Ana memperhatikan Ryena yang sedang membaca buku dengan tenang. Sesekali ekspresi seriusnya diperhatikan dengan detail, Ana merasakan kalau Ryena hanya menatap pada satu tulisan dan bukan membaca secara keseluruhan---tepat gerakan matanya tidak bergerak gerak selayaknya orang membaca buku dengan benar. Tangan Ana melambai-lambai pelan di depan wajah Ryena. "Rye, aya naon? Bukunya gak dibaca bener-bener, ih. Susah apa gimana? Nanti aku bantuin, serius deh. Jangan diem banget, kita cuma beda satu ruangan dan cuman sebelahan aja." Ia menggoyangkan pelan pundak kawannya. "Aku denger lho, Na. Mata aku baca semuanya ya, dalam satu tatapan aku lihat semua kalimatnya," tanggap Ryena masih menatap bukunya. "Jangan belajar keras-keras, lho. Nanti kalau nih mimisan lagi, takutnya bisa pingsan juga

