Tawaran Menggiurkan

931 Words
Julian merasa tidak nyaman dengan tatapan Valen. Walaupun yang menatapnya wanita secantik Valen, ia tetap tidak nyaman karena ditatap terus-menerus. Apalagi tatapan itu seolah sedang mengikuti setiap inci bagian tubuhnya. “Kenapa kamu memilih bekerja sebagai security?” tanya Valen yang telah membaca data diri Julian, termasuk riwayat pendidikan terakhirnya, juga nilai-nilai yang bisa dikatakan sempurna. Julian dengan tenang berkata, “Mencari pekerjaan akhir-akhir ini bukan perkara mudah, apalagi jika tidak memiliki kenalan orang dalam. Jadi selama pekerjaan itu menghasilkan uang dan tidak melanggar hukum, tidak ada alasan bagi saya menolak pekerjaan menjadi security.” “Bagaimana kalau aku memberikan pekerjaan lain untukmu dengan gaji yang lebih besar?” Valen memberikan tawaran menggiurkan pada Julian. Tetapi Julian tak begitu saja menerima pekerjaan itu walau tergiur dengan gajinya, melainkan ia ingin kejelasan lebih dulu tentang pekerjaan yang ditawarkan Valen. Julian segera mengutarakan pada Valen dimana ia ingin kejelasan tentang pekerjaan yang ditawarkan padanya, “Apa saya boleh tau jenis pekerjaan seperti apa yang Nona tawarkan ke saya?” Valen tersenyum kecil, dimana ia baru saja melihat sosok yang teliti dan berhati-hati dalam bertindak. “Menikah kontrak denganku selama satu tahun, dan setiap bulannya uang sepuluh ribu Dollar akan menjadi milikmu!” Julian seketika terperangah. “Menikah kontrak? Memangnya ada jenis pekerjaan seperti itu? Nona, tolong jangan main-main!” ujar Julian ragu pada apa yang baru dikatakan Valen. “Aku yang mengadakannya, dan aku menawarkan pekerjaan itu padamu. Jadi bagaimana, bersedia atau menolak? Oh iya, silahkan menolak kalau kamu ingin kehilangan pekerjaan, dan untuk ke depannya bakalan sulit mendapatkan pekerjaan baru!” “Gluk...” Julian menelan kasar ludahnya sendiri begitu tatapan horor dilayangkan Valen padanya. ‘Ini namanya pemaksaan, dan kalau sudah begini, apa mungkin ada kesempatan bagiku menolak tawarannya?’ batin Julian tak habis pikir dengan sikap Bos-nya yang sangat pemaksa. Julian menatap balik Valen sebelum akhirnya dia mengangguk pasrah, menerima apa yang ditawarkan Valen padanya, membuat wanita itu tersenyum, tapi bukannya terlihat cantik, Julian justru melihat itu adalah senyuman paling menjengkelkan yang selama ini pernah dia lihat. ‘Kalau saja bukan Bos, sudah aku lempar dia dari jendela ruangan ini,’ batin Julian kesal. Apalagi setelah urusan dengannya selesai, Valen justru mengusirnya pergi dari ruang kerjanya, membuatnya semakin kesal saja sama wanita itu. “Nona, baru kali ini aku melihat Nona memaksa seseorang sampai segitunya,” ujar Eleanor berani mengatakan semua itu, dan dia tak takut dimarahi Valen, sebab hubungan mereka sudah sangat dekat, selayaknya hubungan saudara. “Apa kamu tadi melihat ekspresi wajahnya yang tidak berdaya? Itu ekspresi sangat menggemaskan, dan entah kenapa aku suka saja melihat ekspresi itu,” ucap Valen sambil tersenyum. Eleanor hanya mengangguk. ‘Yang aku lihat di mata Nona tergambar jelas rasa tertarik pada pria itu, dan itu bukan rasa tertarik biasa,’ batinnya. Dia memilih tak mengatakan semua itu pada Valen, dan begitu saja kembali ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. *** Tok... Tok... Tok... Julian yang sedang makan siang di ruang istirahat security, ia dikejutkan dengan suara ketikan pintu yang begitu tiba-tiba. “Siapa juga yang ngetok pintu di waktu jan istirahat?” Membuka pintu, Julian dikejutkan dengan sosok yang berdiri di depannya. “Nona Eleanor, kenapa ada di sini?” tanya Julian sopan. “Nona Valen mengundangmu untuk menemaninya makan siang di ruangannya,” jawab Eleanor. Julian yang mendengar itu bingung bagaimana menanggapinya, tapi karena undangan itu berasal dari Nona Bos-nya, mau tak mau dia ikut Eleanor pergi ke ruangan Valen. “Nona, apa tidak sebaiknya saya membawa bekal saya?” tanya Julian bingung nanti tak lagi memiliki sisa waktu untuk melanjutkan makan. “Aku sudah memesan makanan untuk tiga orang, jadi kamu tidak perlu membawa bekalmu,” jawab Eleanor, sekaligus membuat lega Julian. Walau tak tau makanan seperti apa yang dipesan Eleanor, Julian tetap merasa lega karena setidaknya dia tetap bisa makan, apalagi saat ini dia sangat lapar setelah setengah hari bekerja dengan waktu istirahat yang hanya beberapa menit. Beberapa menit kemudian Julian yang mengikuti Eleanor tiba di ruangan Valen, tapi keberadaan wanita itu tak terlihat di ruangannya, membuat Jukian ingin bertanya dimana Nona Bos-nya berada. Belum juga bertanya, Julian sudah lebih dulu melihat Valen keluar dari toilet, lalu tak lama kemudian wanita itu sudah duduk di sofa. Nona Bos-nya sudah duduk, tapi karena belum dipersilahkan duduk, Julian tetap berdiri, membuat Eleanor yang sudah lebih dulu duduk hanya bisa menggeleng kecil, lalu dia menarik Julian duduk di sebelahnya, berhadapan langsung dengan Valen, dimana hanya ada meja yang membatasi mereka. “Langsung makan, atau mau aku suapi?” kata Valen begitu tiba-tiba. “Uhuk...” Seketika Julian tersedak air ludahnya sendiri. Secepatnya Julian menenangkan diri, lalu berkata, “Saya bisa makan sendiri,” ucapnya sopan. Valen mengangguk kecil. “Kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa langsung mengatakannya dan aku, akan menyuapimu!” Julian mengangguk dengan ragu-ragu, dan lagi Eleanor dibuat tersenyum kecil melihat interaksi antara Valen dan Julian. ‘Sejak bertahun-tahun bersamanya, baru hari ini aku sering melihat Nona tersenyum,’ batin Eleanor. Julian makan dengan tenang, begitu juga dengan Valen dan Eleanor, dan begitu makanan habis, Jilian berinisiatif membuang wadah kotor ke tempat sampah. “Berikan nomor ponsel dan alamat rumahmu! Malam ini juga aku ingin menyelesaikan perjanjian pernikahan kontrak denganmu,” kata Valen. Walau sempat terkejut karena semua terasa sangat tiba-tiba, Julian pada akhirnya tetap memberitahu Valen nomor ponselnya, juga alamat rumahnya. Sebenarnya ia tak tau kenapa Valen membutuhkan alamat rumahnya, tapi dia tetap memberikannya tanpa rasa curiga. “Sekarang kembali ke tempatmu bekerja!” kata Valen tegas. “Baik, Nona,” kata Julian. ‘Ini sudah yang kd dua kalinya dia mengusirku setelah diundang datang ke tempatnya,’ batin Julian mengeluh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD