Ini adalah kali pertama Bari menginjakkan kaki di sekolah pada malam hari.
Suasana sunyi dan tenang membuat tempat itu terlihat begitu menyeramkan di mata Bari. Terlebih ketika mereka berdua harus menyusuri lorong yang panjang dan gelap, membuat bulu kuduk Bari meremang. Iris mata hitamnya mengawasi sekitar dengan seksama.
“Emang koridor kita nggak ada lampu apa? Kok gedung sekolahan gelap amat,” ucap Bari bertanya.
Samudra hanya diam. Tapi ia tahu kemungkinan adanya konsleting hingga menyebabkan lampu mati di seluruh gedung sekolah. Sebagai anggota tim basket, latihan sampai menjelang maghrib bahkan sampai jam 7 malam sering Samudra lakukan di sekolah bersama teman-temannya. Dan biasanya gedung sekolah tidak segelap ini.
“Sam, lo nggak takut apa?” tanya Bari lagi, yang sebenarnya hanya ingin membuat suara-suara agar tidak sepi-sepi amat. Karena jujur saja, keheningan yang terlalu hening dan kegelapan yang terlalu gelap membuat Bari sedikit takut.
Sempat ia bertanya dalam hati, apakah tadi jika ia tidak bertemu dengan Samudra di depan gerbang sekolah Bari berani masuk gedung sekolahnya sendirian?
Hm ... sepertinya Bari tahu jawabannya.
“Sam, kita nggak nyasar kan? Sam, lo nggak ada kontak Pak Satpam? Kayaknya lebih baik kita hubungi Pak Satpam dulu deh demi keamanan. Oh, atau gue panggil tukang listrik aja kali ya? Eh tapi sama aja kan gue nggak tau di mana letak sekringnya. Sam ... jalannya jangan cepat-cepat dong! Tungguin gue. Gelap nih!”
Mendengar ocehan dari Bari membuat langkah Samudra berhenti. Yang mana langsung disalah artikan oleh Bari.
“Kenapa? Kenapa lo berhenti? Ja-jangan bilang l-lo ... lo bisa lihat sesuatu yang ... jangan! Jangan bilang sama gue apapun yang lo lihat okay? Sam, kita balik ke depan aja yuk hubungi Pak Satpam.”
“Lo bisa diam nggak sih?” desis Samudra jengkel. Ia melirik Bari dengan kesal. “Cerewet banget jadi laki.”
Kemudian Samudra melanjutkan langkah kakinya. Bari pun buru-buru mengikuti.
“Heh, Samudra Antariksa! Nggak semua cewek suka sama cowok batu kayak lo asal lo tau. Ada kok—banyak malah—cewek yang lebih suka sama cowok yang cerewet. Because you know what? Menjalin hubungan sama cowok kulkas kayak lo bikin makan ati,” tutur Bari. “Jadi lo nggak usah memprotes gue laki dan gue cerewet. Wajar! Itu karakteristik gue. Dan setahu gue, para businessman negeri ini yang kaya raya juga cerewet. Karena apa? Kalau nggak cerewet perusahaannya nggak bakal jalan!”
Samudra mendengus sembari memutar bola mata. Ia sama sekali tidak butuh petuah apapun dari Bari lebih-lebih urusan cewek. Dan apa itu businessman? Samudra tidak pernah bercita-cita menjadi orang sukses. Ia lebih suka bekerja di balik kasir kafe kopi dengan semua ketenangan yang ada.
Selama 15 menit kemudian, Bari terus menyerocos. Ia menceritakan hal-hal yang langsung Samudra lupakan dalam hitungan detik sebab Samudra merasa itu semua tidak penting. Hingga sampailah mereka di ruang ganti tim basket putra. Lampu senter dari ponsel Samudra menyorot tulisan For Boy’s Basket Team only yang tergantung di pintu.
“Kayaknya Diva nggak ada deh di sini. Itu aja pintunya udah digembok,” tunjuk Bari, yang menyorot pada sebuah gembok di pintu.
BRAK BRAK BRAK BRAK!
“Diva? Lo di dalam?” teriak Samudra sambil menggedor pintu.
Hening. Tidak ada jawaban.
BRAK BRAK BRAK BRAK!
Sekali lagi Samudra menggedor pintu.
“Div? Jawab gue kalau lo ada di dalam!” Kali ini seruan Samudra lebih keras lagi.
BRAK BRAK BRAK BRAK!
Masih saja tidak ada jawaban dari dalam. Yang ada hanya sunyi dan sepi.
“Kayaknya emang nggak ada deh,” ucap Bari. Wajahnya kini berubah menjadi cemas. Jika tidak di sekolah, lalu Bari harus mencari Diva di mana lagi?
Samudra menatap pintu tersebut cukup lama, hingga ia mengulang sekali lagi, menggedor pintu dan memanggil nama Diva.
Tapi tetap saja, tak ada suara apapun yang terdengar. Menunjukkan bahwa Diva memang tidak ada di dalam.
***
Aaron pulang ke rumah dengan senyum puas. Ia baru saja pulang dari bioskop. Rupanya, di tempat itu banyak sekali wanita-wanita cantik dan luar biasa seksi!
Astaga. Aaron yang merasa energinya yang semakin lama semakin melemah karena terlalu lama tinggal di dunia manusia tanpa bisa mendapatkan asupan s*x dari wanita dewasa menjadi terisi kembali.
Yah, meskipun tidak terlalu penuh.
“Huuufft... Tau gini, udah dari dulu saya pergi ke bioskop,” tukas Aaron pada diri sendiri. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang empuk.
Memejamkan mata, Aaron membayangkan kembali sosok wanita yang tadi duduk tepat di samping Aaron. Wanita yang berpakaian amat minim, tanpa memakai b*a* dan celana dalam*. Rok setengah paha wanita tersebut menampilkan kaki jenjang mulus tanpa bulu yang amat menggoda untuk Aaron sentuh.
Aduduh, sayang sekali ia sedang dalam misi. Dan selama misinya dengan Diva tidak selesai, sampai kapan pun ia tidak akan bisa menyentuh wanita lain untuk bersenang-senang di bumi ini.
Terkadang, peraturan para Dewa memang setidak menyenangkan itu.
Puas membayangkan wanita tadi, Aaron beringsut duduk, kemudian berdiri. Melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam, ia ingin mengganggu Diva seperti biasa. Jam-jam segini biasanya Diva masih belajar di kamar.
“Diva!” ucap Aaron begitu masuk ke dalam kamar. Senyumnya pudar karena tidak mendapati gadis itu ada di sana.
“Mungkin masih makan,” gumam Aaron yang langsung turun ke lantai satu.
Tapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya Bi Inah yang sedang melakukan panggilan video dengan seorang pria sambil senyum-senyum merona.
Aaron mulai mencari Diva di seluruh penjuru rumah dan lagi-lagi ia tidak mendapati Diva di mana pun. Hal itu membuat Aaron berpikir keras, mungkin saat ini Diva sedang di rumah Bari untuk merayakan ulang tahun si Nayla-Nayla itu.
“Ah, sudahlah. Ke sekolah saja. Sepi di sini,” putus Aaron kemudian, memutuskan untuk nongkrong bersama para hantu pohon beringin.
Sebagai seorang Dewa yang bisa berpindah tempat dalam hitungan beberapa detik, Aaron sudah sampai di sekolah. Berdiri tepat di bawah pohon beringin. Ia mendapati para hantu sedang mengobrol asyik.
“Ngomong-ngomong soal adu kemampuan guys, gue baru mendeteksi radar keberadaan manusia di jarak 100 meter dari sini,” si pocong berkata. Suaranya terdengar sangat lantang di tengah kesunyian malam.
“Wah, kebetulan! Heh kuntilanak, ayo tanding ulang. Kita lihat siapa yang para manusia itu lebih takuti. Gue atau lo,” sundel bolong berkata menantang.
“Hihihihihiihihiiii ... siapa takut! Paling juga mereka kabur lihat lo tapi langsung pingsan setelah lihat gue kayak yang terakhir kali. Hihihihihhihi... udah deh akuin aja Sun, mereka itu jijik sama lo bukannya takut, tapi kalau sama gue, mereka beneran takut.”
Sundel bolong mendengus kesal.
“Tapi hari ini harusnya giliran saya yang menakuti manusia. Ini jam operasionalnya para genderuwo.” Tiba-tiba si genderuwo protes.
“Ya udah, gimana kalau kalian bertiga aja yang lomba menakut-nakuti manusia. Gue yang jadi juri. Manis, lo ikut kagak?” tanya si pocong pada si manis pohon beringin.
“Nggak mau lah yau, bukan level gue. Lagian gue mau kencan,” jawab si manis.
“Bukannya lo udah putus sama kolor ijo?” tukas Kuntilanak.
“Iya emang. Dan sekarang gue lagi mau kencan sama hantu jeruk purut. Gue masih nunggu jemputan dia nih. Lama banget.”
Para hantu berdecak kecil. Si manis memang selalu gonta-ganti pasangan.
“Oke kalay gitu. Kalian siap-siap dulu ya. Dandan semenyeramkan mungkin dan tunjukkan sisi menyeramkan kalian! Hahahahahaha!” kata pocong memulai pertandingan.
“Emang kalau menang hadiahnya apa?” tanya Aaron, menghampiri pocong.
“Nggak ada hadiah. Cuma pangkat kita naik di silsisilah penunggu pohon beringin ini,” jelas pocong.
Aaron pun tergelak. Iris mata hitamnya berubah menjadi merah darah karena menyesuaikan dengan siapa ia berada saat ini.
Ting!
Saat pertandingan akan dimulai, tiba-tiba si tuyul muncul. Ia datang dengan membawa selembar uang berwarna biru. Wajahnya terlihat sumringah.
“Eh unyil. Habis nyolong dari mana? Tumben dapet duit gede? Biasanya Cuma 5 ribuan duitnya satpam yang ketinggalan di pos,” tegur Kuntilanak sembari memainkan rambut.
Cengengesan, si tuyul berkata. “Iya. Ini bukan duit satpam Kak. Saya ambil ini dari dompet cewek cantik yang sedang kekunci di gedung sana.”
“Hah? Kekunci bagaimana?”
Si tuyul pun mulai bercerita jika ia menemukan seorang siswi yang sedang pingsan di sebuah ruang ganti. Tak lupa juga ia menyebut ciri-ciri mulai dari ujung rambut hingga kaki.
“Wah, bisa-bisa dia mati kalau dibiarin terus,” celetuk si manis dari atas dahan pohon. “Ya nggak apa sih, biar tambah teman kita. Hehehehe ...”
“Hihihihi, betul juga. Biar tambah rame. Ihihihihihihi.”
“Semoga cewek cantik. Amiiin,” kata pocong berdoa.
Dan seterusnya ...
Mereka masih membicarakan tentang di mana dan bagaimana mereka nanti akan menyambut di siswi jikalau si siswi meninggal ketika Aaron bertanya pada si tuyul.
“Dia cantik?” tanya Aaron.
Si tuyul melirik sinis, masih ingat jelas bagaimana Aaron mengejeknya terakhir kali.
“Cantik sih menurut saya. Tapi nggak tau ya kalau menurut dewa kayak Om.”
“Sudah saya bilang jangan panggil saya Om!” tegur Aaron setengah kesal. “Terus dia kelihatan seksi nggak? Bodinya gimana? Yahud nggak?”
“Yeee ya mana saya tau Om. Saya masih kecil, nggak boleh kayak gitu.”
Aaron berdecak.
“Eh tapi kayaknya saya pernah lihat cewek itu bicara sama Om deh.”
“Hah?”
“Iya. Saya masih ingat Om wajahnya.”
“Jangan ngaco kamu. Nggak ada manusia yang bisa lihat apalagi bicara sama saya kecuali—“ Diva.
Mata Aaron terbelalak, kemudian bertanya tergesa dengan si tuyul. “Di mana kamu tadi lihat cewek ini?”
“Itu, di gedung sana!” tunjuk si tuyul.
Cepat-cepat Aaron pergi ke gedung tersebut. Ia mengecek satu per satu ruang sampai akhirnya ia berhasil sampai di ruang ganti tim basket putra. Iris mata merahnya menyala, mencari-cari keberadaan Diva.
Ketemu!
Aaron menemukan gadis itu tergeletak lemah dekat dinding.
“Diva!” seru Aaron. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Diva yang dipenuhi keringat dingin. “Kamu ngapain ada di sini?” tanya Aaron dengan nada tinggi karena terkejut sekaligus panik.
Rupanya Diva tidak pingsan sepenuhnya. Gadis itu hanya lemas tidak punya tenaga.
“Aaron ...,” gumam Diva.
“Aduh, ayo pulang,” ajak Aaron. Ia menggendong tubuh Diva dan siap menghilang berpindah tempat, tapi berapa kalipun ia mencoba, usahanya gagal. Sepertinya tubuh manusia tidak bisa ia bawa seenaknya.
“Tunggu sebentar.” Aaron menurunkan kembali tubuh Diva bersandar lemah di dinding. Menuju pintu, Aaron baru menyadari jika itu tergembok dari luar. Cepat-cepat ia pun menghilang untuk muncul dari luar ruangan. Ia akan membuka gembok itu.
Namun, belum sempat Aaron melakukan, cahaya sorot lampu menyinari wajahnya, membuat Aaron mundur beberapa langkah ke belakang. Itu Bari dan Samudra.
Keduanya nampak berbincang. Kemudian Samudra menggedor pintu dan memanggil-manggil nama Diva beberapa kali namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.
Aaron pun segera kembali masuk dan ia langsung menggoyangkan tubuh Diva yang hampir terpejam.
“Div, ada orang di luar. Bari sama Samudra. Teriak biar mereka tahu kamu ada di dalam,” perintah Aaron.
Diva membuka mulut, memanggil nama Bari dan Samudra. Tapi karena sudah amat lemas dan dehidrasi, suara yang keluar Cuma gumaman kecil. Diva malah sibuk meringis dan menekan perut bagian kanannya. Maagh Diva kambuh dan itu sangat sakit.
BRAK BRAK BRAK BRAK!
“Div, kalau lo di dalam teriak, biar gue tau lo ada di dalam apa nggak!”
Itu suara Samudra yang langsung membuat tekad Diva membulat. Ia menahan rasa perih di perut, berusaha berdiri dan melangkah menuju pintu. Tapi baru satu langkah berjalan, ia sudah ambruk ke lantai lagi.
“Kayaknya Diva emang nggak ada di sini deh.” Suara Bari terdengar.
Diva meringis, berusaha bangun dan memanggil nama Bari. Namun lagi-lagi suaranya amat lirih. Hanya mirip sebuah rintihan kecil.
“Kayaknya emang nggak ada. Ya udah ayo balik.”
Aaron berdiri panik. Lebih-lebih melihat wajah Diva semakin memucat.
Melihat Bari dan Samudra sudah mulai melangkah pergi, otak Aaron berpikir cepat. Dengan kekuatan yang ia miliki, Aaron menggebrak pintu dari dalam, membuat Bari maupun Samudra terlonjak kaget, menatap kembali pintu ruang ganti tersebut.
“Ha-hantu bukan?” tanya Bari takut-takut. “Ayo Sam, buruan pergi dari sini,” ajak Bari.
Aaron jadi tambah bingung bagaimana cara untuk memberi tahu mereka bahwa Diva sedang sekarat di dalam ruangan tersebut.
Otak Aaron kembali berpikir dalam-dalam. Hingga ia menatap sebuah lampu. Menjentikkan jari, Aaron membuat lampu ruang ganti itu menyala, berikut dengan lampu-lampu di lorong gedung tersebut.
BRAK BRAK BRAK!
Lagi, Aaron mencoba menggebrak pintu agar dua manusia itu sadar ada manusia di dalam.
Samudra menoleh, menatap aneh pada pintu tersebut. Ia menyuruh Bari yang sudah mengucap doa-doa untuk mengusir para hantu untuk diam.
Benar saja. Tepat saat bari diam di tengah ketakutannya, dengan samar Samudra bisa mendengar suara rintihan wanita dari dalam ruang ganti. Ia berlari mendekati pintu dan menggedornya sekali lagi. Telinganya ia tempelkan ke daun pintu dan lagi-lagi Smaudra mendengar suara lemah Diva dari dalam sana.
“Diva ada di dalam!” ucap Samudra pada Bari.
Bari menatap Samudra setengah tak percaya. Namun suara samar yang kemudian Bari dengar juga sedang memanggil namanya membuat Bari tahu bahwa Samudra benar.
Diva terkunci di dalam sana.