Saat ini Adimas sudah berada di rumah Ara untuk membahas pernikahan mereka dan juga memberitahu Sinta mengenai tanggal pernikahan mereka yang dipercepat. Adimas berkata bahwa alasan pernikahannya dipercepat sulit dijelaskan namun ini demi kebaikan semuanya.
Untungnya ia yang tidak curiga sama sekali, ia hanya menyetujui dan tidak mempermasalahkan tanggal tersebut yang diajukan oleh Adimas. Bahkan selanjutnya ia berlanjut membahas gaun pernikahan mereka berdua.
Sinta meninggalkan mereka berdua sekarang sendirian di ruang tamu dan keduanya hanya di selimuti rasa kecanggungan karena tidak ada orang lain selain mereka berdua. Tetapi, karena Adimas ingin meluruskan apa yang ia katakan maka ia pun memulai pembicaraan meski sedikit kaku.
"Kita mengobrol di mobil saja," ajak Adimas.
Menyetujui ajakan Adimas, Ara pun mengambil ponselnya, dan berpamitan dengan ibunya untuk pergi sebentar dengan lelaki tersebut.
Adimas berjalan terlebih dahulu dan kemudian disusul Ara di belakangnya. Ara duduk di samping kemudi di mana Adimas berada. Mobil Adimas mulai meninggalkan halaman rumah Ara dan pergi ke mana pun sehingga mereka berdua bisa mengobrol lebih intens namun santai.
Satu tarikan nafas Adimas ambil dan kemudian dia mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan dengan Ara. Ia berharap Ara tidak salah paham dan tidak merasa bersalah atas apapun karena sesungguhnya ini bukan kesalahannya namun sudah berada dalam kehendak Tuhan. Meskipun sedikit gugup Adimas tetap fokus pada jalanan.
"Saya tidak salah paham denganmu, saya justru senang kalau kamu sudah jujur mengenai apa yang terjadi sebelum pernikahan kita," kata Adimas. Sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya. "Kamu pasti tidak percaya bahwa saya telah menerimamu yang sedang mengandung anak dari mantan kamu. Dan juga Ibu saya yang menerima kamu dan tidak merasa keberatan atas bayi yang kamu kandung."
"Ara, dengarkan saya. Saya tulus menerima kamu. Sejauh mana masa lalu yang membuat kamu belum bisa melepaskan itu, saya akan tetap berada di sisi dimana hanya ada masa depan yang akan saya bagi bersama dengan pendamping hidup saya, yaitu kamu," imbuhnya, lagi.
Ara menahan tangisnya. Ia tidak boleh menangis untuk saat ini, sudah terlalu banyak air mata yang ia keluarkan namun belum ada balasan dari Jovan atas air mata ini. Di depan Adimas, ia tak ingin menitihkan tetesan kristal bening tersebut hanya karena pikirannya masih berkecambuk antara kenyataan dari ketulusan seorang Adimas atau mirisnya sang mantan yang meninggalkannya dan anak mereka.
Tatapan matanya lurus ke perutnya yang masih tampak rata. Seorang calon anaknya sedang tumbuh di dalam rahimnya, dan seorang calon pendamping hidupnya sedang berusaha keras untuk meyakinkannya bahwa semua akan berlalu.
"Kamu menerimaku karena tulus bukan? Atau hanya karena aku mirip dengan mendiang kakakmu Dara?" tanya Ara entah mencelos begitu saja.
"Saya akan menjawab karena kedua-duanya," jawab Adimas. "Kenapa? Karena saya memang merasakan bahwa Tuhan mempertemukan kita berdua untuk berjodoh maka kita akan semakin didekatkan. Saya akui awalnya memang terlintas untuk menikahkanmu karena wajah kamu mirip dengan Kak Dara, saya sedikit trauma dan tidak ingin Dejá vu. Dan saya putuskan untuk menetapkan masa depan hanya bersama dengan kamu dan calon anak kita."
Calon anak kita...
Oh, Tuhan. Kenapa ada orang setulus Adimas? Bagaimana... bagainana bisa? Terbuat dari apa hati seorang dokter muda ini? Ara tidak mengerti, Ara bingung namun dia begitu senang atas pernyataan Adimas. Tak ada kebohongan yang terucap dari bibir lelaki itu meski suara jalanan menyatu.
Adimas begitu panik mendengar suara isak tangis kecil Ara. "Jangan menangis ... jangan menangis. Saya mohon kamu jangan menangis, air mata kamu membuat saya merasa ikut sedih."
"Kenapa ada orang sebaik kamu? Menerima kekuranganku yang sebenarnya sebuah aib bila orang lain tahu. Aku harus membalas kebaikanmu dengan apa, Adimas? Karena kamu menerima segala kekuranganku dan anak yang kukandung ini," kata Ara dalam isak kecilnya.
Sekali lagi, Adimas menarik napasnya dalam dan kembali menjawab, "Sudah kukatakan. Saya memang tulus menerima kamu apa adanya, termasuk bayimu." Entah berapa kali terus mengucapkan kalimat tersebut dalam chat maupun perkataan langsung. Belasan kali?
Setir kemudi dia putar ke kiri, mobilnya dia tepikan hingga benar-benar sudah tak berjalan. Tangannya menggenggam tangan Ara, mendekatkan milik perempuan itu dan tersenyum melihat cincin tunangan mereka tersemat di jari manis itu.
"Ayo kita memesan semua persiapan untuk pernikahan kita, mulai dari gaun untukmu, prasmanan, dekorasi, dan lain-lainnya. Saya serius. Saya ingin kamu bahagia maka semua hal-hal berkaitan dengan pernikahan kita akan kusesuaikan dengan kamu," kata Adimas, menyerahkan sebuah brosus WO yang ia dapat dari perawat Yaya.
"Tapi Adimas," cicit Ara memegang brosur tersebut tanpa melihat isinya. "Aku sudah menyiapkan persiapan pernikahan jauh... jauh sebelum kecelakaan itu terjadi. Semua. Tinggal saat itu aku hanya menunggu dia melamarku, namun ternyata tidak sama sekali. Miris."
"Kalau begitu, ayo kita ke tempat yang kamu sudah pesan sebelumnya. Kita akan re-check semua, kamu bisa mengubah apa yang ingin diubah. Beritahu alamatnya," ucap Adimas mengajak dan mencoba meyakinkannya.
"Apa... tidak apa-apa?"
"Untukku tidak ada masalah. Sudah saya bilang, saya ingin pernikahan ini membuat kamu merasa bahagia dan lebih baik," sekali lagi Adimas mencoba untuk meyakinkan Ara bahwa ia akan baik-baik saja.
Tidak ada pilihan lain, Ara memberitahu alamat Wedding Organizer yang dia pakai dan pesan sebelumnya yang mana itu merupakan usaha milik salah satu teman kuliah S1-nya. Adimas yang tidak tahu daerah tersebut meminta Ara untuk menunjukan tempatnya sebelum sore itu berganti malam.
Mobil kembali berjalan, melewati gedung-gedung kawasan kota metropolitan yang mulai menyalakan lampu meskipun hari itu belum gelap. Sepanjang perjalanan, Adimas mencoba mengobrol ringan—membicarakan hal-hal kecil seperti kebiasaan umum agar keduanya bisa mengetahui satu sama lain dan bisa memahami perbedaan yang ada.
Rasanya mengajak ngobrol seorang teman. Saat ini, perasaan Ara belum bisa mengatakan suka dalam artian seorang wanita. Ia memang suka kepada Adimas, namun suka yang tidak dapat dijelaskan. Sebagai manusia pada umumnya yang menyukai sesuatu yang dianggap baik? Kurang lebih begitu. Kalau menganggap cinta tidak penting dalam pernikahan setelah hatinya dipatahkan, Ara rasa semua orang salah menganggap ia akan seperti itu. Jika hati yang patah oleh seseorang tak bisa diperbaiki oleh orang yang sama, maka orang lain akan menyumbangkan hatinya agar bisa tau dan paham kembali mengenai cinta.
Adimas, lelaki itu yang Ara harapkan bisa menjadi sebuah obat yang tepat untuk hatinya yang telah berdarah hingga seperti sulit untuk sembuh. Move on tidak harus dalam waktu sesingkat-singkatnya, setidaknya jika status Ara sudah sah sebagai seorang istri, ia akan berusaha melupakan Jovan karena mengingat lelaki itu seperti mengorek luka yang baru saja kering dan kembali berdarah dan akhirnya rasa perih lagi-lagi muncul.
***