai coklat putrinya yang terlihat seperti seorang zombie tak bernyawa. Hampa dan tak tau harus apa. Auranya memang antara tak ingin hidup dan tak ingin mati. Bimbang diantara dua kesempatan.
"Halo adik manis. Nama kamu siapa?" sapanya ramah namun tak direspon. Akhirnya Adimas berbalik bertanya pada sang ibu. "Namanya siapa ya, Bu?" tanya Adimas ramah.
"Dinda. Nama anak saya Dinda," jawab wanita tua itu. "Tolong anak saya, Dok. Dia sudah satu bulan tidak mau melakukan apapun dan terus mengurung diri. Makan juga hanya sedikit sampai kurus begini."
Adimas merasa sedih mendengarnya. "Apa penyebab Dinda mengalami hal seperti ini? Jika ibu tau, mungkin bisa bercerita dengan saya agar saya dapat tau kondisi yang sesuai untuknya."
Wanita itu menatap sayu ke arah putrinya. Ia menunduk sejenak lalu kembali menatap Adimas. "Anak saya ... hamil di luar nikah. Kandungannya sudah berusia dua bulan. Usianya masih 16 tahun dan masih menikmati masa SMA. Tetapi, karena seseorang yang tidak mau bertanggung jawab akhirnya anak saya seperti ini. Tetangga-tetangga mencibir dan enggan memberi simpati."
"Aku mau mati saja, Bu ... kenapa harus ke sini ... Dinda sudah buat malu ibu dan bapak. Dinda gak pantas hidup," lantur Dinda dengan nada datar namun terdapat emosi yang Adimas rasakan.
"Dinda bilang apa? Mati? Apakah Dinda tau kalau dengan mati, akan ada kesedihan yang lebih mendalam untuk orang lain," kata Adimas.
"Lebih baik mati daripada menanggung malu seumur hidup. Aku lelah, Dok. Lelah...."
"Kenapa harus malu? Dinda akan menjadi seorang ibu, akan memiliki seorang anak yang tampan dan cantik. Apa yang harus malu? Ibunya Dinda juga tidak merasakan demikian, bukan? Dia bangga memiliki anak secantik Dinda, bahkan saya lihat dia sangat menyayangi Dinda dan juga calon cucunya," Adimas menjeda sejenak, menarik napas dalam satu tarikan. "Dinda korban atau pelaku?"
"K.. korban..."
"Kalau korban, harusnya dilindungin 'kan?"
Dinda menganggukkan kepala.
"Anak Dinda juga korban, maka Dinda harus menjaga dia dengan baik. Dia bukan sesuatu yang harus dibenci tapi harus dijaga," kali ini Adimas benar-benar mencoba untuk melindungi pasiennya ini agar tidak menggugurkan janin dalam kandungan. Sangat beresiko bagi ibu muda melakukan aborsi yang bisa mengancam kesehatan sang ibu.
"Ibu, dia memiliki depresi. Kategori sedang. Apakah Dinda sering mengamuk atau marah-marah di rumah? Keadaannya di sini terlihat tenang. Tetapi, jika memiliki emosi yang tidak stabil sebaiknya dia perlu lingkungan yang tepat untuk mendukung. Jauh, dari orang-orang seperti tetangga yang suka berkomentar pedas mengenai kehamilannya."
"Tapi, saya bisa apa, Dok? Anak saya, bahkan untuk bisa ke sini rasanya sulit sekali. Tadi saya banyak tetangga yang menanyakan ini itu yang memojokkan dia. Saya takut … Lalu, jika pindah rumah akan lebih sulit lagi nantinya," balas sang ibu menahan isak tangisnya. Ia tak kuasa jika melihat putrinya ini tak memiliki masa depan hanya karena cacian dan omongan tetangga yang sama sekali tidak membangun dan justru menjatuhkan.
"Akan lebih baik seperti itu. Jika dibiarkan dalam lingkungan yang tidak sehat, maka akan berdampak lebih buruk. Seperti kita hidup di sekitar air yang tercemar oleh bahan kimia, apa kita akan tetap hidup di sana atau justru mencari sumber air yang bersih? Pasti opsi kedua 'kan?"
Ibu Dinda terdiam. Dalam hatinya dia setuju dengan ucapan Adimas. Tetapi, masih ada hal yang perlu dipertimbangkan lagi jika mengenai kepindahan Dinda ke tempat yang baru.
"Baiklah. Mungkin ibu dan Dinda masih memerlukan berbagai pertimbangan. Saya akan memberi jadwal terapi saja kepada Dinda ya? Saat ini, saya belum bisa menyarankan obat karena mengingat Dinda sedang hamil," ujar Adimas.
Tangannya mulai mencoret-coret kata demi kata hasil anamnesa dan diagnosanya di atas lembar berobat pasien di hadapannya.
Lantas setelah pasien tersebut keluar, Adimas menyenderkan punggungnya di kursi kerjanya. Tatapannya mengarah ke langit-langit di ruangan tersebut yang hanya didominasi warna putih. Pasien tadi membuatnya teringat dengan Ara.
Korban pemerkosaan...
Adimas memikirkan jika Ara mengandung anak dari mantan kekasih perempuan itu. Adimas tidak akan marah, mungkin ... sedikit kecewa? Wajar baginya saat sudah menjalani sebuah pertunangan, ada rasa yang begitu jatuh karena rahasia yang disembunyikan Ara terungkap. Meski begitu, dia akan menyayangi anak tak berdosa itu.
Ini hanyalah sebuah perasaan sekaligus kecemasannya. Pernikahannya sebentar lagi akan dilangsungkan secara sederhana di sebuah hall hotel. Bukan terlalu sederhana juga, namun dekorasinya tidak akan terlalu meriah meskipun diselenggarakan di sana. Ara, perempuan yang berhasil membuatnya tak bisa berhenti memikirkannya selama seminggu tanpa henti. Perempuan yang awalnya menjadi pasiennya akan berubah menjadi pendamping hidupnya.
Adimas siap jika harus mengurus Ara, menjaga anak mereka dan juga menjaga keharmonisan keluarga yang sudah ada dalam bayangannya. Ia tak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaan tersebut termasuk mantan pacar Ara jika nanti dia tiba-tiba datang tanpa merasa menyesal.
Satu lagi, Adimas juga masih harus mencari keberadaan laki-laki yang membuat Adara—kakaknya—mati bunuh diri. Yang membuat bayi dalam kandungnan Adara juga ikut meninggal.
"Dokter, apa perlu saya bawakan minuman? Sepertinya dokter sedang mengalami hari yang berat," kata Perawat Yaya.
"Tidak perlu. Lima menit lagi panggilkan pasien berikutnya untuk datang ke ruangan ini. Saya hanya sedang rindu seseorang sekaligus memikirkan keadaannya. Mungkin karena hal itu saya terlihat memiliki wajah tadi?" Adimas tersenyum tipis. "Perawat Yaya, saya akan menikah. Jadi, wajar kan kalau saya rindu dengan calon istri saya sendiri?"
Perawat Yaya terkekeh pelan. Selanjutnya yang dia katakan cukup membuat Adimas mengetahui sesuatu. "Tentu saja boleh, Dok. Tidak ada larangan bagi seseorang merindukan sang kekasih. Aduh, malah bersyair. Intinya, Dokter Adimas tidak perlu bertanya jika sudah tau jawabannya. Sebagai seseorang istri, saya hanya menyarankan agar anda bisa menjadi suami yang perhatian dan memahami perasaan istri anda. Kami memang terlihat matre, percayalah tidak semua seperti itu. Bentuk kasih sayang juga bukan hanya sekadar pelukan atau ciuman, tapi tindakan kecil memberi perhatian juga sudah cukup."
Rasanya dia mendapatkan hal yang baru. Perawat Yaya yang berusia 3 tahun lebih tua darinya sudah menikah selama 7 tahun lamanya. Wajar, jika Adimas mendengarkan masukan tersebut.
"Satu, lagi."
"Ya?"
"Wanita yang sudah tidak perawan jangan dianggap sebagai barang bekas. Jika memandang kami adalah hal yang berharga, tempatkan kami dalam lindungan kalian para laki-laki, bukan di tempat sampah."
Deretan kalimat terakhir itu menutup perbincangan keduanya, Adimas masih harus melanjutkan tugasnya sebagai seorang dokter setelah satu pasien baru datang dan masuk ke dalam ruangannya.
Benar, wanita bukanlah sebuah barang. Jangan dianggap sebagai sampah. Adimas akan selalu mengingat poin itu dan berterima kasih sebesar-besarnya kepada Perawat Yaya.