8.Kapan Bawa Calon Menantu

1528 Words
10:00 AM Alvaro memasuki ruangan kerjanya di ikuti oleh sekretarisnya Alvin di belakangnya sambil membawa handstak di tangannya. Alvaro melepaskan jasnya dan juga mengendurkan dasinya. Setelah itu, ia menduduki kursi kebesarannya, dan menatap ke arah Alvin yang berdiri di hadapannya, yang sedang menunggu apa yang akan ia perintahkan. "Apa jadwal saya selanjutnya untuk hari ini?" Tanya Alvaro. "Satu jam dari sekarang Bapak ada meeting untuk membahas tentang pembangunan resort di daerah dekat pantai Bali. Dan saat jam makan siang nanti, Bapak ada makan siang bersama kolega Bapak dari Singapura. Untuk malamnya, Bapak di undang untuk menghadiri pernikahan anak dari Pak Bram, CEO dari B&J Group." Ucap Alvin membaca sisa jadwal Alvaro di hari ini. "Baiklah, kamu boleh keluar sekarang." Ucap Alvaro setelah ia telah selesai mendengarkan sisa jadwalnya untuk hari ini. "Baik Pak. Satu jam lagi rapat akan di mulai." Ucap Alvin kembali sekedar hanya ingin mengingatkan kembali bosnya itu. "Kalau begitu saya permisi keluar dulu." Ucap Alvin sedikit menunduk hormat dan setelah itu ia benar-benar keluar dari ruangan Alvaro. Setelah kepergian Alvin, Alvaro menutup matanya seraya memijit pelipisnya yang terasa sedikit pening karena efek terlalu banyak bekerja dan pikirannya terus di pakai untuk memikirkan segala hal untuk keberlangsungan hidup perusahaannya. Seminggu ini ia harus di hadapkan dengan banyak kesibukan dan mengharuskan bolak balik keluar negeri dan dalam negeri. Bahkan waktunya untuk tidurpun sangat terbatas. Sepertinya ia memang di haruskan untuk dalam keadaan bangun selama dua puluh empat jam nonstop. DRT...DRT...DRT Getaran dari ponselnya, membuat Alvaro dengan terpaksa membuka matanya yang baru saja ia pejamkan itu. Ia sangat tahu jika ini pasti panggilan dari Ibunya, karena yang biasanya sering menghubunginya menggunakan nomor pribadi, hanya sang Ibu. Adiknya sendiri juga sesekali menghubunginya jika ada yang sedang di butuhkan. Alvaro mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan dugaannya benar ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Mama is calling... Dengan kembali memijit kembali pelipisnya, Alvaro mengangkat panggilan dari Ibunya itu. Alvaro : Halo Ma Sapa Alvaro dengan nada halus. Ia sama sekali tidak pernah bisa berkata kasar pada ibunya, baik berbicara di telfon seperti ini, maupun secara langsung. Ia tetap akan memakai nada bicara yang halus. Karena ia begitu menyayangi ibunya lebih dari dirinya sendiri, apalagi dengan adiknya Salsha. Mama : Alvaro, kamu kapan pulang ke rumah nak? Ini udah seminggu loh dari janji kamu buat pulang ke rumah. Tapi batang hidung kamu, sama sekali belum Mama lihat sampai sekarang. Terdengar suara Nyonya Andin ketika Alvaro menyapa terlebih dahulu. Alvaro : Nanti malam aku pulang Ma. Alvaro menjawab langsung to the point, karena tidak ingin Ibunya itu tiba-tiba menjadi cerewet kalau tidak langsung ia berkata seperti ini. Mama : Dari minggu lalu, itu aja terus yang kamu bilang. Nanti malam aku pulang Ma, tapi nyatanya sampai sekarang mana, kamu nggak pulang-pulang tuh. Nyonya Andin mulai mengomel dan membuat Alvaro hanya bisa menghela nafasnya. Alvaro : Aku janji aku akan bener-bener pulang nanti malam, Ma. Percaya deh sama aku, masa mama nggak bisa percaya sama anak sendiri sih. Mama : Bukannya Mama nggak mau percaya sama kamu, tapi kamu tuh yang suka kasih janji palsu terus sama Mama. Nyonya Andin dengan mudah bisa kembali menjawab perkataan Alvaro, hingga membuat Alvaro sempat terdiam sebentar. Ibunya itu memang mempunyai banyak sekali kata-kata yang bisa membuat ia harus mengalah. Alvaro : Kali ini aku janji, setelah aku pulang dari pernikahan anak rekan bisnis aku, aku akan pulang ke rumah. Alvaro berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke jendela dan melihat pemandangan luar yang terlihat begitu kecil jika di lihat dari atas tempatnya berada sekarang. Mama : Ok Mama tunggu. Dan juga kapan kamu bawa calon menantu buat Mama? Mama udah tua gini dan kamu juga udah mau 27 tahun sudah seharusnya kamu menikah. Ah Alvaro paling tidak suka jika Ibunya itu sudah membahas tentang kapan dan kapan ia akan mengenalkan seorang gadis untuk menjadi pendamping hidupnya itu ke Ibunya. Bukannya ia tidak ingin menuruti keinginan Ibunya itu, tapi untuk mencari seorang gadis yang bisa menjadi pendampingnya itu sangatlah susah, ia tidak ingin salah memilih dan berakhir ia yang menyesal. Dan juga sampai sekarang, belum ada seorang gadis pun yang bisa menarik perhatiannya, beberapa kolega bisnisnya juga sampai pernah mengenalkan anak-anak mereka tapi tidak membuat rasa tertarik itu ada. Alvaro : Ma, aku bukannya nggak mau bawa calon menantu buat Mama, tapi aku belum bisa mendapatkannya sampai sekarang. Tolong mengertilah, pikiran aku bukan cuma tentang seorang gadis aja, ada tanggung jawab besar yaitu perusahan pusat sampai ke cabang yang papa tinggalin buat aku urus. Mama : Bagaimana bisa kamu mendapatkan calon istri, kalo kerjaan kamu kerja terus kerja terus. Mama tuh lama-lama pusing sama tingkah kamu yang seperti ini. Terserah deh mau kamu gimana sekarang, kalo tiba-tiba Mama sakit terus mati jangan nangis aja. Setelah berkata seperti itu, sambungan telefon terputus. Ibunya itu sendiri yang memutuskan panggilan mereka karena apa yang Ibunya itu mau belum bisa ia wujudkan yaitu menikah. Helaan nafas kembali terdengar keluar dari bibirnya. Tok...Tok... Tok "Masuk," "Maaf mengganggu Pak, rapatnya akan segera di mulai dalam lima menit lagi." Ucap Alvin ketika ia telah masuk dan berdiri tidak jauh dari Alvaro. "Baiklah," melupakan rasa tidak enaknya setelah bertelepon bersama sang Ibu, Alvaro merapikan dasinya dan tidak lupa mengenakan jasnya juga. Alvaro dan di ikuti oleh Alvin berjalan keluar dari ruangan itu dan menuju ke ruangan tempat meeting berada. Ruangan meeting tersebut berada di bawa satu lantai ruangan Alvaro berada. *** Malam harinya Alvaro sudah dalam perjalanan menuju undangan pernikahan anak dari rekan bisnisnya yaitu pak Bram. Sekitar lima belas menit berkendara, kini Alvaro telah sampai di sebuah gedung mewah tempat di adakan pesta pernikahan tersebut. Setelah memarkirkan mobil BMW bewarna birunya itu, Alvaro langsung berjalan masuk kedalam pesta tersebut dengan langkah tegap dan terkesan arrogant. Sebelum masuk ia menunjukkan undangan kepada petugas yang bertugas di depan sebelum ia bisa masuk kedalam gedung tersebut. "Hey Bro," sapa Samuel saat melihat Alvaro yang sedang mengambil minuman di meja. "Hey Sam," sapa balik Alvaro pada Samuel yang di sebelahnya terdapat seorang gadis yang menggandeng lengan sahabatnya itu dan sepertinya gadis itu adalah kekasih hati dari sahabatnya. "Oh iya Al, kenalin ini Elena pacar gue." Ucap Samuel memperkenalkan gadis yang berada di sampingnya itu. "Elena," ucap Elena mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan senyuman sopan ke arah Alvaro. "Alvaro," ucap Alvaro menjabat tangan Elena. Setelah itu ia melepaskan tangan mereka karena merasa kurang nyaman berjabat tangan dengan kekasih sahabatnya itu. "Oh iya, lo datang kesini sama siapa?" Tanya Samuel seakan melihat-lihat sekitar seakan memastikan jika Alvaro tidak datang sendiri. "Biasalah Sam, gue datang sendiri." "Udah boleh ingat umur dong lo, bisa jadi perjaka tua lo kalo kayak gini terus." Sindir Samuel sengaja agar sahabatnya itu bisa sadar berapa umurnya sekarang. "Ya mau gimana lagi, gue kan sibuk kerja dan nggak ada waktu buat bersantai cuma buat cari pacar." Ucap Alvaro membela dirinya. "Sayang, aku ke toilet bentar ya," ucap Elena tiba-tiba yang membuat Samuel yang ingin membalas ucapan Alvaro terurungkan. "Jangan lama-lama," pesan Samuel yang di iyakan oleh Elena. Setelah mendapatkan ijin dari Samuel, Elena langsung berjalan menjauh dari Samuel dan Alvaro. "Astaga mimpi apa gue punya sahabat kayak lo. Emangnya Tante Andin nggak pernah gitu minta lo buat cari pacar?" Tanya Samuel. "Ya ada Sam, lo tau kan Mama gue udah pengen banget gue nikah. Biar bisa kasih cucu buat Mama gue." Ucap Alvaro yang membuat Samuel terkekeh geli bukan karena perkataan Alvaro, melainkan ekspresi wajah Alvaro yang saat ini entah harus di jelaskan ekspresinya itu seperti apa. "Makanya cari sana, lagian apa sih yang buat lo nggak gampang dapat cewek, secara lo ganteng, tajir apalagi yang kurang coba?" "Gue buat dapat cewek yang kayak gimana aja emang gampang, tapi buat dapat cewek yang benar-benar mencintai gue dan bukan uang gue itu nggak semudah yang lo pikirin." Ucap Alvaro yang membuat Samuel menggangguk mengerti, karena ia juga akan sama pemikirannya dengan Alvaro. Mana mau dia dengan seorang gadis yang hanya menginginkan uangnya. "Sabar ya bro, gue tau lo pasti bakal bisa ketemu sama cewek yang bakal benar-benar mencintai lo, bukan uang lo." "Hmm." Alvaro hanya berdehem karena tidak tahu harus berkata apa lagi. Akhirnya pembicaraan mereka tergantikan tentang membahas masalah bisnis dan seakan memilih melupakan apa yang mereka bicarakan tadi. Saat sedang serius mereka berdua berbicara tentang bisnis, tidak lama kemudian Elena telah kembali dari toilet dan ikut bergabung bersama Samuel dan juga Alvaro. Karena acara sudah akan di mulai, mereka menfokuskan pandangan mereka ke dua sosok manusia yang menjadi raja dan ratu khusus untuk malam ini. Serangkaian acara berjalan dengan baik hingga acara selesai. Para tamu undangan secara bergantian memberikan selamat pada sepasang pengantin baru, yang sedari tadi terus mengukir senyuman bahagia di hari bahagia mereka itu. Alvaro, Samuel, dan juga Elena ikut memberikan selamat pada kedua pasangan itu. "Gue kayaknya harus pulang sekarang." Ucap Alvaro setelah mereka telah selesai berjabat tangan dengan pengantin. "Kenapa buru-buru pulang? Ini acaranya belum benar-benar selesai loh." Ucap Samuel merasa heran dengan Alvaro yang terlihat buru-buru untuk pulang. "Mama gue nanti ngomel-ngomel di telepon kalo gue nggak pulang malam hari ini juga ke rumah." Ucap Alvaro apa adanya karena itu memang sebuah kebenaran. "Yaudah, hati-hati di jalan lo." Ucap Samuel yang di iyakan oleh Alvaro.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD