Memulai Pekerjaan Baru

658 Words
Di pagi hari yang cerah, Julian sudah memulai rutinitasnya, berlari di jalanan sekitar rumah sewa yang baru dua malam ini dia tempati. Waktu di jam tangannya masih menunjukkan pukul 05.35, masih ada waktu lebih dari satu jam sebelum ia harus sudah tiba di tempat kerja barunya. “Hari senin yang cerah untuk memulai segalanya dari awal,” gumamnya, mengakhiri lari pagi begitu tiba di depan rumahnya. Julian masuk ke dalam rumah dan berjalan ke kamar mandi. Selesai mandi dan memakai seragam kerjanya, ia pergi ke dapur untuk sarapan. Sebelum pergi berlari ia sudah lebih dulu menyiapkan makanan untuk sarapan, dan sekarang tinggal memakannya. “Saatnya pergi bekerja,” ucap Julian, mencoba menyemangati dirinya sendiri. Menaiki kendaraan umum, butuh 10 menit untuk sampai di tempatnya bekerja. Kemarin Julian sudah berkenalan dengan rekan kerjanya, dan mengetahui pekerjaan apa saja yang harus dilakukannya sebagai seorang security. Semalaman, Julian telah menghabiskan banyak waktu untuk menghafal sosok penting di kantor perusahaan tempatnya bekerja, dan sekarang dia sudah benar-benar siap memulai pekerjaannya. Tepat pukul 06.45 pagi ia tiba di kantor perusahaan, lima belas menit lebih cepat sebelum jam kerjanya dimulai, dimana Julian bekerja mulai pukul 07.00 pagi, sampai pukul 16.00 sore. Walau jam kerja karyawan kantor baru dimulai pukul 08.00 pagi, security sudah harus bekerja satu jam lebih awal, begitu juga dengan cleaning service dan office boy maupun office girl. Sebelumnya Julian bekerja sebagai security gudang, membuatnya sudah tak asing dengan pekerjaannya sekarang, apalagi dengan gaji 2 kali lebih besar dari gaji yang sebelumnya dia terima. Setelah meletakkan jaket dan taa berisikan pakaian ganti, Julian melakukan patroli pagi, mengawasi dan memantau keadaan di lingkup area kerjanya. Ia sendirian melakukan patroli karena rekannya bertugas mengawasi bagian depan kantor, memastikan tak ada orang asing lolos masuk ke dalam kantor. Bangunan kantor terdiri dari 40 lantai, dan tak semua lantai ia cek satu demi satu. Untuk keseluruhan tempat dapat ia cek dan pantau dari ruang CCTV. Baru juga kembali dari patroli keliling, Julian melihat Valen, CEO muda dengan kecantikan di atas rata-rata. Valencia Briana Xavier adalah nama lengkap wanita itu, dimana ia menjabat sebagai CEO menggantikan ayahnya yang memilih pensiun dini. Wajahnya memang cantik, tapi kepribadiannya sangat dingin pada semua orang, bahkan pada keluarganya sendiri. Namun kedatangannya di awal waktu membuat Julian terkejut, apalagi ini kali pertama ia bertatap muka langsung dengan Valen. “Selamat pagi Nona Valen!” sapanya sopan. “Kamu security baru?” tanya Valen dengan suara datar yang menjadi ciri khasnya. “Ya, saya security baru, baru mulai bekerja hari ini,” jawab Julian tanpa memperkenalkan siapa dirinya. “Lanjutkan pekerjaanmu!” ucap Valen yang setelahnya pergi diikuti oleh dua wanita yang merupakan asistennya. Julian sedikit menundukkan kepala sampai Valen dan dua orang lainnya tak lagi terlihat, membuatnya bisa kembali mengangkat kepala dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu, Valen yang baru saja tiba di ruang kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya, dia menatap tajam kedua asistennya. “Bagaimana, apa kalian sudah menemukan pria sesuai dengan kriteria yang aku sebutkan?” tanya Valen masih dengan sorot mata tajamnya. “Maaf, saya masih belum menemukannya!” Clara sudah berusaha, tapi sejauh ini usahanya belum membuahkan hasil. “Nona, bagaimana dengan security barusan? Selama dia masih hidup sendiri dan tidak memiliki kekasih, rasanya seluruh kriteria Nona ada pada orang itu,” ucap Eleanor, satu lagi asisten yang dimiliki Valen. ‘Tinggi, tampan, berkharisma, sorot mata tegas, dan terlihat baik. Semua kriteria yang aku inginkan memang ada padanya, dan kalau saja tadi aku nggak melihat dia memakai seragam security, hampir saja aku mengira dia Tuan Muda keluarga konglomerat,’ batin Valen. Ia mengetuk-ngetukan jari ke meja kerjanya, memikirkan apa benar pria itu yang ingin ia ajak bekerjasama, dan mereka akan sama-sama untung begitu kerjasama itu berjalan. “Panggil security itu!” perintah Valen. “Aku ingin berbicara empat mata dengannya,” ucapnya. “Baik, Nona.” Eleanor berbalik arah, berjalan keluar ruang kerja Valen, dan cepat ia berjalan ke ruang kerjanya untuk menghubungi nomor ruang security menggunakan telepon kantor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD