Chapter 29 - Calon Suami Masa Depan

2242 Words
Selesai mandi dan memakai seragam putih abu-abu, Samudra mengambil ponsel yang tergeletak di nakas. Mengecek pesan-pesan masuk dari Farrel dan Rino yang berisi tentang mereka ingin menyontek PR hari ini. Meski Samudra terkesan cuek, dingin dan tak berperasaan, namun ia cukup rajin mengerjakan tugas dan PR dari sekolah. Samudra baru akan memasukkan ponsel dalam tas bergabung dengan buku-buku ketika benda pipih tersebut bergetar, tanda sebuah notifikasi masuk. Itu dari bank, yang menyatakan bahwa saldo sebesar sekian juta telah masuk dalam rekening Samudra. Samudra menatap angka-angka itu lama. Sampai saat ini ia tidak tau siapa yang terus menerus mengiriminya uang setiap bulan. Terhitung sejak setelah kejadian di rumah Om Ben, Samudra didatangi seorang pria yang mengaku seorang pengacara. Ia membawa Samudra pergi dari kediaman ibunya dan pindah ke apartemen yang sekarang ia tinggali. Tak hanya itu, pria tersebut juga memberikan sebuah sebuah kartu ATM, kartu kredit, beberapa lembar uang tunai dan sebuah ponsel. “Ayah anda ingin anda memakai ini semua.” Hanya itulah yang pengacara itu katakan sebelum meninggalkan Samudra sendirian. Meninggalkan Samudra dengan pertanyaan besar, siapa ayahnya? Dan kenapa beliau tidak pernah menemuinya? Alih-alih, ia hanya mengirim seorang pengacara dan memberikan fasilitas mewah seperti apartemen dan uang. Setelah itu Samudra mulai hidup sendiri. Ia mendaftar sekolah sendiri, mengambil raport sendiri sampai lulus SMP. Sayang, ketika ia baru masuk SMA, Samudra bertemu kembali dengan ibu. Saat itu ibu dipukuli oleh seorang pria. Sebagai seorang anak tentu Samudra membantunya. Ia membawa ibu ke apartemen. Sayang, ibu tidak pernah berubah. Ia mulai memeras uang Samudra, menjual apapun yang bisa dijual dari apartemen Samudra sampai akhirnya Samudra tidak tahan lagi. Ia mengusir ibu pergi dari apartemen dan mendapat makian dari mulutnya setiap kali bertemu. Sampai sekarang pun ibu terkadang masih suka datang dan meminta uang pada Samudra. Karena tadi malam ibu bisa masuk, berarti Samudra harus mengganti password apartemen. Mengambil kunci motor dari gantungan, Samudra pun keluar dari apartemen. Langkahnya melambat begitu sampai di lobi. Melihat sepeda motor kesayangannya sudah ringsek. Dua spionnya pecah, bannya kempes dan bagian body penuh dengan lecet sayatan. Samudra menggertakkan rahang. Lalu menghela napas panjang. Ibunya sungguh luar biasa! *** Diva tertawa-tawa menonton sebuah film kartun yang sedang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Sambil merebahkan tubuh di atas sofa, ia memakan buah-buahan yang disediakan Bi Inah di atas meja. Lain dengan Diva, lain juga dengan Aaron. Pria itu duduk dengan tenang. Meski matanya tertuju pada layar TV, jelas ia sedang tidak menonton. Pikirannya melayang-layang entah ke mana. “Ada yang sedang kamu pikirkan?” tanya Diva setelah menangkap kejanggalan tersebut. Ia mengubah posisinya menjadi duduk. Hari ini Diva tidak masuk sekolah sebab Damian dan Dava melarang. Kejadian kemarin membuat keduanya lumayan panik hingga memutuskan langsung pulang dari bisnis trip-nya. Walaupun Diva mengatakan ia baik-baik saja dan perutnya sudah tidak sakit, tetap saja dua orang pria tersebut memaksa Diva untuk istirahat seharian penuh di rumah. “Hah? Nggak,” jawab Aaron. Lantas mencomot satu potong buah apel dari atas meja. Diva memicing curiga namun ia tidak mengatakan apapun. Alih-alih ia berdiri kemudian merenggangkan tubuh. “Aaakhh ... bosan ya seharian di rumah. Diva kangen sekolah.” “Aku juga,” sahut Aaron sambil tetap makan tanpa dosa. “Oh iya, kemarin kamu dari mana saja sih? Lama banget datangnya!” “Hehe, maaf,” ringis Aaron. “Lagian, siapa sih yang tega ngunci kamu di dalam? Manusia sungguh mengerikan.” Diva menarik napas panjang. Sebenarnya ia juga sempat bertanya-tanya soal hal ini sejak kemarin. “Sudahlah, yang penting Diva udah nggak apa-apa. Oh ya, mau boba?” “Tentu!” jawab Aaron tanpa pikir panjang. “Diva siap-siap dulu,” pamit Diva yang langsung masuk ke dalam kamar. *** “Loh, Non Diva kan masih harus istirahat,” omel Bi Inah begitu Diva pamit hendak membeli boba. “Diva udah nggak apa-apa, Bi. Lagian Papa sama Kak Dava harusnya di rumah juga kalau mau Diva full istirahat. Ini udah nyuruh-nyuruh, ujung-ujungnya ditinggal kerja juga.” “Ya kan mereka begitu karena cari uang, Non. Non Diva balik ke kamar gih!” “Nggak mau, Bibi. Diva bosan.” Diva melirik jam tangan biru yang terpasang di tangan kiri. “Udah jam 3 sore juga. Udah ya, pokoknya Diva mau pergi. Dah Bibi!” “Non! Non Diva!” Seruan Bi Inah tidak diindahkan Diva sama sekali. Ia sudah memesan taksi online sebelumnya, jadi saat ia keluar rumah, Diva langsung menaiki kendaraan tersebut bersama dengan Aaron. Kafe penjual boba tidak hanya menjual minuman saja. Ada aneka cemilan seperti kentang goreng, pisang cokelat, roti bakar dan masih banyak lagi. Jadi, sembari meminum boba, Diva dan Aaron juga menikmati camilan mereka. Keduanya ngobrol banyak hal. Aaron menceritakan tentang para hantu yang tinggal di pohon beringin, yang sempat membuat Diva bergidik ngeri. Ia berdoa dalam hati agar tidak pernah melihat makhluk-makhluk tersebut. “Emang kamu nggak takut lihat wujud mereka?” tanya Diva. “Mereka nggak seburuk itu kok! Yah, memang sih, kalau lagi nampakin wujud aslinya agak sedikit seram, tapi sebenarnya kebanyakan para hantu punya kemampuan merubah wujud menjadi lebih baik. Hanya saja, tak sedikit juga yang malas merubah penampilan dan lebih suka menunjukkan wujud aslinya saat terakhir kali mereka meninggal. Selain mereka menikmati mengganggu dan membuat takut manusia, mereka juga mempersiapkannya untuk olimpiade.” “Olimpiade?!” tanya Diva tak percaya. Ia baru tahu di dunia hantu ada olimpiade juga. “Biasanya kompetisi di adakan per komunitas. Nanti masing-masing akan mengirimkan hantu menyeramkan terbaik mereka untuk maju ke babak nasional. Nah, itulah kenapa para hantu lebih suka nunjukin wujud asli. Hahahaha,” gelak tawa Aaron. Diva hanya menggelengkan kepala tidak paham. “Tapi kalau para hantu itu ada, apa semua yang meninggal di dunia ini juga jadi hantu?” tanya Diva kemudian, teringat akan sosok ibunya. “Tidak semuanya. Hanya orang-orang yang meninggal nggak wajar dan punya sesuatu yang belum selesai di bumi.” “Oh, jadi yang di film-film itu benar?” Aaron tersenyum miring. Tak terasa mereka berbincang cukup lama. Suara pintu terbuka menandakan pergantian pelanggan yang masuk menjadi musik random keduanya. Diva tidak menyadari jika yang baru saja masuk adalah Samudra. Saat Samudra selesai memesan boba dan hendak keluar, barulah Diva melihat Samudra. Refleks saja tubuh Diva membeku sejenak. “Samudra,” sapa Diva sedikit gugup. Ia berdehem kecil untuk menguasai diri. “Hai Samudra!” sapa Diva sekali lagi, kali ini nadanya berubah menjadi lebih lantang dan penuh percaya diri. Samudra menoleh dan mengernyit tipis. Berusaha mengabaikan Diva. Namun Diva tak mau kalah. Ia langsung berdiri dan mengikuti Samudra keluar dari toko boba. “Ngapain lo ikutin gue?” “Kangen aja,” jawab Diva jujur. Samudra masih sama, menatap Diva dengan malas dan datar. Ia memilih untuk menyeruput bobanya dan naik ke dalam taksi. Tanpa ia sangka, Diva pun ikut masuk. Duduk dengan tampang tanpa dosa. “Tumben naik taksi. Emang motor Samudra di mana?” tanya Diva heran. Alih-alih menjawab pertanyaan Diva, Samudra malah berkata dingin. “Turun!” “Kenapa? Taksi kan kendaraan umum. Ya nggak Pak Supir?” Ditanya mendadak, si supir taksi gelagapan menjawab, “Eh? I-iya, Non!” “Nah kan! Samudra dengerin tuh!” Menatap Diva dengan datar, Samudra bertanya, “Bukannya lo harusnya take a rest di rumah? Udah keluyuran aja.” “Ecieee ... Samudra perhatian. Hehe. Nggak kok Diva udah nggak apa. Di rumah bosan. Oh iya, makasih lho kemarin udah nyelametin Diva.” “Makasihnya sama temen cowok lo, bukan gue.” “Maksudnya Bari?” “Maaf, maaf banget nih anak-anak ... Ini jadi jalan nggak?” Tiba-tiba supir taksi berkata, menyela percakapan keduanya. “Jadi, Pak!” seru Diva cepat bahkan sebelum Samudra menjawab. “Oke!” Meski sebenarnya heran pak supir tidak bertanya ke mana tujuan mereka, Diva abai saja. Ia lebih ingin fokus dengan Samudra. “Ya nanti Diva makasih juga sama Bari. Tapi karena sekarang Diva lagi ketemu sama Samudra, ya Diva makasihnya sama Samudra dong!” Samudra diam saja, hanya membuang pandangan keluar dari jendela. Menatap bangunan-bangunan berderet-deret di sepanjang jalan. Selama perjalanan, Diva terus berbicara. Ia menceritakan cita-citanya yang ingin mengelilingi dunia. “ ... Paris, Tokyo, New York, Amsterdam, Afrika ... Diva ingin banget bisa jelajahi semuanya! Sayangnya, Kak Dava sama Papa nggak bolehin Diva. Katanya, nanti kalau Diva tersesat gimana? Padahal kan Diva udah gede! Nggak mungkin banget tersesat. Terus bla .. bla .. bla ...” Mobil tersebut penuh dengan celotehan Diva. Sesekali pak supir ikut menimpali, membuat ramai suasana. Beberapa menit kemudian taksi berhenti di depan sebuah bangunan bertingkat tinggi. Diva menatapnya takjub. Ketika melihat Samudra turun, cepat-cepat gadis itu ikut turun. “Kenapa lo turun juga?” “Kan Samudra turun, jadi Diva ikutan dong.” Samudra menghela napas sabar. “Masuk kembali!” Diva mengangguk. Ia nampak berbicara dengan supir dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Kemudian taksi tersebut pun pergi. Hal itu membuat Samudra speechless. “Udah! Ayo masuk!” Diva merangkul lengan Samudra dan Samudra langsung mendorongnya menjauh. “Jangan sentuh-sentuh gue!” “Tapi Diva mau—“ “Stop! Berhenti di sana!” peringat Samudra. Ia meminum bobanya sambil memicingkan mata tajam pada Diva. Bukannya takut, Diva malah senyum-senyum tanpa rasa bersalah. “Samudra tinggal di sini ya?” tunjuk Diva ke arah bangunan tinggi tersebut. “Bukan urusan lo.” “Samudra jangan galak-galak dong jadi cowok. Yang soft gitu. Yang ramah. Masa ganteng-ganteng galak.” Karena bobanya habis, Samudra berjalan menuju tempat sampah warna-warni lalu membuangnya sesuai dengan jenis. Ia pun berbalik dan menatap Diva sedikit kesal. “Lo pulang sekarang.” “Nggak mau!” Mereka bertatapan lama. Sama-sama keras kepala. “Kalau lo nggak mau pulang, gue panggil Pak Satpam!” Diva tersenyum kemudian mengangguk-angguk. “Boleh-boleh, Biar Diva bilang kalau Diva pacarnya Samudra.” “Cewek gi-la!” “Gi-lanya Cuma sama Samudra kok!” tukas Diva. “Sekaliii aja ijinkan Diva main ke apartemen Samudra. Biar Diva masakin! Samudra suka nasi goreng kan?” “Gue bisa beli.” “Buatan Diva lebih enak dari pada beli. Lagian kalau beli tuh kebanyakan micin. Nggak baik tau!” Samudra nampak tidak peduli. Ia berjalan melewati Diva. Diva pun berjalan sedikit cepat mengekori Samudra. Takut-takut akan kehilangan jejak pria tersebut. “Diva! Gue bilang jangan ikutin gue!” gemas Samudra saat mereka masuk ke dalam lift. “Kenapa sih, anti banget sama cewek? Jangan-jangan ... Samudra LGBT ya?!” tuduh Diva. Karena kesal sekali dan ingin Diva pergi, Samudra pun menjawab asal. “Kalau iya emang kenapa?” “Hah? Astaganaga .... pantesan Samudra dingin banget sama cewek. I am so sorry buat temen-temen siswi di sekolah yang pernah suka sama Samudra, dan I am so sorry pada hati Diva yang sekarang rasanya cenut-cenut. Nggak apa-apa Samudra. Dunia udah modern kok. LGBT udah mulai diterima oleh masyarakat. Jadi Samudra nggak usah panik atau khawatir okay? Tapi kalau Samudra merasa malu atau gimana buat ke depannya nanti, Diva mau kok jadi tameng. Maksudnya jadi pacar pura-pura Samudra buat nutupin kekurangan Samudra yang ini. Diva ikhlas lahir batin.” Samudra terperangah, mendengus tak percaya dengan apa yang sedang ada dalam pikiran Diva. Gadis yang luar biasa aneh! Saking anehnya sampai selalu bisa membuat Samudra kehilangan kata-kata. Ting! Pintu lift terbuka. Samudra melangkah keluar disusul dengan Diva. Ia pun menuju salah satu unit apartemen. Saat hendak menekan angka password, ia melirik Diva. Refleks saja Diva menatap arah lain, pura-pura tidak melihat, padahal diam-diam melirik angka-angka tersebut. Bip bip ... Samudra membuka pintu. Diva mengikuti dengan senyum terkembang di wajah. Namun saat kakinya hendak masuk selangkah, Samudra menahannya tetap di luar. “Gue nggak ngijinin lo masuk.” “Kok jahat! Kan udah sampai sini. Diijinin dong!” “Nggak! Pulang sana!” Diva jadi cemberut. “Samudra nggak mau nasi goreng?” “No!” “Yakin?” “Iya!” “Samudra kan baru pulang, pasti lapar.” “Gue. Nggak. Lapar.” Tepat saat itu perut Samudra berbunyi. Diva menyeringai, lalu langsung menyelinap masuk. “Hei!” teriak Samudra yang diabaikan oleh Diva. Gadis itu sudah masuk ke dalam sambil menahan tawa. Sungguh, Samudra dibuat kesal dengan kelakuan Diva. Ia masuk ke dalam dan hendak memarahi gadis itu. Menyeretnya keluar kalau perlu. Namun ketika ia mencari-cari Diva, ia sudah menemukan gadis itu berada di dapur, berusaha memasang celemeknya untuk memasak. “Ada nasi Samudra. Biar Diva buatin nasi goreng!” seru Diva tanpa melihat ke arah Samudra. Ia sedikit kesulitan memasang tali di belakang punggung. Samudra menghela napas. Entah bagaimana kepolosan dan kekeras kepalaan Diva akhirnya membuat Samudra mengalah. Ia tau semakin ia memaksa Diva maka gadis itu semakin pantang menyerah. Jadi, lebih baik ia diam dan membiarkan Diva lelah sendiri sehingga lebih cepat Diva pergi dari sana. Samudra menyusul Diva, kemudian meraih tali celemek. Memasangkannya dengan setengah hati. “Kalau udah selesai masak nasinya, bangunin gue di kamar lantai dua. Ingat, pintu gue kunci jadi jangan coba-coba masuk ke dalam,” peringat Samudra. “Satu lagi. Kalau nanti gue sampai tahu ada satu barang hilang dari apartemen ini, gue nggak segan-segan laprorin lo ke polisi.” “Ih, dikira Diva maling apa?” gerutu Diva. “Aman kok amaaaannn kalau sama Diva mah!” Samudra memicingkan mata, kemudian layaknya adegan dalam film, ia menunjuk matanya dan mata Diva, mengisyaratkan bahwa Samudra akan benar-benar mengawasi gadis itu. Diva tersenyum saja. Melambaikan tangan pada Samudra yang naik ke lantai dua. Dalam gumaman kecil yang hanya bisa didengar oleh Diva sendiri, ia berkata, “Selamat istirahat, calon suami masa depannya Diva!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD