Alvaro berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran untuk mencari sosok yang akan ia temui. Setelah tadi ia di buat kesal saat bertemu dengan Rachel saat di Cafe. Saat ia dalam perjalanan untuk kembali ke kantor, tiba-tiba sahabat lamanya itu mengajak mereka untuk bertemu. Ia terus mengedarkan pandangannya hingga ia dapat melihat orang yang akan ia temui duduk di sebuah meja dekat jendela. Dengan langkah pelan Alvaro berjalan menghampiri pria yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Long time no see, brother." Ucap Alvaro ketika ia telah berada di meja seseorang yang mengajaknya bertemu itu.
Pria yang di sapa oleh Alvaro yang sedang sibuk dengan ponselnya, mendongak setelah mendengar sapaan Alvaro itu.
"Hey, bro what's up?" Pria itu berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Alvaro Ala pria.
"Gue baik, cuma ya lo tau sendirilah pekerjaan gue di kantor banyak banget." Ucap Alvaro menjelaskan sedikit kesibukannya. "Lo apa kabar Samuel? Lama nggak bertemu keliatannya makin makmur aja lo," Tanya Alvaro yang membuat pria yang di panggil Samuel itu terkekeh.
"Gue ya seperti yang lo liat baik," Ucap Samuel.
"Oh iya, gimana perkembangan perusahaan lo?" Tanya Alvaro mengubah topik pembicaraan mereka.
"Yah gitulah. Oh iya mending kita pesan makanan dulu, gue lapar belum makan." Ucap Samuel sambil mengelus perutnya.
"Dasar, lo nggak pernah berubah." Decak Alvaro tapi mulai membuka buku menu yang di bawa oleh pelayan yang sekarang sedang menunggu apa yang akan mereka pesan.
"Emangnya gue harus berubah jadi apa? Mana mungkin gue berubah jadi power rangers kan?" Ucap Samuel yang mendapatkan gelengan kepala dari Alvaro.
Setelah mereka selesai memesan menu makanan mereka masing-masing, kembali mereka berdua berbicara tentang banyak hal yang tidak lain tentang perkembangan perusahaan mereka yang pasti akan sangat membosankan untuk orang lain jika mereka tidak suka dengan yang namanya dunia berbisnis seperti Alvaro dan juga Samuel.
DRT...DRT...DRT
Getaran dari ponsel Samuel, menghentikan pembicaraan kedua pria itu. Ketika melihat nama sang Ayah yang tertera di layar ponselnya membuat Samuel langsung mengangkat panggilan tersebut dan meminta Alvaro untuk menunggu sebentar.
Papa : Halo Samuel,
Samuel : Halo Pa
Papa : Kamu jadi pindahkan ke rumah?
Samuel : Iya besok Samuel bakal pindah ke rumah, Papa sama Mama tenang aja.
Papa : Awas aja kamu nggak pulang, Papa pastikan akan buat perhitungan buat kamu kalo adik kamu sampai kenapa- kenapa.
Samuel : Iya Pa, nggak mungkin aku biarin adik aku tinggal sendiri di rumah dan hanya di temani sama pembantu dan pengawal sih.
Papa : Papa pegang kata-kata kamu.
Samuel meletakkan ponselnya di meja setelah Ayahnya memutuskan sambungan telepon singkat mereka itu. Ia menatap ke arah Alvaro yang saat ini sedang menatap penuh tanya padanya.
"Lo punya adik?" Tanya Alvaro bertanya karena tiba-tiba ia merasa penasaran.
"Iya gue punya adik cewek 1, umurnya baru aja genap 22 tahun bulan lalu." Ucap Samuel yang membuat Alvaro menjadi kaget, karena selama ia dan Samuel bersahabat sejak sekolah dulu, tidak pernah sahabatnya ini menceritakan jika ia memiliki seorang adik perempuan. Dan hal itu membuatnya berpikir jika Samuel adalah seorang anak tunggal. Nyatanya ia telah salah berpikir seperti itu.
"Sam, gue kira selama ini lo tuh anak tunggal. Astaga ternyata lo punya adik."
Samuel tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu. Ia memang tidak pernah menceritakan tentang Identitas Adiknya karena memang dulu sengaja di rahasiakan oleh orangtuanya ketika Adiknya masih berada di sekolah Dasar. Tapi ketika di sekolah menengah, Adiknya itu sendiri yang meminta untuk merahasiakan identitasnya. Hingga akhirnya ia sama sekali tidak pernah memberitahukan pada sahabatnya itu.
"Adik gue sangat spesial, makanya identitasnya begitu rahasia. Nanti kapan-kapan gue kenalin deh sama lo. Tapi ingat jangan berani lo sampai suka sama adik gue." Ucap Samuel memperingati yang membuat Alvaro terkekeh.
"Santai aja kali Sam, lagian kalo misalnya adik lo yang tertarik sama gue duluan gimana?" Tanya Alvaro sengaja ingin menggoda sahabatnya itu yang sepertinya sangat protektif pada adiknya.
"Jangan kebanyakan mimpi, karena adik gue nggak bakal dengan gampang suka sama pria, apalagi pria macam lo gini."
"Sombong amat si calon kakak ipar." Ucap Alvaro lagi yang membuat Samuel memutar bola matanya kesal.
Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan tadi telah sampai. Mereka berdua makan dengan lahap dan sesekali berbicara. Selesai makan Samuel melihat ke arah jarum jamnya sebentar lalu membuka suaranya.
"Kayaknya gue harus pulang sekarang Al. Gue harus packing baju-baju gue di apartemen buat di pindahin ke rumah besok."
"Ya udah kalo gitu, hati-hati dijalan." Ucap Alvaro berdiri dari duduknya karena ia juga akan segera kembali ke kantor.
"Perhatian banget, makanya cari pacar sana biar ada yang bisa di perhatiin. Kalo lo ngomong kek gini sama gue, jadinya gue yang geli tau." Ucap Samuel bergidik ngeri.
Alvaro tidak menjawab perkataan dari Samuel. Ia memilih diam dan memperhatikan jam di pergelangan tangan kirinya yang telah menunjukkan pukul 6 sore.
"Gue juga mau cabut, kerjaan gue menunggu gue di kantor." Ucap Alvaro menepuk bahu Samuel pelan.
"Kerjaan mulu yang di pikir, punya pacarnya kapan?" Tanya Samuel.
"Kalo yang di atas udah menakdirkan gue buat ketemu sama dia, udah pasti gue udah punya pacar." Ucap Alvaro dan setelah itu pergi meninggalkan Samuel yang menggelengkan kepalanya melihat sahabat gila kerjanya itu melangkah menuju ke kasir.
***
Kenzo dan Salsha begitu menikmati makan malam malam mereka di sebuah restoran bintang lima, yang terkenal dengan cita rasanya yang enak itu. Dengan rayuan gombal yang terus di lontarkan oleh Kenzo, membuat Salsha menjadi salah tingkah sendiri. Dan Kenzo yang melihat kekasihnya itu yang terlihat malu-malu hingga pipinya merona merah terkekeh senang.
"Sayang," panggil Kenzo pada Salsha yang saat ini sedang menikmati makan malam mereka. Setelah beberapa menit Kenzo menghentikan rayuan gombalnya, ia baru bisa menikmati makanannya dengan baik tanpa gangguan lagi.
"Kenapa Ken?" Tanya Salsha.
"Kamu tau nggak kalo malam ini, kamu lebih keliatan cantik daripada mawar yang ada di tengah-tengah kita ini." Ucap Kenzo yang lagi-lagi telah membuat Salsha di buat salah tingkah jadinya.
"Kenzo ih, stop nggak?" Ucap Salsha tapi malah mendapatkan gelengan kepala dari Kenzo yang saat ini tersenyum begitu manis di depannya.
"Kenapa harus di stop si Sal?" Aku kan ngomong apa adanya. Kamu memang sangat cantik dan dari hari ke hari, kecantikan kamu selalu bertambah dan membuat aku jadi semakin mencintai kamu. Dan untuk aku berpaling dari kamu rasanya nggak mungkin, karena mana mungkin aku akan meninggalkan pacar cantikku ini." Dasarnya Kenzo yang memiliki mulut yang manis membuat seorang Salsha Gilinsky dengan gampang bisa di buat tersipu seperti ini.
"Kamu mau stop, atau aku nggak mau lagi bicara sama kamu?" Ancam Salsha yang tentu saja membuat Kenzo langsung menurut. Karena mereka belum lama baru baikan, dan sangat tidak lucu jika mereka saling diam-diaman lagi.
"Ya udah iya aku stop, tapi kamu jangan diemin aku ya, please." pinta Kenzo dengan ekspresi wajah yang di buat sememelas mungkin.
"Iya-iya" jawab Salsha dengan ogah-ogahan. Ia menghabiskan makanannya dan meminum air putihnya dan tidak lupa ia membersihkan bibirnya yang terkena sisa-sisa makanan.
"Sayang, aku pengen nanya tentang sesuatu boleh nggak?" Tanya Kenzo yang terlihat ingin menanyakan hal yang serius.
"Kamu mau nanya apa emangnya?" Tanya Salsha tiba-tiba ia merasa begitu penasaran.
"Aku mau nanya tentang Rachel," ucap Kenzo hati-hati karena tidak ingin membuat kekasihnya itu salah paham dengan pertanyaannya ini.
"Mau nanya tentang apa soal Rachel?" Tanya Salsha yang masih dengan eskpresi wajah yang terlihat biasa-biasa saja.
"Mmm... Rachel emangnya nggak punya pacar sama sekali ya?" Tanya Kenzo akhirnya yang langsung membuat Salsha langsung menatapnya tajam dan hal itu membuat Kenzo meringis pelan.
"Kenapa nanya kayak gitu? Kamu pengen gebet sahabat aku, iya?" Tanya Salsha dengan ekspresi wajah yang berubah menjadi marah dan kesal.
"Ya nggaklah Baby, aku kan cuma cintanya sama kamu doang. Sahabat kita Rachel memang cantik. Tapi di mata aku, hanya kamu perempuan yang paling aku anggap cantik dan paling aku cintai."
Salsha bisa merasakan jika pipinya terasa panas. Pasti pipinya kembali merona merah karena perkataan kekasihnya itu. Salsha mencoba menetralkan suaranya dengan cara berdehem, sebelum akhirnya ia membuka suaranya.
"Lalu kenapa kamu nanya soal Rachel udah punya pacar atau belum?" Tanya Salsha tidak bisa menahan rasa penasarannya dengan Kenzo yang tiba-tiba bertanya tentang Rachel, sahabat baiknya, eh ralat sahabat pacarnya juga.
"Aku cuma penasaran aja sayang, soalnya selama aku sahabatan sama sahabat kamu itu. Aku belum pernah liat dia jalan sama cowok lain sama sekali." Ucap Kenzo mulai menjelaskan rasa penasarannya dan juga keheranannya pada seorang Rachel.
"Rachel itu belum pernah pacaran sama sekali, makanya jangan heran kalo nggak ada cowok yang pernah keliatan dekat sama dia." Ucap Salsha dengan begitu santai, berbeda dengan Kenzo yang tiba-tiba menjadi heboh sendiri.
"APA?" Tanya Kenzo merasa kaget dengan perkataan kekasihnya barusan.
"Sayang, jangan keras-keras dong bicaranya, malu tau di liatin sama orang-orang." Ucap Salsha melirik orang-orang di sekeliling mereka yang saat ini menatap ke arah mejanya dan Kenzo.
"Maaf sayang, aku kelepasan efek kaget aja aku dengarnya." Ucap Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal itu. Salsha menggelengkan kepalanya dengan kelakuan kekasihnya itu.
"Apa kamu tau alasan Rachel nggak pernah mau pacaran sampai sekarang?" Tanya Kenzo berhati-hati lagi.
"Itu semua karena Rachel yang nggak mau sendiri buat pacaran. Kata dia tuh, pacaran cuma bakal buat dia sakit hati, dan dia nggak mau itu." Jelas Salsha dengan singkat, ia tidak ingin menjelaskan lebih detail tentang alasan selanjutnya yang membuat Rachel menutup rapat-rapat hatinya untuk pria manapun. Karena ini merupakan rahasia yang tidak bisa di bagikan dengan semua orang.
"Astaga bisa gitu ya. Padahal tuh anak cantik gitu tapi malah nggak mau pacaran." Ucap Kenzo menanggapi penjelasan singkat dari kekasihnya itu.
"Nah makanya aku tuh pengen jodohin Rachel sama kakak aku, mereka kayaknya cocok karena sama-sama nggak mau pacaran kan." Ucap Salsha mulai bercerita tentang keinginannya itu.
"Kakak kamu yang Alvaro?" Tanya Kenzo memastikan yang mendapatkan anggukan dari Salsha.
"Emang kakak aku siapa lagi si Ken, selain kak Alvaro astaga." Kenzo mengangguk anggukan kepalanya paham.
"Aku nggak yakin kalo kak Alvaro dan Rachel bisa di satuin. Kalo di liat dari sifat mereka aja tuh udah bertolak belakang sekali."
"Justru karena sifat mereka yang saling bertolak belakang itu yang bisa membuat mereka bersatu sayang."
"Terserah kamu deh, yang pasti kamu jangan paksa Rachel kalo emang dia nggak mau. Lagian nanti masa Rachel jadi kakak kita nanti astaga, baru bayangin aja aku udah gimana ya."
"Amin semoga Rachel bakal jadi kakak ipar aku nantinya." Ucap Salsha bersungguh-sungguh, Kenzo mengusap lembut kepala Salsha.
"Aku anterin kamu pulang yuk, ini udah jam setengah 9. Besok kita ada kuliah pagi jadi kamu harus istirahat yang cukup malam ini." Ucap Kenzo setelah melirik jam di pergelangan tangannya.
"Yaudah ayo,"
Setelah mereka membayar makanan yang mereka makan tadi, Kini Kenzo mengantarkan Salsha pulang ke rumahnya. Hubungan mereka berdua sudah di ketahui oleh keluarga Salsha maupun keluarga Kenzo. Dan keluarga mereka tidak ada yang mempermasalahkan hubungan mereka, tapi mendukung hubungan mereka agar bisa sampai ke jenjang yang lebih serius nantinya.