Chapter 9

1110 Words
Rasa mual bergejolak dalam diri Ara, dia segera berlari ke kamar mandi di kamarnya untuk memuntahkan isi perutnya. Namun, yang keluar hanyalah air liur dan bukan sarapannya tadi pagi. Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi, sebentar lagi dia akan pergi keluar dan mencoba melamar pekerjaan. Apakah dia serius? Iya, dia serius. Belakangan ini dia mencoba apply ke beberapa perusahaan yang masuk dalam jurusannya. Sayangnya, hampir semua menolak tawarannya meski memiliki IPK sempurna dan sisanya tidak memberikan kepastian ia akan diterima bekerja atau sebaliknya. Rasanya akan aneh, padahal dia cukup profesional saat magang dulu di universitasnya. "Ara, kamu sakit?" Shinta datang menghampirinya saat mrndengar suara Ara sedang memuntahkan isi perutnya. "Istirahat dulu aja, ya?" "Enggak, Ma. Aku mau tetep lamar pekerjaan hari ini, aku gak mau menyerah dulu. Mama selama ini udah biayain kuliah Ara, jadi udah waktunya Ara gantiin buat bahagiakan Mama," kata Ara meyakinkan sang mama untuk tidak khawatir. "Wajah kamu pucet banget, loh. Mama gak izinin kamu buat lamar pekerjaan untuk hari ini. Sebagai gantinya, kamu pergi ke rumah sakit untuk periksakan diri ke dokter. Mama anter," balas Shinta. Tetapi, belum sempat dia akan bersiap-siap, Ara mencegah sang Mama untuk tidak ikut dengannya ke rumah sakit. Ia memiliki firasat buruk yang dapat membuat Shinta kecewa padanya. Firasat yang pasti dimiliki setiap gadis yang sudah kehilangan mahkotanya karena direnggut lelaki b******n. Ara menatap sang Mama dengan memohon. "Ma, biarkan aku pergi sendiri. Mama masih harus istirahat di rumah. Ara akan baik-baik aja. Gak akan terjadi sesuatu dengan putrimu ini. Kalau bertemu dokter Adimas, nanti Ara kabarkan ke Mama. Oke?" Shinta pun menganggukan kepala, setuju tanpa curiga maksud Ara memintanya untuk ikut hanyalah untuk menepis firasat buruknya. "Siap-siap ya, Nak. Mama akan ke rumah Bu RT untuk arisan bulanan saja di sana. Hati-hati di jalan," kata Shinta lalu mengusap pelan pipi putri satu-satunya dan pergi keluar kamar Ara. Setelah menatap kepergian Mamanya, Ara berganti pakaian menjadi pakaian rapi namun lebih nyaman daripada sebelumnya yang terlihat sangat formal. Dia akhirnya mengikuti saran Mamanya untuk pergi ke rumah sakit daripada melamar pekerjaan terlebih dahulu. Rambutnya yang semula ditata sangat rapi, kini hanya diikat satu di belakang. Sudah bersiap-siap, Ara berangkat menggunakan motornya sendiri meskipun sedikit bergetar karena takut jatuh. Masalahnya, dia takut jika tiba-tiba mengalami serangan panik dan berakhir terjatuh. Karena rumah sakitnya dekat, Ara tidak memerlukan waktu yang lama untuk tiba di sana. Ia segera mendaftarkan diri dan diarahkan ke dokter spesialis kandungan. Dibandingkan harus mengecek melalui testpack, ia memilih langkah ini yang paling aman. Takutnya jika menggunakan alat test tadi, akan ketahuan oleh sang Mama dan takut jika Mamanya sampai jatuh sakit. Ia duduk diantara ibu-ibu hamil dengan usia kandungan yang rata-rata sudah menegah ke atas. Sementara, ada juga yang terlihat masih muda usia kandungannya dan ditemani sang suami. Cukup lama Ara menunggu namanya dipanggil hingga seorang perawat akhirnya mempersilahkannya untuk masuk. Ara segera masuk ke dalam ruangan dan bertemu dengan dokter muda nan cantik bernama dr. Rania. Beliau langsung mendengarkan keluhan Ara dan memperliahkannya berbaring di atas ranjang untuk diperiksa. "Lihat, ini masih kecil sekali." Dokter Rania menunjukan ke layar USG. "Selamat ya, Bu Ara. Sebentar lagi mau jadi seorang ibu, pasti anaknya cantik atau ganteng." Ara terdiam-lama sekali. Hamil ...? Sama sekali, ia tidak mengharapkan akan terjadi hal ini. Mengandung seorang anak bukanlah hal yang berdosa, anak ini adalah hasil hubungan terlarangnya dengan Jovan. Hubungan yang seharusnya dilakukan oleh suami istri namun mereka melakukannya di luar pernikahan. Tangannya tergerak pada perutnya yang masih terasa dinginnya gel, dalam batinnya ia merasakan memang ada satu nyawa yang hidup di dalam sana. "Segera beritahu ini kepada suaminya ya, Bu. Ini sudah positif, jika masih ragu dengan hasil dari saya bisa menggunakan tespack. Dan iya satu lagi, jangan terlalu lelah. Kehamilan muda rentan keguguran kalau sering bekerja dan lelah," kata Dokter Rania lagi. Setelah pemeriksaan itu, Dokter Rania memberikan resep vitamin dan suplemen lainnya yang harus diminum rutin oleh Ara agar bayi dan sang ibu sama-sama sehat. Ara pamit karena sudah selesai, dia juga langsung menebus vitaminnya di apotek dan pulang agar tidak dicurigai. Sayangnya, Mavin-sahabat Adimas-yang tau bagaimana rupa tunangan sahabatnya melihat Ara yang baru saja mendapatkan obat. Baru saja ia selesai memeriksakan diri juga karena ada masalah di tulangnya yang seminggu lalu agak retak. Ia heran, padahal bukan jadwal praktek Adimas. Lalu, untuk apa Ara datang ke rumah sakit? Akhinya, ia menghampiri dan masuk ke apotek tadi daripada menghampiri Ara karena takutnya dia dicap dokter genit dan playboy dimata pasien-pasien lain. "Eh, Eka. Tadi yang barusan nebus obat habis nebus apaan emang ya?" tanya Mavin. "Ya Allah, ini dokter playboy teh naon sih. Kenapa? Penasaran sama yang nebus? Maau gebet? Nanti dimarahin istri baru tau rasa deh!" Eka, sang apoteker malah membalas pertanyaan Mavin dengan ledekan. "Ini mah saya bukan cuman disabet istri, tapi sama temen sendiri juga. Ih bukan! Soalnya, tadi dia bawa gak pake plastik kan? Nah, obatnya kek beda aja," kata Mavin. Dia gini-gini dokter yang lumayan jago menghafalkan jenis jenis obat, bahkan obat untuk penyakit lain juga biasa tahu. Aslinya tanya beginian ke seorang apoteker juga gak bagus, dia itu dokter dan masa iya dokter tanya rahasia pasien lain. Dia cuman kepo, kenapa warna bungkus obat Ara beda warna. Soalnya, di rumah sakit ini ada beberapa plastik pembungkus untuk membedakan pasien di setiap poliklinik. "Tadi dia cuman nebus vitamin aja, Dok. Vitamin yang biasa diminum buat ibu hamil gitu. Gak usah kepo namanya," jawab Eka tegas enggan menyebut nama Ara. Vitamin buat ibu hamil? LAH? "Oh, ya udah. Tolong resepin vitamin juga dong kayak tadi. Istri saya nitip juga, ini saya ambil sorean aja. Ini mau balik ke rumah dulu buat kasih makanan ibu ngidam," kata Mavin pamit dan langsung pergi. Tujuan utamanya bukan ke rumahnya, melainkan ke rumah Adimas. Nipu istri sendiri ada resikonya sih, mentok-mentok disuruh tidur di ruang tengah. Tetapi, kalau ini ada urusan sahabatnya dari jaman nangis berdarah-darah selama kuliah sampai bekerja di rumah sakit yang sama. Tanpa babibu Mavin ke parkiran dan menancapkan pedal mobilnya menuju ke rumah Adimas. Mavin, memang spesialis yang berbeda. Dokter dengan kelakuan agak pecicilan, suami idaman tapi sering ditabok istri sendiri, tulang di tangannya retak tapi dia malah jalan-jalan naik mobil. Astaga, kalau Adimas tau Mavin sebetulnya masih belum boleh mengendarai mobil, pasti dia bakal tabok lebih kencang ke daerah nyeri itu. Habis, Mavin itu keras kepala makanya Adimas gemas kalau Mavin sudah berulah. Fokus Mavin masih ke jalanan meskipun hatinya risau untuk memberitahu hal ini kepada Adimas. Semoga saja jika dia memberitahu ini, Adimas tidak mengalami kekecewaan yang mendalam. Dan... bisa jadi inilah yang menyebabkan Ara mengalami depresi mendalam, Mavin tak tau alasannya. Dia hanya tau depresi Ara tanpa tau penyebab pastinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD