Sedih dan Khawatir, itulah yang Maryam rasakan setelah ibunya dibawa ke rumah sakit, tapi dirinya hanya berdiam diri di rumah tanpa bisa melihat bagaimana keadaan ibunya di rumah sakit. Dia hanya bisa berharap akan ada kabar baik yang dia dapatkan dari Adrian atau Hasan mengenai keadaan ibunya yang tidak sadarkan diri.
“Kita benar – benar harus membawanya ke rumah sakit agar bisa mendapat penanganan yang lebih baik, jika terus di biarkan seperti ini akan sangat membahayakan” ujar Natasya, kepada Hasan dan Adrian yang saat itu sedang berdiskusi mengenai keadaan Intan.
“Om Adrian, bawa saja Umma ke rumah sakit, masalah tempat kita di ketahui mereka itu kita pikirkan saja nanti, aku gak mau kehilangan Umma, Om” ujar Maryam, yang sudah duduk disamping Adrian dengan tatapan penuh permohonan.
“Sebenarnya, apa yang membuat kalian Ragu membawanya ke rumah sakit, ini hal yang darurat, dan tidak bisa di tunda – tunda karena bisa membahayakan nyawa pasien” ujar Natasya, penuh keseriusan.
Sesaat Adrian dan Hasan terdiam mendengar pertanyaan dari Natasya, kemudian Hasan mulai menjelaskan situasi apa yang sedang mereka hadapi. Sesaat, Natasya terdiam sambil mengangguk – anggukan kepalanya. Sampai akhinya, perempuan berstatus Dokter itu mempunyai sebuah ide yang berkemungkinan akan berhasil membawa Intan ke rumah sakit tanpa harus dicurigai.
“Pakaikan Mbak Intan jaket dan pasangkan penutup kepalanya, Hasan ubah penampilan kamu layaknya menjadi seperti bodyguard, dan Pak Adrian berpenampilan dan bersikaplah menjadi seorang supir taxi online, akan jauh lebih baik juga jika ada mobil yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah digunakan, sementara itu jika ada yang bertanya aku akan menunjukan kartu identitas ku sebagai Dokter” ujar Natasya, berhasil membuat semuanya langsung mengangguk setuju, setidaknya dengan begitu mereka mempunyai harapan baru, entah itu untuk keselamatan Intan, atau apapun.
“Dan untuk kamu, aku paham pasti kamu khawatir dengan keadaan ibu kamu, tapi tolong bekerja samalah dalam hal ini, karena biar bagaimanapun target utama mereka adalah kamu. Jadi, bisakan kalau kamu di rumah saja dan tunggu kabar dari kami, aku akan berusaha sebaik mungkin menolong ibu kamu, ini demi keselamatan ibu kamu” ujar Natasya, sambil mengelus bahu Maryam dan langsung di balas anggukan kepala oleh gadis itu.
Natasya tersenyum sambil mengelus pundak Maryam, kemudian mereka langsung bersiap sesuai dengan yang di rencanakan. Baru setelah semuanya siap, Adrian langsung pergi ke rumahnya mengambil mobil yang baru sedikit selesai di modifiasi, dengan flat mobil baru, kemudian dia mebawanya menuju ke depan rumah Intan dan Maryam. Tidak lama setelah itu, Hasan muncul dengan penampilannya yang sudah mirip seperti bodyguard sambil membopong tubuh Intan yang saat itu tubuhnya di tutupi jaket dengan penutup kepalanya, diikuti Natasya yang saat itu mengekor di belakangnya.
“Ini ada apa ? kemana kalian akan pergi malam – malam begini ?” tanya seseorang yang Adrian yakin adalah salah satu dari para orang suruhan kakek Maryam.
“Oh selamat malam Pak, tapi siapakah Bapak ini, kebetulan saya Natasya, Dokter pribadi dari keluarga yang di tinggal di rumah ini, sekarang saya harus segera membawanya pergi ke rumah sakit karena penyakit beliau harus segera mendapat penanganan” ujar Natasya, bicara dengan Bahasa formalnya tanpa rasa gugup sedikitpun.
Sesaat, dua orang laki – laki itu menatap kearah Natasya selama beberapa saat, kemudian mereka berniat melihat secara jelas wajah Intan yang saat itu tidak terlihat karena tertutup oleh penutup kepala. Namun, dengan cepat Natasya berusaha untuk mencegahnya.
“Maaf Pak, tapi sepertinya anda bukan petugas keamanan ? talong berikan kami jalan karena pasien saya harus segera mendapat penanganan” ujar Natasya, kemudian langsung masuk ke dalam mobil dan hanya mendapat anggukan kepala dari dua pria itu dan sepertinya berhasil membuat mereka tidak merasa curiga sedikitpun.
“Komplikasi ginjal, diabetes, dan darah tinggi, itulah yang dialami oleh pasien, jatuh yang di alami pasien dengan tekanan darah tingginya dan kadar gula darah yang tinggi juga yang memicu pasien tidak kunjung sadarkan diri” jelas seorang Dokter, yang saat itu menangani Intan karena saat itu Natasya tidak bisa ikut melakukan penanganan karena rumah sakit itu bukan tempatnya bekerja.
“Sedangkan untuk penyakit gagal ginjal pasien yang sudah kronis dan berada di stadium akhir, perlu dilakukan operasi pencangkokan ginjal, hanya saja apabila operasi dilakukan memiliki resiko yang sangat tinggi karena penyakit diabetes yang dialami pasien juga” lanjut Dokter, berhasil membuat semua orang yang mendengarkan hanya bisa menghela nafas berat.
Hasan mendudukan tubuhnya diatas kursi tunggu setelah Dokter menyampaikan tentang bagaimana kondisi Intan. Tiba – tiba laki – laki itu teringat pada sosok Maryam yang dia yakin pasti akan sangat sedih jika dia tahu bagaimana kondiri ibunya. Menyadari jika Hasan sedang dilanda perasaan gelisah, perlahan Natasya berjalan mendekatinya.
“Kamu harus tenang dan sabar, semua pasti akan baik – baik saja” ujar Natasya, sambil mengelus lengan Hasan hingga membuat laki – laki itu menoleh.
“Apa yang harus aku katakan pada Maryam, Nat, aku gak bisa melihat dia sedih” ujar Hasan, berhasil membuat senyum getir terbit dari bibirnya, karena meskipun dia berusaha memperingati jika Hasan dan Maryam hanya sebatas kakak dan adik, tetap saja ada kecemburuan yang dia rasakan, tapi saat itu dia sadar bukan saatnya untuk mempermasalahkan hal itu.
“Kamu Kakaknya, perankanlah peran Kakak itu dengan sebaik mungkin, jadilah pelindung dan penenang untuknya, aku yakin kamu bisa menjadi Kakak yang baik untuknya” ujar Natasya, sambil menggenggam tangan Hasan.
Sesaat, Hasan tersenyum menatap wajah Natasya, setidaknya saat itu dia harus bersyukur karena ada Natasya di sampingnya, menemani dia dalam keadaan apapun, menjadi penenang dalam kegundahan hati yang dia rasakan. Kemudian, Hasan membalas ganggaman tangan Natasya menggunakan tangannya yang lain.
“Kak, apa yang terjadi sama Tante Intan, mana Maryam ?” tanya Alina, yang saat itu baru saja muncul diikuti kedua orang tuanya.
Saat itu, jam baru saja menunjukan pukul 05.00, sepertinya mereka berangkat tepat setelah melaksanakan shalat Subuh, dan Hasan yakin ibunya yang menemukan surat yang semalam dia tulis sebelum berangkat ke rumah Maryam, hanya saja Hasan tidak tahu dari mana mereka tahu rumah sakit tempat Intan di rawat, karena tidak ada salah satu diantara mereka yang bertanya, atau mungkin mereka menanyakannya kepada Maryam.
“Dokter bilang keadaannya tidak baik, Mbak Intan mengalami komplikasi ginjal, diabetes dan darah tinggi, dan hingga saat dia belum juga sadarkan diri” ujar Hasan, sambil menatap Alina dan kedua orang tuanya.
“Sebaiknya, kamu temani Maryam di rumah, karena dia tidak ikut datang ke sini, keadaannya tidak mendukung” ujar Hasan, sambil menatap Alina.
“Sebaiknya Mas Hasan juga ikut menemani Non Maryam di rumah, karena saya khawatir membiarkan dia di rumah bersama Lili berdua saja, karena saya juga harus berjaga di sini” ujar Adrian yang baru saja muncul setelah mengurus perawatan untuk Intan.
Sesaat Hasan terdiam, tapi tidak lama kemudian dia langsung menganggukkan kepalanya, karena apa yang barus saja Adrian katakan memang tidak salah. Dia memutuskan pulang dan mengajak Alina bersama Natasya untuk menemani Maryam, setidaknya dengan keberadaan Alina, Hasan berharap Maryam bisa memiliki teman untuk bercerita.
***
“Hasan, sebaiknya aku tidak ikut ke rumah Maryam dulu, aku rasa dia butuh kalian sebagai keluarganya, aku tidak ingin membuat dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan ku yang bukan siapa – siapa di tengah kalian” ujar Natasya, saat diperjalanan yang berhasil membuat Hasan mengerutkan dahinya bingung.
“Mungkin, jika keadaannya sudah jauh lebih baik, aku bisa bertemu dengan Maryam dan menghabiskan waktu bersama Alina juga” ujar Natasya, saat dia merasa Hasan tidak setuju dengan perkataanya yang sebelumnya.
Mendengar penjelasan Natasya, Hasan menganggukan kepalanya, sementara Alina gadis itu hanya diam tanpa berkata apapun sambil sesekali melirik Natasya yang sedang duduk di kursi penumpang belakang melalui kaca depan mobil.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Hasan menghentikan laju mobilnya di depan sebuah bangunan apartemen miliknya yang saat ini sedang di huni oleh Natasya, karena nyatanya gadis itu memang belum berani pulang setelah kejadian beberapa hari yang lalu.
“Perlu aku antar sampai atas ?” tanya Hasan, saat Natasya akan turun dari mobilnya.
Natasya menggelengkan kepalanya, sebagai tanda jika Hasan tidak perlu mengatarnya naik ke unit apartemen milik laki – laki itu yang sedang dia tempati. “Gak perlu, kamu ke rumah Maryam aja, jadilah Kakak yang baik untuk mereka, aku yakin kamu pasti bisa” ujar Natasya, sambil tersenyum dan dibalas sebuah anggukan dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.
Setelah itu, Natasya benar – benar turun dari mobil Hasan, laki – laki itu tidak langsung melajukan mobilnya, dia baru kembali melanjutkan perjalanan setelah memastikan Natasya benar – benar masuk dan sudah tidak terlihat lagi dari luar. Selama perjalanan yang Hasan dan Alina tempuh menuju rumah Maryam, tidak ada percakapan apapun yang terjadi diantara mereka, keduanya memilih bungkam dan sibuk dengan pikiran masing – masing. Padahal biasanya, bila mereka sedang diperjalanan, apalagi yang berada dalam mobil hanya dia dan Hasan, Alina selalu banyak cerita, tapi kali ini gadis itu seakan sudah kehilangan minat berceritanya karena terus teringat pada keadaan Maryam.
“Perempuan tadi tinggal di apartemen Kakak ? kalian tinggal bareng ?” tanya Alina, tiba – tiba memecah keheningan.
Sesaat Hasan terdiam sambil menahan senyumnya, kemudian dia menoleh kearah Alina yang saat itu masih terlihat fokus menatap kearah depan. “Kenapa memangnya ? dia teman masa kecil Kakak, kami baru – baru ini kembali dekat dan saling berkomunikasi setelah kita pindah ke Makassar” ujar Hasan, sambil membelai kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.
“Aneh saja, Kakak yang selama ini sangat gila kerja tiba – tiba terlihat akrab bahkan mesra dengan seorang perempuan” ujar Alina. “Tidak usah di jawab aku juga tidak mau mendengar jawaban Kakak” lanjutnya, membuat senyuman semakin terukir lebar dari bibir Hasan.
“Sepertinya kamu masih marah ya, baiklah” ujar Hasan, sambil mengelus rambut Alina, dan kembali memfokuskan tatapan matanya kearah jalanan.
Setelah itu, Hasan memilih melajukan mobilnya dalam bisu, tidak berniat melanjutkan perbincangan yang sudah di mulai oleh adiknya, karena sepertinya adiknya juga tidak menyukainya, terlebih saat itu kondisi perasaan Hasan sedang tidak baik, jadi dia memutuskan untuk diam.
Setelah melakukan perjalanan, akhirnya mobil Hasan berhasil sampai di depan rumah Maryam. Keduanya langsung masuk setelah Lili membukakan pintu untuk mereka. Pemandangan pertama yang mereka lihat saat masuk ke dalam rumah adalah Maryam yang masih terisak menangis di ruang tamu. Melihat Maryam yang sedang menangis, Alina langsung menghampirinya, mebawa gadis itu ke dalam dekapannya.
“Kamu tidak tidur lagi sejak Umma di bawa ke rumah sakit ?” tanya Hasan, sambil berjongkok dihadapan Maryam yang saat itu sedang di dekap Alina.
“Aku khawatir pada keadaan Umma, Kak” ujarnya, dengan suara yang terdengar parau, bahkan cadar berwarna abu – abu yang saat itu dia gunakan sudah terlihat basah oleh air mata.
Sesaat Hasan terdiam sambil menghela nafasnya saat dia mendengar jawaban Maryam, setidaknya saat itu dia mengerti apa yang Maryam rasakan, karena dia juga pernah mengalaminya. Kemudian, dia mengambil tangan Alina dan menyimpannya diatas tangan Maryam, sebagai pertanda jika laki – laki itu meminta Alina untuk menggenggam tangan Maryam, karena sekalipun Hasan tidak sealim kedua orang tuanya, tapi dia tahu bagaimana caranya menghormati wanita.
“Percayalah, semua akan baik – baik saja, yang perlu kita lakukan adalah berdo’a agar keadaan Umma membaik, lebih baik sekarang Maryam ke kamar di temani Alina lalu istirahat ya, Umma pasti akan sedih kalau tahu Maryam seperti ini” ujar Hasan, dengan penuh kelembutan.
Maryam menganggukan kepalanya, kemudian dia pergi ke kamarnya di temani Alina. Saat itu Hasan memilih tidak memberitahukan bagaimana keadaan Intan yang sebenarnya kepada Maryam, karena laki – laki itu tidak mampu jika harus melihat tangis kesedihan kembali berjatuhan dari pelupuk mata Maryam.