Chapter 27 - Siapa Kamu?

1387 Words
“Dobrak pintunya!” seru Bari. Ia mundur beberapa langkah ke belakang dan langsung membenturkan tubuh ke pintu tersebut. Bunyi BRAK terdengar memecah keheningan malam. Jika ada Pak Satpam mungkin dia sudah memanggil polisi karena mengira ada maling. Karena pintu belum berhasil terbuka, Bari mencoba melakukannya lagi. Tubuhnya membentur pintu dengan keras dan dia terpental jatuh tak kalah keras. Membuat Bari mengerang kesakitan. “Percuma. Pintu ini terlalu kuat,” ujar Samudra. Ia menyentuh pintu yang terbuat dari kayu jati terbaik. “Terus, kita harus gimana?” tanya Bari sambil berdiri tertatih. “Lo nggak punya kunci gemboknya?” “Nggak. Tapi Andi punya.” Setelah itu Samudra langsung menghubungi kapten tim basketnya. Beruntung saat itu Andi sedang chattingan dengan sang kekasih sehingga saat Samudra menelepon, panggilannya langsung diangkat. Sejenak mereka berbicara dengan serius sampai Samudra akhirnya menutup ponsel. “Gimana?” “Tunggu 15 menit.” Lima belas menit kemudian Andi benar-benar datang. Ia menyusul ke gedung sekolah bersama dengan Farrel dan Rino. Rupanya Andi menghubungi mereka untuk menemani karena takut kalau-kalau Samudra sedang mengerjainya. “Anjirrr*lah. Ternyata sekolah serem banget ya jam segini,” tukas Rino bergidik ngeri. Ia berdiri di antara Farrel dan Andi yang juga saling berdekatan satu sama lain sejak masuk dari gerbang tadi. “Eh, Diva beneran ada di dalam?” tanya Andi. Ia melempar kunci ruang ganti ke tangan Samudra yang berhasil ditangkap dengan sempurna. Tanpa basa-basi, Samudra membuka gembok tersebut. Belum juga ia melangkah masuk, Bari sudah menerobos terlebih dahulu. “Diva!” teriaknya. Matanya terbelalak menyaksikan tubuh Diva yang bersandar lemah di dinding. Berusaha mendongak, Diva nampak luar biasa lega karena ada banyak orang yang datang menyelamatkan. “Kamu kok bisa kekunci di sini sih?” tanya Bari yang langsung memeluk tubuh Diva. Suhu dari keringat dingin yang keluar membuat Bari bertambah khawatir. Laki-laki itu menangkup dua pipi Diva dan melihat bibir yang biasanya berwarna pink sudah berubah menjadi pucat kebiruan. “Kamu sakit? Dingin?” kata Bari lagi. Pun dirinya langsung melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Diva. “Kayaknya maagh aku kambuh,” gumam Diva sambil memaksa senyum tipis. Tangannya masih menekan perut bagian kanan yang semakin bertambah detik semakin terasa sangat nyeri. “Maagh? Astaga! Ayo ke rumah sakit!” Bari membalikkan badan untuk berposisi menggendong Diva. Andi dan Rino pun membantu Diva naik ke punggung Bari. “Bawain tasnya, Sam.” Hampir saja Samudra protes tapi  mulutnya langsung terkunci. Ada sekelumit rasa tidak nyaman melihat wajah seorang gadis yang biasanya ceria dan cerewet kini nampak pucat sekaligus hampir pingsan. Mau tak mau, Samudra pun menenteng tas milik Diva. Setelah itu semua keluar dari ruang ganti. Andi mengunci gembok dengan cepat karena ketakutan. Lampu yang tadi menyala tiba-tiba mati padahal ia belum menekan saklar untuk mematikannya. Di susul dengan satu persatu lampu lorong yang mati berurutan. “Firasat gue nggak enak. Ayo lariiiii!!” teriak Farrel. Karena membawa Diva yang dalam keadaan darurat, Bari dan Samudra sudah jauh beberapa meter lebih ke depan. Hanya dua laki-laki tersebut yang tidak menyaksikan apa yang dilihat oleh Farrel, Rino dan Andi. Ketiganya melesat sekencang mungkin menyusul keluar dari gedung. Saat sampai di gerbang, mereka sempat kesulitan mengeluarkan Diva. Gadis itu sakit sehingga sulit untuk bisa memanjat. Bari sudah lebih dulu memanjat dan sekarang sudah ada di luar gerbang. “Mau gue telponin Pak Satpam dulu?” kata Bari cemas. Menatap Diva yang duduk lemah bersandar di pintu gerbang. “Kelamaan, Bar. Rumahnya kan jauh. Mau nunggu setengah jam?” tanya Andi. “Keburu kenapa-kenapa ini Diva.” Dalam beberapa detik mereka semua berpikir dengan serius. Sementara Samudra malah melemparkan kunci motornya pada Bari. “Coba cek jok motor gue, Bar. Ambil tali di sana,” pinta Samudra. Bari bingung tapi ia menurut saja. Mengambil sebuah ikatan tali baru dari jok motor besar milik Samudra. “Lempar sini!” Bari pun melemparnya. Samudra menyerahkan tas Diva kepada Farrel, kemudian memudar ikatan tali tersebut. “Bantuin gue Ndi, Rin,” ucap Samudra. Ia sudah jongkok di depan Diva. Andi dan Rino membantu Diva naik ke punggung Samudra, lantas mereka mengikat tubuh Diva pada tubuh Samudra. “Yang kenceng!” “Iya. Ini udah pakai simpul. Udah kuat ini,” jawab Rino. “Div, pegangan yang kuat ya. Kalau nggak, lo bakal jatuh,” ucap Samudra pada Diva. Dengan kesadaran yang tinggal separuh persen, Diva hanya mengangguk. Melingkarkan dua tangannya ke leher Samudra. “Hati-hati, Sam!” Samudra mulai menaiki gerbang dengan langkah hati-hati. Membawa beban seorang manusia tentulah membutuhkan kekuatan juga fokus agar mereka berdua tidak jatuh dan berakhir cedera. Butuh waktu sekitar 5 menit akhirnya Samudra bisa mendarat dengan sempurna. Rino, Farrel dan Andi pun menyusul memanjat gerbang dan keluar dari properti sekolah. “Tahan bentar lagi ya, aku antar kamu ke rumah sakit,” ucap Bari pada Diva. Setelah mengurai ikatan temalinya dengan Diva, Samudra membantu Diva naik ke atas motor Bari. Saat tangannya menyentuh tangan Diva, Samudra bisa merasakan betapa gadis itu telah banyak mebgeluarkan keringat dingin, tanda bahwa ia benar-benar menahan sakit. “Ayo, kita bakal ikutin dari belakang. Pelan-pelan aja lo nyetirnya!” seru Farrel. Bari mengangguk. Beberapa detik kemudian, kendaraan mereka semua sudah melaju ke jalan raya. *** Sesampainya di rumah sakit ... “Dia tidak apa-apa. Tapi biarkan dia istirahat dulu. Nanti kalau infusnya sudah habis, boleh langsung pulang,” nasihat seorang dokter yang menangani Diva di UGD. Bari mengangguk lega, kemudian duduk di samping ranjang Diva yang sudah terlelap tidur. “Bari, kita pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa lagi, hubungi aja kami,” ujar Andi menepuk bahu Bari. “Iya. Makasih banyak ya udah bantuin gue sama Diva.” “Nevermind, bro.” Farrel, Rino dan Andi pun berlalu pergi. Sedangkan Samudra menatap lama pada Diva lebih dulu kemudian baru menyusul 3 temannya untuk pulang. *** Samudra menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah tegas. Menuju tempat parkir untuk bisa bersantai kembali di apartemen. Tapi tepat saat langkah kakinya berbelok, langkahnya langsung terhenti karena dihadang seseorang? Atau sesuatu? Dia seorang pria, berambut hitam dengan pakaian serba hitam. Awal pertama Samudra melihatnya adalah di lapangan basket, sedang berbicara di samping Diva. Dulu Samudra pikir dia adalah salah seorang siswa di sekolah. Namun ia menyadari adanya sebuah kejanggalan. Bahwa tidak semua orang bisa melihat atau mendengar pria tersebut. Mungkin hanya Diva dan dia yang bisa melakukannya. Meski Samudra memilih untuk berpura-pura tidak pernah mendengar dan melihat. “Sudah saya duga kamu bisa lihat saya.” Sosok itu berkata pada Samudra. Samudra nampak acuh, justru ia mengambil jalan agak ke samping hanya untuk bisa langsung menghindari orang atau sosok tersebut. “Hei, saya sedang berbicara dengan kamu.” Aaron menghalangi jalan Samudra lagi. Membuat Samudra menghela napas. Remaja SMA tersebut menyentakkan kepala kemudian dan menatap Aaron sinis. “Maaf, dunia kita jelas sekali sangat berbeda. Jangan ganggu gue.” “Saya tidak bermaksud mengganggu kamu.” Samudra memutar bola mata malas. “Lalu, apa ini namanya jika bukan mengganggu?” Sejenak Aaron terdiam, ia melipat kedua tangan di depan d**a, mengamati Samudra dengan tatapan waspada. “Siapa kamu sebenarnya?” tanya Aaron kemudian. “Seharusnya gue yang tanya gitu sama lo.” “Oh, saya Aaron,” kenal Aaron singkat. “Dan gue Samudra. Udah minggir gue mau pulang.” Samudra melangkah cepat ke arah sepeda motor. Ia menyalakan mesin motor tapi beberapa kali mencoba Samudra selalu gagal. “Pembicaraan kita belum selesai,” ucap Aaron kemudian, yang membuat Samudra langsung paham jika yang sedang membuat mesin sepeda motornya tidak bekerja adalah Aaron. “Apa lagi?” ketus Samudra tidak sabar. “Saya bertanya siapa kamu?” “Gue udah bilang gue Samudra.” “Kenapa kamu bisa lihat saya?” “Itu juga yang jadi pertanyaan gue sendiri. Sejak kapan gue bisa lihat makhluk astral kayak lo?” decak Samudra. “Jika maksud kamu makhluk astral adalah hantu, kamu salah. Saya berbeda. Saya seorang dewa. Dan tidak ada satu manusia pun yang bisa melihat saya kecuali orang-orang tertentu.” Samudra tersenyum tidak sampai mata. Nampak sama sekali tidak peduli. “Oh, kalau begitu gue termasuk orang-orang tertentu yang lo maksud.” Ceklik Bruuummm ... Mesin motor Samudra akhirnya menyala. Samudra menutup helm kacanya kemudian menarik gas dan meninggalkan area rumah sakit. Aaron masih berdiri di parkiran. Dan hanya dia yang tau bahwa otaknya sedang menelaah beberapa teori yang memungkinkan Samudra bisa melihat seorang dewa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD