Sekitar satu jam kemudian Diva telah selesai memasak. Ia juga telah memindahkan semua hasil masakannya di meja makan. Ada dua piring nasi goreng, dadar telur yang sudah Diva potong kecil-kecil, tempe mendoan dan juga lalapan berupa timun.
Tadi Diva sempat menghubungi Bi Inah dan bertanya cara memasak tempe mendoan. Ternyata hanya butuh tepung tempe jadi mudah saja bagi Diva. Beruntung bahan-bahan makanan Samudra semua lengkap. Jadi Diva tidak kesulitan membuat tempe mendoan tadi.
“Huuuft ... ternyata memasak seribet ini,” gumam Diva. “Tapi nggak apa deh! Demi Samudra hehehe.”
“Coba lihat siapa yang sekarang me-sum? Senyummu itu loh, bikin saya yang lihat merinding. Hiiii.” Tukas Aaron yang tiba-tiba muncul.
“Kok kamu bisa ada di sini!”
“Ya bisa lah. Saya kan Dewa. Fufufu ...”
Diva berdecak, kemudian mengusir Aaron pergi.
“Please deh, jangan ganggu makan malam romantis Diva sama Samudra.”
“Siapa juga yang mau ganggu? Justru saya di sini buat bantu kamu!” sanggah Aaron. Matanya melirik pada tempe mendoan yang masih hangat. Kelihatan lezat!
“Tapi sebelum itu, saya minta ini ya?” ringis Aaron, menunjuk sepiring tempe mendoan di meja.
Diva mendengus kecil, tapi mengangguk juga. Toh, ada cukup banyak.
“Jadi—“
“Kalau makan jangan sama ngomong. Nanti kesedak!” omel Diva, yang membuat Aaron langsung mingkem.
Pria itu mengindikkan bahu kemudian melanjutkan makan tempe mendoan di tangan.
Hmmm ... nikmat sekali! Renyah pula. Aaron jadi ingin ...
“Boleh ambil satu lagi?” tanya Aaron.
Diva menatap Aaron tak percaya, namun kemudian ia yang baik hati menyodorkan satu piring berisi mendoan tersebut pada Aaron.
“Jangan habisin!”
“Nggak. Lagian ini juga banyak.”
Setelah habis 5 potong tempe mendoan dan 5 iris mentimun, Aaron akhirnya sudah mengatakan ia kenyang. Well, sebenarnya ia ingin makan nasi goreng juga tapi Diva tidak memberikannya. Pasalnya di sana hanya ada dua porsi, tapi Diva sudah janji akan membelikannya nanti di rumah.
“Coba aku lihat penampilan kamu. Berputar!”
Diva menurut, memutar tubuh dengan percaya diri.
Jarang sekali Diva memakai baju dengan bawahan celana. Karena sejak kecil ia sangat menyukai film-film disney bertema princess kerajaan, dan karena ibu Diva dulu sering mendandaninya ala princess juga, jadi sampai saat ini pun Diva masih lebih suka memakai dress. Menurut Diva, celana itu model pakaian yang digunakan oleh cewek-cewek kuat, tegar dan pemberani. Sedangkan Diva merasa ia jauh dari semua sifat itu.
Diva adalah sosok yang suka manja, keras kepala dan ... mungkin suka halu.
“Gimana?” tanya Diva.
“Hmmm, cukup baik. Kecuali ...,” Aaron menjentikkan jemarinya, dan dress selutut yang Diva pakai berubah jadi pendek setengah paha.
“Aaron!” protes Diva langsung. “Kamu apain baju Diva? Ini kependekan!”
“Itu lebih seksi, Diva. Lihat ke cermin. Lekuk tubuh kamu, kaki jenjang kamu ... hmmm apa perlu aku buat rendah belahan da-da kamu juga biar lebih perfect?”
Refleks saja Diva menutup tubuhnya dengan dua tangan, sebagai isyarat awal bahwa ia menolak.
“Aaron! Balikin panjang baju Diva!”
Baru saja Aaron membuka mulut hendak menjawab, suara langkah kaki turun dari tangga terdengar. Aaron mendongak dan langsung hilang dalam sekejab, sementara Diva dibuat kebingungan karena rok setengah paha yang ia kenakan.
Aaron kam-pret!
Cepat-cepat Diva duduk di kursi meja makan. Ia ingin menyembunyikan diri dari Samudra.
“Udah selesai?” tanya Samudra. Rambutnya sedikit basah karena habis mandi, namun kadar ketampanan yang ia miliki sama sekali tidak berkurang. Tetap saja bisa membuat mulut Diva ternganga setiap detik pertama Samudra muncul.
“U-udah, kok!” jawab Diva terbata. Jantungnya berdetak lebih kencang namun Diva berusaha menguasai diri dengan menarik napas panjang. Sebab menurut pedoman cara menggaet cowok, Diva tidak boleh terlihat grogi. Ia harus berani dan penuh dengan percaya diri.
Samudra menyapukan pandangan ke meja makan, kemudian bergabung duduk di seberang kursi Diva.
“Samudra tinggal sendiri?” Diva bertanya sambil memperhatikan Samudra mulai menyendok nasi goreng.
“Hmmm,” angguk Samudra.
“Mama sama Papa Samudra sibuk kerja ya? Sama kayak Papa sama Abang Diva. Paling seminggu atau dua minggu sekali baru pulang. Sukanya pergi ke luar kota. Sebenarnya Diva disuruh ikut mereka sih, tinggal di apartemen kayak Samudra gini, tapi kalau Diva ikut, Diva harus pindah sekolah juga dong. Jadi Diva tolak deh!”
Samudra tidak berkata apapun. Selain tidak ingin membahas tentang keluarga, ia juga baru tau jika nasi goreng buatan Diva benar-benar lezat.
“Gimana? Enak nasi gorengnya?” tanya Diva antusias melihat Samudra terus menyendok nasi ke mulut.
Tersedak kecil, Samudra berdehem. “Lumayan,” jawabnya.
Diva tersenyum senang. Melihat Samudra begitu lahap memakan masakannya membuat hati Diva berbunga-bunga.
“Oh iya, ini lauknya juga sama lalapan.” Diva pun mendekatkan piring tempe mendoan, telur dadar dan timun.
Keduanya makan dengan lahap. Diva masih suka berbicara tentang banyak hal yang hampir tidak Samudra dengarkan. Ia hanya menganggap Diva sebagai radio atau suara TV. Samudra juga lebih cepat selesai makan malamnya.
“Cepet banget makannya,” tukas Diva, melirik piring Samudra yang sudah kosong.
“Makanya kalau makan jangan sambil ngomong.” Samudra berdiri, kemudian mengambil segelas air putih.
“Udah, biar nanti Diva yang beresin piringnya,” cegah Diva ketika Samudra sudah kembali dan mengambil piring kotornya.
Samudra menatap Diva sejenak kemudian mengindikkan bahu. “Kalau gitu gue balik ke kamar. Lo bisa pulang sendiri kan?”
Ingin sekali Diva bilang ‘Samudra tega amat biarin cewek polos kayak Diva pulang sendiri, nanti kalau ada begal atau penjahat gimana?’, tapi berhubung gadis itu ingat sependek apa roknya, maka ia mengangguk saja.
“Eh, Samudra! Ucapan makasih-nya mana?!” seru Diva saat Samudra menaiki setengah tangga.
Samudra hanya menoleh sekilas kemudian memberikan senyum miring. Hanya dengan itu saja wajah Diva langsung memerah, tersipu malu. Senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras.
Beberapa menit kemudian, Diva selesai makan. Ia membereskan meja dan membawa semua piring kotor ke wastafel. Sambil menyetel musik di Youtub, Diva bersenandung kecil, sesekali menggoyangkan kepala dan tubuh saking enjoy-nya.
Samudra yang biasanya membawa satu botol air mineral untuk menemaninya belajar baru ingat jika botol airnya sudah habis. Ia pun langsung keluar dari kamar dan turun tanpa pikir panjang. Sekalian minum karena ia merasa sudah haus lagi.
Awal mula menuruni tangga, Samudra mendengar suara musik mengalun. Dengan genre pop yang bisa membuat siapapun semangat mendengarnya. Samudra tersenyum tipis, tau bahwa Diva-lah sang pelaku.
Mengambil air di pantries, sudut mata Samudra tak sengaja melirik ke arah Diva. Dan itu langsung membuatnya tersedak hebat.
“What the— Diva!“
Saking asiknya menyanyi, Diva jadi tidak mendengar panggilan dari Samudra. Ia justru lebih heboh berjoged, membuat dressnya yang separuh paha kadang tersingkap.
Meletakkan gelas yang ia pegang, Samudra melangkah tegas ke arah Diva. Tanpa peringatan apapun, ia meraih tangan Diva, membuat tubuh gadis itu langsung berbalik seratus delapan puluh derajat.
Kedua bola mata Diva terbelalak. Terkejut.
Keduanya saling bertatapan lama. Malam itu adalah pertama kali bagi Diva bisa menatap secara langsung iris mata hitam bulat milik Samudra, begitu indah dan nampak menghanyutkan sekaligus berbahaya.
“Samudra,” gumam Diva. Jantungnya bertalu-talu kencang tak karuan. Sama sekali ia tidak peduli dengan busa di tangan yang mulai menetes di lantai. Ataupun dengan air keran yang masih menyala.
Samudra melirik ke bawah. Tercium aroma parfum segar yang laki-laki itu tau berasal dari tubuh Diva. Membuat Samudra sedikit betah berlama-lama dalam posisi tersebut.
Wajah Samudra mulai mendekat.
Mendekat ...
Dan terus mendekat ...
Membuat Diva refleks menahan napas.
Seolah tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Diva memejamkan mata. Bersiap menerima sentuhan bibir dari Samudra.
Oh, ciuman pertamanya ... Akhirnya ... Apakah ini berarti hati Samudra mulai terbuka?
Diva menahan euforia senang ingin teriak. Sebab ia tahu ia bisa merusak momen dengan hal itu. Lagi pula, Diva harus menunggu ciuman Samudra dulu.
Dengan penantian yang membuat jantung Diva hampir meledak karena tak sabar, tiba-tiba sebuah bisikan terdengar di telinga Diva.
“Kalau mau godain gue, jangan gini caranya. Sekalian aja nggak usah pakai baju.”
Diva tersentak. Matanya terbuka dan menemukan tatapan tajam menatap hina padanya.
Sontak saja hal itu membuat hati Diva mencelos. Ia pun mendorong Samudra menjauh. Entah kenapa ditatap serendah itu oleh Samudra membuat hati Diva sakit berkali lipat dari pada kalimat-kalimat penolakan yang Diva dengar tiap hari dari mulut Samudra.
“Diva nggak godain Samudra,” cicit Diva dengan nada bergetar. Ia menahan diri agar tidak menangis. Menahan diri dari tenggorokan yang tiba-tiba terasa sakit seperti dicekik.
“Kalau tau Samudra turun lagi, Diva bakal diam aja di kursi.” Diva berbalik, membasuh tangannya yang masih penuh dengan busa sabun cuci piring. Setelah selesai ia berbalik lagi menatap Samudra. Sayang, kali itu air matanya tidak dapat Diva bendung lagi.
“Diva permisi. Maaf udah ganggu Samudra.”
Meraih ponsel dan tas slempangnya, Diva segera pergi dari sana. Sebelum ia melakukan hal yang lebih memalukan lagi, yaitu menangis di depan Samudra.
Sementara itu Samudra mengumpat, lantas mengacak rambut frustasi. Menatap sisa kepergian Diva, pun dengan piring yang belum selesai Diva cuci.