Rachel menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa, ia baru saja sampai di rumahnya setelah jadwal kuliahnya telah selesai hari ini. Ia merenggut kesal ketika ingatan tentang kejadian tadi pagi kembali teringat di pikirannya. Semuanya masih terekam dengan begitu jelas di ingatannya dan hal itu sangatlah mengesalkan. Ia sangat membenci jika ada yang memanggilnya dengan sebutan adik, kecuali kakaknya Samuel. Di pikirannya ketika ada orang asing yang memanggilnya dengan sebutan adik, itu sama saja mereka sedang meremehkan dirinya. Dan jika di pikir-pikir kembali lagi, panggilan untuk pria yang yang membuat hancur moodnya tadi pagi itu sangat cocok jika di panggil dengan sebutan Om.
Di karenakan Pria asing yang sangat sombong itu berpenampilan formal seperti Om-om. Kalau di lihat-lihat sih sebenarnya pria itu ganteng, tapi sayang sifat sombongnya itu yang membuat nilai mines di diri pria itu. Seketika Rachel menggelengkan kepalanya karena tanpa sadar telah memuji pria sombong itu.
"Kamu apa-apaan si Ra, sadar woy sadar. Itu Om-om jelek gitu masa kamu bilang ganteng." Rachel menepuk-nepuk kedua pipinya dengan telapak tangannya.
"Ingat Ra, dan tanamkan baik-baik di dalam pikiran kamu ya. Pria tadi pagi sangat jelek, bukan cuma mukanya yang jelek tapi sifatnya juga jelek. Jadi jangan pernah sekali lagi kamu muji dia kayak gitu." Ucap Rachel sekali lagi, dan setelah itu ia memilih untuk membaringkan tubuhnya di sofa panjang.
Sekitar satu jam ia hanya terus berbaring dan tidak tahu harus melakukan apa, rasa bosan akhirnya mulai menghampiri dirinya. Rachel memutuskan untuk berjalan keluar dari rumahnya saja. Entah ia akan kemana nantinya, yang penting ia tidak akan mati kebosanan didalam rumah seperti sekarang ini. Apalagi kadang ia suka berpikir jika ia adalah anak tunggal, karena kakak laki-lakinya jarang sekali pulang ke rumah. Kakaknya itu lebih suka tinggal di apartemennya dengan alasan jarak apartemen ke kantor lebih dekat daripada jika ia harus pulang ke rumah.
Dengan rasa malas, Rachel bangun dari posisi berbaringnya di sofa dan berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2. Setidaknya sebelum ia keluar, ia harus membersihkan dirinya yang sudah terasa lengket ini.
***
Kini Rachel telah berada di sebuah Cafe, dengan secangkir late yang menemaninya saat ini. Karena tidak tahu harus kemana, ketika ia melewati sebuah Cafe, ia memilih untuk singgah di Cafe yang saat ini sedang ramai. Pandangannya tertuju pada pemandangan di luar jendela kaca, dimana banyak orang-orang yang berlalu-lalang ke sana kemari. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada kejadian waktu ia masih SMA dulu, kejadian yang dimana tidak ada orang yang tahu kecuali keluarganya dan sahabatnya Salsha tidak lupa orang-orang yang telah begitu b***t padanya dulu. Kejadian yang membuat Rachel harus menderita hingga ia mempunyai riwayat penyakit mental.
Huh
Rachel menghela nafasnya pelan. Ia tidak ingin lagi mengingat kenangan pahitnya ketika SMA dulu. Cukup saja ia pernah menderita dulu, dan ia tidak mau lagi harus menderita seperti itu. Karena Ayahnya tidak akan pernah bisa tinggal diam lagi jika tahu hal itu terjadi padanya untuk kedua kalinya. Dulu saat Ayahnya dan juga sang kakak mengetahui apa yang terjadi di sekolahnya itu, dengan tidak segan-segan membuat perhitungan untuk orang-orang yang telah menyakiti dirinya.
Sebagai anak bungsu dari pengusaha kaya di Indonesia, Rachel selalu di manja dan di jaga bagaikan telur yang mudah pecah. Sesayang itu keluarganya padanya hingga mereka begitu marah ketika mengetahui fakta b***t yang dilakukan oleh teman-teman sekelas Rachel. Ayahnya sampai marah karena Rachel tidak mau jujur dengan identitasnya agar kemungkinan anaknya itu untuk di perlakukan seperti itu sangatlah kecil. Tapi dasarnya Rachel yang mempunyai watak keras kepala, Rachel sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan Ayah maupun Ibunya dan begitu juga dengan perkataan sang kakak.
Untungnya saat Rachel masuk dalam masa perkuliahan, semuanya berubah drastis tidak seperti dulu. Sekarang ia bagaikan seorang Queen di kampusnya. Banyak pria yang mengantri ingin menjadi pacarnya, tapi tidak ada satupun pria yang bisa merebut hati seorang Rachel Ganendra. Banyak pria yang tiba-tiba mendekatinya ketika di kampus semuanya bermula ketika Rachel memutuskan untuk mengubah penampilannya tidak seperti waktu SMA dulu. Penampilannya yang dulunya terlihat sangat culun, sekarang berubah menjadi seorang Rachel Ganendra yang selalu mendapatkan pujaan dari pria-pria di manapun ia pergi.
Tidak ada yang bisa menolak pesona Rachel, walaupun Rachel sangat galak dan jutek pada pria-pria tersebut. Mereka seakan buta atas dasar suka dan cinta. Walaupun Rachel tidak mengatakan jika ia adalah anak dari pengusaha kaya. Mungkin jika mereka mengetahui siapa ia sebenarnya, mereka akan semakin mengejarnya dan itu semua hanya karena bentuk fisik dan juga haus akan harta.
Saat ia sedang asik sibuk dengan pikirannya. Tidak lama Rachel merasakan tempat duduk yang berada di depannya telah di duduki oleh seseorang. Rachel mengalihkan pandangannya dari pemandangan luar dan melihat siapa yang berani-beraninya telah duduk didepannya ini.
"LO?!" Teriak Rachel dan pria yang berada di depannya secara bersama.
"Eh, Om-om gila. Lo ngapain ada disini huh? Terus ini juga pake duduk di tempat gue segala." Ucap Rachel dengan kesal karena ternyata orang yang duduk di depannya adalah pria sombong dan juga menyebalkan, yang hampir menabraknya tadi pagi.
"Seharusnya gue yang tanya sama lo cewek nggak waras. Ngapain lo duduk disini?" Tanya Alvaro yang tidak kalah kesal melihat Rachel yang duduk di depannya ini.
"Lo kan punya mata, jadi lo bisa liat sendiri apa yang gue lakuin Om. Lagian gue duluan yang duduk disini, jadi mendingan lo sekarang cari tempat duduk lain deh." Ucap Rachel dengan gerakan tangan mengusir Alvaro yang duduk tepat di depannya itu.
"Lo yang pergi, tempat duduk ini udah jadi tempat biasa gue duduk selama datang ke Cafe ini." Ucap Alvaro tidak mau kalah mempertahankan tempat duduknya.
"Enak aja lo, Om. Gue yang duluan duduk disini ya, jadi jangan main asal nyuruh orang buat main pergi- pergi aja gitu. Dan emang apa ada gitu tertera nama Om di meja sama kursi ini?" Tanya Rachel dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat menyebalkan di mata Alvaro.
Alvaro terdiam sebentar karena gadis di depannya ini begitu pintar dalam membalas ucapannya. Ia berdiri dari duduknya dan menatap tajam ke arah Rachel yang berada di depannya.
"Gue nggak peduli, mau lo yang duluan yang duduk di tempat ini atau bukan. Yang pasti gue cuma minta lo buat pindah dari tempat duduk gue sekarang." Usir Alvaro dengan jari telunjuk yang mengarah keluar dari Cafe itu.
Rachel menghela nafas sebentar, sebelum ia juga ikut-ikutan berdiri seperti Alvaro. Tanpa di duga oleh Alvaro, Rachel menggenggam telapak tangan Alvaro yang menunjuk ke arah luar itu. Tentu hal itu sangat membuat Alvaro shock atas kenekatan dari gadis di depannya ini.
"Lepasin tangan gue," marah Alvaro tapi tidak membuat seorang Rachel takut.
"Diam dulu Om, gue sebenarnya juga ogah buat pegang tangan lo kayak gini. Tapi ini demi kebaikan lo, Om." Ucap Rachel menatap tepat ke wajah Alvaro yang juga saat ini sedang memandanginya dengan tajam.
"Lo tau nggak Om, sebenarnya yang lo tunjuk buat keluar dari sini itu diri Om sendiri." Alvaro mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan dari Rachel. "Coba Om liat ini, jari telunjuk Om memang nunjuk gue buat keluar dari sini. Tapi Om, lo seakan lupa kalo sama tiga jari Om, dengan manisnya mempersilahkan Om buat keluar dari tempat ini dengan cara menunjuk Om langsung." Jelas Rachel lagi dan memperlihatkan tangan Alvaro yang ia genggam.
"Sial, bisa-bisanya gue di permainkan seperti ini oleh seorang gadis menyebalkan."
Rachel tersenyum senang ketika melihat
pria di depannya itu terdiam setelah apa yang ia katakan barusan. Ia merasa menjadi pemenang sekarang, karena pria itu tiba bisa membalas apa yang ia katakan barusan.
"Gue belum menikah, jadi stop panggil gue dengan sebutan Om." Ucap Alvaro setelah beberapa menit ia hanya berdiam diri di depan Rachel.
Hahahaha
"Gue kira lo mau bilang apa Om, ternyata cuma mau bilang itu." Ucap Rachel berbicara di iringi tawa yang tidak bisa ia tahan. "Dan gue cuma mau bilang sama lo, Om. Gue nggak peduli mau lo udah menikah atau belum, karena lo emang udah cocok di panggil dengan sebutan Om-om dengan Style o yang kayak gini." Tunjuk Rachel langsung dengan kelima jarinya. Bukan karena ia berlebihan, tapi ini semua demi tidak turunnya harga dirinya hanya karena ia menunjuk pria di depannya dengan satu jarinya dan ketiga jarinya akan menunjuk ke dirinya langsung.
"DASAR CEWEK NGGAK WARAS!" Teriak Alvaro dengan kesal.
"Daripada lo, Om-om mesum." Ucap Rachel tidak ingin kalah.
"Hei atas dasar apa lo, bilang gue ini m***m? Jangan asal bicara lo ya. Gue bisa tuntut lo sebagai tuduhan pencemaran nama baik, mau?" Ancam Alvaro yang sama sekali tidak membuat Rachel merasa takut.
"Lo kalo mau laporin gue, ya laporin aja. Tapi jangan salahkan kalo gue bakal ngatain lo lemah tiap kali kita ketemu nanti." Ucap Rachel membuat gaya ingin meludah di depan Alvaro.
AARGH
Alvaro mengambil hanstask (Layar kecil berisikan agendanya untuk hari ini.)
"Eh cewek gila, Gue harap ini adalah hari terakhir kita ketemu. Bisa gila gue kalo gue ketemu sama cewek yang nggak waras kayak lo."
"Tuan sombong yang terhormat, siapa juga yang mau ketemu sama lo lagi? Gue jijik ketemu sama Om-om m***m kayak lo"
"Siapa nama lo?" Tanya Alvaro.
"Ngapain lo nanya-nanya nama gue Om? Pasti lo mau buat yang aneh-aneh nih sama gue makanya pakai tanya nama gue segala." Curiga Rachel karena bisa sajakan pria di depannya ini melakukan hal di luar nalar. " Dan lagian gue aja nggak tau nama lo siapa, dan buat apa lo mau cari tau nama gue." Sambung Rachel lagi.
"Eh mulut lo tuh di jaga ya. Lo kalo jadi cewek, jangan terlalu percaya diri, siapa juga mau buat yang aneh-aneh sama nama lo. Okay nama gue Alvaro, dan nama lo siapa? Buruan katakan siapa nama lo!"
"Rachel," ucap pelan Rachel tapi masih bisa di dengar oleh Alvaro.
"Eh lo ingat baik-baik ya Rachel, dengan sikap lo yang kayak gini, nggak akan bakal ada satupun pria yang mau nikah sama lo, termasuk gue sendiri!" Ucap Alvaro menatap remeh Rachel dan setelah itu dia pergi meninggalkan Rachel yang sedang tertawa pelan.
"Dia pikir, dia siapa sok ngomong kayak gitu sama gue. Emang masalah buat gue kalo nggak ada yang mau sama gue?" Ucap Rachel dengan begitu santai. Ia ingin menikmati kembali Late-nya, tapi rasanya sudah tidak enak lagi jika sudah dalam kondisi dingin seperti ini, ia kembali memilih untuk memesan minumannya.