Chapter 10

1090 Words
*** Ara sudah tiba di rumahnya dengan wajah penuh kekhawatiran. Ia menyembunyikan obatnya di dalam tas beserta sebuah tespack yang dia beli yang dia beli di apotik lain kemudian dia langsung mau masuk di kamarnya dan juga mengunci pintu kamar. Ara membuka tespack tersebut dan kemudian dia masuk ke kamar mandi serta dia mencoba alat tersebut apakah hasilnya akan akurat atau tidak. Di dalam kamar mandi, Ara duduk gelisah sambil menunggu bagaimana hasilnya keluar. Tidak lama kemudian hasilnya keluar dan menunjukkan 2 garis yang artinya bahwa dia positif hamil. Matanya berkaca-kaca dan nyaris tak percaya ternyata benar yang dikatakan oleh Dokter Rania bahwa dia sedang mengandung anak selama satu bulan dan mengingat bahwa selama satu bulan belakangan hal terakhir yang dilakukan adalah berhubungan badan dengan Jovan sebelum mereka tersebut mengakhiri hubungan yang sudah hancur. "Ya Tuhan, kenapa seperti ini? Apa salahku? Aku tidak bisa menggugurkan anak ini karena dia tidak berdosa dia tidak berdosa seperti kedua orang tuanya," gumam Ara menangis kecil di dalam sana. Lantas dia langsung bungkus tespacknya dan membuangnya ke tempat sampah. Dia benar-benar membungkus nya rapat-rapat sehingga ibunya tidak dapat mengetahui bahwa ada tes pack di kamar mandi di dalam kamar nya. Begitu ia keluar dari kamar mandi dia langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tidur miliknya. Ia masih shock dan hampir saja mengalami stress yang berat namun dia harus sebisa mungkin agar tidak mengalami stress atau berakibat pada anak nya yang tidak berdosa sama sekali. Sungguh rasanya Tuhan sedang menguji nya dengan sebuah cobaan yang begitu berat apalagi dia akan menikah dengan nya Adimas sebentar lagi. Entah kenapa bayangan malam itu masih terasa. Dia tidak bermaksud untuk berhubungan dengan Jovan sebelum mereka putus karena cowok itu telah berselingkuh dibelakang nya. Malam itu Jovan begitu mabuk dan Ara yang terpaksa diseret akhirnya melakukannya dengan terpaksa namun karena dia yakin bahwa Jovan akan menikahinya segera maka dia mau tidak mau mengikhlaskan mahkota berharga yang dia simpan selama ini. Setelah memikirkan kejadian malam itu dia lalu berpindah pikiran ke Adimas dia berpikir bagaimana cara menjelaskan tentang anak ini jika dia hamil di usia kandungan yang bukan seharusnya. Sebetulnya Ara akan memberikan kejutan mengenai persiapan pernikahan dia dengan Jovan dimana dia bahkan sudah memesan gaun pernikahan sebelum jovan melamarnya namun ternyata hubungan mereka lebih kandas daripada hubungan Romeo dan Juliet. Ara tidak pernah menceritakan mengenai persiapan yang dia lakukan diam-diam termasuk kepada sang ibu namun karena sudah terlanjur seperti ini apa boleh buat. Gaun nya masih tersimpan di dalam toko gaun yang dia pesan dan semua persiapan lainnya masih menunggu. Ara hanya takut jika Adimas tentang hal ini apakah dia masih akan menerima yang dia lakukan apa justru membatalkan pernikahan mereka. Ara sungguh takut. Akhirnya ia tertidur cukup lama sekitar 1 jam lamanya. Kemudian ketika ia terbangun, ia mendapatkan pesan dari Adimas yang membuat hatinya tidak karuan dan ia takut untuk melihat isi pesan tersebut Adimas Ara, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Tentang hari ini... Jantung nya berdetak lebih kencang dari biasanya. Pesan dari adimas mengisyaratkan bahwa lelaki tersebut sepertinya memang tahu mengenai apa yang terjadi hari ini namun dia tidak tahu bagaimana Adimas mengetahuinya karena setahu Ara bahwa hari ini Adimas tidak ada jadwal praktek. Ara harus menjawab apa? Apakah harus menjawab bahwa dia hamil atau dia pura-pura tidak tahu saja? Tetapi kebohongan membuatnya takut untuk tidak dipercayai maka ia memutuskan untuk jujur kepada Adimas. Ara Jika aku jujur.. apa kamu akan percaya? Adimas Iya, saya percaya Ara mengigit bibirnya sedikit keras, ia masih takut untuk menjawab namun saat satu helaan napas sudah keluar akhirnya dia mengetik balasannya kepada Adimas. Ara Adimas, aku hamil.. tapi hamil dari anak mantanku bagaimana ini? Cukup Ara tidak bisa menyakiti hati Adimas lagi. Dia tidak ingin menghancurkan harapan lekaki tersebut, mungkin saja Adimas menginginkan seorang istri yang bisa jujur padanya atau setidaknya istri yang sempurna. Dan Ara sama sekali tidak pantas. Dan ternyata, Adimas mengirimkan sebuah pesan suara kepadanya. Ara kembali menyiapkan dirinya agar siap mendengarkan segala yang dikatakan oleh Adimas itu. "Ara ... dengarkan saya. Saya bukan akan menolak kamu tetapi saya sudah tahu bahwa kamu memang hamil saya memang sudah ada firasat. Saya mengingat bahwa kamu depresi karena mantan kamu dan ketika kemarin saya menghadapi seorang pasien yang merupakan seorang korban pemerkosaan, saya jadi teringat kamu dan malam itu saya berpikir bahwa saya harus siap menerima kamu apa adanya. Saya memang lelaki yang terlihat baik, saya tidak jahat tapi saya adalah orang yang tidak bisa menyakiti seorang perempuan termasuk kamu." Air mata Ara lolos. Dia sama sekali lagi diberi keberuntungan oleh Tuhan setelah Adimas datang kepadanya. Sungguh, dia tidak tahu.bagaimana cara berterima kasih karena Adimas lebih dari seorang malaikat baginya. Adimas kembali mengirimkan pesan suara kepadanya. Kali ini dia merasakan jantungnya berdetak setelah ada suara lain yang dia dengar. "Ara ini ibu, Nak. Ibu sudah tahu kalau Ara tengah mengandung seorang anak. Ibu tidak akan menolak Ara sebagai menantuku, justru saya senang karena akan memiliki cucu meskipun itu bukan darah daging Adimas. Anak adalah sebuah titipan dari Tuhan dan kita harus menjaganya sebaik-baiknya. Ibu yakin Ara bukanlah wanita yang jahat. Ara adalah korban dan sudah waktunya mendapatkan kebahagiaan yang Ara mau." Tak sengaja Ara menekan tombol memanggil djsaat dia semakin terisak. Ia terkejut mendengar suara Adimas yang mencemaskan dirinya. "Ara.. kamu baik-baik saja bukan?" "Terima kasih karena kamu terlalu baik untuk saya, saya tidak bisa membalas semua kebaikan anda, Dokter. Mungkin suatu hari nanti akan ada balasan dari kebaikan seorang malaikat seperti anda." "Tidak, saya tidak perlu balasan. Yang saya inginkan adalah kamu baik-baik saja untuk saat ini. Saya tulus dan ikhlas untuk membantu kamu dan saya akan menyerahkan jiwa dan raga saya sebagai masa depan dan juga pendamping hidup kamu. Berjanjilah untuk terus hidup bahagia dan lupakan masa lalu yang begitu kelam," Sekali lagi perkataan Adimas begitu menusuk ke dalam dirinya. Ara mencengkram erat ponselnya, ia menurunkannya dari daun telinga dan kemudian kembali terisak. Ia mengabaikan panggilan dari Adimas lalu mematikan sambungan dari keduanya. Hatinya seolah terombang-ambing oleh sesuatu. Dia masih tidak mengerti dan masih belum bisa memahami apa yang dia rasakan antara sedih, marah, senang, kecewa, dan lain sebagainya. Semua itu seolah menyatu dalam dirinya yang begitu kacau. Mungkin sudah saatnya dia pun memahami dirinya sendiri yang ternyata dia masih belum bisa memahami dirinya sebelum bertemu Adimas. Arah menangis sampai dia lelah. Tanpa sadar dia tertidur di atas kasurnya sendiri sambil sebelah tangan menggenggam ponsel miliknya dan juga meletakkan tangan lainnya di atas perut seolah dia sedang menenangkan mencoba calon bayinya sendiri.  Dunia yang sebentar menghancurkannya berbalik membangun oleh harapan seseorang.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD